Korban Keracunan di Islamic Center Bertambah, Bupati: Mereka Sebelumnya Menyantap Makanan dari Salah satu Sponsor Acara Sosial

GARUT, (GE).- Warga penghuni penampungan sementara di Islamic yang keracunan terus bertambah. Sebelumnya diberitakan korban keracunan setelah menyantap makanan bantuan dari Singapura ini tercatat ada 120 orang. Dari informasi yang dihimpun “GE” korban yang harus dirawat intensif di RSU dr.Slamet Garut menjadi 158 orang.

” Yang pasti sedang kami tangani,” kata Bupati Garut, Rudy Gunawan, kepada sejumlah awak media di RSUD dr. Slamet Garut, Minggu (21/5/17).

Menurutnya, warga yang dilarikan ke rumah sakit tersebut sebelumnya menyantap hidangan di salah satu acara sosial yang diselenggarakan salah satu sponsor.

“Katanya dari hidangan acara kemarin, tapi belum tahu juga, harus diteliti dulu. Terlebih ada banyak orang yang makan hidangan itu, tapi tidak semuanya dilarikan ke rumah sakit,” kata Rudy. (Memphis/GE)***

Editor: Kang Cep.

 

BREAKING NEWS : Diduga Akibat Keracunan Makanan, 81 Korban Banjir Bandang Cimanuk Dilarikan ke Rumah Sakit

GARUT, (GE).- Sedikitnya 81 warga Kabupaten Garut, Jawa Barat, diduga mengalami keracunan makanan sehingga harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis, Minggu (21/5/17) dini hari sekira pukul 03.00 WIB. Mereka diketahui merupakan korban banjir bandang yang menerjang Kota Garut pada September 2016 lalu.

“Ada puluhan yang dilarikan ke sini. Yang pasti sedang kami tangani,” kata Bupati Garut, Rudy Gunawan, kepada wartawan di RSUD dr. Slamet Garut, Minggu (21/5/17).

Menurut Rudy, puluhan wargannya ini dilarikan ke rumah sakit setelah sebelumnya menyantap hidangan di salah satu acara sosial yang diselenggarakan salah satu sponsor.

“Ya katanya dari idangan acara kemarin, tapi belum tahu juga, harus diteliti dulu. Terlebih ada banyak orang yang makan hidangan itu, tapi tidak semuanya dilarikan ke rumah sakit,” ucap Rudy.

Salah seorang korban, Entin (34), mengatakan, bebapa jam setelah menyantap hidangan itu ia merasakan sakit perut , lemas, dan pusing-pusing.

“Dari malam, setelah makan rendang di acara kemarin,” kata Entin di RSUD Dr. Slamet Garut, Minggu (21/5/17).

Menurut informasi dari petugas rumah sakit, para korban mulai berdatangan ke RSUD dr. Slamet sejak Minggu dini hari sekira pukul 03.00 WIB. Jumlah pasien yang datang mencapai 81 orang. Hingga saat ini mereka masih mendapat perawatan intensif dari pihak rumah sakit. (Mempis/GE)***

Editor : SMS

BREAKING NEWS: Keracunan Makanan, Seratus Lebih Warga Korban Cimanuk Penghuni Sementara Islamic Center Dirawat Intensif di RSUD dr. Slamet Garut

GARUT,(GE).- Warga hunian sementara korban banjir Cimanuk, Kabupaten Garut yang  mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan bantuan dari Singapura tercatat ada 120 orang yang dirawat intenmsif di ruang unit gawat darurat RSU dr. Slamet Garut, Minggu (21/5/17).

Menurut Camat Garut kota, Bambang Hafid, para korban yang menjadi korban keracunan terdiri dari lansia dan anak-anak.

“Yang dirawat di RSU ada sekitar 120 orang. Mereka terdiri dari anak-anak dan lansia,” tandasnya.

Sementara itu, akibat membludaknya jumlah korban, pihak RSU kewalahan, sehingga sebagian korban terpaksa harus menjalani perawatan di lorong rumah sakit.

Pihak kepolisian setempat sendiri, hingga saat ini masih melakukan penyelidikan terkait penyebab pasti keracunan.  Polisi telah mengamankan sample sisa makanan yang dikonsumsi para korban. (Andriawan/GE)***

Editor: Kang Cep.

