Jalan Rusak Menuju Tempat Wisata Situ Cibereum Garut

Yth. Redaksi Garut Express

Pada Minggu, 12 Maret 2017, saya bersama kawan fotografer dari luar kota berekreasi ke Situ Cibereum. Kekecewaan saya timbul karena sampai saat ini pemerintah kurang memperhatikan jalan menuju tempat tersebut. Kesulitan menuju tempat ini yaitu tidak adanya penunjuk arah dan jalanan yang rusak, sehingga mengakibatkan kendaraan khususnya mobil sulit untuk memasuki kawasan Situ Cibereum.

Jika jalan menuju Situ Cibereum mudah untuk di akses, saya yakin tidak akan menjadi masalah. Tetapi rusaknya jalan dan tidak adanya penunjuk arah, membuat pengunjung kebingungan untuk sampai ke tempat tersebut. Karena tidak adanya pemukiman dan rute jalan menuju kawasan tersebut.

Sering kali pengunjung kebingungan meskipun telah diberi petunjuk oleh penjaga di pos pertama saat akan memasuki kawasan tersebut. Sebagai objek wisata, sekaligus tempat yang memiliki keanekaragaman mahluk hidup yang hampir sulit untuk ditemukan dan sudah langka, khususnya oleh para pecinta photography. Jangan membuat pengunjung kecewa akibat akses jalan yang sulit, terutama bagi mereka yang memiliki tujuan untuk melakukan rekreasi bersama keluarga dan kerabatnya.

Pemerintah sebaiknya segera melakukan tindakan untuk melakukan perbaikan jalan menuju situ cibereum. Agar para pengunjung khususnya dari luar kota tidak merasa kesulitan mengakses jalan menuju tempat wisata situ cibereum. Jangan menunggu orang-orang kecewa, selagi masih ada waktu untuk melakukan perbaikan, tunggu apalagi.

Alki Diyasmar
Jl. Pahlawan Dalam No. 8, Tarogong Kidul

Terima kasih atas Perbaikan Jalan di Pertigaan Godog-Karangpawitan

Yth. Redaksi Garut Express

Saya selaku warga Garut khususnya daerah Wanaraja, mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Garut dengan telah diperbaikinya jalan berlubang di sepanjang Jalan Pertigaan Godog-Karangpawitan, yang merupakan jalur utama bagi warga Wanaraja menuju Garut Kota. Sebelum diperbaikinya jalan, pertigaan tersebut sering mengalami kemacetan yang sangat panjang, dan banyak pengemudi yang terjatuh karena jalan berlubang tersebut. Ditambah pada saat musim hujan tepat di pertigaan tersebut selalu digenangi air yang menyebabkan banjir.

Setelah diperbaiki, jalan tersebut menjadi mulus dan tingkat kemacetan serta kecelakaan menurun. Pengemudi yang melewati jalan tersebut sudah tidak merasa cemas untuk melewati jalan itu. Saya berharap dinas yang terkait dapat terus mengawasi, agar tidak adanya kerusakan jalan lagi.

DIAN EKA SAPUTRI
Kp. Cimalaka 03/05
Jln. Wanaraja, Kec. Wanaraja
Wanaraja 44183
089679999849

Kemacetan di Pasar Jati Samarang

Yth. Redaksi Garut Express

Saya sebagai warga Samarang, ingin menyampaikan keluhan tentang keadaan pemindahan pasar yang ada di Jati Jl. Raya Samarang, Kec. Tarogong Kaler, Kab. Garut. Saya sebagai pengguna angkutan umum merasa terganggu atas kemacetan yang terjadi setiap hari di pasar tersebut.

Lapangan di depan SMP 1 Samarang yang dulunya lapangan sepak bola, sekarang beralih fungsi menjadi pasar dan terkadang dijadikan lahan parkir untuk kendaraan pelajar dan truk pengangkut barang. Sebagai pengguna jalan dan mewakili para pengguna jalan lainnya, saya berharap ada petugas yang mengatur jalan supaya tidak macet dan lebih tertib.

Saya berharap Pemerintah Kabupaten Garut segera mengatasi kemacetan tersebut dan segera menyelesaikan pembangunan pasar tersebut, agar ke depannya jalan lebih nyaman dan tidak lagi semerawut. Terimakasih.

