Menikmati Sejuknya Udara dan Ranumnya Buah-buahan di Desa Sakawayana

BAGI Imas Purnamasari, S,Sos., M.Si., ada kesan tersendiri saat ditugaskan di Desa Sakawayana, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut sebagai Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dalam program KKN Tematik Uniga 2017, belum lama ini.

Imas mengungkapkan kesannya, bahwa di sekitar Kecamatan Malangbong ternyata memiliki potensi agroindustri yang menjanjikan.

“Ya, sangat terkesan tentunya. Ternyata di sini (Desa Sakawaya/red.) memiliki potensi agrobindustri yang menjanjikan. Di Desa Sakwayana banyak terdapat perkebunan buah-buahan dan sayuran yang seger-seger. Namun saya heran, di sini tanahnya sangat kering, mungkin lagi musim kemarau kali ya,” tutur Imas, seraya menebarkan senyum ramahnya.

Imas yang saat ini tercatat sebagai dosen tetap di Fakultas Ekonomi (Fekom) Universitas Garut (Uniga), berharap, potensi yang ada di kawasan utara Garut tersebut bisa dikelola secara maksimal.

“Iya, seharusnya potensi yang ada ini bisa dikelola dengan maksimal, sehingga bisa meningkatkan sektor ekonomi masyarakatnya,” kata alumnus SMA Muhammadiyah 1 Garut ini, tetap dengan senyuman khasnya. (ER)****

KKN PPM STIE Yasa Anggana, Mahasiswa Berikan Bantuan Sumur Bor

GARUT, (GE).- Memasuki musim kemarau, warga Desa Simpang, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, kerap mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Untuk kebutuhan minum, mandi dan mencuci hanya mengandalkan air sumur yang keluar apabila lagi musim hujan.

Di Desa Simpang sendiri terdapat empat dusun, delapan RW dan 30 RT. Hampir disetiap dusun warganya kesulitan air bersih. Mendapati kondisi tersebut, mahasiswa STIE Yasa Anggana Garut, yang sedang melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) merasa prihatin. Berangkat dari keprihatinnya, para intelektual muda ini berinisiatif memberikan bantuan berupa pembuatan sumur bor.

“Bantuan ini kami berikan sebagai bentuk bhakti sosial kepada masyarakat Desa Simpang. Kami berharap dengan kegiatan gotong royong, dapat menjadikan masyarakat di Desa Simpang lebih mandiri,” tutur Zafar Siddiq, Koordinator KKN PPM Desa Simpang, Rabu (16/8/17)

Zafar mengatakan, bahwa peran mahasiwa dalam pelaksanaan KKN-PPM ini salah satunya menjadi fasilitator dan penggerak masyarakat agar senantiasa menumbuhkan kembali budaya gotong royong.

“Saat ini budaya gotong royong di masyarakat sudah mulai terkikis akibat perkembangan zaman,” katanya.

Diharapkannya, dengan adanya bantuan dari mahasiswa ini dapat menyadarkan masyarakat akan pentingnya gotong royong, serta dapat menyelesaikan masalah yang terjadi di lingkungan masyarakat.

Sementara itu, Rahmawati Lilis, selaku Kepala Desa Simpang mengapresiasi dengan kegiatan dan program yang dilakukan peserta KKN dari STIE Yasa Anggana Garut.

“Alhamdulillah, saya mewakili masyarakat mengucapkan terimaksih kepada para mahasiswa KKN-PPM yang melaksanakan tugasnya di Desa Simpang. Mudah-mudahan bantuan sumur bor ini bisa bermanfaat untuk masyarakat,” ungkapnya. (Dedi Sofwan)***

Editor: Kang Cep.

Seribu Lebih Mahasiswa Uniga Disiapkan untuk KKN Tematik di 50 Desa

GARUT, (GE).- Sedikitnya 1170 orang mahasiswa baru baru ini mengikuti pembekalan untuk persiapan menghadapi program KKN Tematik Uniga (Universitas Garut) tahun 2017. Untuk pelaksanaan KKN tahun ini (2017) panitia penyelenggara KKN Uniga 2017 mengangkat tema “Penguatan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Potensi Lokal, Menuju Garut Lebih Baik dengan Bingkai Iman Ilmu Amal”.

Sebelum diterjunkan ke tengah-tengah masyarakat, seribu lebih mahasiswa yang berasal dari tujuh fakultas ini mendapatkan pembekalan. Sebanyak 100 dosen terbaik Uniga akan mendampingi para mahsisiwa selama melakukan KKN.

