Kapolres Garut Minta Maaf Kepada Keluarga Korban Atas Insiden Aksi Koboy Anggotanya

GARUT (GE).- Aksi koboy yang melibatkan dua orang anggota Polisi telah mencoreng institusi penegak hukum ini. Atas insiden tersebut, Kapolres Garut, AKBP. Novri Turangga, melalui Kabag Humas Polres Garut, AKP. Ridwan Tampubolon, memohon maaf kepada keluarga korban.

“Dengan hati yang tulus, atas nama Kapolres Garut memohon maaf atas insiden ini. Kejadian ini saat ini sedang ditangani,” ujar Ridwan, Selasa (3/10/17).

Ridwan berjanji proses hukum akan ditegakkan dengan adil. Proses hukumnya kini sedang ditangani oleh Provam Polres Garut.

Sementara itu, Kasat Reskrim AKP. Khoeruloh kepada sejumlah media membenarkan adanya kejadian tersebut. Namun menurutnya, insiden tersebut merupakan kelalaian dari anggota Polsek Pakenjeng dan yang melakukannya hanya satu orang.

“Betul semalam kejadian itu terjadi saat angota kami sedang hiburan, karena joget-joget tanpa sadar senjata yang di bawa meletus. Pelurunya tembus ke dinding mengenai orang yang ada di room sebelahnya. Hasil pemeriksaan sementara pelaku tidak memainkan senjata,” pungkasnya.(Fauziani)***

Tak Kunjung Diberangkatkan Umrah First Travel, Akhirnya Rokayah Wafat dalam Penantian

GARUT,(GE). – Rokayah (67),  Kampung Tegal Jambu, Desa Pananjung, Kecamatan Tarogong Kaler , Kabupaten Garut adalah salah satu korban First Travel. Harapannya untuk bisa beribadah di tanah suci kini sirna. Pasalnya, setelah mendaftar sebagai jemaah umrah Rokayah malah harus menunggu lama hingga akhirnya dibatalkan agen perjalanan First Travel.

Akibat penantian yang cukup lama dan tanpa kejelasan, Rokayah menderita sakit hingga akhirnya ajal menjemputnya pada Kamis (24/8/17). Menurut pengakuan keluarganya, almarhmah meninggal dunia akibat serang jantung, setelah sebelumnya mendapat perawatan di Rumah Sakit Intan Husada, Garut selama delapan hari.

” Kita sempat adakan walimatussafar dulu dan undang tetangga di sini. Tapi akhirnya batal berangkat,” kata Rahmat Rosadi (44), anak ke empat Rokayah, Sabtu (26/8/2017).

Diungkapkannya, ibunya mendaftar umrah ke First Travel di Jakarta melalui dirinya. Ia memang menetap di kawasan Palmerah, Jakarta Barat. Selain ibunya dan Rahmat, ada enam orang lain di keluarganya yang ikut mendaftat ke First Travel.

“Daftarnya 2015 dan dijanjikan berangkat sebelum bulan puasa tahun ini. Jadwalnya lalu dimajukan dua hari dari agenda semula. Tapi dua hari sebelum berangkat, malah dapat kabar pembatalan,” ucapnya.

Saat mendapat kabar akan berangkat, lanjut dia, ibunya mengadakan selamatan di rumahnya. Usai itu, Rokayah langsung berangkat ke rumah Rahmat di Jakarta.

“Waktu di rumah saya itu baru dapat kabar dibatalkan. Ibu sempat tidak mau pulang di Garut. Lebaran juga di sini (Jakarta),” ujarnya.

Diungkapkannya,  Rokayah akhirnya mau kembali ke Garut. Namun tak lama setelah itu, ibunya sakit dan dirawat di rumah sakit hingga meninggal dunia.

“Padahal waktu mau berangkat kondisinya sehat, segar, dan bersemangat karena mau umrah. Itu yang bikin saya sakit hati (ke First Travel),” katanya. (Andri)***

Editor: Kang Cep.

