Usai Diautopsi, Mahasiswi Akper Korban Pembuhunan Dimakamkan di TPU Gombong

GARUT, (GE).- Setelah menjalani proses autopsi di RSUD dr. Slamet Garut, keluarga korban langsung membawa jenazah untuk dikebumikan. Isak tangis pecah saat jenazah korban tiba di rumah duka, Kampung Gombong, Desa Cipicung, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jumat (2/12/2016).

Setibanya di Kampung Gombong, Desa Cipicung, Banyuresmi, jenazah korban langsung dishalatkan di Masjid Besar setempat sebelum di kebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Gombong.

Ratusan warga nampak sudah menunggu kedatangan jenazah Anisa Nurhayati (Almarhumah).  Mereka tidak menyangka kalau gadis yang pendiam ini harus berakhir hidupnya  secara tragis di tangan pembunuh.

Salah seorang warga, Aminah (45), menuturkan, tidak menyangka kalau gadis cantik yang pendiam tersebut akan tewas di tangan pembunuh sadis.

” Tidak menyangka dan sangat terkejut ketika mendengarnya, “ ungkap Aminah, yang mengaku pernah mengasuh almarhumah waktu kmasih kecil.

Diakui Aminah, korban selama hidupnya merupakan seorang gadis yang baik dan ramah. Sebelum meninggal, seminggu sebelumnya korban pernah bercerita ingin melanjutkan kuliahnya ke negara Jepang.

” Ma Ukon, kalau neng sudah selesai kuliah di Garut, akan melanjutkan lagi sekolah ke Jepang,” ucap Aminah, menirukan perkataan Almarhumah.

Saat berlangsung prosesi pemakaman, suasana haru begitu terasa, bahkan beberapa anggota keluarga korban ada yang histeris hingga jatuh pingsan. (KIM)***

Editor: Kang Cep.

BREAKING NEWS : Mahasiswi Akper Garut, Ditemukan Meninggal Bersimbah Darah

GARUT, (GE).– Mahasiswi Akademi Perawatan (Akper) Pemkab Garut ditemukan tewas bersimbah darah di rumahnya Perum Banyuherang, Blok D4, Desa Cipicung, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat Jumat (2/12/2016) sekira pukul 01.00 WIB. Sadisnya lagi, dugaan sementara korban diperkosa terlebih dahulu sebelum nyawanya dihabisi.

Mahasiswi bernama Nisa Nurhayati (19), menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan. Saat ditemukan, korban telah bersimbah darah di kamarnya tanpa mengenakan busana.

Yeyen Sumiarti (31), tetangga korban yang pertama kali curiga karena mendengar suara korban berteriak. Rumah Yeyen berada di samping rumah Nisa.

“Saya baru tidur jam 00.00. Sekira jam 01.00, saya dengar ada suara jeritan dan memanggil suara ibu beberapa kali,” ujar Yeyen menirukan suara jeritan tersebut, Jumat (2/12/2016).

Saat mendengar suara jeritan, Yeyen langsung pergi ke rumah tetangganya yang lain untuk memeriksa rumah Nisa. Ia bersama para warga yang lain lalu mendatangi rumah korban.

“Saya lalu ketok pintu rumahnya tapi tidak dibuka. Terus saya lihat ke dalam lewat lubang kecil di pintu. Ternyata ada pria yang belum pakai celana kayak kebingungan keluar dari kamar depan,” katanya.

Yeyen dan warga lain tak berani untuk membuka pintu dan memilih melapor ke polisi. Saat polisi tiba, korban sudah ditemukan tergeletak di kamarnya.

“Pelakunya kabur lewat jendela belakang rumah. Laptop dan telepon korban juga tidak ada. Katanya diperkosa dulu sebelum dibunuh,” ucapnya.

