Jelang Lebaran Harga “Si Melon” Melambung, Warga Malangbong Bingung

GARUT, (GE),- Beberapa hari menjelang tibanya hari raya Idul Fitri 1438 H (2017) Harga gas 3Kg (Si Melon) kembali melambung. Selain harganya relatif mahal, gas bersubsidi ini juga dibeberapa wilayah langka.

Kelangkaan Si Melon ini salah satunya terjadi di kawasan utara Kabupaten Garut, tepatnya di Kecamatan Malangbong dan sekitarnya.

Dari pantauan “GE” di pangkalan H.Osman yang berlokasi Jalan Raya Malangbong- Wado atau Pasar Kolot, tampak antrian warga yang berebut gas 3 Kg. Menurut Jajat Suryana, salah seorang sekitar, sudah dua pekan terakhir di wilayah malangbong dan sekitarnta gas 3Kg mengalami kelangkaan.

“Pokoknya bingung, sudah dua pekan ini gas 3kg seolah hilang.Jikapun ada persediaannya terbatas dan mahal,” keluhnya, Selasa (13/06/17).

Dikatakannya, selain langka gas di beberapa wilayah di kecamatan Malangbong harganya mencapai Rp 30.000 per tabung. (TAF Senopati/GE) ***

Editor: Kang Cep.

Harga “Si Melon” Melambung, Pasokan di Tingkat Pengecer Dibatasi

KOTA,(GE).- Gas ukuran 3 Kg kembali “bikin ulah,” di beberapa wilayah Kabupaten Garut harga jual “Si Melon” kembali membuat pusing warga. Untuk mengatasi melambungnya harga jual di tingkat pengecer, pemerintah mengeluarkan kebijakan dengan membatasi pasokan.

Kebijakan tersebut diharapkan bisa mengubah alur distribusi ke masyarakat. Demikian diungkapkan Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Kabupaten Garut Sobur Kuswandar, Rabu (5/9/2016).

“Dengan demikian, masyarakat yang biasanya membeli elpiji ke warung atau pengecer, sekarang bisa melakukan pembelian elpiji 3 kg langsung ke pangkalan,” tutur Sobur.

Pembatasan ini pun membuat pasokan elpiji 3 Kg ke pangkalan ikut dikurangi. Biasanya satu pangkalan di Garut bisa mendapat pasokan elpiji 3 kg lebih dari 200 tabung per hari.

“Sekarang pasokan elpiji 3 kg ke pangkalan itu maksimal 200 tabung. Kebanyakan pangkalan justru hanya dipasok kurang dari 200 tabung, karena mereka diwajibkan menjual elpiji ke masyarakat langsung, bukan ke warung-warung lagi. Batasan berapa pasokan harian ini, dikembalikan dengan jumlah penduduk di sekitar pangkalan,” jelasnya.

Menurut Sobur, kebijakan itu ditengarai oleh maraknya penjualan elpiji subsidi di masyarakat dengan harga jual lebih dari Rp20.000 per tabung. Mahalnya harga elpiji subsidi ini diperburuk dengan kerap kosongnya pasokan ke masyarakat.

“Makanya agar menanggulangi masalah itu, dibuatlah kebijakan pembatasan ini. Tujuannya agar masyarakat kecil bisa mudah mendapat elpiji dengan harga yang ditetapkan pemerintah,” ucapnya.

Pemerintah sendiri menetapkan harga jual elpiji bersubsidi di tingkat agen sebesar Rp14.500 per tabung. Sementara di pangkalan, elpiji dapat dibeli dengan harga Rp16.000 per tabung.

“Saya mengingatkan agar setiap pangkalan di Kabupaten Garut, selalu melayani masyarakat yang melakukan pembelian langsung. Pangkalan sekarang tidak lagi diwajibkan untuk memasok ke pengecer. Bila ada pangkalan yang tidak melayani, laporkan kepada kami untuk ditindaklajuti. Biasanya akan ada sanksi untuk yang seperti ini,” tegasnya.