BREAKING NEWS : Diduga Akibat Keracunan Makanan, 81 Korban Banjir Bandang Cimanuk Dilarikan ke Rumah Sakit

GARUT, (GE).- Sedikitnya 81 warga Kabupaten Garut, Jawa Barat, diduga mengalami keracunan makanan sehingga harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis, Minggu (21/5/17) dini hari sekira pukul 03.00 WIB. Mereka diketahui merupakan korban banjir bandang yang menerjang Kota Garut pada September 2016 lalu.

“Ada puluhan yang dilarikan ke sini. Yang pasti sedang kami tangani,” kata Bupati Garut, Rudy Gunawan, kepada wartawan di RSUD dr. Slamet Garut, Minggu (21/5/17).

Menurut Rudy, puluhan wargannya ini dilarikan ke rumah sakit setelah sebelumnya menyantap hidangan di salah satu acara sosial yang diselenggarakan salah satu sponsor.

“Ya katanya dari idangan acara kemarin, tapi belum tahu juga, harus diteliti dulu. Terlebih ada banyak orang yang makan hidangan itu, tapi tidak semuanya dilarikan ke rumah sakit,” ucap Rudy.

Salah seorang korban, Entin (34), mengatakan, bebapa jam setelah menyantap hidangan itu ia merasakan sakit perut , lemas, dan pusing-pusing.

“Dari malam, setelah makan rendang di acara kemarin,” kata Entin di RSUD Dr. Slamet Garut, Minggu (21/5/17).

Menurut informasi dari petugas rumah sakit, para korban mulai berdatangan ke RSUD dr. Slamet sejak Minggu dini hari sekira pukul 03.00 WIB. Jumlah pasien yang datang mencapai 81 orang. Hingga saat ini mereka masih mendapat perawatan intensif dari pihak rumah sakit. (Mempis/GE)***

Editor : SMS

BREAKING NEWS : Tiga dari Lima Korban Tergulung Ombak Pantai Cidora Ditemukan Tewas

GARUT, (GE).- Tiga dari 5 siswa SMP Integral Hidayatullah Kota Depok, Bogor, Jawa Barat, yang kemarin dikabarkan hilang akibat tergulung ombak  di Pantai Cidora, Rancabuaya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut, akhirnya ditemukan, Rabu (17/5/17). Korban yang ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa masing-masing diketahui berinisial Muhammad Faisal Ramadhan (16), Khalid Abdullah Hasan (16), dan Rijal Amarullah (16).

Menurut keterangan Camat Caringing, Engkos Hardy, jasad Muhammad Faisal ditemukan di dekat jembatan Kampung Pasangrahan, sekira 8 km dari tempat kejadian sekira pukul 15.35 WIB. Sedangkan jasad Khalid ditemukan warga sekira pukul 16.30 WIB Kampung Cikawung, Desa Samudra Jaya, dan jasad Rijal ditemukan di Kampung Cihideung, Desa Indralayang.

“Identitas korban diketahui karena ada pihak keluarga yang mengenalinya,” kata Engkos, Rabu (17/5/17).

Muhammad Faisal Ramadhan adalah warga Jalan Setu Baru, Perum Alam Sukmajaya A/8, RT 1 RW 1, Depok, Jawa Barat. Khalid Abdullah Hasan warga  Perum Harapan Baru, Jalan Pala, RT 3 RW 6, Bekasi, Jawa Barat. Rijal Amarullah. warga Jalan Sawah Darat No. 6, RT 7 RW 5, Katapang Cipondoh, Tangerang, Banten.

Setelah ditemukan, ketiga jasad siswa MTs Integral Hidayatullah itu langsung dievakuasi ke Puskesmas Sukarame, Kecamatan Caringin, untuk diberikan perawatan.

“Jasad para korban setelah diberikan perawatan akan kami serahkan kepada pihak keluarganya masing-masing,” kata Kepala Puskesmas Sukarame, dr. Fahrul Roji, kepada “GE”, Rabu (17/5/17).