 

BREAKING NEWS: Keracunan Usai Menyantap Bantuan dari Singapura, Sejumlah Pengungsi Cimanuk di Tempat Penampungan Islamic Center Dilarikan ke RSU

GARUT,(GE).- Puluhan pengungsi korban banjir bandang Cimanuk yang ditampung di kompleks Islamic Center Garut mengalami kercanunan makanan, Minggu (21/5/17). Menurut Yulianti (26) salah seorang penghuni penampungan, kejadian bermula pada pagi hari, sekitar pukul 05.00 WIB, sejumlah warga di penampungan mengalami pusing-pusing dan diare.

“Ya, tadi subuh pukul 5, pada pusing warga di sini (tempat penampungan Islamic Center Garut/ red.) termasuk anak saya ini,” ungkapnya, Minggu (21/5/17).

Yulianti (26) salah seorang pengungsi korban Cimanu yang tinggal di tempat penampungan Islamic Center, mununjukan putranya yang turut menjadi korban keracunan, usai menyantap makanan, Minggu (21/5/17)/ Foto: Kang Cep/GE.

Sementara itu, menurut petugas kesehatan yang berada di lokasi, semua korban yang dilarikan ke RSU dr. Slamet Garut ada 20 orang lebih.

“Iya, kita masih mendata jumlah korbannya, baik yang dirawat di RSU maupun yang di Isalamic Center,” katanya.

Menurut salah seorang petugas security di Islamic Center, warga di penampungan pada hari sabtu (20/5/17) sore, mendapat bantuan dari dermawan asal Singapura. Diguga makanan yang disantap penghuni di penampungan tidak steril atau kadaluarsa, seningga menimbulkan keracaunan.

“Sepertinya, dari makanan yang disantap pada hari Sabtu kemarin. Warga di sini kan mendapat bantuan, terus diberikan makan siang, mungkin dari menu dagingnya,” tukasnya.

Hingga berita ini diturunkan, data korban masih dicatat petugas dari Dinas Kesehatan Garut. Petugas dari Dinkes juga saat ini masih memeriksa sisa makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan ini. (ER/GE)***

Kemarin Warga Bayongbong Keracunan Makanan di Acara Hajatan, Kini Warga Pamulihan Keracunan Jajanan Ketupat

PAMULIHAN, (GE).- Peristiwa keracunan massal kembali dialami warga di Kabupaten Garut. Kali ini, gejala keracunan massal menimpa puluhan warga di Kecamatan Pamulihan.

Camat Pamulihan Asep Harsono, HS, S.Sos, mengatakan, puluhan warga itu mengalami keracunan usai menyantap jajanan tradisional berupa ketupat tahu, di Pasar Kemis (pasar rakyat) Kampung Cilinggar, Desa Linggar, Kecamatan Pamulihan. Dari informasi yang ia terima, jumlah warga yang mengalami keracunan ini berkisar antara 50-60 orang.

“Jumlahnya sekitar 50-60 orang. Semua warga yang mengalami keracunan sudah dievakuasi ke Puskesdes (Pusat Kesehatan Desa) Desa Linggar untuk mendapat pertolongan. Informasi dari warga, mereka merasakan gejala keracunan usai jajan ketupat tahu atau tahu petis,” kata Asep saat dihubungi, kemarin.

Menurut Asep, gejala yang ditunjukan warga mirip keracunan massal pada umumnya, yakni mengalami mual, pusing, hingga muntah. Peristiwa tersebut setidaknya terjadi pada pagi hari, yakni ketika pasar rakyat yang bernama Pasar Kemis berlangsung.

“Kejadiannya pagi hari, kurang lebih pukul 09.00 WIB. Setiap Kamis memang ada yang namanya Pasar Kemis. Nah di pasar rakyat itu, semua masyarakat berkumpul untuk menimkati jajanan murah. Mungkin setelah makan ketupat tahu, gejala keracunan dirasakan warga yang memakannya,” ungkapnya.

Dari keterangan para korban, kata Asep, gejala keracunan yang dialami berbeda-beda, yaitu ada yang merasakan gejala ringan dan berat. “Yang makannya sedikit, hanya pusing biasa, sementara yang makannya banyak, itu repot kondisinya sampai muntah-muntah,” katanya.

Belum diketahui pasti asal domisili para korban tersebut. Sebab, warga yang datang ke pasar rakyat ini berasal dari berbagai kampung.