Hingga berita ini dimuat, pihak kepolisian sedang melakukan pengejaran dua tersangka pembunuhan. Pihak kepolisian sendiri sudah mengamankan beberapa barang bukti dari rumah korban, diantaranya sebuah batu bata yang dipenuhi darah, diduga batu bata tersebut digunakan untuk menghabisi nyawa korban. (Aden)***

Korban Pembunuhan Suaminya Sendiri, Najahriah Dikebumikan di Kampung Halamannya

CILAWU, (GE).- Jasad Najahriah (41) korban pembunuhan yang diduga dilakukan suaminya sendiri di Bekasi, Kamis (3/11/2016) dini hari, akhirnya dibawa pulang ke kampung halamannya dengan menggunakan ambulance. Jasad Najahriah tiba di kampung halamannya, Kampung Tarik Kolot, Desa Ngamplangsari, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Suasana duka mendalam tampak menyelimuti keluarga korban. Anak korban bernama Dafa, bersama Ena (80) tampak terpukul dengan kejadian ini. Apa yang dirasakan keluarga Najahriah cukup beralasan, karena orang yang sangat dicintainya harus meninggal dengan tidak wajar. Bahkan, Dafa, anak almarhumah sempat pingsan saat prosesi pemakaman ibunya berlangsung.

Seperti diketahui, Najahriah meninggal dengan tragis di tangan suaminya sendiri. Dari hasil pemeriksaan polisi di Bekasi, Najahriah diduga tewas akibat dipukul di bagian kepalanya dengan menggunakan martil.

Isak tangis keluarga korban mengiringi proses pemakaman yang dikenal sebagai guru ngaji ini mengiri proses pemakaman. Sekira pukul 01.00 WIB, proses pemakaman di TPU Tarik kolot selesai.

Sementara itu, Acep Dedi yang merupakan keluarga korban, mengaku pihaknya menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak yang berwajib, Mereka berharap, pelaku pembunuhan sadis ini diganjar hukuman yang setimpal.

“Ya, almarhumah sudah lama menetap di Bekasi, sekitar 25 tahunan. Kami sangat kaget ketika mendapatkan kabar bahwa almarhum meninggal dibunuh suaminya sendiri. Saya berharap, pelakunya dihukum setimpal dengan kelakuan sadisnya. Kami mynerhakan proses hukum semuanya pada yang berwajib,” tutur Acep.

Belakangan diketahui, Najahriah (almarhumah) telah menetap sebagai warga Jalan Delima, Desa Tridaya Sakti, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Jasad Najahriah ditemukan sudah tidak bernyawa dan mayatnya dikubur didekat kandang ayam. Akhinya Polsek Tambun berhasil menangkap pelaku pembunuhan ini yang ternyata suami korban sendiri. (Idrus Andriawan)***

Editor: Kang Cep.

Hari Ini Polres Garut Akan Bongkar Makam Ahmad untuk Pastikan Penyebab Kematiannya

BAYONGBONG, (GE).- Menindaklanjuti laporan adanya dugaan penganiayaan yang menyebabkan seorang tahanan Polsek Bayongbong bernama Ahmad Wijaya meninggal, hari ini, Rabu (27/04/2016) pihak Polres Garut akan membongkar makam Ahmad Wujaya, untuk kemudian dilakukan autopsi untuk memastikan penyebab kematiannya.

“Kita terus tindaklanjuti laporan tersebut dengan melakukan penyelidikan intensif. Kita akan lakukan pembongkaran makam korban untuk keperluan autopsi terhadap jenazah korban,” ujar Arif, di hadapan beberapa awak media, Selasa (26/4/2016).

Ditegaskannya, autopsi terhadap jenazah korban harus dilakukan untuk dapat menemukan tanda-tanda kekerasan. Pihaknya juga tengah menelusuri apakah Ahmad dalam kondisi sakit saat berada di tahanan atau sebelum di tahanan.

“Kita juga akan selidiki apakah dia meninggal saat berada di dalam tahanan atau di tempat lain. Laporan yang kami terima dari pihak Polsek Bayongbong, dia meninggal saat berada di puskesmas,” yukasnya.

Kapolres Garut menegaskan, pihaknya telah memeriksa sedikitnya tujuh orang saksi dalam kasus ini. Selain pihak keluarga korban dan pihak warga yang diduga melakukan penganiayaan, kepala desa dan sejumlah petugas Polsek Bayongbong juga telah dimintai keterangannya.