Sebagaimana diberitakan kemarin, sedikitnya 13 orang santri MTs Hidayatullah, Kota Depok digulung ombak Pantai Cidora Rancabuaya, Desa Purbayani, Kecamatan Caringin, Selasa (16/5/17). Dari 13 santri tersebut, 8 orang berhasil diselamatkan, sementara lima orang lainnya diyatakan hilang.

Kasi Pelayanan Penyelamatan non Kebakaran Disdamkar Kabupaten Garut, Tubagus Agus Sofyan, menyebutkan, 23 orang rombongan santri dan satu pengasuh itu diketahui sedang berlibur di  Pantau Rancabuaya. Rombongan tiba di kawasan Pantai Rancabuaya pada Senin (15/5/17) malam.

Selasa (16/5/17) sore, sekira pukul 16.00 WIB, mereka berenang di kawasan pantai. Tiba-tiba ada ombak besar dan para santri itu terseret arus. Sebagian korban bisa diselamatkan, namun lima santri menghilang ditelan ganasnya ombak Pantai Laut Selatan. (Deni/GE)***

Editor : SMS

Terkait Korban Musibah Benteng Ambruk di Sukaregang, H. Ejeb Berjanji Penuhi Semua Tuntutan Keluarga Korban

GARUT, (GE).- Semua korban akibat ambruknya benteng pembatas pabrik penyamakan kulit di Kampung Sukaregang RT/RW 01/21, Kelurahan Kota Wetan, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dipsatikan mendapat santunan dari sang pemilik pabrik, H. Ejeb Junaedi. Bahkan, H. Ejeb, berjanji akan memenuhi seluruh tuntutan keluarga korban, baik korban tewas, luka berat, juga yang rumahnya hancur tertimpa benteng, Selasa (4/4/17) sekira pukul 16.30 WIB.

“Ya, permintaan keluarga korban akan saya penuhi. Dari mulai biaya kapapaitan, biaya sagala macem, rumah, pokoknya apa yang mau dia saya terima dan saya ganti,” ungkap H. Ejeb kepada “GE” di rumahnya, Rabu (5/4/17).

Ketika disinggung tentang kontruksi benteng, H. Ejeng menjelaskan, itu dibangun dua tahun lalu. Karena itu, Ejeb tidak mau menduga-duga mengenai penyebab ambruknya benteng pembatas pabrik tersebut. Soalnya, kata H.  Ejeb, hal itu harus ditanyakan kepada pemborong yang membangun benteng tersebut.

“Saya nggak bisa itu ya. Soalnya itu kan diborong sama pemborong,” terang H. Ejeb.

Namun, H. Ejeb membantah kalau dikatakan tidak menghiraukan peringatan dari warga sekitar tentang kondisi benteng sebelum ambruk. Menurut warga, sebenarnya mereka sudah meminta agar H. Ejeb segera memperbaiki benteng pembatas pabriknya yang dinilai warga akan ambruk. Meski menyanggupi, perbaikan belum dilakukan sampai musibah itu terjadi.

“Ah itu mah, orang kan ada yang senang dan tidak.Ya kita mah semuanya diambil hikmahnya aja ya. Apa yang dia bicarakan itu mah hak dia. Cuma kami tetap tanggung jawab,” tandasnya.

Lebih jauh H. Ejeb mengatakan, dirinya tidak pernah menyangka akan terjadi musibah seperti ini. Apalagi sampai menelan korban jiwa dan menghancurkan rumah tetangganya.

“Ya, tapi yang namanya musibah ya. Yang penting kita ambil hikmahnya saja,” keluhnya.

Rabu (5/4/17) siang tadi berlangsung pertemuan antara Muspika Garut Kota yang dihadiri Camat, Kapolsek, serta Danramil setempat, dengan pihak H. Ejeb di rumahnya. Kehadiran Muspika untuk menyampaikan aspirasi para korban yang menderita kerugian baik moril maupun materil atas musibah tersebut.

