Bupati Mengajak Pengurus KONI Garut Berdialog soal Anggaran Porprov Jabar XIII/2018

GARUT, (GE).- Bupati Garut, Rudy Gunawan, mengajak jajaran pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Garut, berdialog soal anggaran persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jabar XIII/2018. Hal ini ditandaskan Bupati untuk menyikapi tudingan pengurus KONI Garut, bahwa Bupati tidak komit terhadap kesepakatan tentang hal itu (keuangan/red).

“Kalau KONI merasa ini, mari dialog dengan kami. Kami kan menyediakan Rp 1,5 miliar dulu, nanti di perubahan kita tambah lagi. Kan Porprovnya tahun 2018,” kata Rudy, Sabtu (18/3/17).

Rudy berdalih, pihak Pemkab Garut tidak menganbulkan pengajuan KONI Garut sebesar Rp 4,5 miliar, karena ketidakmampuan keuangan daerah saat ini.

“Memang kalau urusan olahraga itu menjadi tanggung jawab masyarakat dan pemerintah. Kami ingin ada efesiensi dalam rangka penyelenggaraan Porprov itu, karena kemampuan keuangan daerah tidak memungkinkan,” ujarnya.

Rudy juga berharap para pengurus KONI tidak hanya mengandalkan keuangan daerah. Sebab, katanya, KONI di daerah lain juga melakukan fundrising, di samping memperoleh bantuan anggaran dari keuangan daerah.

Sebelumnya, memang KONI Garut mengajukan anggaran Rp 4,5 miliar untuk babak penyisihan Porprov Jabar XIII/2018. Namun, Pemkab Garut hanya mengabulkan Rp 1,5 miliar. Jajaran pengurus KONI Garut menilai anggaran sebesar itu tidak akan mencukupi. Karena itu, Kamis (16/3/17) lalu mereka mendatangi gedung dewan, meminta Komisi A dan Komisi D DPRD Garut, mendesak pemerintah agar mengalokasikan anggaran sebesar yang diajukan KONI Kabupaten Garut. (Jay/GE)***

Editor : SMS

KONI dan KNPI Pertanyakan Kepemimpinan Dispora

GARUT, (GE).- Terbentuknya Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Garut berdasarkan Perda Nomor 9 Tahun 2004, mempunyai tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) utama untuk melakukan pembinaan terhadap masalah kepemudaan dan olahraga. Diharapkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) keduanya lebih baik. Namun sejauh ini sepertinya Tupoksi tersebut belum berjalan sebagai mana mestinya, bahkan terkesan kurang koordinatif dengan lembaga besar yang menaungi organisai kepemudaan, yakni Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan induk organisasi olahraga, yakni Komite Olaraga Nasional Indonesia (KONI).

Ketua KONI Garut, H. Ato Hermanto, mengungkapkan lemahnya koordinasi Dispora dengan lembaganya. Dicontohkannya dalam pembangunan gedung olahraga (GOR) beladiri Ciateul, yang hasilnya banyak menuai kritikan, karena bentuk bangunannya yang mirip gedung hajatan, bahkan ada yang menyebut mirip gudang beras.

Padahal kata Ato, yang diwawancarai usai penutupan Porkab, Sabtu (31/12/2016) di Lapang Merdeka Kherkoff, menjelaskan pada saat merencanakan pembangunan GOR tersebut, telah dibuat kesepakatan antara Bupati Garut, Rudy Gunawan, pengurus cabang olahraga dan KONI. Namun setelah uangnya ada dan programnya akan dilaksanakan, Dispora tidak ada koordinasi sama sekali dan terkesan melangkah sendiri.

” Bicara sarana itu harus refresentatif, karenanya pengurus cabor harus dilibatkan. Sebab yang lebih tahu kebutuhan sarana itu kan pengurus cabang, tapi kalau sudah bicara proyek, jadinya larinya ke “oteng” (duit-red.). Kalau sudah kepentingannya “oteng,” ya hasilnya begitu. Makanya saya kecewa dengan Dispora, karena saat itu saya sudah komitmen dengan Dispora, kalau Dispora mau maju, ingin kuat, ingin hebat, harus bersatu dengan KONI. Makanya Bupati tadi marah kepada pemborongnya, itu sebagai akibat Dispora jalan sendiri,” paparnya.

Senada dengan Ketua KONI, Tubagus Ayi selaku Ketua KNPI Garut, juga merasa dikecewakan oleh Dispora. Sebab selama ini Dispora minim pembinaan terhadap masalah kepemudaan, bahkan dalam penyususnan anggaran untuk kepemudaan, kata Ayi, pihaknya tak pernah diajak bicara.

” Idealnya KONI dan KNPI ini dipanggil, sebab aspirasi dari dua stakeholder ini dijadikan bahan oleh Dispora untuk penyusunan program ke depan. Harusnya kan begitu, tapi hal ini tidak dilakukan oleh Dispora,” ujar Ayi, usai musyawarah dengan pengurus KONI di Sekretariat KONI Jalan Cimanuk.