Prosesi pembekalan para mahasiswa ini langsung dibuka oleh Rektor Uniga, Dr. Ir.H. Abdusy Syakur Amin, M.Eng di halaman Kampus Fikom Uniga, Sabtu (29/07/2017). Pembekalan tersebut sebagai persiapan bagi mahasiswa sebelum dilepas pada tanggal 2 Agustus hingga 4 September 2017.

Pembekalan ini diharapkan bisa memperkuat pemahaman kepada mahasiswa peserta KKN dari berbagai prespektif. Dalam pembekalan tersebut, Panitia KKN Tematik Uniga 2017 mengundang beberapa pembicara, diantaranya Dandim 0611 Garut Letkol Arm Setyo Hani Susanto, Kapolres Garut AKBP Novri Turangga, MH, MSi. Sekda Garut H. Iman Alirahman, SH, M.Si., serta MUI Garut diwakili KH Aceng Abdul Mujib.

Dalam sambutannya Rektor Uniga mengungkapkan, kegiatan KKN Tematik ini merupakan kegiatan yang berbasis Education for Suistainable Depelopment. Dengan kata lain, pendidikan untuk pembangunan yang berkesinambungan dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

“ Hal ini dilakukan karena permasalahan di tengah masyarakat memiliki kompleksitas yang sangat tinggi. Sehingga solusi yang ditawarkan tidak bisa dilihat dari satu persepektif saja,” ujar Syakur, dalam kata sambutannya.

Ditambahkannya, mulai tahun 2016 pelaksanaan KKN dilakukan sekaligus dan terintegritas yang diikuti semua fakultas di lingkungan Universitas Garut. Hal tersebut sebagai bagian dari strategi dan langkah Uniga dalam memberikan kontribusi dalam proses pembangunan Kabupaten Garut. Seperti diketahui Universitas Garut (UNIGA) memiliki program studi yang relevan dengan potensi serta permasalahan yang ada di Kabupaten Garut.

“ Perbedaan Program Studi dan latar belakang mahasiswa memberikan warna tersendiri dalam menciptakan iklim kebersamaan dalam perbedaan. Saling mengenal satu sama lain, toleransi dalam keberagaman, menghilangkan ego sektoral merasa diri paling hebat yang lain lemah. Jika perbedaan latar belakang dan program studi ini dipersatukan makan akan menjadi kekuatan yang dahsyat,” ungkapnya

Sementara itu, Kapolres Garut AKBP Novri Turangga , MH, MSi. yang menjadi pemateri lainnya, menyampaikan dukungannya atas langkah Rektor Uniga dengan memberikan pembekalan seperti ini. Menurutnya menang diperlukan adanya pembangunan karakter yang kuat terhadap para mahasiswa sebagai agen perubahan.

“Mahasiswa harus menjadi pelopor dari komponen masyarakat dalam ikut menciptakan ketertiban dan keamanan masyarakat. Luruskan berita berita yang tidak benar, sampaikan pemahaman yang menyejukan agar benih benih perpecahan tidak terus menular. Mahasiswa agar bisa mentaransformasikan informasi yang benar serta menyatukan adanya saling klaim merasa paling benar kelompok satu dengan yang lian,” katanya.

Dikatakannya, akhir-akhir ini Garut menjadi pusat pemberitaan nasional dikarenakan beberapa kasus terorisme itu pelakunya berasal dari Garut, merakit di Garut lalu diledakan di Jakarta.

“Kami berharap dengan adanya KKN mahasiwa Uniga bisa mendorong masyarakat lebih kreatif. Misalnya dalam melepaskan diri dari lingkaran kemiskinan karena salah satu penyebab benih terosrisme tumbuh adalah kemiskinan,” jelasnya.

KKN Tematik Uniga 2017 seperti diungkapkan oleh Ketua Panitia Prof. Dr. Hj. Iekeu Sartika Iriany MS. Para peserta KKN dibagi menjadi 50 kelompok tersebut akan disebar ke empat Kecamatan dan 50 Desa di kawasan Garut selatan (Garsel) dan Garut Utara (Gatra).

Diantara tiga Kecamatan wilayah Garut Selatan yang akan menjadi tempat KKN ini mencakup Kecamatan Banjarwangi 11 Desa), Kecamatan Singajaya (9 Desa), dan Kecamatan Peundeuy (6 Desa) Serta Satu Kecamatan di Wilayah Garut Utara yaitu Kecamatan Malangbong 24 Desa, Setiap Desa diterjunkan Satu kelompok yang terdiri dari 20 sampai 24 mahasiswa.

