Tak Tahan Hadapi Macet, Pemudik Ini Jadikan Halaman Rumah Warga Rest Area

GARUT, (GE).- Mudik adalah tradisi tahunan yang kerap menguras energi. Namun, ritual mudik ini tetap saja dilakukan warga hingga harus rela bermacet ria. Tujuannya hanya satu bersua dan berkumpul bersama keluarga di kampung (udik).

Beragam kisah selalu mewarnai pemudik. Mulai dari kisah gembira hingga cerita tragis saat perjalanan mudiknya. Memasuki H+5 Lebaran, gelombang pemudik masih terus menjejali beberapa ruas jalan utama dengan menggunakan berbagai kendaraan.

Dari pantauan Tim GE, kepadatan jalur mudik tampak mulai didominasi pemudik yang akan kembali ke tempat asalnya masing-masing. Kepadatan arus lalu lintas di hari ke 5 lebaran ini juga diperparah dengan antrian kendaraan warga menuju beberapa objek wisata, Jumat (30/6/17).

Di hari ke lima lebaran ini ada pemandanfan menarik, sekelompok pemudik yang melintas di kawasan Jalan Raya Cilawu, Kabupaten Garut sepertinya tak tahan menghadapi kemacetan hingga harus numpang beristirahat di halaman rumah warga.

“Ya. Kami sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan perjalanan. Mana macetnya minta ampun, panas. Ga apa-apa lah kita numnpang rehat di halaman rumah warga, la;au perlu kita akan nginap di sini dan melanjutkan perjalan lagi shubuh nanti,” tutur Ernawati, yang mengaku akan melanjutkan perjalanannya bersama keluarga ke Kota Tangerang, Jumat (30/6/17).

Sementara itu menurut aparat kepolisian dari Polres Garut, kepadatan di jalur penghubung Garut-Tasikmalaya ini diprediksi akan terjadi hingga malam hari. Kepadatan sejumlah lajur utama ini salah satunya diakibatkan meningkatnya volume kendaraan yang hendak melakukan arus balik ke beberapa kota besar, semisal Bandung, Jakarta dan sekitarnya.

Menurut Kapospol Tarogong Garut, Kompol Hermansyah, kemacetan juga dipicu adanya lampu merah di kawasan Sukadana Garut kota yang merupakan persimpangan utama jalur Garut-Tasikmalaya. Hermansyah mengaku, pihaknya telah berupaya mengurai kemacetan, salahsatunya dengan memberlakukan sistem one way (satu jalur)

“Ya, kita terus berupaya mengurai kemacetan. Kami memprediksi puncak arus balik akan terjadi pada Jumat hingga sabti besok,” tandasnya. (Andriawan)***

Editor: Kang Cep.

 

Hari ke 3 Lebaran, Gelombang Pemudik Memadati Beberapa Ruas Jalan di Garut

GARUT,(GE).- Memasuki hari ke 3 libur lebaran tahun ini (2017) terpantau puluhan ribu pemudik memadati beberapa ruas jalan utama kota Garut. Menurut catattan Dinas Perhubungan Garut, jumlah ini kendaraan pemudik diperkirakan hampir sama dengan jumlah kendaraan arus balik yang mengarah ke Bandung, Jakarta dan sekitarnya.

“Ya, rata-rata masuk kerja kan hari senin, bahkan anak sekolah masih ada seminggu lagi libur. Jadi kepadatan pemudik ini terpantau ramai hingga h plus 4 lebaran, ” kata Andri Ginanjar, Kepala Seksi Informasi dan Komunikasi LLAJ Dinas Perhubungan Garut, Rabu (28/06/2017).

Menurutnya, penambahan libur lebaran hingga sepekan yang telah ditetapkan pemerintah, ikut memperpanjang waktu liburan warga. Tak heran, jumlah masyarakat kendaraan yang masuk diprediksi lebih banyak.

“Kita memprediksi puncak arus mudik masih tetap berlangsung hingga akhir bulan Juni. Arus balik mungkin puncaknya hari sabtu-minggu ini,” tandasnya.

