Lima Bulan Pascabanjir, Jembatan Penghubung Banyuresmi-Karangpawitan Tak Kunjung Dibangun

GARUT, (GE).- Pascabanjir bandang Cimanuk beberapa bulan yang lalu, sudah lima bulan jembatan penghubung Kecamatan Banyuresmi-Karangpawitan hingga saat ini belum kunjung diperbaiki. Akibat kondisi ini, warga terpaksa harus menyebrangi  Sungai Cimanuk dengan menggunakan rakit bambu.

Sebenarnya, pascabanji saat itu sempat dibuatkan jembatan darurat untuk memudahkan akses transportasi warga. Belakangan jembatan darurat tersebut hanya bertahan selama satu bulan. Sejak saat itu warga harus kembali menggunakan rakit.

Luvita Nurmadipah (17), warga Kampung Cijambe, Desa Sindanglaya, Kecamatan Karangpawitan, menyebut terpaksa menyebrangi sungai memakai rakit karena jembatan belum diperbaiki. Luvita mengaku khawatir air sungai membesar saat ia menyebrang menggunakan rakit.

“Tidak ada pilihan lain daripada harus memutar. Sampai ke sekolah bisa satu jam lebih kalau putar jalan. Walau beresiko terpaksa kita gunakan rakit untuk menyebrang,” kata, Luvita, salah seorang pelajar di SMAN 25 Garut, Rabu (12/4/ 2017).

Ia berharap, jembatan penghubungkan desanya dengan Desa Sukaratu, Kecamatan Banyuresmi bisa segera diperbaiki.

“Kalau lewat jalan lain, ongkosnya juga lebih mahal. Harus naik ojek dulu. Kalau nyebrang sungai tinggal naik angkot,” keluhnya.

Untuk menyebrangi Sungai Cimanuk dengan menggunakan rakit, jumlah orang penumpang rakit dibatasi. Hal ini sebagai antisipasi agar tali penarik rakit tidak yang digunakan untuk menarik  rakit tidak terputus.

Sementara itu, Ai Sumiati (32), warga Kampung Cijambe, mengatakan, tidak adanyanya jembatan ini menjadi kendala untuk beraktivitas.

“Tentunya jadi kendala, kalau lewat Karangpawitan itu harus naik ojek terus dua kali naik angkot untuk sampai pasar,” katanya.

Dijelaskannya, ongkos ojek dari rumah hingga Jalan Karangpawitan sebesar Rp 15 ribu, ditambah ongkos angkot dua kali sebesar Rp 8 ribu. Jadi dengan tidak adanya jembatan ini menjadi beban tersendiri.

“Kalau lewat Banyuresmi tinggal sekali naik angkot. Bayarnya cuma Rp 3 ribu. Jadi sangat terganggu kalau jembatan tidak segera diperbaiki,” ujarnya. (Tim GE)***

Editor : Kang Cep.

Kemenlu Sumbang Rp 500 Juta, Jembatan Cijambe Segera Dibangun

GARUT, (GE).- Bupati Garut, Rudy Gunawan, mengatakan, jembatan  rawayan (gantung)  yang terputus  akibat banjir bandang yang menerjang Sungai Cimanuk September 2016 lalu, rencananya akan segera diperbaiki bulan ini (Februari 2017). Dampaknya warga Kampung Cijambe, dan sekitarnya terisolir. Aktivitas sehari-hari mereka terhambat, seperti kegiatan perekonomian, sekolah, dan aktifitas lainnya

Pembangunan jembatan rawayan yang melintang di atas Sungai Cimanuk Kampung Cijambe, Desa Sindanglaya,  Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut , akan didanai dari i bantuan Kementrian Luar Negeri (Kemenlu), sebesar hampir Rp 500 juta.

“Jadi begini, rombongan dari Kementrian luar negeri datang ke Garut. Tujuanya beliau berempati pada korban banjir sungai Cimanuk. Mereka akan membantu sarana untuk kebutuhan masyarakat. Makanya saya meminta untuk membangun Jembatan Cijambe saja,” kata Bupati di ruang Pamengkang, Pendopo, Rabu (01/02/2017).

Dijelaskannya, Pemkab Garut diberikan akses untuk berhubungan dengan luar negeri, karena di Garut akan dibangun kawasan industri.

“Kami pun sekarang diberikan akses untuk mulai berhubungan dengan luar negeri, karena Garut diberikan kawasan industri,” ucapnya.

Inspektur Jenderal Kementrian Luar Negeri RI, Mayerfas menjelaskan, bantuan tersebut terkumpul dari para kedutaan, pengusaha dan sponsor lainnya. Tak hanya untuk Garut saja, tetapi bantuan itu diberikan pula kepada yang lainnya tetapi nilainya tak sebesar untuk Garut.

“Sebetulnya anggaran itu sudah ada sekitar Rp 500 Juta an. Dana itu terkumpul dari kedutaan, duta besarnya sendiri, sponsor, pengusaha dan dari yang lainnya. Ini semua untuk korban bencana tapi tidak yang ke Aceh. Dana ini ke garut saja. Kalau bantuan yang kecil-kecil ke anak yatim piatu, orang cacat  dan lainnya,” ungkap Mayerfas.

“Sebenarnya begini, Ibu Menlu minta pada kami mencari perbaikan atau pembangunan untuk fasilitas umum, pakah sekolah, rumah, atau fasilitas umum yang diperlukan masyarakat Garut terutama korban bencana. Tadi Pak Bupati usul minta dibangun Jembatan, ya sudah itu saja” katanya. (Hakim)***

Editor:  Kang Cep.

