KONI dan KNPI Pertanyakan Kepemimpinan Dispora

GARUT, (GE).- Terbentuknya Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Garut berdasarkan Perda Nomor 9 Tahun 2004, mempunyai tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) utama untuk melakukan pembinaan terhadap masalah kepemudaan dan olahraga. Diharapkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) keduanya lebih baik. Namun sejauh ini sepertinya Tupoksi tersebut belum berjalan sebagai mana mestinya, bahkan terkesan kurang koordinatif dengan lembaga besar yang menaungi organisai kepemudaan, yakni Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan induk organisasi olahraga, yakni Komite Olaraga Nasional Indonesia (KONI).

Ketua KONI Garut, H. Ato Hermanto, mengungkapkan lemahnya koordinasi Dispora dengan lembaganya. Dicontohkannya dalam pembangunan gedung olahraga (GOR) beladiri Ciateul, yang hasilnya banyak menuai kritikan, karena bentuk bangunannya yang mirip gedung hajatan, bahkan ada yang menyebut mirip gudang beras.

Padahal kata Ato, yang diwawancarai usai penutupan Porkab, Sabtu (31/12/2016) di Lapang Merdeka Kherkoff, menjelaskan pada saat merencanakan pembangunan GOR tersebut, telah dibuat kesepakatan antara Bupati Garut, Rudy Gunawan, pengurus cabang olahraga dan KONI. Namun setelah uangnya ada dan programnya akan dilaksanakan, Dispora tidak ada koordinasi sama sekali dan terkesan melangkah sendiri.

” Bicara sarana itu harus refresentatif, karenanya pengurus cabor harus dilibatkan. Sebab yang lebih tahu kebutuhan sarana itu kan pengurus cabang, tapi kalau sudah bicara proyek, jadinya larinya ke “oteng” (duit-red.). Kalau sudah kepentingannya “oteng,” ya hasilnya begitu. Makanya saya kecewa dengan Dispora, karena saat itu saya sudah komitmen dengan Dispora, kalau Dispora mau maju, ingin kuat, ingin hebat, harus bersatu dengan KONI. Makanya Bupati tadi marah kepada pemborongnya, itu sebagai akibat Dispora jalan sendiri,” paparnya.

Senada dengan Ketua KONI, Tubagus Ayi selaku Ketua KNPI Garut, juga merasa dikecewakan oleh Dispora. Sebab selama ini Dispora minim pembinaan terhadap masalah kepemudaan, bahkan dalam penyususnan anggaran untuk kepemudaan, kata Ayi, pihaknya tak pernah diajak bicara.

” Idealnya KONI dan KNPI ini dipanggil, sebab aspirasi dari dua stakeholder ini dijadikan bahan oleh Dispora untuk penyusunan program ke depan. Harusnya kan begitu, tapi hal ini tidak dilakukan oleh Dispora,” ujar Ayi, usai musyawarah dengan pengurus KONI di Sekretariat KONI Jalan Cimanuk.

Selanjutnya Ayi, mengatakan ada misskomunikasi dari Dispora, atau kelemahan dalam kepemimpinan di Dispora, setidaknya jika dilihat dari tidak dijalankannya.” Memang beberapa hal kita sepakat, kalau dilihat dari renstra KONI yang sudah diketahui Bupati, tapi tidak dilaksanakan, berarti ada miskomunikasi, atau karena lemahnya kepemimpinan di Dispora. Terhadap kepemudaan pun sebetulnya banyak hal yang tidak dilibatkan,” imbuhnya.

Mantan Anggota DPRD Garut, yang juga pengurus KONI Garut, Agus Indra, secara tegas meminta Bupati untu mengganti Kadispora.” Ini aspirasi seluruh Cabor, bahwa peran Dispora dalam Porkab pun nol. Maka Kadisnya harus diganti, sebab terbentuknya Dispora itu merupakan perjuangan masyarakat olahraga, bukan hasil perjuangan Bupati,” tandasnya.

Oleh karena itu, dalam musyawarah bersama di Kantor KONI tersebut, pengurus KONI dan Pengurus KNPI sepakat untuk mendesak Bupati, agar mengevaluasi kinerja Dispora. (Jay).***

Editor: Kang Cep.

Tak Ada yang Tertarik Ikut Pameran, Ketua KNPI Garut Kecewa Berat

KOTA, (GE).- Dalam rangka memperingati hari Koprasi Nasional, Dinas Koprasi Kabupaten Garut baru-baru ini bekerja sama dengan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Garut. Kerjasa sama Dinas Koprasi dengan KNPI ini diantaranya dengan mengagendakan pameran pembangunan. Lokasi pameran pun ini telah disediakan dengan lokasi cukup strategis, yakni di kompleks gedung Islamic Center di kawasan Jalan Pramuka, Garut kota.