Sementara itu, Posko angkutan Lebaran Dinas Perhubungan Garut hingga pukul 08.00 pagi, mencatat hingga H+2 lebaran saja, total kendaraan yang masuk Garut mencapai 79.179 unit.

Dishub Garut,  mencatat, kendaraan yang masuk Kadungora dan Limbangan mulai H-7 hingga H+2 lebaran tahun ini mencapai 941.934 unit. Rinciannya, jumlah roda dua 598.782 unit sementara roda empat atau mobil mencapai 343.152 unit.

“Total kendaraan keluar Garut atau yang melakukan arus balik menuju arah Bandung, Jakarta dan sekitarnya dari H-7 hingga H+2 tahun ini mencapai 417.921 unit, ” jelasnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

BREAKING NEWS: Seorang Korban Tenggelam Ditemukan Tewas, Seorang Lagi Masih Dicari

GARUT, (GE).- Proses pencarian korban tenggelam di kawasan pantai selatan Garut, tepatnya di Pantai Cijeruk, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut yang dilakukan tim SAR berhasil menemukan korban yang tenggelam, sekira pukul 23 WIB, Senin (26/6/2017) malam.

 

Sementara itu Tim SAR hingga berita ini diturunkan masih melakukan pencarian terhadap satu korban lainnya.

 

Kepala Basarnas Jawa Barat, Slamet Riyadi, menyebutkan, korban yang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia ini teridentifikasi atas nama Nandang (14), warga Pakuwon, Kecamatan Cisurupan, Garut.

 

“Korban kami temukan tiga kilometer arah barat dari lokasi kejadian. Korban lalu dievakuasi ke Puskesmas Cibalong,” kata Riyadi, kepada wartawan, Selasa (27/6/2017).

 

Sementara itu seorang korban lainnya atas nama Rijal (15), warga Desa Wanamekar, Kecamatan Wanaraja, Garut hingga kini masih dalam pencarian.

 

Dijelaskannya, tim SAR gabungan juga melakukan pencarian dua korban terseret arus di Pantai Ciseureuh, Desa Karangwangi, Kecamatan Mekarmukti, Garut.

 

Korban yang terseret yakni Naluri Irama (25), warga Kampung Lambow, RT 4/8, Desa Cigeulang, Kecamatan Ciparay dan Aji (15), warga Kampung Ciparia, Kecamatan Baleendah. Kedua korban bersama empat orang lainnya tengah berenang di pantai.

 

“Empat orang lainnya berhasil selamat. Sedangkan kedua korban terbawa arus ombak,” tukasnya. (ER)***

Kompensasi Tak Jelas, Delman Keukeuh Beroperasi dan Memperparah Kemacetan

GARUT, (GE).- Hingga H-2 Idul Fitri 1438 H (2017) sejumlah delman tampak masih tetap beroperasi, hingga menambah parah kemacetan di sejumlah jalur. Padahal sebelumnya, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Garut telah menyatakan pelarangan beroperasi kendaraan tradisional ini, mulai H -3 Lebaran atau Kamis (22/6/17) kemarin.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pemda Garut melalui  Kabid Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Garut, Deni Desta mengatakan anggaran yang disiapkan untuk kompensasi tersebut mencapai Rp 500 juta. Nominal yang diberikan tersebut masih sama dengan tahun lalu.

“Ada 527 pemilik delman yang kami beri kompensasi. Uang itu sebagai ganti rugi karena mereka tidak beroperasi selama arus mudik dan balik,” ungkapnya.

Namun hingga H-2 Lebaran, dari pantauan ‘tim GE’ masih ada sejumah penarik delman yang keukeuh beroperasi. Maman (37) salah seorang penarik delman mengaku tetap beroperasi karena memang tidak mendapatkan kompensasi yang dijanjikan pemerintah.

“Ah, kompensasi nya juga tak jelas. Makanya saya tetap beroprasi, kalau tidak beroprasi  darimana atuh saya biaya untuk keluarga,” tukasnya, (23/6/17).

