Diduga Stress Terlalu Lama Tinggal di Pengungsian, Dua Orang Warga Cisompet Akhirnya Meninggal

CISOMPET, (GE).- Ratusan jiwa warga korban pergerakan di Desa Sindang Sari, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, Jawa Barat saat ini kondisinya semakin memprihatinkan. Sejak terjadinya bencana alam ini pada Februari (2016) lalu, tercatat sudah tiga orang meninggal, dan diantara penyebabnya adalah depresi dan sakit karena tinggal terlalu lama di pengungsian tanpa kejelasan.

Ayi Sulastini, Pejabat Sementara Kepala Desa Sindang Sari, Kecamatan Cisompet, menyebutkan bahwa tiga orang warga telah meninggal di tempat pengungsian sejak Februari lalu.

“Memang ada tiga warga yang meninggal di pengungsian. Dugaan awalnya karena stress, mungkin terlalu lama tinggal di pengungsian hingga akhirnya sakit. Sekarang ini ratusan warga memang masih tinggal di pengungsian sementara yang tempatnya di lapangan voli yang tanahnya milik desa. ” ungkapnya, Kamis (12/6/ 2016).

Kepala Pelaksana Badan Pananggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Dadi Zakaria mengatakan, pihaknya masih menunggu kajian dari Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi (PVMBG).

“Saat ini (kemarin) tim dari BPBD tengah di Cisompet juga untuk mengecek kondisi terkini warga dan lapangan pasca kejadian pergerakan tanah. Di pertengahan April kemarin juga kita sudah mengecek dan menyalurkan kebutuhan logistik, ” tutur Dadi kepada sejumlah awak media.

Dikatakannya, pada pertengah April lalu hasil pengecekan adalah telah selesai dibangun 4 hunian sementara ukuran 4×10 meter dan bisa dihuni 30 orang per unitnya, 2 MCK ukuran 2×6, 1 dapur dan saluran pipa air bersih. Pengecekan sendiri, saat itu dilakukan bersama Dinas Tata Ruang dan Permukiman sebagai SKPD yang melakukan pembangunan.

“Untuk keadaan pengungsi pada April kemarin, ada yang bertempat tinggal sementara dan ada juga yang situasional bolak balik melakukan kegiatan. Jadi tidak selalu tinggal di lokasi hunian sementara. Dan tim yang bergerak hari ini (kemarin) ingin melakukan pengecekan kembali karena ada informasi rumah yang roboh, kita akan cek apakah akibat pergerakan tanah atau karena faktor lain,” ungkapnya.

Dikatakannya, Camat Cisompet telah melaporkan ada 10 rumah rusak ringan dan 2 rumah rusak berat sejak Februari hingga Mei ini. Selain itu, Camat pun melaporkan jika penghuni tempat hunian sementara jumlahnya bertambah karena sesuatu hal.

“Meski demikian, kita menghimbauan kepada masyarakat agar tetap tenang dan menjaga keamanan di sekitar lokasi pergerakan tanah. Saat ini sendiri data yang kita miliki jumlah pengungsi 315 jiwa dengan 91 kepala keluarga dan 88 rumah terkena dampak, dimana data yang kita gunakan adalah data yang keluar pada Februari,” jelasnya.

Kalau semakin parah akan tetap berupaya sebagaimana rekomendasi PVMBG, untuk merencanakan relokasi sebagaimana rekomendasinya, tapi relokasi menunggu kajian.

“Di Cisompet cukup susah mencari tempat relokasi karena tanahnya labil dan perlu kajian PVMBG. Jangan sampai pindah tapi masih membahayakan warga lokasi barunya.” Tuasnya.

Dengan kondisi curah hujan yang masih tinggi, diprediksi akan berlangsung sampai akhir Mei 2016. BPBD menghimbau warga tetap harus waspada. (Tim GE)***

Korban Pergerakan Tanah di Cisompet Terus Meluas, Pemkab Belum Bisa Berikan Solusi

Korban pergerakan tanah di Desa Singdangsari, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, kondisinya semakin memprihatinkan. Sudah tiga bulan lebih mereka masih menempati tenda pengungsian dan hunian sementara.

Di tengah kondisi yang memprihatinkan, jumlah pengungsi justru bertambah seiring kerusakan meluas. Akibatnya kini mereka mulai merasakan sakit batuk dan meriang. Kondisi pengungsian yang tak layak huni diduga menjadi penyebabnya.

Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan Cisompet pada Dinsosnakertran Kabupaten Garut, Jajang Supyana, menyatakan, seiring dengan musim hujan yang belum usai, kerusakan kawasan pergerakan tanah kian bertambah parah. Semula korban yang mengungsi tenda pengungsian dan hunian sementara yang dibangun Pemkab Garut sebanyak 91 keluarga atau sekitar 265 jiwa.

“Kini, yang mengungsi jumlahnya 103 keluarga atau sekitar 295 jiwa. Ada penambahan korban mengungsi sekitar 30 jiwa,” tutur Jajang.

Jajang menyebutkan, sejak peristiwa pergerakan tanah pada 19 Februari 2016 lalu, masih terus terjadi pergerakan tanah. Dia mencatat pergerakan tanah besar pada Maret (3 kali) dan April (4 kali) serta pergerakan tanah kecil yang tak terhitung.

Akibat pergerakan tanah yang masih berlangsung, kata Jajang, retakan pada rumah-rumah semakin membesar atau memanjang. Selama April, pergerakan tanah menyebabkan 10 rumah rusak ringan dan 2 rumah rusak berat.

Kendati hanya menimbulkan kerusakan ringan, Jajang mengatakan, warga tetap mengungsi karena khawatir akan pergerakan tanah susulan. Mereka tak mau mengambil risiko menempati rumah yang sebelumnya hanya terancam, kini terkena dampak pergerakan tanah.

Menurut dia, ratusan korban berharap segera direlokasi ke tempat aman. Mereka sudah merasa tak nyaman dengan kondisi di pengungsian yang berdesak-desakan.

Jajang pun menilai, para pengungsi itu sebaiknya direlokasi ke tempat yang lebih aman. Meskipun rumah yang rusak ringan bisa diperbaiki, mereka enggan kembali karena tak mau tinggal di lokasi yang sudah terdampak bencana.

“Kalaupun dipaksakan, mereka tidak akan mau karena khawatir dengan pergerakan tanah yang masih terjadi hingga sekarang,” ujarnya.

Sementara warga penghuni pengungsian, Dadang (42) mempertanyakan kinerja pemerintah yang lamban menangani musibah yang menimpa mereka. Bahkan, Dadang berharap pemerintah segera merealisasikan janjinya terkait rencana relokasi. (Farhan SN)***