Kesal Aspirasinya Tak Digubris, Warga Karyajaya Menyegel Kantor Desa

GARUT, (GE).- Gejolak di Desa Karyajaya, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut berlanjut. Setelah beberapa waktu didemo, hari ini warga yang kesal kembali melakukan aksinya dengan menyegel kantor desa, Senin (23/10/17).

Hingga saat ini, tuntutan warga untuk melengserkan ‘ES’ Kepala Desa Karyajaya belum ditanggapi serius pemerintah. Akibatnya, sejumlah warga kembali dengan melakukan asksinya. Dampak dari aksi sejumlah warga tersbut pelayanan di kantor Desa Karyajaya terganggu, tentunya.

Alasan warga kesal kepada kepala desanya dipicu dengan beberapa tudingan miring kepada kades ES. Warga pendemo menuding Kades ES telah menggelapakan Dana Desa (DD) yang besarannya 40%. Bahkan dalam tulisan segel di depan kantor desa, secara ekstrim warga menulis, bahwa Kades ES telah membawa kabur anggaran Dana Desa.

“Jelas kami kesal. kelakuan kades ini sudah keterlalauan. Kami juga kesal kenapa pemeritah kabupaten terkesan mebiarkan apdahal sudah jelas kades melanggar hukum, ” uajar salah seorang warga, Senin (23/10).

Sementara itu, akasi penyegelan kantor desa sendiri bermula saat sejumlah warga mendatangi kantor desa untuk menanyakan penggunaan anggaran dana desa. Namun, saat tiba di kantor sang kepala desa tidak ada di tempat.

“Karena kades tidak ada, kami sepakat menyegel kantor desa. Tuntutan kami tetap agar kepala desa dilengserkan dari jabatannya, karena telah menyelewengkan anggaran desa,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemerintah Desa pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Garut, Asep Mulyana, menyebutkan, memang penyegelan kantor desa ini merupakan buntut dari kekesalan warga terhadap kadesnya.

“Mungkin mereka kesal, karena belum adanya tanggapan dari yang berwenang terakit tuntutannya,” tukasnya. (ER)***

Tuntut Kades Mundur, Ketua BPD Ngamuk bak Orang Kesurupan

GARUT, (GE).- Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan warga mendatangi kantor Desa Karyajaya, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Senin (4/9/17). Aksi demo ratusan warga ini dipicu atas kinerja kadesnya yang dinilai buruk.

Saat berlangsungnya mediasi antara pihak desa dengan warga, Asep Atang yang merupakan ketua Badan Pemberdayaan Desa setempat, lepas kontrol. Asep mengamuk layaknya orang yang tengah kesurupan.  Ia meronta-ronta, tendang sana sini, berteriak memaki-maki Kades Karyajaya yang pada saat berlangsungnya aksi justru tidak berada di tempat.

Amukan ketua BPD ini tak ayal membuat  “riweuh” sejumlah aparat desa termasuk camat, anggota polisi dan TNI yang saat itu berada di lokasi.

Aksi amuk ketua BPD ini ditenggarai berlatar belakang kekecewaan terhadap kinerja Kepala Desa Karyajaya, Edi Sunarto yang dianggap buruk.

Selain kesal atas kinerja kadesnya, warga juga menuding Kades Karyajaya telah menyelewengkan  anggaran dana desa untuk pembangunan infrastruktur jalan.

Menurut Ketua RW 09, Desa Karyajaya, sang kades sejak terpilih menjadi kades malah jarang ngantor, sehingga pelayanan masyarakat terganggu.

“Ya, ia (Kades Karyajaya/red.) jarang ngantor sehingga pelayanan terganggu. Anggaran yang 60 persen juga tidak digunakan sesuai rencana.  Perbaikan  jalan tidak selesai, sekarang kan harusnya kerja tapi tidak ada di kantor, masyarakat menuntut Kades harus mundur dari jabatannya,” katanya.

Menanggapi tuntutan warga Karyajaya, Camat Bayongbong, Santari, meminta agar warga tetap tenang dan menempuh mekanisme peraturan yang berlaku.

