Minim Pasokan Air, Hama Ulat Serang Tanaman Sayuran di Karangpawitan

GARUT, (GE).- Dampak kemarau terus meluas. Minimnya pasokan air di sejumlah wilayah membuat petani ketar letir. Akibat minimnya air untuk lahan pertanian berakibat pada menurunya prosuksi. Selain itu, lahan pertanian yang minim pengairan membuat hama ulat mulai menyerang.

Beberapa areal pertanian, khususnya tanaman sayuran di Desa Godog, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, minimnya pasokan air dikeluhkan para petani. Mereka (petani) pun mulai kesilitan untuk mendapatkan sumber air baru.

“Air unutuk lahan pertanian saat ini benar-benar minim. Sumber mata air baru juga kini sulit ditemukan, ungkap Ajat (55), salah seorangpetani sayuran di desa tersebut, Selsa (19/9/17).

Diungkapkannya, akibat kebutuhan air tidak terpenuhi secara normal, kini tanaman sayuran di wilayah Desa Godog mulai terdampak. Beberapa dampak dari kekeringan terhadap sayuran diantaranya pertumbuhannya kurang maksimal, daun mengering dan diserang hama ulat.

“Sedikitnya pasokan air mengakibatkan kualitas tanaman sayuran menurun. Hama ulat juga menambah parah kondisi tanaman sayuran,” keluhnya.

Saat ini para petani di kawasan Desa Godog mengkhawatirkan tanamannya benar-benar akan mati dan terjadi gagal panen. Adapun jenis sayuran yang terancam serangan hama ulat diantaranya cabe, buncis, bawang daun, serta cabe rawit.

Sementara itu, Kepala Seksi Serealia Bidang Palawija pada Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Dudung Sumirat, mengatakan, kekeringannyang melanda sejumlah lahan pertanian di Garut kini mulai berdampak terhadap menurunnya jumlah produksi palawija.

“Untuk mengantisipasi kekeringan akibat kemarau ini, kami juga bekerjasama dengan TNI untuk melakukan pencarian sumber mata air baru dan memperbaiki sejumlah saluran irigasi teknis,” katanya.

Banyaknya lahan pertanian di wilayah Garut yang saat ini mulai dilanda kekeringan, tak luput dari perhatian pihak Komando Distrik Militer (Kodim) 0611 Garut. Berbagai upaya pun terus dilakukan termasuk menerjunkan anggotanya untuk melakukan pemantauan secara langsung. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

Terdampak Kekeringan, Warga Kertajaya Terpaksa Gunakan Air Kotor

GARUT, (GE).- Hingga pertengahan bulan September 2017, hujan tak kunjung turun. Akibat kemarau ini, sejumlah wilayah di kabupaten Garut mulai terdampak. Bahkan di beberapa wilayah, warga mulai kesulitan air bersih dan terpaksa harus menggunakan air sumur yang kotor untuk kepentingan MCK (Mandi Cuci Kakus).

Selain air yang kotor, keberadaan ir sumur ini juga sangat terbatas sehingga warga cukup kesulitan untuk mendapatkannnya. Desa Kertajaya, Kecamatan Cibatu, adalah salah satu wilayah di Kabupaten Garut yang dalam dua bulan terakhir ini merasakan kesulitan mendapatkan air bersih akibat kekeringan.

“Ya sangat sulit, ada juga air sumur sangat sedikit, dalam, kotor dan keruh. Mau bagaimana lagi, bingung. Kalau mau mandi biasa ke sunga Cimanuk saja, yang juga kotor airnya,” keluh Enok (45) salah seorang warga Desa Kertajaya, Selasa (19/9/17)

Selain kesulitan untuk kebutuhan MCK, warga Kertajaya saat ini juga praktis tidak bisa bercocok tanam yang ideal. Warga berharap pemerintah dapat membantu kesulitan air bersih ini dengan mensuplaynya. Paling tidak untuk kebutuhan masak dan mandi.