Santi Nurul Satiiah
Jln.Raya Kamojang, Kec.samarang
085285586762

?

Pengguna Trotoar Terhambat Pedagang Kaki Lima

Yth. Redaksi Garut Express

Saya selaku pengguna trotoar ingin mengeluh tentang pedagang kaki lima yang berjajar di sepanjang trotoar Jalan Siliwangi, Kelurahan Regol, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dengan adanya pedagang tersebut, membuat saya menjadi risih dan tidak nyaman untuk menggunakan trotoar. Karena trotoar yang saya lewati menjadi lebih sempit dan hanya memiliki sedikit ruang untuk dilewati. Tak jarang saya berjalan di pinggir jalan besar, karena trotoar tersebut dipenuhi oleh pedagang kaki lima.  Sebenarnya, dengan saya menggunakan jalan besar untuk berjalan itu memicu adanya sebuah kecelakaan. Bisa saja, ketika berjalan di pinggiran  jalan, saya terserempet  mobil atau motor yang kebetulan melaju dengan kencang.

Selain itu, dengan banyaknya pedagang kaki lima, dapat memicu kemacetan di pusat kota. Karena pedagang kaki lima bukan hanya menggunakan trotoar untuk menawarkan dagangan nya,  tapi juga menggunakan pinggiran jalan besar untuk menempatkan roda dagangan. Jalan yang harusnya terlihat luas, jadi semakin sempit karena adanya para pedagang. Hal ini bukan semata-mata untuk diri saya pribadi, karena pengguna trotoar lain pun banyak yang mengalami hal itu.

Bukankah dulu sudah sempat dibangun gedung khusus untuk pedagang kaki lima? Dulu pedagang kaki lima sudah sempat dialihkan ke gedung tersebut, sehingga trotoar terasa lebih lengang. Kenapa hal tersebut tidak berlanjut sampai saat ini? Justru pedagang kali lima saat ini, malah semakin banyak. Hal tersebut membuat saya merasa tidak nyaman saat menggunakan trotoar.

Kepada Pemkab Garut saya berharap adanya respon atas keluhan yang saya buat ini. Saya juga memohon agar Pemkab Garut dapat dengan segera mengatasi masalah ini. Karena hal ini juga menyangkut kenyamanan para pejalan kaki dalam menggunakan trotoar. Apalagi daerah tersebut merupakan pusat dari kota, dimana banyak orang luar kota yang mengunjungi daerah tersebut. Selain untuk menjaga citra dari Kota Garut sendiri, dengan dialihkannya pedagang kaki lima ke gedung khusus dapat membuat Kota Garut menjadi lebih tertata rapi serta  tidak terjadi macet di pusat Kota Garut.

Rahmi Nurlatifah
Jln. Dayeuhandap No.99, RT/RW 05/01
Kelurahan Kota Kulon, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut (44112).

Untuk Memperlancar Roda Perekonomian, Warga Tegalgede Meminta Jalan Desa segera Diperbaiki

GARUT, (GE).- Jalan Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Jawa Barat, seajak lama tidak diperbaiki. Padahal, jalan desa sejauh 17 km tersebut merupakan jalur lalu lintas yang aktif digunakan warga dari empat kecamatan, yaitu Kecamatan Pakenjeng, Pamulihan, Cikelet dan Mekarmukti.

Di sejumlah titik, badan jalan tampak seperti kubangan kerbau. Akibatnya, kendaraan yang melintasi kawasan tersebut kerap mendapat kesulitan. Banyak kendaraan warga yang mengalami kerusakan. Pasalnya, bagian bawah badan kendaraan kerap terpentok batu besar pada saat melintasi jalanan yang bergelombang.

Menurut salah seorang tokoh warga Kampung Cimareme, Desa Tegalgede, Nurseno SP Utomo, kondisi jalan seperti ini sangat mengganggu kelancaran roda perekonomian warga. Harga-harga barang kebutuhan pokok pun menjadi mahal. Ongkos transportasi membumbung tinggi, karena tidak banyak pengemudi kendaraan umum yang bersedia mengantar penumpang ke kawasan tersebut.

