Luwak Susah Ditangkap, Produksi Kopi Garut Menurun

GARUT, (GE).- Sudah tiga bulan terakhir ini bahan baku kopi luwak Garut sulit dicari. Dampaknya, produsen kopi Garut kelimpungan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Salah seorang pengusaha kopi luwak Garut, Andri Hermawan, mengaku selama ini dirinya menerima pasokan kopi dari kawasan Kecamatan Sukaresmi, Bayongbong, dan kawasan Gunung Cikuray, Kecamatan Cilawu.

Namun belakangan dari kedua tempat itu pasokan berkurang sehingga harus mencari ke daerah lain. Andri menyebutkan, kebutuhan bahan baku kopi luwak per bulannya berkisar 1 sampai 2 ton untuk jenis cherry. Namun, saat ini menurun derastis, hanya sekitar 500 – 700 kilogram. Akibatnya beberapa pesanan dari luar Garut tidak dapat terpenuhi.

“Memang banyak tanaman kopi di Garut tapi kurang bagus kalau dibuat kopi luwak. Alhamdulillah saya menemukannya di kawasan Gunung Darajat. Saya dapat jenis cherry kopi pun dengan susah payah untung masih ada,” kata Andri saat ditemui di Kafe Luwak miliknya di Jalan Raya Garut-Tasikmalaya, Cilawu Garut, Senin (2/10/2017).

Diakuinya, kelangkaan bahan baku kopi ini dirasakannya sejak bulan Juli lalu. Untuk memenuhi bahan baku, dirinya mencari kopi ke petani lain yang memiliki kualitas tidak jauh dari standar produksinya.

“Biasa saya dapat di Cikuray, Sukaresmi, sekarang paling ngambil yang ada di Darajat dan daerah lainnya tapi masih di daerah Garut. Kopi yang punya kualitas mendekati,” ujarnya.

Untuk produksi kopi luwak, dirinya tidak bisa mengambil bahan baku kopi sembarangan dari luar Garut. Pasalnya, untuk dijadikan makanan luwak cherry kopi harus segar, dan tidak lama setelah pemetikan dari pohonnya. Andri menyebut, selain kesulitan mendapatkan kopi ia juga kesulitan mencari Luwak.

“Biasanya saya mendapatkan luwak dari daerah kaki gunung Cikuray atau sekitar tempat tinggalnya di kawasan Cilawu. Sekarang sulit, yang jual juga jarang,” katanya.

Ia menuturkan, proses pembuatan kopi luwak dibantu oleh sembilan pegawai yang sudah ahli mengurus hewan luwak, selain keluarganya juga para tetangganya.

“Kalau kopi luwak dari 1,5 ton paling jadi 150 kilogram. Kalau sekarang ada 700 kilogram paling jadi 80 kilogram. Meskipun sudah kita sortir sebelum diberikan pada luwak, tetapi si hewan juga memilih atau mensortir sendiri. Makanya harga kopi luwak lebih mahal dari kopi reguler,” tukasnya.

Adapun menu makanan lain selain kopi yang diberikan ke luwak setiap harinya berbeda, misalnya telur, madu, kepala ayam, pisang, daging dan kopi.Kopi pun tidak tiap hari, luwak diberi kopi dalam seminggu hanya 4 kali dan setiap diberi kopi hanya sekitar 8 ons setiap kali makan,” ungkapnya.

Diakuinya, saat ini jumlah hewan luwak yang dipeliharanya sebanyak 92 ekor. Ia telah meyiapkan kandang luwak untuk 150 ekor. Hanya saja sampai sekarang belum terisi karena sulitnya mencari luwak.

“Kalau untuk ukuran sekarang ini jumlah itu paling banyak. Karena yang di Cikole Bandung pun yang terbesar itu hanya memiliki 42 ekor luwak,” jelasnya. (Alle)***

Editor: Kang Cep.

Miliki Rasa dan Aroma yang Khas, Kopi Luak Garut Semakin Mendunia

JANGAN mengaku pernah ke Garut kalau belum pernah mencicipi kopi khas Garut. Kopi asal Kabupaten Garut kembali mengguncang dunia karena memiliki cita rasa yang khas dan tak membuat perih di lambung.

SEJUMLAH pengunjung saat mencicipi nikmatnya kopi luak khas Garut.***

Kopi Luak Garut menjadi salah satu produk yang paling di cari di Kota Dodol. Meski harganya relatif mahal, namun kenikmatan cita rasanya mampu menebus kocek yang Anda keluarkan.

Jika Anda berkunjung ke Garut dan ingin menikmati kopi khas Garut, kini sudah banyak kedai kopi yang menjajakan. Namun ada salah satu kedai kopi yang terjaga keasliannya terletak di Jalan Raya Garut-Tasik tepatnya di Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Seorang pengusaha muda kopi luwak mengembangkan destinasi wisata baru edukasi kopi luwak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, untuk memberikan pengetahuan tentang proses dan kenikmatan kopi luwak khas Garut.

SEORANG pengunjung saat melihat luak yang diternakkan untuk memproses kopi yang dibuat secara alami.***

“Kita telah membangun konsep wisata edukasi kopi dan luwak, terinpsirasi di Cikole Lembang (Kabupaten Bandung Barat), agar Garut memiliki destinasi wisata baru,” kata Andri Hermawan (35) pengusaha Kopi Luwak Garut dari Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Minggu.