“Tentu, kami beharap pemerintah bisa membantu memberikan supalay air bersih. Ya, setidaknya untuk kebutuhan masak dan mandi,” harapnya. (Andri)***

Editor: Kang Cep.

BPBD Jabar : Empat Wilayah Siaga Darurat Kekeringan

GARUT, (GE).- Hingga akhir Agustus 2017 sejumlah daerah di Jawa Barat mulai merasakan dampak musim kemarau. Memasuki musimkemarau tahun ini, BPBD Jawa Barat telah menetapkan Empat kabupaten dengan status siaga darurat kekeringan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, Dicky Saromi, mengatakan, keempat kabupaten dengan status siaga tersebut diantaranya Kabupaten Cianjur, Sukabumi, Karawang, dan Banjar.

“Empat daerah itu sudah laporkan siaga darurat kekeringan. Sudah mulai kekeringan dari air bersih dan minum. Selain itu juga dari daerah pertaniannya,” kata Dicky , di Gedung Pendopo Garut, Selasa (29/8/17).

Diejlaskannya, berdasarkan laporan dari Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak kemarau dperkirakan terjadi pada bulan Agustus sampai September. Namun sulit untuk memprediksi sampai kapan musim kemarau akan berlangsung.

“Kemarau ini susah diprediksi. Biasanya begitu (Oktober mulai hujan) tapi belum bisa diperkirakan,” ujarnya.

Selain masalah kekeringan, pihaknya juga mengantisipasi kebakaran. Baik kebakaran gedung maupun hutan. Kebakaran hutan yang cukup riskan terjadi seperti di Taman Nasional Gunung Ciremai.

“Itu yang jadi perhatian kita (kebakaran hutan). Beberapa kebakaran terjadi di daerah itu tahun-tahun lalu,” ucapnya.

Pihaknya pun meningkatkan pengawasan ancaman kebakaran di Gunung Ciremai. Di Kabupaten Garut hingga kini BPBD Jawa Barat belum menerima laporan kekeringan dan kebakaran hutan. Meski sempat terjadi kebakaran di Gunung Guntur beberapa waktu lalu. (Tim GE)***

Hujan Tak Kunjung Turun, Sejumlah Wilayah Mulai Terdampak Kemarau

GARUT,(GE).- Hingga akkhir bulan Agustus 2017 hujan tak kunjung turun, sehingga berdampak pada mengeringnya beberapa sumber air. Menanggap hal ini, Bupati Garut , Rudy Gunawan, menyebut di sejumlah kecamatan Kabupaten Garut, mulai dilanda kekeringan akibat musim kemarau. Dampaknya, warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

” Ya, saat ini di Garut sudah mengalami kesulitan, sumber air semakin berkurang,” kata Bupati, Senin (28/8/2017).

Diungkapkannya, saat ini musim kemarau sudah melanda Kabupaten Garut, menyebabkan sejumlah daerah kesulitan air untuk kebutuhan pertanian maupun rumah tangga. Menyikapi hal ini, Pemerintah daerah (Pemda) Garut mengumpulkan para camat untuk melakukan langkah antisipatif di kecamatannya masing-masing.

“Kami (Pemda/red.) sudah mengumpulkan para camat untuk meneliti masalah kekeringan,” katanya.

Bupati menyebutkan, kekeringan yang cukup parah terjadi di daerah tadah hujan seperti di wilayah utara Garut. Sementara Sungai Cimanuk yang menjadi salah satu sumber untuk mengaliri areal pertanian, ditenggarai mulai menyusut.

Dijelaskannya, sejumlah daerah yang mulai dilanda kekeringan pada musim kemarau tahun ini (2017) yakni meliputi Kecamatan Cibatu, Leuwigoong, Limbangan, Selaawi, Malangbong, dan Cibiuk.

“Pemerintah daerah melakukan upaya mengatasi kekeringan tersebut dengan mencari sumber mata air baru, pompanisasi dan bak penampung air,” tukasnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.