Karena itu, warga setempat mendesak pihak Pemkab Garut segera memperbaiki kondisi jalan tersebut. Mereka berharap, dengan kondisi jalan yang lebih baik bisa memberi dampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan mereka. Selain itu, Kampung Cimareme juga kerap dikunjungi tamu dari kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, bahkan dari luar negeri. Mereka selalu mengeluhkan kondisi medan jalan yang berat.

BADAN jalan yang bergelombang banyak ditemukan di sepanjang jalur Jalan Desa Tegalgede menuju Kampung Cimareme. Pengendara kendaraan baik roda dua maupun empat yang melintasi jalan tersebut harus ekstra hati-hati agar kendaraannya tidak slip atau tersangkut batu. (SMS/GE)***

“Tamu yang datang ke Paguron Syahbandar Kari Madi kan banyak. Mereka datang dari berbagai kota besar di Indonesia, bahkan ada yang dari luar negeri. Maksud kedatangan mereka untuk menimba ilmu di Paguron Syahbandar Kari Madi pimpinan Guru Besar Bapak Nurseno SP Utomo,” ungkap Yono, yang juga warga Kampung Cimareme.

Menanggapi keluhan warga tersebut, Sekda Garut, Iman Alirahman, SH, M.Si, mengatakan, pihak Pemkab Garut sudah berencana melanjutkan perbaikan jalan tersebut. Pemkab Garut, kata Iman, sangat mengapresiasi keinginan warga, karena hal itu pada akhirnya bisa menopang peningkatan IPM Kabupaten Garut.

“Kemarin perbaikan jalan yang kita lakukan memang baru sampai SMPN 4 Pakenjeng. Tapi, tahun ini kita sudah rencakan untuk dituntaskan sampai tembus ke Jalan Lintas Selatan. Nanti akan saya cek lagi ke Dinas PUPR,” papar Iman kepada GE, Jumat (28/4/17).

Iman juga berharap, perbaikan kondisi jalan desa tersebut benar-benar bisa memberikan dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan perekonomian warga setempat. (SMS/GE)***

Kota Garut kembali Dilanda Banjir, Jalan Terusan Pembangunan Sempat Ditutup Sementara

GARUT, (GE).- Hujan deras disertai angin kengcang mengguyur wilayah Garut, Jawa Barat, Sabtu (8/4/17) sore.  Akibatnya, sejumlah ruas jalan kebanjiran. Bahkan, akses Jalan Garut-Bandung via Jalan Terusan Pembangunan, Tarogong idul, sempat ditutup sementara. Pasalnya, ketinggian air yang melimpah ke jalan hingga setinggi paha orang dewasa. Sejumlah kendaraan yang hendak melintas terpaksa berbalik arah mencari  jalan alternatif lain.

HUJAN deras yang mengguyur Kota Garut, Jawa Barat, Sabtu (8/4/17) sore membuat sejumlah ruas jalan kebanjiran. Ketinggian air di Jalan Terusan Pembangunan bahkan sempat mencapai setinggi paha orang dewasa. Namun, bagi sebagian anak-anak kondisi tersebut dijadikan arena bermain hujan-hujanan. (Andriawan/GE)***

Kawasan ini kerap dilanda banjir saat terjadi hujan deras. Genangan air diakibatkan oleh buruknya drainase, sehingga tidak mampu menampung debit air kiriman dari permukiman warga.

SEJUMLAH kendaraan yang hendak melintas di Jalan Terusan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat, terpaksa berbalik arah mencari jalan alternatif lain. Pasalnya, warga setempat menutup akses jalan yang mengalami banjir hingga setinggi paha orang dewasa, Sabtu (8/4/17) sore. (Andriawan/GE)***

“Ya sering terjadi banjir apalagi kalau hujan deras. Tadi cukup lama hujannya, hampir satu jaman lebih. Kalau banjirnya sendiri diakibatkan oleh saluran airnya yang buruk dan terlalu sempit,” kata Rafik Syukron, warga setempat.

Karena itu, warga berharap pemerintah melalui dinas terkait segera berupaya melakukan perbaikan drainase, agar banjir tidak kembali terulang saat turun hujan deras. (Andriawan/GE)***

Editor : SMS

Guru Honorer Wajib Membaca. Jalan menuju PNS kian Terbuka?