Terkait kelangkaan pasokan elpiji 3 kg, Sobur membantah hal tersebut. Ia menyatakan pasokan elpiji bersubsidi ke Kabupaten Garut normal di setiap harinya.
“Jumlahnya (elpiji) banyak, tidak ada kekosongan karena terus dipasok setiap hari, kecuali hari libur dan hari-hari besar.” Tukasnya. (Tim GE)***

Lagi, Gas 3 Kg “Raib” di Pasaran, Harganyapun Sudah Tak Wajar

TARKI,(GE).- Di tengah masih berkabungnya warga Garut akibat terjangan Sungai Cimanuk, kini warga Garut kembali mengeluhkan “raibnya” Gas elpiji 3 kg. Sejumlah warga di beberapa wilayah Kabupaten Garut mengaku dipusingkan dengan menghilangnya gas bersubsidi ini di tingkat pengecer.

Budi (46), salah seorang warga di Desa Tarogong, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut mengaku “lieur” dengan sulitnya mendapatkan gas elpiji 3 kg. Ia mengaku telah berkeliling ke sejumlah pengecer di desanya, namun nihil tak menemukannya.

“Sejak hari Senin, seharian mencari gas elpiji. Di setiap pengecer dan warung warung, ‘kalahka lieur’ semua mengatakan kosong,” lkeluhnya, Selasa (4/10/2016).

Diungkapkannya, dirinya baru bisa membeli gas elpiji tersebut di SPBU kawasan Ciateul Garut, yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya.

“Saya baru bisa dapat hari ini, itu juga setelah saya diberi tahu bahwa di SPBU ada elpiji,” tukasnya.

Menurutnya, “Si Melon” sangat diperlukan untuk kebutuhan di rumah tangganya. Terlebih dirinya akan menggelar hajatan yang memerlukan persediaan gas cukup.

Kekosongan elpiji juga terjadi di wilayah Kecamatan Samarang. Seorang warga Kampung Lengkong, Desa Samarang, Kecamatan Samarang, Purnama (32), mengaku kekosongan elpiji terjadi sejak beberapa hari terakhir ini.

“Sudah beberapa hari elpiji di warung tidak ada. Menurut pemilik warung, elpiji yang dipasok agen terbatas jumlahnya. Katanya hanya lima tabung dalam satu kali pengiriman,” kata Purnama.

Diseburkannya, harga elpij di salah satu warung di kampungnya Rp 24.000 per tabung. Di wilayah Kecamatan Karangpawitan, stok elpiji di tingkat pengecer juga mengalami hal yang sama.

Tini (40), seorang pengecer elpiji di Kampung Walahir, Desa Sindanglaya, Kecamatan Karangpawitan, mengaku stok elpiji di warungnya kosong. “Saya kira cuma di warung saya saja yang kosong karena belum ada pengiriman dari agen, namun rupanya di warung-warung lain di desa juga sama. ungkapnya.

Dikatakannya, harga satu tabung elpiji yang ia jual di warungnya adalah Rp 24.000. Namun saat kelangkaan terjadi, harga elpiji akan naik bila dibandingkan dengan harga normal.

“Kalau lagi biasa (stok tersedia) paling saya jual Rp 24.000, tapi kalau misalnya saat langka begini saya jual antara Rp 26.000 – Rp 27.000. Itu pun bila stoknya ada,” tuturnya. (Tim GE)***

Warga Garsel Kesal, Si Melon Masih Mahal dan Sulit Didapat

SINGAJAYA,(GE).- Pascalebaran Iedul Fitri 1437 H, gas elpiji ukuran 3 Kg (Si Melon) di beberapa kawasan Kabupaten Garut masih mahal, selain mahal gas bersubsidi ini sulit pula didapat. Pengecer saat ini di beberapa wilayah dijual pada kisaran harga Rp 30 ribu per tabung, bahkan lebih. Misalnya, di Garut selatan (Garsel) harganya mencapai Rp 37 hingga Rp 40 ribu per tabungnya.

“Ya, di desa Kami (Desa Pancasura/ red.) harganya mencapai Rp 37 ribu per tabung,” ungkap Saefulloh, yang merupakan Kepala Desa Pancasura, Kecasmatan Singajaya, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ahad (10/7/ 2016).

Diungkapkannya, selain mahal Si Melon juga sangat sulit didapat. Kondisi ini tentunya membuat warga setempat kesal. Untuk mendapatkannya, bahkan, sejumlah warga ada yang mencari gas elpiji ke wilayah Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

“ Ada sebagian warga terpaksa harus menempuh jarak sekitar 20 km untuk mendapatkan gas elpiji ukuran 3 kg. Harga gas elpiji di wilayah Garut selatan terus berubah. Saat dipertengahan bulan puasa, harga gas elpiji jatuh di kisaran Rp 30 ribu sampai Rp 32 ribu pertabung.” Jelasnya.