“Tuntutan itu harus melalui mekanisme, dari inspektorat dan kejaksaan, itu tidak serta merta harus dilakukan. Jika terbukti kesalahannya maka harus melalui proses hukum terlebih dahulu,” kata Santari. (Andri)***

Editor: Kang Cep.

Pasukan ‘Drum Blek’ Meriahkan HUT RI 72 di Bayongbong

GARUT, (GE).- Dengan bermodalkan kaleng bekas biskuit (blek/ bahsa sunda) sejumlah ibu ibu yang bernaggotakan 20 orang membentuk sebuah grupparade musih yang mereka sebut “Drum Blek”. Dengan dikomandoi seorang dirigen, tak ubahnya grup ‘Drum Blek’ ini mirip sebuah grup drum band. Mungkin saja penamaan grup musik dengan alat perkusi dari barang bekas ini merupakan pelesetan dari drum band.

Penampilan pasukan ‘Drum Blek’ ini merupakan bagian dari cara warga di kawasan Desa Banjarsari, Kecamatan Bayongbong Garut dalam memeriahkan HUT RI ke 72. Rancaknya tetabuhan serta kekompakan para ibu ubu menabuh alat sederhana ini sontak membuat warga yang menyaksikan tampak terhibur.

Aksi ibu-ibu kreatif ini berlangsung saat kernaval penyambutan HUT RI Ke-72 yang digelar di Desa Banjarsari, Rabu,(16/08/2017). Dengan nada penuh semangat, salah seorang anggota “Drum Blek” Elis (57) menuturkan, pasukan ini sudah ada selama 22 tahun.

“Setiap ada acara karnaval menyambut HUT RI, kami pasti tampil” katanya.

Nada-nada yang berasal dari tetabuhan blek biskuit ini pun dirangkai sedemikian rupa, sehingga menghasilkan alunan musik membentuk irama lagu, seperti lagu-lagu nasional dan lagu-lagu lainnya.

Kepala Desa Banjarsari, Ujang Supriatna memuji penampilan kreatif warganya tersebut. Menurutnya, selain menghibur, itu semua mencerminkan kekompakan dan antusias tinggi warganya dalam momen menyambut HUT RI.

“Ya, warga Desa Banjarsari terkenal sangat kompak dalam kegiatan-kegiatan seperti itu. Mudah-mudahan setiap tahunnya ide-ide kreatif warga Desa Banjarsari bisa semakin bertambah. Kita berharap kegiatan seperti ini bisa lebih meriah lagi,” katanya. (Useu G Ramdani)***

Editor: Kang Cep.

Warga Kampung Legok Ringgit Mengeluh, Tumpukan Sampah Menutupi Akses Jalan Area Pemakaman

GARUT, (GE).- Areal pemakamam yang seharusnya bersih dari sampah, ini malah sengaja jadi tempat pembuangan sampah. Hal inilah yang terjadi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Legok Ringgit, Desa Salakuray, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut.

Kondisi ini telah sekian lama berlangsung, bahkan bukan hanya sampah rumah tangga yang dibuang ke areal pemakaman. Beberapa oknum warga yang tidak bertanggung jawab pun diantaranya membuang sampah bekas pecahan kaca, sehingga membahayakan warga yang akan melitas ke areal TPU.

“Memang, sejumlah oknum warga sengaja membuang sampah ke areal pemakaman ini. Kami warga di Kampung Legok Ringgit telah beberapa kali memperingatkan dengan memasang plang pelarangan membuang sampah, namun tetap saja membandel. Malah plang yang kami buat dicabut,” ungkap Adad Hadiansyah, warga sekitar pemakaman, Rabu (26/4/2017).

Terkait penumpukan di areal akses menuju TPU Kampung Legok Ringgit, Adad mengaku sudah menyampaikannya kepada kepala desa setempat, namun kurang ditanggapi.

“Ya, padahal saya sudak menyampaikan masalah sampah di pemakaman ini ke pa Kades Salakuray, namun pak Kades kurang menanggapinya. Si oknum  juga ada yang membuang pecahan kaca, ini kan membahayakan,” tukasnya. (ER)***