“Siapapun yang ada kaitannya dengan kasus ini pasti kita periksa. Termasuk Kapolsek (Bayongbong) yang juga telah kita periksa beberapa hari lalu. Kita akan terus proses kasus ini hingga nantinya bisa terungkap apa sebenarnya yang telah terjadi,” beber Kapolres.

Arif mengakui, hingga saat ini pihaknya belum menetapkan tersangka dalam kasus ini. Hasil autopsi diharapkan bisa memberikan petunjuk guna pengembangan penyelidikan dan penyidikan.

Sebagaimana diketahui, Ahmad Wijaya (18), warga Kampung Cigedug Kaler, Desa Sukahurip, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut Jawa Barat meninggal ketika dalam status tahanan Polsek Bayongbong.

Pihak keluarga melihat ada yang janggal dengan kematian Ahmad karena diduga telah terjadi penganiayaan yang dilakukan keluarga HY, salah seorang tetangga mereka. Hal ini berawal dari tudingan pihak keluarga HY yang menuding Ahmad telah mencuri CDI sepeda motor.

Berdasarkan keterangan pihak keluarga Ahmad, HY sempat menjemput Ahmad dari rumahnya dan kemudian dibawa ke rumah salah seorang warga bernama Ema atau Firman. Di rumah tersebut, HY melakukan penganiayaan terhadap korban sebelum akhirnya korban dikembalikan ke rumahnya pada malam harinya.

Keesokan harinya, HY kembali menjemput Ahmad dari rumahnya dan membawanya ke Polsek Bayongbong. Sejak saat itu Ahmad pun ditahan di sel tahanan Polsek Bayongbong selama beberapa hari. Sementara itu pihak keluarga mengaku tidak pernah menerima surat pemeberitahuan penahanan dari Polsek Bayongbong.

Hingga beberapa hari kemudian, pihak keluarga mendapat kabar kalau Ahmad sudah meninggal dan jenazahnya sudah berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Garut. Karena saat itu pihak keluarga ingin fokus mengurusi pemakaman dan tahlilan Ahmad, maka pihak keluarga pun memilih untuk tidak mengambil langkah apapun.

Namun setelah tujuh hari dari kematian Ahmad, pihak keluarga melaporkan dugaan adanya penganiayaan yang menimpa Ahmad ke pihak Polres Garut. Dalam laporannya, pihak keluarga mengaku yakin Ahmad meninggal akibat penganiayaan yang dilakukan pihak keluarga HY, tempat Ahmad bekerja. Selain itu, pihak keluarga juga mempertanyakan prosedur penahanan Ahmad yang dilakukan pihak Polsek Bayongbong yang dianggap tidak sesuai.

Melalui Kuasa Hukumnya dari LBH Garut, pihak keluarga Ahmad Wijaya meminta kasus ini diusut tuntas sehingga bisa diketahui apa penyebab kematian Ahmad dan siapa yang harus mempertanggungjawabkannya.

Kuasa Hukum pihak keluarga Ahmad, Risman dan Sony, mengapresiasi upaya Polres Garut yang menindaklanjuti laporan dengan melakukan serangkaian penyelidikan termasuk autopsi jenazah korban. Mereka berharap hasil autopsi nanti bisa menunjukan bukti adanya pelanggraan kekerasan pisik terhadap korban sehingga menyebabkannya meninggal.

Menurut Risman, pihaknya juga masih menelusuri apakah korban meninggal di puskesmas sebagaimana keterangan pihak Polsek Bayongbong atau di dalam tahanan. Dia menilai Polsek Bayongbong juga telah menyalahi aturan karena tidak memenuhi prosedur saat melakukan penahanan, di antaranya tidak adanya surat pemberitahuan penahanan terhadap keluarga Ahmad.
Atas hal itu, pihak Kuasa Hukum keluarga korban akan mempra peradilankan Polsek Bayongbong atas kesalahan yang telah dilakukannya.

“Tidak hanya pra peradilan, kita juga akan melaporkan hal ini kepada Komnas HAM. Kita melihat ada pelanggaran HAM yang telah dilakukan baik oleh pihak keluarga HY maupun pihak Polsek Bayongbong,” ucap Sony. (Tim GE)***