Dari Deklarasi ODF Menuju Kampung KB

PEMERINTAHAN Kecamatan Karangtengah bukan hanya sebatas melaksanakan Deklarasi Desa dan Kecamatan ODF (Open Defecation Free) yang telah diresmikan oleh Bupati Garut, H. Rudi Gunawan, Senin (31/10/ 2016).

Setelah sukses mendeklarasikan ODF, Pada awal Desember nanti, Kecamatan Karangtengah akan melaksanakan kegiatan bertajuk Kampung Keluarga Berencana (Kampung KB).

Sebelum melaksanakan kegiatan Kampung KB, Pemerintahan Kecamatan Karangtengah, melakukan program Stop Buang Air Sembarangan (STBM) di 4 desa. Kegiatan ini dudukung beberapa pihak, mulai dari Muspika Karangtengah, UPTD Dinas Kesehatan Karangtengah, dan fasilitator Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Meskipun hanya dua bulan mengadakan pemicuan ODF, Kecamatan Karangtengah bisa menuai sukses. Hal itu terbuti, sewaktu digelarnya Deklarasi Stop Buang Air Besar Sembarangan (Open Defecation Free) di Gedung PGRI Jalan. Sukalilah No. 2 depan Kantor Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Garut.

Pada kesempatan ini, Bupati Garut, H. Rudi Gunawan dihadapan ratusan tamu undangan, menyampaikan pujiannya atas terselenggaranya Deklarasi ODF ini.

“Saya sampaikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan deklarasi ODF di Kecamatan Karangtengah ini. Ini sebuah capaian positif dalam bidang program kesehatan,” ungkapnya.

Sementara itu, Camat Karangtengah, Dra. Hj. Eti Nurul Hayati, M.Si menyampaikan, dengan adanya apresiasi dari Bupati Garut, pihaknya berjanji lebih memaksimal berbagai program kesehan masyarakat.

“Apresiasi dari Pak Bupati harus kita tindaklanjuti dengan terus mensosialisasikan perliaku hidup bersih dan sehat dengan mengaplikasikan 5 pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Diantaranya Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS), cuci tangan pakai sabun, mengelola air minum dan makanan yang aman, mengelola sampah dengan benar, dan mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman.” Jelasnya.

Setelah deklarasi Open Defecation Free (ODF), pihaknya akan merealisasikan Kampung Keluarga Berencana, dalam waktu dekat.

“Sebagaimana telah dicanangkan oleh Bapak Bupati, sewaktu di Desa Pangauban Kecamatan Cisurupan, bahwa camat dari 41 Kecamatan segera membuat Kampung Keluarga Berencana (Kampung KB). Dengan limit watunya hanya satu setengah bulan. Meskipun dari kementrian menargetkannya pada tahun 2017. Namun Bupati Garut menganjurkan agar dilaksankannya pada saat ini.” Ungkapnya.

Diungkapkannya, untuk wilayah Kecamatan Karangtengah, satu kampung dicanangkan akan dijadikan sebagai Kampung Keluarga Berencana. Setelah ada masukan dari tokoh masyarakat dan kepaka desanya, akhirnya Kampung Cihanja akan dijadikan “Kampung KB.” Meskipun keadaan kampungnya terpencil, Cihanja dinilai tepat dijadikan Kampung KB. Hal itu berkat adanya satuan pendidikan di bawah naungan Yayasan Al-Huda yang didirikan oleh bapak H. E. Suherman. Beliau adalah tokoh pemerhati pendidikan.

“Kampung yang akan dijadikan sebagai Kampung KB itu, tentunya harus memenuhi persyaratan, diantaranya kampung tersebut harus bersertifikat mengenai kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup, lunas PBB dari DPPKA, menyatakan tidak ada anak sekolah yang Drop Out (DO) dari Dinas Pendidikan, keterangan Keluarga Sadar Hukum (Kadarkum) dari Kepolisian, dan keterangan sudah tidak ada lagi pernikahan di bawah umur dari KUA, dan akseptor KB dari Dinas KB,” paparnya. (Ilham Amir)***

Editor: Kang Cep.

Renggut Dua Korban Jiwa, BPBD Belum Bisa Pastikan Penyebab Longsor di Karangtengah

TARKID, (GE).- Lokasi bencana longsor di kawasan Desa Cintamanik, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Garut yang telah menelan dua korban meninggal ini terkategori wilayah dengan potensi pergerakan tanah rendah-menengah.

Dua hari pascakejadian pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sendiri belum bisa memastikan penyebab musibah longsor tersebut. Terlebih sebelum terjadi longsor tersebut terjadi tanpa disertai atau diawali hujan.

“Penyebab pastinya belum diketahui. Berdasarkan kajian PVMBG beberapa waktu lalu, daerah itu masuk wilayah rendah-menengah. Memang rawan bencana, tapi tidak separah wilayah yang kategorinya menengah-tinggi,” ujar Kepala Seksi Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kabupaten Garut, TB Agus Sofyan.

Dijelaskannya, longsor ini merupakan peristiwa pertama yang memakan korban jiwa di Kabupaten Garut, dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, longsor yang mengakibatkan korban jiwa terakhir kali terjadi pada 2012 lalu di Kecamatan Samarang.

“Waktu itu longsor menimbun tiga orang petani yang sedang bercocok tanam pada sebuah lereng berkemiringan lebih dari 30 derajat. Longsor tersebut terjadi memang karena kawasan itu terus menerus diguyur hujan. Selebihnya, longsor memang sering terjadi di Garut apabila hujan deras terjadi. Tapi selama ini tidak menimbulkan korban jiwa,” ungkapnya.

Dikatakannya, pada tahun ini (2016), beberapa kejadian longsor berlangsung di berbagai wilayah kawasan selatan Garut. Sejumlah musibah longsor ini terjadi dalam rentang waktu Maret hingga Mei dimana intensitas hujan memang sedang tinggi-tingginya. (Tim GE)***