Peduli Musibah Amuk Cimanuk, KH. Jujun Junaedi Akan Panjatkan Do’a Khusus Secara Nasional

SEMAKIN canggihnya tekhnologi informasi global turut mempercepat tersebarnya informasi ke seantero pelosok daerah. Tak heran, jika kabar tragedi amukan Sungai Cimanuk dengan cepat tersiar secara nasional, bahkan mendunia.

Hingga hari lima hari pascamusibah terjadi, kepedulian dan empat masyarakat terhadap koban banjir bandang Garut terus mengalir. Berbagai bantuan silih berganti berdatangan dan didistribusikan ke beberapa lokasi penumpungan korban. Bantuan ini datang dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat negara dan tokoh masyarakat tampak menjukan kepeduliannya.

Salah satu tokoh masyarakat, yang juga dikenal sebagai penceramah kondang, KH. Jujun Junaedi secara khusus melayat ke salah satu lokasi penampungan korban banjir. Kiyai Jujun beserta rombongan mengunjungi warga korban di Desa Sukakarya, Kecamatan Tarogong kidul, Kabupaten Garut, Kamis (22/09/2016).

Dalam kunjungannya ini, selain mendistribusikan bantuan, Ia juga menyampaikan langsung petuah-petuahnya agar para korban tetap bershabar dalam menghadapi musibah ini. Pada saat melawat para korban, Jujun juga berjanji akan memanjatkan do’a khusus untuk para korban amukan Cimanuk di salah satu TV Nasional yang akhir-akhir ini Ia biasa mengisi ceramahnya.

“Ya, Insya Allah, nanti saya khususkan berdo’a secara Nasional untuk saudara-saudara yang tertimpa musibah ini,” Ungkap Jujun, yang mengaku memiliki kerabat di daerah terdampak banjir bandang ini.

Saat kunjungannya ini, Ajengan Jujun, demikian masyarakat Garut kerap memanggilnya, secara kebetulan bersua dengan Hj. Siti Mufattahah yang merupakan anggota DPR RI. Dalam pertemuannya dengan salah satu politisi partai Demokrat ini, Jujun sempat bertegur sapa. Ia menilai, wakil rakyat seperti Hj.Siti sudah seharusnya dicontoh oleh wakil rakyat lainnya.

“Tentunya, aksi sosial beliau (Siti Mufattah/red.) seharusnya dicontoh juga oleh anggota DPR lainnya. “ Tutur ulama “pituin” Garut ini, seraya mengakhiri perbincangannya dengan “GE.” (Useu G Ramdhani) ***

Lecehkan Profesi Wartawan Saat Ceramah Ramadhan, Penceramah Jujun Junaedi Terancam Dipolisikan

LIMBANGAN, (GE).- Mulutmu adalah harimau mu. Akibat ucapannya saat memberikan sambutan pada acara buka bersama anak yatim di Pasar Limbangan Garut pimpinan Pondok Pesantren Al-Ghoniah, Jujun Junaedi terancam dilaporkan ke Polisi. Dalam sambutannya Jujun menyamakan Wartawan dengan, copet dan para penggunjing yang selalau ada di pasar.

Saat sambutan Jujun menyebutkan ada dua tempat yang baik dan yang buruk. Tempat yang baik adalah masjid sementara tempat yang paling buruk adalah pasar.

Ia mengatakan, ulama dan santri yang mau solat adanya di mana? Pasti di masjid. Sementara copet, tukang tipu, wartawan adanya di mana? Pasti di pasar.

Mendengar perkataan seperti itu, sejumlah wartawan yang mendapatkan undangan dari panitia penyelenggara langsung ke luar ruangan. Bahkan berencana akan melaporkan Jujun kepada pihak yang berwenang atas pencemaran nama baik profesi wartawan.

Ketua PWI Garut, Aep Hendi, mengaku dirinya dan wartawan lainnya tersinggung atas ucapan Jujun yang memvonis profesi wartawan sama dengan copet dan tukang tipu. Ia menyayangkan ucapan itu dikatakan di hadapan tamu undangan yang kebanyakan anak-anak.

“Ucapan seperti itu tidak pantas diucapkan dalam kegiatan mulia seperti ini. Apalagi ini di hadapan anak-anak. Seolah-olah menanamkan kebencian terhadap profesi wartawan,” kata Aep, di Pasar Limbangan Jumat (17/6/2016).

Atas pernyataan itu, kata Aep, dirinya akan mengambil langkah hukum terkait pencemaran terhadap profesi wartawan. “Saya telah melakukan pelaporan resmi ke Polres Garut agar segera ditindaklanjuti,” ujarnya.

Masih menurut Aep, dirinya tak habis pikir terhadap pola pikir Jujun. Padahal menurutnya, berbagai sajian informasi yang ada di media cetak dan elektronik merupakan karya wartawan. Tapi, profesi wartawan disamakan dengan profesi kriminal seperti yang diucapkan Jujun. (Farhan SN)***

K.H. Dr. Jujun Junaedi : “Hidup Mulia karena Ridho Orangtua”

SOSOK K.H. Dr. Jujun Junaedi dikenal sebagai pedakwah yang lantang saat menyampaikan syariat Islam. Namun keunikannya dalam berdakwah yaitu bisa memadukan antara penyampaian materi agama dengan diselingi berbagai lawakan dan nyanyian khasnya.