Sementara itu di wilayah Garut utara keberadaan Si Melon Juga sempat tidak stabil, dan membuat kesal warga. Harganya melambung tinggi hingga jatuh di kisaran Rp 30 ribu pertabung.

“Bagaimana pemerintah ini, mengatasi gas elpiji saja tidak bisa. Kami benar-benar dibuat pusing dengan harga dan kelangkaan gas 3 Kg ini,” tutur Omis (50), warga di sekitar Kecamatan Leuwigoong.

Akibat langka dan sulitnya gas 3Kg ini, sebagian warga di wilayah selatan Garut lainnya, malah ada yang sudah beralih menggunakan kayu bakar untuk memasak.

“Pusing pokoknya kalau sudah begini. Mana di saat Lebaran banyak sanak saudara yang bersilaturahmi. Mana perhatian pemerintah. Apa boleh buat kita gunakan tungku seadanya dan kayu bakar seadanya pula,” tutur Bahtiar (47), warga di Kecamatan Bungbulang. (Tim GE)***

Gas Melon di Garut Langka, Pemkab dan Pengusaha Saling Tuding

KOTA, (GE).- Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi menyebut kelangkaan elpiji di Kabupaten Garut dalam sepekan terakhir. Diduga kelangkaan gas melon itu disebabkan spekulasi sejumlah pengecer menjelang bulan Ramadan.

Ketua Hiswana Migas Kabupaten Garut Sobur Kuswandar mengatakan, kelangkaan kemungkinan terjadi di tingkat pengecer. Pasalnya, penjualan di tingkat pengecer di luar jangkauan pengawasannya.

“Spekulasi pengecer yang membuat kelangkaan. Penjualan di tingkat pengecer di luar kendali (Hiswana Migas),” tuturnya saat dihubungi, Minggu (31/5/2016).

Sobur menjamin pasokan dari Pertamina ke SPBE, agen, hingga pangkalan berjalan lancar. Dia menyebutkan terdapat empat SPBE, 28 agen, dan 500 pangkalan elpiji di seluruh Kabupaten Garut.

Dia mengaku terus melakukan pantauan pasokan hingga pangkalan. Menurut Sobur, kenakalan di tingkat agen dan pangkalan jarang terjadi karena terus dipantau oleh Pertamina dan pemerintah.

“Kalaupun terjadi hanya 1-2 oknum yang nakal. Pangkalan yang nakal bisa dihapus jika ketahuan dan langsung diganti,” ucapnya.

Dia menjelaskan, tak kurang dari 45.000 elpiji 3 kilogram didistribusikan kepada masyarakat setiap hari atau sekitar 1,2 juta per bulan. Di tingkat pangkalan, harga eceran tertinggi ditetapkan sebesar Rp 16.000.

“Apabila ada pangkalan yang menjual di atas HET, laporkan saja ke Pertamina atau Pemkab Garut langsung agar bisa segera ditindaklanjuti,” ujar Sobur.

Selain menuding spekulasi pengecer, Sobur menduga kelangkaan terjadi lantaran pembeli yang tidak berhak membeli gas melon, justru memborong dalam jumlah banyak. “Ada juga yang mengacaukan distribusi, yaitu pembeli yang mampu. Tak jarang mereka membeli sampai lima tabung elpiji 3 kilogram,” katanya.

Menurut dia, hal itu menunjukkan kesadaran masyarakat mampu di Kabupaten Garut masih minim. Padahal, pasokan gas 3 kilogram dinilainya lebih dari cukup. Bahkan, selama bulan Ramadan biasanya ada pasokan tambahan.

Kasi Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Garut, Romansyah, mengaku selalu melakukan pemantauan pasokan barang. Meski ada peningkatan permintaan dari masyarakat, seharusnya tidak menyebabkan kelangkaan ataupun kenaikan harga karena biasanya pihak Pertamina selalu menambah kuota elpiji selama Ramadan.

Romansyah menduga selama ini para pengusaha pangkalan mempermainkan harga secara berjemaah. Hal tersebut membuat kenaikan harga gas 3 kilogram sulit dikendalikan.

“Bukan satu atau dua pangkalan saja yang bermain harga, hampir semua pangkalan tidak lagi menjual gas dengan harga yang sudah ditentukan,” katanya.