Selain dua korban jiwa, ambruknya benteng pembatas menyebabkan tiga rumah hancur termasuk perabotan di dalamnya. Bahkan, ada salah satu pemilik rumah yang sepeda motornya juga rusak parah akibat tertimpa reruntuhan benteng. (Sony MS/GE)***

Hanya Sempat Menyerukan “Allahu Akbar!”, Juwaedah pun Tewas Tertimbun Longsor

GARUT, (GE).- Musibah longsor kembali terjadi di kawasan Garut Selatan, Sabtu (18/3/17) sekira pukul 16.00 WIB. Kali ini musibah longsor yang menelan korban jiwa terjadi di Kecamatan Cihurip, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Informasi awal yang masuk ke meja redaksi “GE”, longsor terjadi di dua lokasi, di Kampung Sarongge yang menelan korban jiwa sebanyak 3 orang.

Namun, informasi tersebut langsung dibantah Sekmat Cihurip, Sambas. Di Kampung Sarongge tidak terjadi bencana.

“Korban tewas hanya satu orang atas nama Ibu Juwaedah (55), warga Kampung Cipari. Kebetulan saya masih di rumah korban,” kata Sambas, kepada “GE” melalui telepon selulernya, Sabtu (18/3/17) malam sekira pukul 20.25 WIB.

Menurut keterangan Sambas, korban saat itu ditemani anak perempuannya, Janas (40). Mereka bermaksud memperbaiki saluran air yang menuju jamban rumahnya. Belum lama sampai di lokasi yang jaraknya sekira 70 meter dari rumah korban, tiba-tiba dinding tebing parit setinggi 30 meter dengan lebar 15 meter mengalami longsor.

Janas yang mengetahui kejadian itu langsung berlari menjauh sambil memperingatkan ibunya agar segera berlari menghindari longsoran tanah. Namun, teriakan Janas tak dihiraukan korban yang sedang asyik menunduk memperbaiki saluran air. Begitu menyadari bahaya mengancam, korban akhirnya hanya mampun menyeru “Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Sedetik kemudian, tubuh korban lenyap ditelan longsoran tanah.

Janas yang menyaksikan kejadian tersebut tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Janas pun langsung menyampaikan kabar duka yang menimpa istri  Ki Dahlan (70) itu kepada kerabat keluarganya.

Sampai berita ini dilansir, korban masih disemayamkan di rumah duka. Camat Cihurip, Asep Harsono, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Garut, Rahmat Supriatin, turut melayat langsung ke rumah korban. Rencanannya korban dimakamkan Minggu (19/3/17) pagi di TPU Cipari.

Lebih jauh dikatakan Asep Harsono, longsor yang terjadi di Kampung Cipari sudah bisa ditangani. Para petugas BPBD Kabupaten Garut yang langsung terjun ke lapangan mampu menuntaskan perbaikan secepat mungkin. Hanya saja, akibat musibah tersebut, aliran listrik di Kecamatan Cihurip sempat terputus hingga malam hari.

“Selain longsoran tanah yang merusak pesawahan dan menelan korban jiwa, terjadi lonsoran kecil di dua titik lainnya. Tetapi Alhamdulillah, semuanya sudah bisa ditangani,” imbuh Asep Harsono. (Sony MS/Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Tercebur ke Sumur, Jasad Pegawai Samsat Ini Sulit Dievakuasi

GARUT, (GE).- Sesaat setelah turun hujan, warga Kampung/Desa Salamnunggal, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, digegerkan dengan penemuan jasad laki-laki yang memngambang di dalam sumur. Karena keterbatasan alat, mayat tersebut kesulitan untuk dievakuasi, hingga sore hari, sekira pukul 16.30 WIB, Jumat (16/12/2016) jasad pria malang tersebut belum bisa diangkat dari dalam sumur.