“Mungkin ada juga yang dari desa dan kecamatan tetangga, seperti dari Desa Wangunjaya dan Panyindangan, Kecamatan Pakenjeng. Selain berbatasan dengan desa tetangga, lokasi Pasar Kemis merupakan pusat kegiatan masyarakat berbagai kampung di Desa Linggarjati. Jadi bisa dari mana saja korbannya,” paparnya.

Sample makanan kupat tahu, kata Asep, telah diambil untuk dijadikan pemeriksaan laboratorium. Dugaan sementara, ketupat menjadi penyebab keracunan ini.

“Ketupatnya mengandung pemadat berupa apu (tawas). Mungkin ini yang menyebabkan warga keracunan. Tapi untuk memastikannya, harus dicek laboratorium,” ungkapnya.

Sebagian warga, tambah dia, sudah diperbolehkan pulang karena kondisi kesehatannya pulih. Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Garut Jena Markus, menyatakan pihaknya telah menurunkan tim untuk memantau peristiwa keracunan massal tersebut.

“Tim sudah berangkat ke lokasi sejak pagi. Hingga siang masih dalam perjalanan, karena lokasinya berada di wilayah Garut selatan. Kami belum bisa memberi keterangan terlebih dahulu. Harus ada kepastian mengenai apa yang terjadi, dan berapa jumlah pasti korbannya,” kata Jena.

Di tempat terpisah, warga yang menjadi korban keracunan setelah menyantap hidangan pesta pernikahan di Kampung Ciranyang, Desa Mekarjaya, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, akibat mengonsumsi hidangan pesta pernikahan, telah kembali ke rumahnya karena dinyatakan pulih. Total keseluruhan korban keracunan di Kecamatan Bayongbong itu mencapai 134 orang.

“Dari tadi malam sampai siang pukul 11.00 WIB tidak ada penambahan lagi masyarakat Ciranyang yang keracunan. (Jumlahnya) masih sama, sebanyak 134 orang,” kata Agus Salim, Kepala Puskesmas Cilimus Kecamatan Bayongbong.

Dari ratusan orang korban keracunan, tinggal enam orang yang masih menjalani perawatan intensif di Kampung Ciranyang. Sebelumnya, korban keracunan yang mesti dirawat intensif sebanyak 12 orang.

“Perawatan intensif ini masih diberikan kepada warga langsung di Kampung Ciranyang. Mereka masih diberi cairan infus karena kemarin tingkat dehidrasinya cukup parah. Sementara enam orang lainnya sudah diperbolehkan pulang pada pukul 10.00 WIB tadi,” ucapnya.

Agus menjelaskan, meski sebagian besar warga sudah pulih dan pulang ke rumah masing-masing, pihaknya masih memberlakukan status siaga keracunan di Kampung Ciranyang. Status tersebut akan berlaku hingga dua hari ke depan.

“Status siaga masih berlaku, tinggal untuk dua hari ke depan,” ujarnya.

Dalam status tersebut, Agus mengaku telah menyiagakan Puskesmas Pembantu Desa Mekarjaya. Bila ada warga yang mengalami gejala serupa, diminta untuk datang ke puskesmas pembantu tersebut.

“Seluruh pembiayaan gratis, ini tanggung jawab pemerintah. Makanya bila ada warga yang merasakan gejala serupa, silakan datang ke Pustu (Puksemsas Pembantu) Desa Mekarjaya yang dekat dengan rumah warga. Semua obat-obatan, alat kesehatan, dan petugas dari Puskesmas Cilimus sudah stand by,” katanya.

Humas RSUD dr Slamet Garut Muhammad Lingga Saputra mengatakan, seluruh korban keracunan yang menjalani perawatan di rumah sakit pemerintah telah dinyatakan pulang. Menurut Lingga, sebelumnya terdapat empat warga yang dinyatakan dehidrasi.

“Tadinya di sini ada empat warga yang dehidrasinya parah. Mereka terdiri dari seorang perempuan dewasa, dan tiga anak-anak usia antara 4 dan 5 tahun. Tapi sudah dinyatakan pulih dan pulang pada pagi hari,” katanya.

Sebelumnya, ratusan korban keracunan massal di Kampung Ciranyang dirawat di sejumlah tempat berbeda. Hal itu terjadi karena jauhnya jarak dan keterbatasan tempat menjadi penyebabnya.

Ratusan warga ini setidaknya menjalani perawatan di rumah warga Kampung Cilimus, Puskesmas Kersamenak Kecamatan Bayongbong, RSUD dr Slamet Garut, RS Guntur, dan RS Nurhayati. (Farhan SN)***