Desa Sukawangi, Desa Terbaik Kategori Hiasan Tersemarak HUT RI ke 72

GARUT, (GE).- Semarak penyambutan HUT RI ke berlangsung semarak di berbagai daerah, tak terkecuali di kawasan Garut. Di wilayah selatan Garut, sejumlah kegiatan hiburan rakyat dihelar masyarakat setempat. Untuk peringatan tingkat kecamatan, khususnya di Kecamatan Singajaya, diadakan berbagai lomba, diantaranya lomba hiasan desa.

Untuk lomba hiasan desa, akhirnya terpilih Desa Sukawangi sebagai desa terbaik untuk katagori  desa hiasan tersemarak. Prosesi penyerahan hadaih dan thropy berlangsung di lapang upacara Kecamatan Singajaya, Kamis (17/8/2017). Penghargaan tersebut  secara simbolis diserahkan langsung Camat Singajaya, Hery DJ kepada Kepala Desa Sukawangi, Hadiansyah

Penghargaan yang diberikan oleh Panitia Hari Besar Nasional (PHBN) Kecamatan Singajaya sifatnya kejutan karena sebelumnya tidak diinformasikan dulu desa mana yang akan mendapatkan penghargaan.

” Kaget dan terharu, Desa Sukawangi bisa meraih penghargaan ini. Merupakan suatu kehormatan bagi masyarakat Sukawangi bisa meraih desa terbaik kategori hiasan tersemarak peringatan HUT RI ke 72 tahun 2017,” tuturnya.

Atas penghargaan yang diterima Desa Sukawangi ini, Ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukungnya. “Terimakasih kepada semua steakholder yang telah mendukung, semoga apa yang sudah diraih bisa dijadikan motivasi untuk lebih baik lagi kedepannya,” katanya.  (Dedi Sofwan)***

Editor: Kang Cep.

Pasbara Kwarran Kecamatan Singajaya Dilantik

GARUT, (GE).- Dalam rangka HUT Pramuka yang ke 56, 34 anggota Pasukan Pengibar Bendera Khusus Pramuka (Pasbara) tingkat Kwartir Ranting (Kwarran) Kecamatan Singajaya dilantik oleh Camat Singajaya, Herry Dj. Pelantikan tersebut dilaksanakan di GOR Desa Singajaya, Jum’at (11/8/17).

Dalam sambutannya, Herry Dj mengatakan untuk menjadi anggota pasukan pengibar bendera khusus pramuka (Pasbara) diperlukan pengorbanan secara jasmani maupun rohani. “Untuk itu diharapkan menjadi insan yang tangguh dalam pramuka. Kemudian bisa menjadi tauladan bagi orang tua, sekolah dan masyarakat,” ujar Herry.

Dalam sesi wawancara, Herry Dj mengatakan”semoga anak-anak yang dilantik menjadi anggota pasbara menjadi insan yang tangguh dalam pramuka dan menjadi tauladan bagi orang tua, sekolah dan masyarakat,” tandasnya.

Sebelum pelantikan, calon anggota Pasbara yang mendaftar berjumlah 80 orang. Setelah melalui seleksi ketat akhirnya yang bisa lolos mengikuti pendidikan berjumlah 34. Calon pasbara yang mendaftar berasal dari pelajar tingkat SMP dan SMA.

Selama pendidikan yang dilaksanakan selama satu bulan, calon Pasbara menerima pembinaan secara intensif baik secara fisik maupun mental oleh Dewan Kerja Ranting (DKR). Materi yang diberikan diantaranya pembentukan karakter yang baik bagi generasi muda khususnya anggota pramuka Kwarran Kecamatan Singajaya
.

“Pembentukan karakter yang baik menjadi tujuan dalam pelaksaan pembinaan anggota Pasbara ini,” ujar Nana Rohana, S.Pd yang merupakan Ketua Kwarran Kecamatan Singajaya.

Wisnu Nugraha, salah satu anggota Pasbara yang berasal dari SMAN 20 mengatakan suka duka para calon Pasbara dalam proses pendidikan seperti lelah diterpa cuaca panas, hujan seperti tidak terasa setelah dilantik menjadi anggota Pasbara.

”Bangga tentunya, bisa dilantik menjadi anggota pasbara. Sudah hilang semua rasa lelah, sedih selama pendidikan. Mudahan-mudahan apa yang menjadi cita-cita saya untuk menjadi Brimob bisa tercapai,” tuturnya. (Dedi Sofwan)****

Editor: Kang Cep.