Anehnya, sejak dibuka secara resmi pada hari Senin, (23/05/2016) ada 20 stand pameran yang sudah disediakan panitia tampak kosong, tak ada produk apapun yang dipamerkan, bahkan terlihat tak berpenghuni. Selain itu, kejanggalan semakin jelas, saat Bupati Garut, Rudy Gunawan yang telah diundang untuk membuka pameran tersebut, urung hadir. Kondisi ini tentunya membuat kekecewaan berat bagia panitia penyelenggara, yang salah satunya organisasi kepemudaan terkemuka di tanah air, yakni KNPI.

Keheranan sekaligus kekecewaan begitu dirasakan Ketua KNPI Garut, TB. Ayi Sasmita, saat mendapati gelaran acara yang melibatkan KNPI ini, sepertinya sama sekali tak menarik minat pihak-pihak terkait.

“Tentunya saya heran sekaligus kecewa dengan suasana pameran yang sepi ini. Walaupun KNPI dalam hal ini bukanlah sebagai “pemeran utama.” Tetapi memang ada keterlibatan,” keluh Ayi.

Ayi menambahkan, sepinya pameran ini kemunghkinan akibat dari pengalihan lokasi pameran yang awalnya akan di gelar di alun-alun kota Garut. Karena tidak ada izin, akhirnya dipindahkan ke kompleks Islamic Center.

“Ya, mungkin karena lokasinya dipindahkan, akibatnya semua pengusaha dan pedagang yang awalnya siap menempati stand pameran, sepertinya enggan jika harus mengisi stand di tempat yang baru.” Tukasnya.

Selain untuk memperingati hari koprasi, kata Ayi, pameran yang tadinya akan dibangun 150 stand ini juga bertujuan untuk menampung para pedagang kaki lima agar biasa berjualan dalam rangka persiapan menjelang bulan Ramadhan.

“Jangankan 150 stand yang diharapkan bisa meramaikan jalanya pameran. 20 stan yang sudah adapun tidak ada yang minat,” keluhnya. (Useu G Ramdani)***

Calon Pengurus KNPI Sarat Titipan Pejabat

KOTA,(GE).- Rekruitmen pengurus baru DPD KNPI Garut mendapat sorotan dari sejumlah Pengurus Kecamatan (PK) dan Organisasi Kepemudaan (OKP). Pasalnya, ada sejumlah calon pengurus baru yang diduga hasil ‘titipan’ pejabat.

“Itu sangat mencolok. Saya tidak menampik jika proses rekruitmen pengurus DPD KNPI Garut ada atensi kepentingan. Tapi itu kan tidak berarti menjadi pembenaran kalau kita boleh melanggar aturan-aturan dengan cara bebas,” kata Heri Fajar Rahmat selaku Ketua PK KNPI Kecamatan Kadungora, Ahad (24/1/2016).

Ia mengungkapkan, atensi-atensi politik atau serupa dengan ‘titipan pejabat’, merupakan hal yang lumrah, sepanjang tidak mengganggu gagasan dasar idealisme kepemudaan. “Idealisme konsep kepemudaan sendiri kan seperti punya rekam jejak di organisasi, punya jam terbang dan pengetahuan yang memadai tentang organisasi,” paparnya.

Heri Fajar menandaskan, dalam rekruitmen kepengurusan baru DPD KNPI Garut, seharusnya Ayi Sasmita selaku ketua terpilih menjaga orisinalitas dan independen. “Pengurus yang sudah senior seperti Itong malah harus tersisih oleh Kokon selaku Bendahara, kan terlihat tidak elok. Setidaknya minimal mereka yang sudah pernah menduduki pengurus,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Budi Fakta selaku Ketua PK Tarogong Kaler, ada beberapa calon pengurus DPD KNPI Garut yang akan dilantik pada hari Kamis (28 Januari 2016) ini disanyalir merupakan titipan dari pejabat Pemkab Garut.

“Dari beberapa rekam jejak, ada beberapa nama yang terindikasi di back up oleh pejabat Pemkab Garut. Karena memang, sejak awal proses pemilihan ketua DPD KNPI juga sarat titipan dan kepentingan. Bahkan ada kepala dinas yang turut bermain langsung. Saya pikir, anda juga lebih tahu dari saya,” ungkap Budi Fakta serius.

Menurutnya, calon pengurus baru KNPI yang di back up oleh pejabat itu karena sudah melakukan deal politik dengan ketua KNPI terpilih. Kalau untuk nama-namanya, kita masih belum bisa memberitahukan,” tukasnya. (Syamsul)***