Beberapa Program Unggulan dengan mengususng pemberdayaan desa sesuai aspirasi dari desa masing masing akan mewarnai program KKN tersebut. Beberapa program yang akan dieksplorasi diantaranta tata kelola keuangan desa, BUMDes serta sosialisasi pilkada bagi para pemilih pemula.

Selain itu, satu program unggulan akan dicoba dilaksanakan yaitu penanaman pohon oleh peserta KKN di setiap desa yang merupakan kerjasama dengan pihak Perhutani Garut. (abar/Adv.)***

Editor: Kang Cep.

Antisipasi Gizi Buruk, Mahasiswa Poltekes Bandung bersama Kader Wanasari Gelar Konseling

GARUT, (GE).-  Sejumlah mahasiswi dari Politekhnik Kesehetan (Poltekes)  Bandung bersama sejumlah kader kesehatan di Desa Wanasari, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Jawa Barat, menggelar konseling untuk warga sekitar. Konseling yang digelar selama dua hari (6-7/3/2017) ini merupakan upaya kalangan akademisi untuk mengantisipasi terjadinya gizi buruk.

Menurut Ketua Kelompok KKN, Siti Nurbayani, konseling ini diharapkan bisa lebih memahamkan masyarakat terkait kondisi kesehatan pada anak usia dini.  Menurutnya, ada beberapa katagori gizi pada anak, di antaranya kurang gizi, gizi baik, dan gizi lebih.

“Kita adakan sharing  bersama sejumlah ibu kader di desa (Desa Wanasari/red) ini.  Ada banyak materi kita sampaikan, misalanya  tatacara penggunaan dacin (alat menimbang bayi/red) yang baik, serta tentang standar gizi anak” tutur Siti.

Dijelaskannya, untuk mengefektifkan penerapan Kartu Menuju Sehat Balita (KMS), terlebih dahulu diperiksa kondisi kesehatan anak. Dengan demikian dapat diketahui kategori gizi berikut langkah langkah penanggulangannya.

“Deteksi awal untuk mengetahui standar gizi bisa diketahui dari berat maupun tinggi badan. Ada rumus khusus standar WHO untuk mengukur itu,” imbuhnya.

Lebih jauh Siti menjelaskan, ada beberapa faktor penentu kelangsungan gizi pada anak, termasuk erat kaitanya dengan asupan makanan sehari hari. Pengawasan ekstra menjadi hal terpenting dari semua pihak, terlebih orang tua.

“Kita masih temukan beberapa kandungan zat berbahaya pada jajanan anak terutama di lingkungan sekolah. Hari ini kita diskusikan dan pelajari bersama dengan para ibu kader. Alhamdulillah mereka begitu antusias. Saya harap mereka dapat menjadi perisai di lingkungan masing-masing nantinya,” katanya.

Sementara itu, Dr. Yudiono selaku dosen pembimbing, mengatakan,  ada 78 mahasiswa dari Poltekes Bandung yang dari mulai tanggal 28 Februari hingga 13 Maret 2017 ini menggelar KKN di wilayah Kecamatan Wanaraja.

“Mereka, ditugaskang untuk berada di tengah-tengah masyarakat selama 2 pekan guna praktek ilmu kesehatan gizi.  Ini sebagai wujud kepedulian kita (Poltekes Bandung). Setiap hari kita bekerja melakukan riset ke lapangan melalui program yang telah direncanakan. Hasilnya kita masih temui sekitar 4% anak masuk pada kategori gizi kurang. Temuan temuan tersebut kita sudah laporkan kepada Pak Camat. Alhamdulillah, beliau merespon dengan cepat,” ungkap Dr. Yudiono.

Diungkapkannya, area sekitar sekolah merupakan tempat rawan sejumlah jajanan berbahaya. Sejumlah jajanan anak di sekolah didapati banyak mengandaung zat berbahaya.

“Kita temukan kemarin, masih terdapat  kandungan zat berbahaya seperti borak dan formalin. Ini jelas sangat berbahaya bagi kesehatan anak. Langkah-langkah selanjutnya, mungkin kita tempuh tempuh tindakan persuasif. Nanti kita dari Poltekes akan gelar pertemuan khusus di gedung kecamatan pada tanggal 11 Maret. Di situ kita gelar pameran dan diskusi terbuka. Pada acara itu pula sejumlah kader yang selama ini telah membantu mahasiswi akan libatkan. Dan kita adakan lomba dengan rewards khusus,” urainya.