Kapolsek Leles, AKP Asep Muslihat, mengatakan,  korban yang tercebur ke sumur itu diketahui bernama Jajang Nurjaman (48). Jajang ditemukan tewas di dalam sumur sekitar pukul 14.00 oleh keluarganya. Korban yang berprofesi sebagai PNS di Samsat Bandung itu jatuh ke sumur sedalam 10 sampai 12 meter.

“Kami mendapat laporan jika ada korban yang jatuh ke dalam sumur siang tadi. Kami berupaya mengevakuasi korban namun sulit karena tidak ada alat. Kami sudah berkoordinasi dengan Basarnas Bandung untuk mengeluarkan korban. Untuk penyebab korban sampai tercebur ke sumur, kita masih melakukan penyelidikan,” ujar Asep di lokasi kejadian, Jumat (16/12/2016).

Diungkapkannya, korban jatuh ke dalam sumur di rumah milik orang tuanya. Sejak siang warga sudah berupaya mengevakuasi korban. Namun karena lokasi sumur yang dalam dan sempit membuat proses evakulasi terkendala. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

Gara-gara Menyalip Mobil, Anak Sekmat Bungbulang jadi Korban Pemukulan di Hadapan Aparat

BUNGBULANG, (GE).- Belum lama ini telah terjadi aksi kekerasan yang menimpa Hifdil Fathurramadi, siswa Kelas XII, SMAN 29 Garut. Menurut korban, kejadian ini terjadi tepat di depan rumahnya, di Kampung  Cikanyere, Desa/ Kecamatan Mekarmukti, Kabupaten Garut.

Sementara itu kejadian bermula saat korban menyalip mobil, tiba-tiba pelaku turun dari mobilnya dan ltanpa basa basi langsung melayangkan bogem mentah. Ironisnya kejadian ini berlangsung dihadapan salah seorang anggota kepolisian setempat.

”Pada waktu itu saya pulang dari sekolah dengan mengendarai sepeda motor. Kemudian di sekitaran Cijayana saya menyalip mobIl avanza warna silver yang di dalam mobil tersebut ada 4 orang. Setelah mobil tersebut terlewati saya juga merasa kaget ternyata mobil tersebut mengejar saya. Hingga akhirnya sampai di depan rumah saya kemudian saya berhenti dan mobil tersebut pun berhenti,terus dari mobil itu keluar Aj yang merupakan anggota kepolisian dari Polsek Caringin namun pada saat itu tidak memakai seragam,kemudian  menegur saya dan menanyakan surat ijin mengemudi (SIM). Tiba-tiba dari dalam mobil keluar lagi satu orang, dengan berbicara kasar dan langsung memukul saya sebanyak 3 kali ke arah  pipi bagian kiri,” ungkap Hifdil, Selasa (18/10/2016)

Drs. Sukman Munawar A.M.Si., yang merupakan Sekmat Bungbulang, tidak menyangka kekerasan ini menimpa pada anaknya. Pasalnya di dalam mobil tersebut, selain pelaku, diantaranya ada dua orang kepala desa yaitu Kepala Desa Karangwangi, Kecamatan  Mekarmukti dan Kepala Desa Samudrajaya, Kecamatan Caringin, serta seorang lagi anggota Polsek Caringin.

“Saya menyayangkan atas terjadinya  kejadian ini, padahal di dalam mobil itu selain pelaku ada dua orang kepala desa dan satu orang anggota kepolisian, tapi kok bisa terjadi,” sesalnya.

Pascakejadian, Sukman telah melaporkan kasus kekerasan  yang menimpa anaknya ini ke Polsek Bungbulang. Ia berharap, pelaku tindak kekerasan tersebut dihukuman yang sesuai dengan undang undang yang berlaku. ( Deni-Siti )***

 

H.Ferdiansyah Santuni Korban Banjir Bandang Cimanuk di Dua Kecamatan

KARANGPAWITAN, (GE).– Bencana banjir bandang yang melanda sebagian warga di sepanjang bantaran sungai Cimanuk Garut belum lama ini terus mengundang empati berbagai kalngan. Mengalirnya sikap empati berbagai elemen ini cukup beralasan, terlebih bencana ini telah merenggut puluhan korban jiwa dan ribuan orang harus mengungsi.