Sehingga para jamaahnya tak pernah bosan mengikuti berbagai pengajian yang dihadirinya. Terlahir di Kampung Sangojar, Desa Sindang Galih, Kecamatan Pangatikan, pada 01 Juni 1971, Jujun dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana. Ia merupakan anak ke delapan dari delapan bersaudara.

Ayah Jujun bernama, Pandi Apandi dan ibunya E. Wasfiah. Saat jujun dilahirkan, ayahnya berprofesi sebagai buruh tani dan menggarap tanah milik orang lain. Maka tak heran jika saat itu, Jujun dibesarkan dalam keadaan perekonomian keluarga yang pas-pasan. Bahkan bisa dikatakan serba kekurangan.

Namun kegigihan kedua orang tuanya membuat Jujun kecil tumbuh gigih dan kuat. Bahkan sejak usia 5 tahun Jujun telah menjelma sebagai anak yang cerdas. Bahkan, talentanya dalam berceramah sudah terlihat sejak itu. Hal tersebut terbukti panggilan untuk berdakwah sudah berdatangan untuk Jujun kecil. Bahkan di tahun 1997 ia sudah rekaman di salah satu perusahaan rekaman.

“Waktu saya menjadi dai kecil banyak orang yang aneh dan menangis kagum. Maklum saja saat itu Pildacil belum marak seperti sekarang,” ujar Jujun saat ditemui usai memberikan ceramah pada perpisahaan di SMPN 1 Cilawu.

Saat ditanya terkait cara dirinya belajar, Jujun mengaku terang-terangan kalau dirinya “baong” saat mengaji di pesantren. Namun menurutnya, baong dalam hal ini aktif dalam berbagai kegiatan. Ia mencontohkan pernah aktif menjadi dalang kecil, ikut pencak silat, Mtq dan ceramah agama. Bahkan dari kegiatannya itu, Jujun mampu menorehkan prestasi hingga ke tingkat Provinsi Jawa Barat.

Pada prinsifnya, dalam belajar itu harus banyak tahu tentang yang sedikit dan sedikit tahun tentang banyak hal. Dalam arti kata, lanjut Jujun, harus mengetahui banyak ilmu dari satu disiplin keilmuan dan mengetahui sedikit saja dari berbagai keilmuan.

Disela-sela perbincangan, Jujun mengatakan jika dirinya pernah menuntut ilmu di SD Sindang Galih, kemudian melanjutkan di Mts. Maarif Sukawening, MA. Koropeak dan perguruan tingginya di IAIN Sunan Gunung Djati yang sekarang berubah menjadi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tidak berhenti sampai di situ saja, jujun meneruskan pendidikan S2 dan S3 di UIN Bandung juga. Jadi saat ini, Jujun telah menyandang gelar doktor.

Belakangan ini, ketenaran Jujun sebagai pedawah kondang semakin mengkilat setelah banyak tampil di beberapa acara televisi nasional. Bahkan undangan untuk berceramah tak hanya datang dari dalam negeri, namun dari negara di Eropa, Afrika, dan Amerika kini mulai berdatangan. Jujun mencontohkan, pada Bulan Agustus 2015 yang akan datang, dirinya diundang untuk menyampaikan ceramah di Amerika dan Australia.

Disinggung terkait sistem pendidikan di Indonesia, Jujun berpesan agar sistem pendidikan ini dikembalikan pada dasarnya yaitu berbasis akhlaq. Namun dirinya cukup mengapresiasi terkait upaya pemerintah yang terus memperbaiki kualitas pendidikan. Namun untuk menjadikan bangsa yang bermartabat, Indonesia harus mengadopsi pendidikan islam yang lebih mengedepankan pendidikan akhlaq.

Selain itu, Jujun berpesan agar semua anak didik diberikan pemahaman akan pentingnya menghormati orang tua. Jujun memiliki keyakinan, jika kesuksesan yang diraihnya saat ini merupakan wujud keberhasilan orangtuanya. Bahkan menurutnya kesholehan kedua orangtuanyalah yang telah menjadikan semua raiahan kesuksesan dirinya saat ini.

“Saya yakin siapa saja orang yang bisa memuliakan orang tua akan menuai kesuksesan. Maka sebaliknya jika hidup tanpa menghormati orang tua kegagalan dunia akhirat penggantinya,” tutur ayah tujuh orang anak ini.

Jujun mencontohkan, untuk mencari keridhoan orang tuanya, ia selalu menundukkan kepala dan memohon didoakan setiap akan berangkat sekolah. Bahkan sampai orang tuanya wafat, ia tak berani sekalipun berbicara sambil memandang wajah orang tuanya.

“Jadi saya yakin sukses saya hari ini berkat kesholehan kedua orang tua saya. Meski mereka hidup dalam serba kekurangan namun untuk menyekolahkan anaknya ia tak ragu untuk mengeluarkan biaya,” pungkas suami Neli Ismayati ini. Farhan SN***