 

Jembatan Hanyut Diterjang Banjir, Warga Cijambe Kini Terpakasa Gunakan Rakit

KARANGPAWITAN,(GE).- Jembatan Cijambe sepanjang 54 meter yang biasa digunakan warga Cijambe dan sekitarnya kini telah tiada. Sarana vital warga sekitar yang dibangun sekitar tahun 2010 lalu ini hanyut diterjang dahsyatnya banjir bandang Cimanuk, tempo hari (20/09/2016).

Untuk tetap bisa beraktivitas, kini Warga Kampung Cijambe, Desa Sindanglaya, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, terpaksa harus menggunakan rakit untuk menyebrangi Sungai Cimanuk.

Sepekan seblumnya, yakni dari hari setelah jembatan tersebut terputus hingga Selasa 27 September 2016, warga menggunakan satu unit perahu karet kiriman Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Seorang anggota SAR Forum Komunikasi Aktivis Mesjid (FKAM) Solo, Ibas, menjelaskan dipilihnya rakit untuk menyebrang ketimbang menggunakan perahu karet, disebabkan karena kapasitas angkut rakit lebih besar dari pada perahu karet

“Dengan perahu karet, kapasitas delapan orang itu sudah maksimal, perahunya tidak stabil terlebih arus sungai cukup kuat. Sementara dengan rakit, bisa mengangkut 20 orang warga yang ingin menyebrang dan lebih stabil. Kami coba minimalisir risiko dengan menggunakan rakit untuk sarana penyebrangan sementara,” ungkapnya, saat ditemui sejumlah awak media, Rabu (28/2016)

Dijelaskannya, rakit yang digunakan ini diikat dan disambungkan dengan sling baja sisa jembatan sebelumnya. Seluruh pemasangan instalasi rakit dilakukan oleh Tim dari Forum Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Pijakan tali sling telah dimodifikasi sedemikian rupa agar dapat digunakan pula untuk mengangkat rakitnya.
“Supaya saat arus besar, rakit bisa diangkat ke pinggir sungai agar tidak hanyut,” ungkapnya.

Seorang warga Kampung Cijambe, Ai Sumiati ( 32) mengaku rusaknya jembatan gantung ini membuatnya tidak leluasa untuk beraktivitas. Ai menuturkan, jarak yang mesti ia tempuh saat ini menjadi cukup jauh, karena harus memutar.

“Mau pergi ke pasar juga tinggal sekali naik angkot di Banyuresmi. Karena saya jalan ke Banyuresmi paling hanya 100 meter. Bila jembatan tidak ada, harus menggunakan ojek ke Karangpawitan dan beberapa kali ganti angkot,” keluhnya.

Camat Karangpawitan, Rena Sudrajat, menyebut Jembatan Cijambe yang memiliki lebar 2 meter itu didirikan dengan menggunakan bantuan Pemerintah Swedia. Pada 2010 lalu, total biaya yang dihabiskan untuk membangun jembatan gantung bermaterial baja tersebut adalah Rp1 miliar.

“Jembatan ini merupakan sarana vital masyarakat. Bagaimana pun juga, masyarakat dari dua desa di dua kecamatan sangat menggantungkan sarana penyebrangan berupa jembatan. Bila jembatan tidak ada, masyarakat mesti memutar lebih jauh dengan jarak bisa mencapai belasan kilometer,” tukasnya.

Menurut Rena, selain Jembatan Cijambe, banjir bandang juga merusak satu unit jembatan serupa di wilayah Karangpawitan. Satu jembatan yang dilaporkan ikut terputus adalah jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Cibulu, Kecamatan Banyuresmi dengan Desa Sindangratu, Kecamatan Banyuresmi, yang memakan biaya Rp 500 juta dalam proses pembangunannya.

“Dua jembatan tersebut memang membentang berada di atas Sungai Cimanuk. Jadi saat Sungai Cimanuk meluap akibat banjir bandang, dua jembatan yang melintang di atasnya ikut tersapu arus,” ujarnya.

Selain jembatan, fasilitas umum lain yang juga terdampak banjir di wilayah Karangpawitan adalah tiga unit masjid, satu MCK, serta satu bangunan sekolah TK. Ia menyebut peristiwa banjir bandang di wilayah Kecamatan Karangpawitan membuat 73 rumah terdampak.

“Dari ke-73 rumah ini, dua di antaranya dinyatakan hanyut. Sedangkan 71 rumah lainnya terendam dengan tingkat kerusakan bervariasi. Yang rusak berat ada enam, sementara sisanya mengalami kerusakan sedang dan ringan,” imbuhnya.

Ke-73 rumah itu tersebar di tiga lokasi Kecamatan Karangpawitan, yakni di RW 7 Kampung Pananggungan, Kelurahan Lengkong Jaya, RW 10 Kampung Cijambe, Desa Sindanglaya, dan RW 8 Kampung Cibulu, Desa Cimurah. Di luar fasilitas umum, Rena menyatakan kerugian yang diderita warganya mencapai angka sekitar Rp 800 juta.

Rena mengatakan, seluruh warga yang terdampak di tiga desa wilayah Kecamatan Karangpawitan, saat ini telah mengungsi ke rumah kerabat dan tetangganya yang lokasi tanahnya cukup tinggi. Ia memastikan peristiwa banjir bandang pada awal pekan lalu tidak menimbulkan korban jiwa di wilayah Kecamatan Karangpawitan.

“Kami sedang membuat laporan secara tertulis. Namun untuk laporan lisan, sudah disampaikan kepada unsur pimpinan dalam rapat penanganan bencana beberapa waktu lalu. Responsnya bagus, mudah-mudahan masyarakat dapat terbantu dan dua jembatan yang rusak bisa segera dibangun kembali,” ungkapnya. (Tim GE)***