Dedi Mulyadi, “Maung” dan Hutan sebagai Sumber Kemakmuran Masyarakat Jawa Barat

GARUT, (GE).- Ketua DPD Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menekankan pentingnya harimau dalam peradaban masyarakat Sunda. Menurutnya, harimau merupakan simbol penjaga hutan. Sementara hutan sendiri merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat Sunda. Sebab, dengan kelestarian hutan, ketersediaan air yang menjadi sumber kehidupan menjadi terjamin.

“Dari hutan yang di dalamnya terdapat mata air, lahirlah sungai. Dari sungai tersebut lahirlah bendungan. Dari bendungan itu, lahirlah peradaban pertanian, perikanan, pariwisata, dan sumber kehidupan lain bagi masyarakat Sunda,” ucap Dedi, saat peresmian patung maung siliwangi yang kini terpajang gagah di halaman Markas Koramil 1123 Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (31/3/17) malam. Acara peresmian sendiri digelar singkat dan sederhana.

Menurut Bupati Purwakarta ini, kemakmuran orang Sunda ditentukan oleh kelestarian hutan. Hutan itu adanya di gunung.

“Hutan akan lestari kalau didalamnya ada harimau, karena tidak akan ada manusia yang berani merambah hutan,” jelas Dedi.

Simbol gunung sendiri, lanjut Dedi, sangat melekat dalam tradisi dan peradaban orang Sunda. Ini dibuktikan dengan bentuk “aseupan” (alat untuk menanak nasi yang terbuat dari anyaman bambu/red) yang bentuknya lancip mirip gunung. Begitu juga, setiap kali dalang membuka lakon wayang, pasti didahului kemunculan “gugunungan”.

Dalam dialog singkat pendalaman konsepsi hutan sebagai sumber kemakmuran, Dedi berbagi strategi kepada Bupati Garut, Rudy Gunawan, dan Ketua DPRD Garut, Ade Ginanjar, yang juga turut hadir di lokasi peresmian tersebut.

Budayawan Sunda itu menyebut, dibutuhkan komitmen dan program strategis untuk menjadikan hutan sebagai “basic core” pembangunan di Jawa Barat. Langkah tersebut menurut Dedi, dapat ditempuh dengan beberapa cara. Di antaranya, menjadikan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan untuk melakukan pemulihan hutan dengan cara penanaman kembali lahan yang gundul.

KETUA DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat menyampaikan sambutan pada acara peresmian pemajangan patung Maung Siliwangi di halaman Markas Koramil 1123 Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (31/3/17) malam. (Foto : Istimewa)***

“Masyarakat yang tinggal di sekitar hutan itu harus diangkat sebagai tenaga harian lepas oleh pemerintah. Tugasnya, setiap hari menanam pohon di lahan yang gundul. Gajinya bisa Rp2,5 Juta sampai Rp3 Juta per bulan. Saya yakin, itu masyarakat yang biasa diminta oleh para orang kaya untuk merambah hutan, paling hanya dapat Rp1,5 Juta per bulan sudah bagus, kita pasang harga lebih besar,” tegasnya.

Konsep selanjutnya, imbuh Dia, setelah wilayah hutan berhasil di-recovery, dapat langsung dibangun perkampungan berbasis adat Sunda dengan jumlah rumah masing-masing sebanyak 40 rumah setiap kampung. Anak-anak warga di kampung tersebut dididik pendalaman pengetahuan tentang kepariwisataan berupa bahasa Inggris dan nilai tradisi.

Cara ini, ia yakini dapat menumbuhkan sektor pariwisata di Selatan Jawa Barat, tanpa harus menggunduli hutan di sekitarnya.

“Setelah itu, anak-anak kita didik kepariwisataan, bangun rumah penduduk dengan arsitektur Sunda, jadi wisatawan tidak perlu tinggal di resort, rumah penduduk dapat sekaligus menjadi resort, ini ke depan dapat menjadi sumber pendapatan bagi wilayah Jabar Selatan,” papar Dedi.

Konsep yang dipaparkan Dedi, diapresiasi Bupati Garut. Rudy Gunawan mengatakan terlalu kecil jika konsep tersebut hanya diberlakukan di Purwakarta atau Garut. Menurutnya, konsep ini harus diterapkan di Jawa Barat.

“Paparan Kang Dedi ini bagus untuk Jawa Barat, bukan hanya Purwakarta atau untuk saya di Garut. Saya ini kenal beliau sudah lama. Saya banyak berguru kepada beliau soal filosopi dan penerapan falsafah Sunda dalam kebijakan sebagai kepala daerah. Empati Kang Dedi terhadap kondisi ‘maung lucu’ kemarin itu, ternyata didasari oleh pemikiran yang luas seperti ini,” ujar Rudi.