Ia menuturkan, kopi luwak dari Garut menjadi produk unggulan daerah Garut yang sudah banyak dikenal dan dinikmati di berbagai daerah.

Potensi ekonomi dan wisata dari sektor kopi itu, kata dia, perlu terus dikembangkan dan dikenalkan kepada masyarakat tentang proses pembuatannya.

“Saya ingin masyarakat bisa berwisata ke sini, nanti kedepannya saya mau mendirikan taman luwak, dan beberapa puluh pohon kopi dengan beberapa jenis,” katanya.

Ia menyampaikan, sementara yang sedang tahap menuju edukasi wisata kopi luwak dengan membangun kedai kopi luwak di Jalan Raya Tasikmalaya-Garut kawasan Cilawu.

Kedai yang baru dibangun tiga bulan itu, kata dia, berdekatan dengan kandang luwak tempat proses pembuatan kopi luwak hingga disajikan langsung kepada penikmat kopi.

“Sejak dikembangkannya tempat ini, banyak yang lewat tidak sengaja, dan mereka senang bisa menikmati kopi luwak langsung di sini,” katanya.

Ia menambahkan, rencana konsep wisata edukasi itu tidak hanya sekadar menikmati kopi, tetapi pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan luwak yang sudah jinak.

“Nanti akan ada luwak jinak yang diliarkan, jadi pengunjung bisa berinteraksi,” kata Andri.

Kopi luwak Garut yang diproduksi Andri siap dipasarkan setiap bulannya 1.500 dus atau sebanyak 80 sampai 100 kilogram ke berbagai daerah di Pulau Jawa, Palembang dan Bali.

Bahkan, kopi asli dari Garut itu diminati orang asing dari beberapa negara Asia dengan harga jual mulai dari Rp75 ribu per bungkus untuk lima cangkir.

Sementara masyarakat yang ingin menikmati kopi luwak langsung di kedai milik Andri cukup membayar Rp25 ribu per gelas dengan tambahan menu makanan khas Sunda seperti goreng singkong. (Farhan SN)***

“Cascara,” Sensasi Aroma Kopi Garut yang Tercium ke Mancanegara

GARUT, (GE).- Para penikmat kopi di mancabegara kini mulai mencium aroma kopi asal Kabupaten Garut. Bahkan, belum lama ini sejumlah pengusaha dari beberapa negara sahabat sengaja datang ke Garut untuk sekedar menyaksikan langsung bagaimana proses peracikan kopi Garut.

Selain kopi, kini pengusaha kopi di Garut mulai mengembangkan jenis meniman teh yang dinamakan cascara tea. Cascara merupakan teh yang berasal dari kulit ceri kopi. Berbeda dengan teh biasa, casara memiliki cita rasa yang unik karena berbahan baku kopi. Keunikannya, casara tea meski berbahan kopi rasanya malah tak seperti kopi. Saat diminum, cascara, asanya seperti teh namun ada sensasi rasa manis- asam khas kopi.

” Ya, Cascara ini kita ketahui dari orang luar sekitar akhir tahun 2014. Ternyata dari kulit kopi ini bisa dimanfaatkan dan mempunyai nilai jual,” ujar Hari Yuniardi, pemilik Kedai Mahkota Coffee  di kawsan Jalan Raya Bayongbong, Senin (17/7).

Menurutnya, Cascara sangat bermanfaat juga untuk kesehatan tubuh. Dalam kandungan Casara ini ada  antioksidannya yang melebihi dari bawang putih. Tak heran, banyak penikmat kopi mancanegra menyukai cascara dari Garut.

” Cascara ada dua jenis yang bisa diolah. Pertama dari hasil pengupasan mesin pengupas buah, kedua, hasil dari pengupasan buah kopi lalu diolah secara natural atau dijemur alami,” jelasnya.

Dikatakannya, olahan secara natural, lebih disukai karena rasanya yang lebih lembut. Hanya saja prosesnya bisa memakan waktu hingga satu bulan. “Bisa sampai satu bulan untuk dijemur. Tergantung cuaca juga prosesnya,” tukasnya.

Sementara itu, produkai cascara, sayangnya masih terbatas. Dalam rentang enam bulan Casara hanya bisa memproduksi sekitar dua ton saja. faktor cuaca juga bisa menjadi penentu kualitas Cascara.

“Banyak yang gagal juga karena masalah cuaca. Kalau keburu busuk enggak bisa dipakai, harus diganti lagi dan diproses dari awal,” kata Hari yang mengaku sudah memulai usaha kopi sejak tahun 2010.

Untuk pangsa pasarnya, Cascara dari Garut ini  mulai merambah pasar luar negeri. Diantaranya, Hongkong, Singapura, dan Amerika menjadi konsumen setia  Cascara. Bahkan Cascara asal Garut sudah terbukti dites di Amerika dan memiliki kualitas terbaik.

“Untuk lokal memang masih banyak yang belum mengetahui. Tapi di sejumlah kafe di Garut sudah dipasarkan biar orang tahu ini adalah produk Garut,” katanya.

Sementara itu, untuk harga jualnya, Cascara di pasar lokal dibanderol pada kisaran Rp 40 ribu per kilogram. Namun di luar pasar mancanegara hareganya  $ 70 per kilo granmnya, jika dikonversikan ke rupiah sekitar Rp 910000 per kilo gramnya.  (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.