Dongkrak Perekonomian, Warga Desa Pancasura Kembangkan Peternakan Kerbau

GARUT, (GE).- Sebagai upaya untuk meningkatkat bperekonomian, sejumlah warga di Desa Pancasura, Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut, saat ini tengah bersemangat mengembangkan peternakan kerbau. Peternakan kerbau ini dinilai potensial untuk mendongkrak potensi perekonomian masyarakat.

“Ya, saat ini kami melakukan upaya bersama warga untuk mempercepat perkembangbiakan kerbau.  Kerbau memiliki nilai jual yang sama dengan sapi,” kata Saepulloh A Ridho yang tak lain Kepala Desa Pancasura, Senin (5/6/17).

Diungkapkannya, saat ini tak sedikit warganya yang beternak kerbau secara tradisional. Pemeliharaan ternak secara tradisional ini tentunya belum bisa dikatakan komersial, terlebih memberikan keuntungan dari penjualan kerbau.

“Dari ketidaktahuan itu,  kami menjelaskan bahwa kerbau bisa menjadi swasembada pangan yang sama seperti sapi, dan bisa menguntungkan,” katanya.

Dijelaskannya, persoalan warga terkait peternakan kerbau ini menjadi tanggungjawab desa. Pihak pemerintahan desa harus berupaya mendorong potensi peternakan kerbau, tentunya dengan meminta perhatian dari Pemerintah Kabupaten Garut.

“Pemerintah daerah melalui Dinas Perikanan dan Peternakan Garut, telah berkunjung ke Desa Pancasura untuk membantu masyarakat mengembangkan peternakan kerbau. Pihak dinas juga memberikan cara penyuntikan hormon dan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik,” ungkapnya.

Diharapkannya, perhatian pemerintah daerah terhadap warganya itu dapat menumbuhkan potensi perekonomian desa di sektor peternakan kerbau. “Kami berharap warga bisa memanfaatkan kerbau peliharaannya dengan maksimal,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Seksie Produksi Bidang Peternakan, Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Garut, Iwan Aryanto mengakui, telah melakukan penyuntikan hormon dan IB pada hewan ternak kerbau di Desa Pancasura.

“Ya, daerah itu (Desa Pancasura/red.) memiliki potensi sumber daya alam yang bagus untuk pengembangbiakan kerbau, tetapi selama ini masyarakat belum menjalankannya secara maksimal,” tuturnya. (Tim GE)***

Kawasan Desa Pancasura di Garut Selatan Rawan Pergerakan Tanah

PERGERAKAN TANAH-GARSEL

GARUT, (GE). – Beberapa wilayah di kawasan Garut selatan ditenggarai rawan terjadi pergerakan tanah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut menyebutkan, salah satunya di wilayah Desa Pancasura, Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Garut Dadi Djakaria menjelaskan, hal tersbut diperoleh berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di tahun 2015 lalu.

PERGERAKAN TANAH-

“Ya, sudah ada penelitian di sana (Desa Pancasura/ red.) tahun 2015 dan 2016. Memang daerahnya masuk rawan pergerakan tanah,” jelasnya, Selasa (7/2/2017).

Dijelaskannya, penanganan pemerintah terhadap pergerakan tanah di Desa Pancasura baru sebatas penelitian.

“Penanganan lebih jauh itu diperlukan peran sejumlah pihak, seperti instansi terkait, swasta, bahkan masyarakat. BPBD tidak bisa sendirian menanganinya,” ujarnya.

Dadi mengingatkan di Kabupaten Garut tercatat masih banyak wilayah yang memiliki potensi bencana serupa. Selain di Desa Pancasura, Kecamatan Singajaya, potensi pergerakan tanah juga terjadi di kawasan Garut selayan lainnya, semisal di Kecamatan Banjarwangi.

“Belum lagi pergerakan tanah di Kecamatan Cisompet. Intinya kami membutuhkan peran semua pihak untuk peduli bencana, ” tukasnya.

Terkait jumlah rumah yang terdampak pergerakan tanah di Desa Pancasura, ia menjelaskan pihaknya tidak memiliki data. Pasalnya, upaya yang dilakukan pemerintah dan PVMBG di wilayah itu baru sebatas penelitian.