Sementara itu, Komandan Rayon Militer 1123 Cisewu, Kapten (Inf) Nandang Sucahya, menyebut harimau yang dikirim Dedi Mulyadi menjadi harimau paling gagah di seluruh wilayah kerja Kodam III Siliwangi. Bahkan, menurutnya, patung harimau di Markas Kodam Siliwangi III pun kalah gagah oleh patung harimau yang hari ini ada di kantornya tersebut.

“Di kantor pimpinan saya di Kodam III Siliwangi pun harimaunya jadi kalah gagah dengan yang punya saya di sini.  Saya terima kasih kepada Kang Dedi dan seluruh jajarannya,” pungkasnya menutup. (Sony MS/GE)***

Dedi Mulyadi Datang, Patung Macan Siliwangi di Koramil Cisewu pun Terlihat Gagah

GARUT, (GE).- Patung macan “lucu” di Markas Koramil Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, kini berubah gagah. Patung macan yang sempat jadi olok-olok netizen karena rupa muka satwa liar simbol Kodam III Siliwangi itu tampak konyol, sudah diganti dengan yang baru.

Adalah Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, yang berinisiatif mengganti patung harimau kebanggaan warga Jawa Barat tersebut. Ia datang langsung menyambangi Markas Koramil Cisewu sambil membawa patung “maung” seberat tiga kuintal dengan panjang empat meter tersebut, Sabtu (18/3/17).

Patung tersebut merupakan karya Suherman, seniman asal Bandung yang dipercaya Dedi membuat sejumlah karya artistik di Purwakarta.

Dedi mengungkapkan, alasannya memberikan bantuan sebagai bukti soliditas. Terlebih karena dirinya merupakan anak seorang mantan tentara prajurit yang berpangkat Praka III. Selain itu, ia juga menjadi dewan pembina FKPPI Jawa Barat.

“Bentuk soliditas saya sebagai seorang anak tentara. Juga sebagai spirit diri sebagai anak seorang tentara dan kecintaan saya terhadap tentara,” ujar Dedi saat dihubungi usai menyerahkan patung harimau di Koramil Cisewu.

Dedi mengungkapkan, TNI di Jawa Barat dilambangkan dengan Siliwangi yang harus memiliki kegagahan. Patung yang berada di setiap Koramil di Jawa Barat dan Banten pun harus memiliki nilai-nilai Siliwangi.

“Sudah seharusnya patung tersebut terlihat gagah. Makanya saya datang ke sini (Cisewu/red) untuk mengganti patung sebelumnya,” ucapnya.

Menurut Dedi, di sejumlah tempat di Jawa Barat dan Banten, patung harimau masih belum terlihat gagah.

“Bukan Cisewu saja, hampir semua tempat. Ramainya patung harimau di Cusewu, setidaknya bisa diambil hikmahnya. Minimal patung seluruh koranmil sekarang mulai diganti,” katanya.
Danramil Cisewu, Kapten Inf. Nandang, berterima kasih atas bantuan yang diberikan Dedi Mulyadi. Bantuan tersebut akan menjadi motivasi tersendiri bagi pihaknya dan masyarakat Cisewu.

“Saya ucapkan terima kasih atas kepedulian Kang Dedi. Ini merupakan motivasi bagi kami khususnya masyarakat Cisewu, yang sempat dihebohkan oleh beredarnya foto patung tersebut,” kata Nandang.

Adapun keberadaan patung yang sebelumnya menjadi pembicaraan, diakui Nandang sudah dicopot dan dimuseumkan.

“Ya dimuseumkan saja patungnya di belakang kantor. Tapi, sayangnya patung tersebut jatuh ketika kami bongkar. Kalau sekarang patungnya gagah, sesuai kata Kang Dedi, maung sancang,” pungkas Nandang, seraya tersenyum. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Kerugian Akibat Terjangan Angin Puting Beliung Mencapai Rp 94 Juta

BANYURESMI, (GE).- Danramil Banyuresmi Kapten Ajudin, membenarkan terjadinya terjangan angin puting beliung di kawasan Kampung Serut Desa Pamekarsari Kecamatan Banyuresmi. Menurutnya, peristiwa itu terjadi pada pukul 15.15 WIB.

Akibat kejadian tersebut, tuturnya, terdapat 15 unit rumah warga dan satu pos siskamling yang mengalami kerusakan dengan perkiraan jumlah kerugian materi mencapai Rp 94 juta.

“Untungnya tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Hanya saja ada 15 unit rumah warga serta satu pos siskamling yang mengalami kerusakan,” kata Ajudin.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Pasalnya semua orang langsung berlindung dirumah yang bangunannya kokoh.

Saat ini, Koramil, Camat dan Polsek Banyuresmi berusaha membantu membersihkan puing-puing bangunan yang rusak diterjang angin. Selain itu, mereka juga ikut membantu memperbaiki rumah warga yang rusak. (Farhan SN)***