Akibat masih beroprasinya delman, sejumlah ruas jalan di beberapa jalur mudik tampak kemacetannya semakin parah. Disamping itu, sejumlah pengendara kendaraan bermotor juga mengaku khawatir ketika delam berada ditengah-tengan jalan.

“Duh, bagaimana pemerintah ini, katanya akan dilarang, katanya akan diberikan kompensasi. Tapi nyatanya, lihat delam dengan santainya beroperasi. Selain memperparah kemacetan, delam juga membahayakan jika beroperasi di jalan raya provinsi yang ramai dilintasi kendaraan besar,” tutur Wawan (43) salah seorang pengendaran mobil box yang melintas di kawasan Jalan Jendral Soedirman, Kabupaten Garut, (23/6/17). (ER)***

Polres Garut Belakukan One Way, Mulai Hari Ini Delman Dilarang Beroprasi

GARUT, (GE).- Menginjak H- 3 Idul Fitri 1438 H, Polres Garut mulai memberlakukan sistem one way (satu arah). Pemberlakuan sistem ini salah satunya di jalur selatan sepanjang Jalan Limbangan sejak Rabu (21/6/2017), mulai dari Cikaledong, Nagreg hingga ke Limbangan.

Kapolsek Limbangan, Kompol Asep Suherli, menyebut pemberlakuakn satu arah ini untuk mengurai kemacetan selama waktu mudik dan arus balik. Dalam musim mudik ini kepadatan kendaraan di jalur selatan cukup tinggi.

“Ya, kami berlakukan one way selama satu jam untuk mengurai kepadatan kendaraan,” katanya.

Dijelaslannya, titik kepadatan di jalur selatan, salah satunya akibat adanya pasar tumpah di kawasan Pasar Limbangan, Lewo, dan Malangbong.

“Ditambah keluar masuk kendaraan di Pertigaan Leuwigoong dekat Pasar Limbangan. Belum sejumlah persimpangan lainnya,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi tersendatnya kendaraan akibar aktivitas masyarakat, Polres Garut telah membuat kanalisasi.

Semnentara itu, terkait aktivitas delman yang masih beroperasi dan menjadi kendala arus lalu lintas, mulai hari ini Kamis (22/6/2017), Polres sudah melarang delman beroperasi. (Tim GE)***

Pasar Tumpah di Jalur Malangbong Kerap jadi Penyebab Kemacetan Saat Musim Mudik, Kapolres: Kita Berlakukan Kanalisasi

GARUT, (GE).-  Salah satu penyebab terjadinya kemacetan di beberapa titik jalur mudik adalah pasar tumpah. Pasar tumpah Lewo di Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut akan menjadi salah satu titik kemacetan di jalur utara Garut.

Disamping dampak pasar tumpah, kemacetan di kawasan tersebut juga diperparah dengan kondisi jalan dari arah Limbangan yang menanjak dan banyak tikungan tajam. Menjelang hari H Lebaran, pasar tumpah diprediksi akan buka selama enam hari, mulai Senin (19-24/6/17)

Ubed (40)  salah seorang pedagang di kawasan Lewo menyebutkan, pasar tumpah akan semakin ramai menjelang lebaran. “Ya, pasti semakin rame kalau jelang lebaran. Kalau hari biasa kan Cuma buka hari Rabu saja,” katanya, Jumat (16/6/17).

Menanggapi pasar tumpah yang kerap membuat kemacetan, Kapolres Garut, AKBP Novri Turangga, mengatakan untuk penanganan pasar tumpah pihaknya akan melakukan kanalisasi di kiri dan kanan jalan. Nantinya batas jalan akan ditutup menggunakan papan besi. “Ini salah satu cara agar pedagangnya tak sampai tumpah ke jalan,” kata Novri.

Dikatakannya, untuk meminimalisir dampak pasar tumpah, pihaknya juga hanya akan membuka satu tempat penyebrangan. “Kami kumpulkan di satu titik setelah ada banyak yang mau nyebrang nanti sama petugas akan disebrangkan,” ucapnya. (ER)***

Pemkab Garut Resmi Larang Mobdin Dipakai Mudik, Bupati: “Jika Kedapatan Sanksi Berat akan Dikenakan”

GARUT, (GE).- Beberapa mobil dinas (mobdin) tampak berjejer rapi di lapangan apel Setda Garut, Kamis (15/6/17). Bupati Garut, Rudy Gunawan memastikan mobdin yang biasa digunakan para pejabat di lingkungan Pemda Garut ini tidak digunakan untuk mudik Lebaran tahun ini (2017).