Menurut dia, rantai Pendistribusian gas dinilai terlalu panjang sehingga harga menjadi mahal. Dalam aturan, gas bersubsidi itu seharusnya didistribusikan langsung kepada konsumen dari konsumen tanpa melalui pengecer. Farhan SN***

Kelangkaan “Si Melon” Meresahkan, Pemerintah Harus Segera Turun Tangan

CISURUPAN, (GE).- Dalam sepekan terakhir masyarakat di beberapa wilayah mulai diresahkan dengan “raib”nya gas 3 Kg alias “Si Melon.” Keresahan warga ini cukup beralsan, karena bahan bakar ini sangat dibutuhkan, terlebih dalam menghadapi ‘munggahan’ atau bulan Suci Ramadhan.

Akibat kelangkaan gas ini, pemandangan antrian warga di agen agen gas mulai tampak. Misalnya, pada hari ini, ratusan warga di kawasan Cisurupan harus rela antre berjam-jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar bersubsidi ini. Warga di kawasan ini tampak mengular antri dikompleks SPBU Cisurupan, Selasa (31/05/2016).

Rustandi, warga Kampung Pasar Kidul, mengaku terpaksa harus mengantri lebih dari 2 jam. Ia mengatakan sudah beberapa hari ini terjadi kelangkaan gas 3 kg, kalaupun ada harganya mahal.

“Akhir-akhir ini gas sangat sulit, kalaupun ada harganya bisa sampai Pp 27.000/ tabung, bahkan ada beberapa warung yang menjual hingga Rp 29.000. Ya, karena butuh mahal juga kita beli”, tuturnya

Sementara akibat kelangkaan ini, selisih harga jual yang cukup jauh antara agen dan warung. Hal inilah yang membuat warga warga rela mengantri di agen yang masih mematok harga stanar yang wajar.

“Disini memang harganya murah, sekitar 16.000 cuman sayangnya buka hanya 1 kali dalam seminggu”, keluhnya.

Rustandi dan warga lainnya berharap adanya perhatian dan tindakan konkret dari pemerintah dan pihak terkait untuk segera mengatasi hal ini.

“Tolong pemerintah bantu masyarakat untuk mengatasi kelangkaan gas ini. Jika tidak, saya kok khawatir masyarakat kehilangan keshabarannya,” tukasnya. (Agus Muhram)***

“Si Melon” Kembali Langka, Masyarakat Dibuat Jengkel

KOTA,(GE).- Sepertinya sudah tradisi, menjelang ‘marema’ atau menghadapi hari – hari besar keberadaan ‘Si Melon’ atau gas ukuran 3 Kg kerap langka. Seperti halnya menjelang masuknya bulan suci Ramadhan tahun ini (2016). Dari pantauan ‘GE’ di sekitar Kecamatan Karangpawitan, Garut kota dan sekitarnya dalam seminggu terakhir gas yang katanya bersubsidi ini mulai sulit didapat.

“Ah, pokonya jengkel ! Dalam beberapa hari ini, gas 3 Kg sangat sulit didapat. Saya kok curiga ini sengaja ditimbun oleh oknum yang ingin mendapat untung. Sementara rakyat kecil menderita,” Ungkap Didin salah seorang warga di kawasan Karangpawitan.

Sementara itu, beberapa pedagang mengaku pasokan gas 3 Kg ini memang dalam beberapa hari terkahir distribusinya dibatasi oleh agen. Dibatasinya distribusi gas 3 Kg ini menurut para pedagang tidak disertai alasan jelas dari distributornya.

“Ya, memang langka sudah beberapa hari ini, dari distributornya sendiri tidak memberikan alasan yang jelas. Dari agen kita paling dapat jatah 3 tabung saja.” Tutur Titin, salah seorang pedagang di bilangan Jalan A.Yani, Karangpawitan. Minggu (29/05/2016).

Kelangkaan gas ini tentunya disesalkan warga, terlebih para pedagang kecil yang aktivitasnya biasa menggunakan jasa ‘Si Melon.’ Warga berharap pihak terkait, termasuk Pemkab Garut segera mengatasi kelangkaan kebutuhan pokok khalayak ini, sebelum terjadi gejolak di tengah masyarakat.

“Tentu, kami berharap pemerintah. Khususnya Pemkab Garut segera mengatasi krisis gas 3 Kg ini. Jangan sampai masyarakat kehilangan kesabarannya,” harap Dadan, warga Desa Suci. (ER)***