Sebelumnya, Kepala Desa Pancasura Saefullah A Ridho menuturkan, pergerakan tanah di desanya telah berlangsung lama. Pergerakan tanah yang mengakibatkan rusaknya beberapa bagian rumah permanen dan mengubah posisi rumah panggung itu setidaknya sudah terjadi sejak era 80-an. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

Kecamatan Singajaya Optimis Bisa Lebih Maju

SINGAJAYA,(GE).- Bagian dari tugas camat adalah koordinasi pemerintahan di wilayah kecamatan khususnya tugas-tugas atribut dalam bidang koordinasi pemerintahan terhadap seluruh potensi pemerintahan di wilayah kecamatan. Di samping itu, juga dalam penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban, penegakkan peraturan perundang-undangan, dan pembinaan penyelenggaraan pemerintahan desa.

Untuk mengintensifkan fungsi koordinator itu, Camat Singajaya, Heri Junaeri, S.Sos., tidak lepas dalam berkoordinasi dengan seluruh elemen yang ada di Kecamatan Singajaya. Untuk bisa memberikan pelayanan secara maksimal kepada masyarakat, program yang didahulukan yaitu pembenahan di dalam kantor kecamatan, baik sarana prasarana maupun personalnya.

Koordinasi juga dijalin dengan pihak eksternal seperti dengan jajaran Muspika, para Kepala UPTD dan UPT termasuk dengan para kepala desa agar ada arah dan tujuan yang sama dalam memajukan Kecamatan Singajaya.

Dalam rangka membangun koordinasi, pihaknya menyelenggarakan rapat mingguan dengan berbagai elemen termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kehadiran MUI ini sekaligus untuk memberikan ceramah keagamaan di hadapan peserta rapat kurang lebih selama 15 menit.

“Perjalanan rohani itu sangat penting, terutama dalam menghadapi masalah, termasuk dalam melayani masyarakat. Insya Alloh kalau rohani kita sudah jernih, di pupuk dengan keimanan yang kuat, maka jauh dari sifat manipulasi, bahkan sekalipun korupsi,” katanya.
Camat menegaskan akan memaksimalkan personel yang ada sesuai dengan tupoksinya masing-masing dalam memberikan pelayanan kepada warga Singajaya yang jumlahnya kurang lebih 33.800 jiwa. Diharapkan personel kecamatan memiliki tanggung jawab dan tidak terjadi tumpang tindih dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu, dirinya selama tidak ada rapat di tingkat kabupaten, sering dengan para Kasi dalam menjalankan tugas sehari-hari dan selalu memanfaatkan rumah dinas supaya terus berada di wilayah Kecamatan Singajaya. Begitupula untuk koordinasi dengan elemen lainnya, rutin mengadakan rapat koordinasi setiap sebulan sekali di Kantor Kecamatan Singajaya.

Mengenai pembinaan kepada kepala desa, Camat menjelaskan, mengacu kepada Undang-Undang No. 32 Tahun 2004. Dimana Camat memiliki kewenangan untuk membina dalam bentuk fasilitator, pembuatan Perdes, dan terwujudnya administrasi tata pemerintahan yang baik. Sesuai dengan PP No. 72 Tahun 2015, Camat wajib membina dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan.

“Pada saat ini yang mendapat perhatian besar ke tingkat desa yaitu memfasilitasi pengelolaan keuangan desa dan pendayagunaan dan penggunaan asset desa,” katanya.
Pihaknya akan maksimalkan dalam rapat mingguan agar kepala desa dan perangkatnya bisa menguasai pengelolaan keuangan sehingga dalam menjalankan tugas sehari-harinya sesuai dengan petunjuk dan pelaksanaan yang telah ditetapkan. “Insya Alloh kalau semua hasil musyawarah dan hasil pembinanan dijalankan, begitupula kalau ada suatu permasalahan dimusyawarahkan, tidak terlepas dari berkoordinasi, kami yakin Kecamatan Singajaya akan lebih maju,” ujar Heri.

Kecamatan Singajaya sendiri memiliki luas wilayah kecamatan seluas 4.170 ha dan terdiri dari sembilan desa yaitu Desa Ciudian, Sukamulya, Pancasura, Sukawangi, Cigintung, Mekartani, Karangagung, Singajaya, dan Girimukti.(H. Uloh)***

Heri Junaeri, S.Sos.