Bupati Garut menegaskan, mobil dinas hanya boleh digunakan untuk kepentingan dinas saja, semisal melayani masyarakat. Jika para pejabat kedapatan menggunakan mobil dinas saat mudik, maka sanksi tegas akan diberikan bupati.

“Ya, kita akan berikan sanksi tegas bagi yang kedapatan menggunakan mobin untuk mudik. Sangsinya mulai dari sangsi ringan hingga sanksi berat berupa pencabutan jabatan,” katanya, Kamis (15/6/17).

Dijelaskannya larangan penggunaan mobil dinas ini dikeluarkan berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara tentang pedoman pelaksanaan, efisiensi, penghematan dan disiplin kerja.

“Saya himbau, kepada PNS terutama pejabat struktural, kalau mudik keluar Garut tidak boleh menggunakan kendaraan dinas. Kendaraan dinas hanya boleh digunakan di sekitar Garut, ya mobil itu kan digunakan untuk kepentingan dinas. Kalau untuk kbutuhan mudik dan lain sebagainya, untuk mengurangi kemacetan dan lain sebagainya lebih baik menggunakan kendaraan umum dan kendaraan pribadi,” ungkapnya. (Andriawan)***

Editor: Kang Cep.

 

Delman Dilarang Beroperasi Saat Musim Mudik, Pemda Garut Siapkan Ratusan Juta Rupiah untuk Kompensasi

GARUT, (GE).- Selama ini delman atau andong masih menjadi alat transportasi umum di beberapa wilayah Kabupaten Garut. Keberadaan kendaraan tradisional ini dianggap menjadi salah satu penyebab kemacetan, terlebih saat musim mudik. Dengan alasan tersebut Pemerintah Daerah (Pemda) Garut, akan melarang delman untuk beroperasi, setidaknya selama musim mudik lebaran/ Idul Fitri.

“Saya menghimbau delman ini ridak beroperasi mulai H-3 sampai H +7 Idul Fitri atau Lebaran,” kata Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, Senin, (12/07/17).

Dikatakannya, untuk menghindari terjadinya kemacetan saat arus mudik berlangsung, pihaknya telah menyiapkan kompensasi bagi seluruh tukang delman. “Ya, sekitar Rp 400 juta an, kita siapkan,” kata dia.

Dikatakannya, pihak Pemda Garut juga telah mengintruksikan Dinas Perhubungan dan Kepolisian untuk menghentikan delman yang masih membandel. “Kebijakannya, delman kami berikan kompensasi, teknisnya nanti disesuaikan dengan anggaran,” katanya. (Tim GE)***

Menyongsong Musim Mudik Lebaran, Dishub-Polres Garut Akan Razia Angkum Terkait KIR dan SIM

GARUT, (GE).- Kejadian kecelakaan lalulintas (lakalantas) yang melibatkan akutan umum (angkum) di wilayah Puncak, Cianjur, Jawa Barat, belum lama ini dijadikan bahan evaluasi pihak pihak terkait. Dinas Perhubungan (Dishub) serta Kepolisian Resort Garut segera melakukan razia kendaraan angkum, khususnya bus serta angkutan barang.

“Ya, minggu ini, kita agendakan untuk menggelar razia. Lihat saja nanti, secara prinsipil sudah ada kesepakatan Dishub dengan Polres,” ujar Suherman, yang tak lain Kepala Dinas Perhubungan Suherman, saat dijumpai sejumlah awak media di Mapolres Garut, Rabu, (3/5/17).

Menjelang musim mudik lebaran 2017, serta munculnya dua kecelakaan bus yang merenggut belasan korban jiwa di daerah Puncak mendesak lembaganya untuk melakukan upaya preventif. ” Tentu kita harus menjaga, jangan sampai kejadian itu terulang,” tukasnya.

