Reaktivasi Jalur Kereta Cikajang-Cibatu Sulit Terealisasi

GARUT, (GE).- Bukan pekerjaan mudah untuk reaktivasi jalur kereta Cikajang-Cibatu. Pasalnya fasilitas milik PT. KAI tersebut kini sudah berubah menjadi rumah warga, fasilitas umum seperti jembatan dan ada juga stasion yang sudah dijadikan kantor salah satu organisasi masyarakat. Sehingga kalau program ini benar-benar digulirkan tentunya akan mendapat banyak tentangan.

Bahkan sejumlah warga Kabupaten Garut masih mempertanyakan rencana pengaktifan jalur tersebut. Pasalnya sejak tahun 2011, isu rekativasi sudah sering didengar warga terutama yang tinggal di lahan milik PT KAI.

Euis (56), warga Cikajang, menuturkan sudah mendengar rencana tersebut sejak lama. Euis menilai rencana tersebut tak akan terealisasi karena sudah banyak permukiman warga di sepanjang jalur rel.

Hal yang sama disampaikan Kurniadin (40), Ketua RT 1 dimana mengaku telah lama menerima informasi tersebut. Selama ini warga memang menyewa lahan milik PT KAI dan per meternya biaya sewa yang dibayarkan sebesar Rp 12 ribu sehingga secara psikologis warga akan sangat keberatan.

“Banyak warga yang sudah investasi di sini, bangun rumah dan bermukim lama, jadi berat jika diaktifkan lagi. Tapi memang akhir-akhir ini ada inventarisasi aset yang dilakukan PT KAI di Kampung Sindanggalih, namun belum ada informasi resmi dari PT KAI terkait adanya rencana reaktivasi,” katanya.

Rencana reaktivasi jalur kereta api Cibatu-Cikajang hingga saat ini masih diragukan olehwarga Kabupaten Garut. Meski begitu Pemkab Garut sangat mendukung reaktivasi jalur yang ditutup pada tahun 1983 itu.

Pemkab Garut bahkan telah memiliki Perda nomor 11 tahun 2011 tentang jaringan sistem perkeretaapian yang menjadi bukti keseriusan reaktivasi jalur tersebut. Hanya saja Pemkab masih menunggu keputusan dari Kementerian Perhubungan.

Sementara itu, PT KAI Daop 2 Bandung selaku operator perkeretaapian mengaku siap jika reaktivasi jalur tersebut kembali dibuka. PT KAI pun menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah.

“Kami selaku operator tentu saja siap. Sekarang itu kan masih ranahnya pemerintah untuk studi kelayakan. Nanti dari hasil studi baru bisa diketahui bisa atau tidaknya,” ujar Manajer Humas PT KAI Daop 2 Bandung, Zunerfin saat dihubungi, Selasa (19/4).

Zunerfin menambahkan, banyak jalur kereta eks Cibatu-Cikajang yang kini sudah jadi lokasi permukiman warga. Jika reaktivasi jadi diberlakukan, tentunya warga yang menempati lahan milik PT KAI harus mengembalikannya.

“Itu adalah tanah negara, jadi jika akan kembali dipakai harus dikembalikan lagi. Jangankan tanah negara, jika ada tanah pribadi yang terkena jalur pun itu bisa dibebaskan,” ucapnya.

Dalam perjanjian pun disebutkan jika lahan yang disewa akan kembali digunakan, maka harus dikembalikan. Terkait masalah ganti rugi, itu akan dibicarakan kembali oleh pemerintah.

Sisa kejayaan jalur kereta Cikajang-Cibatu masih bisa dilihat, dimana selain Stasiun Cikajang, peninggalan yang masih mudah ditemukan yakni Stasiun Garut yang berada di tengan perkotaan. Stasiun Garut berada di samping Markas Kodim Garut dimana saat ini stasiun tersebut dipakai kantor salah satu ormas di Garut dan jembatan kereta pun masih berdiri kokoh di samping Jalam Cimanuk dan sering dipakai warga untuk menyebrang melintasi Sungai Cimanuk. (Tim)***