Seperti halnya pejabat lain, melihat kondisi tersebut, H. Ferdiansyah, SE.MM selaku anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Dapil X (Garut, Tasik dan Kota Tasikmalaya) juga tak ketinggalan memberikan sumbangsihnya.

Belum lama ini, Ferdiansya langsung turun ke salah satu lokasi terdampak banjir, tepanya di Kecamatan Karangpaitan dan Banyuresmi. Dalam kesempatan ini, Ia memberikan santunan kepada korban berupa selimut, perlengkapan mandi dan juga alas tidur.

“Kita juga memberikan seragam dan juga sembako di SMPN 3 Tarogong Kidul,’ ujarnya. Sabtu (25/9/2016).

Diharapkannya, bantuan tersebut bisa meringankan beban warga yang menjadi korban. Selain itu diharapkan warga bisa mengambil hikmahnya dari musibah banjir bandang tersebut.

“Tentunya, kami prihatin atas terjadinya bencana banjir bandang khususnya di Kecamatan Karangpawitan dan juga wilayah kecamatan Banyuresmi yang telah di kunjungi hari ini. Kami menghimbau agar warga senantiasa tabah, tawakal dan tetap semangat dalam menghadapi cobaan ini,” tutur anggota DPR RI komisi X yang membidangi Pendidikan, Kebudayaan, Pariwisata, Dikti, Pemuda dan Olahraga ini. (Tim GE/ adv)***

BREAKING NEWS: Sesosok Mayat Kembali Ditemukan, Diduga Kuat Korban Banjir Cimanuk ke 35

CIBATU,(GE).- Tim gabungan TNI dan Polri, kembali menemukan mayat yang diduga kuat korban banjir bandang Cimanuk. Mayat berjenis kelamin laki-laki ini ditemukan di sungai Cimanuk, Kampung Salagedang, Desa Cibatu, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Sabtu (8/10/2016) sekira pukul 15.30 WIB.

Pada saat ditemukan kondisi mayat sangat mengenaskan, berada di bibir sungai, tergeletak diatas bebatuan. Proses evakuasi berlangsung dramatis, para petugas bersama warga harus mengevakuasi korban melalui tebing dengan kemiringan 90 derajat.

Setelah memakan waktu lebih dari 2 jam, petugas akhirnya berhasil mengevakuasi mayat dan langsung melarikan ke rumah sakit untuk dilakukan proses identifikasi.

Danramil 1105/Cibatu, Kapten Inf. Jaja Wiharja, membenarkan, dengan penemuan mayat di wilayah Kampung Salagedang, Desa Cibatu, Kecamatan Cibatu, dengan jenis klamin laki-laki, diperkirakan usia 35 tahunan.

Dikatakannya, proses evakuasi sedikit mengalami kendala, karena medan sangat curam. Sehingga untuk bisa mengevakuasi para petugas terpaksa menarik silih bergantian dengan menggunakan seutas tali.

” Ya, tadi kami sedikit kesulitan untuk melakukan evakuasi korban,”

Menurutnya, saat ditemukan kondisi mayat sudah membusuk serta sudah dipenuhi belatung, kendati masih menggunakan pakaian lengkap.

Guna proses identifikasi, mayat jenis klamin tersebut langsung dilarikan ke Rumah Sakit, dengan menggunakan kendaraan milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut.

Seperti diketahui sebelumnya, Basarnas dan Posko Bencana Alam, telah resmi menghentikan proses pencarian korban hilang sebanyak 19 orang. Karena sudah dianggap tidak efektif lagi.
Atas penemuan mayat tersebut, korban tewas akibat banjir bandang menjadi 35 orang dan yang masih dinyatakan hilang sebanyak 18 orang. (Hakim Aghani)***