Dikatakannya, pemeriksaan akan dilakukan untuk seluruh angkum, khusunya bus antar provinsi. Pemeriksaan ini akan difokuskan untuk SIM, KIR hingga dokumen kelayakan jalan kendaraan.

“Kita juga akan periksa mobil angkutan barang, terutama armada besar seperti tronton dan sejenisnya,” tandasnya.

Kadishub Garut mengingatkan, tanggung jawab mengingatkan pengelola armada untuk sentiasa bertanggung jawab, khususnya terkait kelengkapan dokumen. Selain itu, menurutnya, masyarakat juga harus turut mengawasinya.

“Masyarakat bisa langsung menanyakan SIM, KIR kepada pengemudi angkum. Apakah masih berlaku atau belum, termasuk mengingatkan sopir agar jangan ugal-ugalan. Jika masyarakat melihat pelanggaran laporkan saja. Nanti bakal ada tim uji yang datang, kalau memang melanggar bisa langsung dibekukan,” katanya. (ER)***

 Editor: SMS.

 

Menantang Maut Demi Tetap Berlebaran di Kampung Halaman

BUNGBULANG, (GE).- Entah sejak kapan tradisi mudik alias pulang kampung ini berlangsung. Yang jelas tradisi tahunan ini selalu menjadi warna tersendiri setiap musim Lebaran-Idul Fitri tiba. Berbagai cara dilakukan warga untuk mudik dan bisa berlebaran di kampung halamannya, sekalipun harus menantang maut.

Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, pada musim mudik tahun ini (1437H-2016) warna mudik tak jauh berbeda. Kenaikan tarif angkutan umum, kemacetan dan berbagai cara dilakukan pemudik untuk bisa berhari raya di kampung.

Menantang maut adalah salah satu cara pemudik asal Garut selatan dan sekitarnya. Untuk bisa segera pulang kampung tak jarang mereka melakukan aksi menantang maut. Sejumlah warga rela naik kendaraan umum dengan cara menaiki atap mobil atau bergelayutan di pintu mobil.

Jelas cara ini bisa membahayakan jiwanya. Terlebih kondisi jalan menuju kawasan Garut selatan yang banyak tikungan tajam dengan ketinggian yang curam. Disamping itu, di beberapa titik kawasan menuju selatan Garut ini juga rawan longsor.

“Ya, mau bagaimana lagi alat transportasinya begini adanya. Yang penting saya bisa pulang kampung,” tutur Dede (43) salah seorang penumpang asal Citalahab Bungbulang. Jum’at (8/7/2016)

Dari pantauan “GE” pemudik asal Garut selatan dan sekitarnya yang menggunakan angkutan umum (elf) pada tahun ini (2016) sedikit mengalam penurunan. Pasalnya, saat ini sejumlah pemudik banyak yang menggunakan mobil rentalan dan motor. Hal ini diakui beberapa sopir elf jurusan Garut-Pameungpeuk-Bungbulang.

“Ya, penumpang sekarang banyak yang menggunakan mobil rentalan dan motor. Jadi agak sedikit yang naik elf,” tutur Ujang (40), salah seorang sopir elf jurusan Garut-Bungbulang.

Rusmana (41) salah seorang pemudik, sudah beberapa kali lebaran mengaku lebih memilih menggunakan mobil rental. Ia menilai, selain nyaman ongkosnya juga tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan ongkos angkutan umum yang menaikan tarif hingga 100%.

“Ya, kita bersama rombongan keluarga sudah tiga kali lebaran menggunakan mobil rental. Selain nyaman juga ongkosnya relatif murah, hanya beda dikit dengan ongkos elf yang biasa menaikan tarif ‘teu jeung kira-kira‘.” Ungkapnya.

Diakuinya, saat musim ‘marema’ lebaran ongkos elf jurusan Garut-Bungbulang yang biasanya hanya Rp 40.000- 45.000, naik menjadi Rp 10.000 per penumpang, termasuk penumpang yang naik diatas atap mobil ditarif dengan ongkos yang sama. (ER)***