Fenomena Pohon Tua Bernama “Hurubatu” yang Sulit Ditebang

KOMPLEKS pemakaman Pangeran Mangkubumi yang berlokasi di Kampung Cileles RT.01, dan RT.02 Desa Cintamanik, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Garut menurut sebagian warga merupakan makam keramat. Di pemakaman ini ada 5 pohon cukup besar menghiasi “angkernya” tempat ini. Masyarakat sekitar menyebut pohon pohon tersebut dengan nama pohon “Hurubatu.” Dari 5 pohon tersebut, dua diantaranya beberapa waktu yang lalu sempat membuat heboh warga sekitar saat akan ditebang.Rabu (9/11/2016).

Dari penuturan beberapa tokoh masyarakat setempat, pemakaman tersebut ada kaitannya dengan tokoh pemuka agama bernama Syarif Muhammad, yang di zaman dahulu sempat menetap di Kampung Ragadiem (kini wilayah Kecamatan Karangtengah) bersama para pengagung dari Jogja (Mataram) diantaranya Pageran Mangkubumi, Adipati Dalem Lurah, dan Adipati Bagus Tanjung.

Jika merunut sejarah, usia pohon tersebut diperkirakan berusia lebih dari 145 tahun. Sedangkan menurut tokoh masyarakat dari Kampung Cileles, Harun,pohon Hurubatu itu usianya sudah 200 tahunan.

Saat ini pohon Hurubatu, sudah retak-retak dan keropos di dalamnya dimakan usia. Warga khawatir, jika tidak segera ditebang, pohon sewaktu-waktu bisa tumbang menimpa rumah, atau kabel listrik PLN yang bertegangan tinggi.

Dari 5 pohon tersebut yang paling besar ada dua. Salah satu pohon tersebut tingginya 52 meter dengan diameter 370 cm.

“Makanya, atas prakarsa Pak Harun, pak Kades Cintamanik mengajukan permohonan untuk penebangan pohon Hurubatu kepada pihak kecamatan, kemudian kepada Dinas LH dan PLN. Pengajuan rencana penembangannya sudah 3 bulan,” kata Didi Kaur Trantib Desa Cintamanik.

Setelah 3 bulan menunggu, barulah ada keputusan penebangan dari instansi itu yang harus dilakukan, tepatnya hari Rabu (9/11/2016) lalu. Kades Cintamanik, Misbahusudur pun segera mengumumkan kepada masyarakat di sekitar wilayah tersebut, bahwa penebangan itu sudah ada izin dari instansi terkait.

Sebelum dilakukan penebangan, pada malam Jum’at (03/11/2016), dan Malam Rabu, sejumlah warga Kampung Cileles mengadakan istighosah di Mesjid Al-Manan. Mereka semalam suntuk berdo’a, dan berdzikir memohon keselamatan.

Pukul 09.45 mesin senso pun dibunyikan untuk menebang pohon di lokasi pemakaman umum Pangeran Mangkubumi. Suara senso itu begitu nyaring. Sebanyak 45 orang yang hadir matanya tak berkedip melihat gergaji mesin menebang pohon hurubatu yang berdiameter ukuran lingkar pelukan tangan orang dewasa. Hanya memakan waktu 3 menit, pohon itu langsung roboh, membujur ke sebelah timur.

Namun, seiring dengan rubuhnya pohon itu, begitu terkejutnya sejumlah masyarakat Kampung Cileles RT.01, RW.02 yang melihat dari jarak sekitar 300 m, terutama indera penciumannya tiba-tiba mencium aroma daging ayam yang digoreng sangat wangi sekali.

Kemudian sekira pukul 09.50 WIB, aroma itu berubah menjadi bau yang menyengat. Masyarakat itu langsung seketika pada menutup hidungnya. Masing-masing saling bertanya: “Bau apa, ya?” katanya,”Kalau bau berak ayam aromanya bukan menyengat begini?” ujar mereka sambil menutup hidung saling bertanya.

Saat prosesi penebangan pohon Hurubatu, puluhan orang penarik tambang pun bersigap mengerahkan kekuatan tenaganya untuk meruntuhkan pohon yang tingginya 52 m berdiameter 370 cm.

Suara gergaji mesin meraung-raung menebas pohon Hurubatu. Anehnya, setelah dinyatakan rampung, namun saat ditarik pohon ini tak bergeming, tetap berdiri kokoh. Bahkan tambang penariknya terputus. Sontak orang-orang yang menarik tambang berteriak: “Awas, hati-hati!” Teriak sejumlah warga.

Puluhan orang warga yang menyaksikan di sekitar pemakaman tampak kaget menyaksikan peristiwa aneh ini. “Jangan jangan pohon ini terhalang makhluk ghaib,” tutur salah seorang warga yang turut serta menarik pohon Hurubatu.

Selang beberapa menit, melangkahlah seorang yang sudah tua bernama Harun menuju lokasi pohon itu. Seraya komat-kamit, sambil beberapa kali mengelilingi pohon tersebut, kemudian bertutur, ”Mau kemana hey pohon kamu roboh ?”

Selanjutnya, orang tua itu menyuruh para penarik tambang yang diikatkan pada pohon yang sudah digergaji, bergeser pindah tempat. Semula mengarah ke utara, kemudian beralih menghadap ke arah mata angin barat daya. Tambang yang terputus yang ditarik dengan alat dipasangkan kembali. Lalu 30 orang warga kembali menariknya. Akhirnya setelah hampir seharian penuh dibacakan beberap do’a, san pohon pun akhirnya tumbah juga ke arah yang “dibisikan” penghuni pohon tersebut. (Ilham Amir)***

Editor: Kang Cep.