Rangkaian kegiatan mahasiswi Poltekes Bandung di Desa Wanasari ini, disambut antusias oleh sejumlah kader yang hadir. Hal ini diakui Dewi, salah seorang kader dari RW 3 Desa Wanasari.

“Ya, belajar memahami kondisi kesehatan serta standar gizi bersama para mahasiswi adalah hal sangat diperlukan dan menunjang kinerja para kader. Belajarnya enak, menyenangkan. Mahasiswi-mahasiswinya pun ramah. Ini tentu sangat bermanfaat dan akan kami aplikasikan nantinya,” tuturnya. (Doni Melody Surya)***

Editor: Kang Cep

Mahasiswa Uniga dari Tujuh Fakultas Siap Diterjunkan ke 42 Desa di Garsel

KOTA,(GE).- Sedikitnya 922 orang mahasiswa mengikuti pembekalan untuk persiapan menghadapi program KKN Tahun 2016. Sebelum diterjunkan ke tengah-tengah masyarakat, ratusan mahasiswa yang tercatat dari tujuh Fakultas ini mendapatkan pembekalan.

Prosesi pembekalan para mahasiswa ini telah berlangsung di Gedung Pendopo Garut, Kamis (21/07/2016). Sementara itu, ratusan mahasiswa semester akhir ini merupakan calon-calon sarjana dari beberapa fakultas, yang meliputi, Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Ekonomi (FE), Fakultas Pertanian, Fakultas Matematika dan IPA (F-MIPA), Fakultas Pendidikan Islam dan Keguruan, serta Fakultas Teknik.

Pembekalan tersebut sebagai persiapan bagi mahasiswa sebelum diturunkan ke lapangan di beberapa desa di Garut. Rencananya mahasiswa Uniga akan mengabdi kepada masyar akat selama satu bulan, dilepas tanggal 3 Agustus hingga 5 September 2016.

Rencananya, para peserta KKN yang dibagi menjadi 42 kelompok tersebut akan disebar ke enam Kecamatan dan 42 Desa di kawasan Garut selatan (Garsel). Diantara enam Kecamatan wilayah selatan Garut yang akan menjadi tempat KKN ini mencakup Kecamatan Cisompet (8 Desa), Kecamatan Cibalong (10 Desa), Kecamatan Pameungpeuk (6 Desa), Kecamatan Cikelet (7 Desa), Kecamatan Mekarmukti (5 Desa) dan Kecamatan Caringin (6 Desa).

Sebelumnya prosesi pembekalan ini akan dihadiri Bupati Garut, Rudy Gunawan. Namun bupati berhalangan hadir, dan mewakilkannya kepada Dr. H. Suherman, SH,M.Si., yang merupakan Staf Ahli Bupati Garut bagian politik dan hukum.

“Sebelumnya saya sampaikan permohonan maaf, karena beliau (Bupati/red.) berhalangan untuk hadir dalam acara ini.” Katanya.

Suherman berpesan, dalam pelaksanaan KKN nanti, para mahasiswa bisa menjaga nama baik almamaternya. Disamping itu, peserta KKN wajib untuk mengoptimalkan seluruh kemampuan akademisnya sehingga bisa bermanfaat untuk masyarakat luas.

“Satu hal yang tak kalah penting, peserta KKN jangan sampai terkontaminasi oleh dunia politik praktis. Peserta KKN harus murni melakukan pengabdian kepada masyarakat.” Ungkapnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Garut, Dr. Ir. H. Abdusy Syakur Amin, M.Eng., mengatakan kegiatan KKN-Tematik ini merupakan kegiatan yang berbasis Education for Suistainable Depelopment. Dengan kata lain, pendidikan untuk pembangunan yang berkesinambungan dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

“Hal ini dilakukan karena permasalahan di tengah masyarakat memiliki kompleksitas yang sangat tinggi. Sehingga solusi yang ditawarkan tidak bisa dilihat dari satu persepektif saja.” Ujar H.Syakur, saat menyampaikan sambutannya.

Ditambahkannya, pada tahun tahun sebelumnya pelaksanaan KKN ini telah dilakukan mandiri oleh masing-masing fakultas. Sementara itu, mulai tahun 2016 pelaksanaan KKN dilakukan sekaligus dan terintegritas yang diikuti semua fakultas di lingkungan Universitas Garut.

“Disamping itu, pada tahun ajaran baru saat ini juga Universitas Garut akan melaksanakan program Bela Negara. Program ini wajib diikuti oleh seluruh calon mahasiswa baru tahun ajaran 2016-2017.” Jelasnya. (Sidqi Al-Ghifari)***