Selanjutnya Ayi, mengatakan ada misskomunikasi dari Dispora, atau kelemahan dalam kepemimpinan di Dispora, setidaknya jika dilihat dari tidak dijalankannya.” Memang beberapa hal kita sepakat, kalau dilihat dari renstra KONI yang sudah diketahui Bupati, tapi tidak dilaksanakan, berarti ada miskomunikasi, atau karena lemahnya kepemimpinan di Dispora. Terhadap kepemudaan pun sebetulnya banyak hal yang tidak dilibatkan,” imbuhnya.

Mantan Anggota DPRD Garut, yang juga pengurus KONI Garut, Agus Indra, secara tegas meminta Bupati untu mengganti Kadispora.” Ini aspirasi seluruh Cabor, bahwa peran Dispora dalam Porkab pun nol. Maka Kadisnya harus diganti, sebab terbentuknya Dispora itu merupakan perjuangan masyarakat olahraga, bukan hasil perjuangan Bupati,” tandasnya.

Oleh karena itu, dalam musyawarah bersama di Kantor KONI tersebut, pengurus KONI dan Pengurus KNPI sepakat untuk mendesak Bupati, agar mengevaluasi kinerja Dispora. (Jay).***

Editor: Kang Cep.

Ketua PSSI Garut : GOR Ciateul Mirip Gedung Hajatan

TARKA, (GE).- Seperti diberitakan beberapa media belum lama ini, Bupati Garut, Rudy Gunawan bakal memutus kontrak beberapa proyek yang diperkirakan tidak akan selesai pada akhir tahun ini, mengingat progres dari pengerjaannya berjalan lamban. Diantara proyek yang kemungkinan akan diputus tersebut, yakni pembangunan Gedung Olahraga (GOR) Multifungsi Ciateul-Ciawitali, Garut.

Lambannya pengerjaan pembangunan sarana Gedung Olahraga (GOR) di Kabupaten Garut itu, disesalkan para insan olahraga. Diantaranya diungkapkan oleh Ketua Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Kabupaten Garut, H. Deden Rohim.

Pria yang akrab disapa Jiden itu, menyesalkan lambatnya pengerjaan proyek GOR tersebut, mengingat Kabupaten Garut akan menggelar pada akhir bulan Desember nanti, Kabupaten Garut akan mengadakanhajatan besar Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) pada pertengahan Desember nanti.

Diapstikan GOR yang katanya akan jadi kebanggaan warga Garut itu tidak akan dipergunakan sebagai tempat pelaksanaan beberapa cabang olahraga.

“Kalau begini siapa yang rugi? kan insan-insan olah raga juga,” katanya saat ditemui di tempat kerjanya yang berada di Jalan Rancabango, Desa Rancabango Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut. Jumat (18/11/2016).

Menurutnya, selain keterlambatan dalam pengerjaannya, ia pun menyesalkan sikap pemerintah dalam hal ini pejabat Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) yang tidak melibatkan stake holder dari pelaku atau insan olah raga termasuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Garut dalam perencanaan pembangunan sarana olah raga tersebut.

Jiden menilai, performa GOR yang belum selesai itu masih diluar harapan, dimana GOR yang diperuntukan sebagai venue olahraga, lebih menyerupai gedung untuk hajatan. “ Yang sangat disayangkan itu sikap Pak Kuswendi (Kadispora/red.) yang tidak mau melibatkan insan olahraga, atau KONI dalam merencanakan GOR ini. Kan yang mengerti akan kebutuhan sarana dan fasilitas GOR itu orang KONI, yang akan jadi user, masa bentuk GOR mirip gedung buat hajatan,” sesalnya.
.
Jiden pun menyesalkan sikap Pemerintah Kabupaten Garut, yang lebih memilih pengusaha luar Garut untuk pembangunan proyek-proyek besar nan monumental, ketimbang pengusaha pribumi. Padahal kata Deden, pengusaha Garut pun banyak yang berkualifikasi baik, bahkan dipakai oleh perusahaan asing, seperti PT Chevron untuk mengerjakan proyek-proyek besar, yang nilainya puluhan miliar rupiah.

“ Sayangnya pemerintah lebih memilih pengusaha luar Garut, padahal di Garut juga banyak yang sudah berstandar ISO dan dipakai perusahaan asing. Buktinya bagaimana? Ternyata pengusaha dari luar itu kan tidak bisa mengerjakan sesuai waktu.

Menurut pengusaha konstruksi asli Garut ini, hanya Kabupaten Garut lah yang belum memiliki sarana olahraga yang memadai. Padahal letaknya sangat dekat dengan Ibu Kota Jawa Barat,Bandung.

“Di Jawa Barat ini satu satunya yang tidak punya apa apa itu Garut, padahal Garut paling dekat dengan ibu kota Jawa barat, Bandung. Makanya di PON kemarin, Garut hanya jadi penonton, karena tidak ada venue,” katanya.

Ia berharap, dalam memajukan olahraga di Kabupaten Garut, pemerintah harus memiliki perencanaan yang matang, termasuk mengadakan program unggulan. Upaya tersebut diyakininya bisa tercapai apabila sinergitas antara Birokrat, Insan dan organisasi olahraga, termasuk para pengusaha terjalin dengan baik dan komunikasi yang baik. (Jay)***

Editor: Kang Cep.