GARUT, (GE).- Para guru dan tenaga kerja honorer lainnya patut bersyukur. Harapan baru untuk bisa menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) atau yang dikenal Pegawai Negeri Sipil (PNS), kian terbuka. Setelah menunggu lama sejak usulan Revisi Undang-undang Apartur Sipil Negara diparipurnakakan pada sidang paripurna DPR  RI 23 Februari 2017 lalu, akhirnya Presiden Joko Widodo membalas surat dari pimpinan DPR RI. Surat yang langsung ditandatangani Presiden Joko widodo itu, diterbitkan tanggal 22 Maret 2017.

Dalam surat itu, Presiden menugaskan Kementrian Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara  Repormasi dan Birokrasi (Kemenpan RB), Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM), Kementrian Keuangan (Kemenkeu) untuk mewakili Presiden dalam membahas kelanjutan revisi Undang Undang Aparatur Sipil Negara bersama DPR RI.

Menanggapi itu, Ketua DPP Forum Aliansi Guru dan Karyawan (Fagar) Sukwan Kabupaten Garut, Cecep Kurniadi, mengaku senang. Pasalnya, kata Cecep, hanya melalui pintu revisi UU ASN honorer dapat menjadi PNS tanpa tes, melainkan berdasarkan pengabdian yang didasarkan pada masa kerja sebagai honorer. Revisi UU ASN,  juga membuka pintu bagi semua kategori honorer, yaitu Kategori 2, non Kategori 2. Bahkan, bagi pegawai tetap non-PNS.

Karena itu semua tenaga kerja honorer di Indonesia, termasuk Garut, sangat menunggu kejelasan nasib honorer yang selama ini masih simpang-siur.

“Kami para pengurus Fagar Garut, akan selalu melakukan kordinasi dengan pengurus pusat di Jakarta untuk melakukan pengawalan. Selain itu, juga akan melakukan pendekatan persuasif kepada fpraksi-fraksi di DPR RI,” kata Cecep, Senin (27/3/17).

Tak hanya itu, pihaknya juga akan lebih konsen melakukan pendekatan persuasif dengan pihak pemerintah Kabupaten Garut, agar gayung bersambut dengan perjuangan di pusat.

Salah seorang guru honorer asal Kecamatan Limbangan, Asep Mulyatin, berharap, pemerintah dan DPR RI dapat melaksanakan tugasnya sesuai jadwal. Juga mampu mewujudkan aspirasi honorer, yaitu perubahan status dari honorer pegawai ASN tanpa testing, khususnya bagi yang telah mengabdi cukup lama.

Ia pun setuju untuk melakukan pengawalan secara ketat oleh semua tenaga honorer agar payung hukum honorer menjadi pegawai negeri segera terwujud. Mengingat, amanat yang tersirat dalam rancangan UU ASN sangat berpihak kepada tenaga kerja honorer.

Asep dan para tenaga honorer lainnya berharap, segera setelah pemerintah dan DPR RI memaripurnakan revisi UU ASN, status ketenagakerjaan mereka segera berubah menjadi ASN.

“Dan kami diangkat tanpa tes tertulis, melainkan melalui verfikasi. Mengingat kami sudah pernah dites tahun 2013. Meskipun pemerintah hingga saat ini belum pernah mengumumkan hasil tesnya pada kami. Karena itulah kami merasa sebagai honorer K2 yang masih tertunda menjadi PNS,” tandas Asep. (TAF Senopati/GE)***

Editor : SMS

Penyebab Kematian Mayat Wanita tanpa Indentitas Diduga Kuat akibat Overdosis

GARUT, (GE).- Mayat wanita tanpa identitas yang ditemukan Senin (20/3/17) malam di sebuah kamar kos di Jalan Muhammadiyah, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, diduga kuat tewas akibat overdosis. Soalnya, saat ditemukan di samping tubuh korban terdapat botol minuman air mineral dengan bau menyengat.

Kapolsek Garut Kota, Kompol A. Kustia, mengatakan, mayat tersebut saat ditemukan dalam posisi tertelungkup dengan di bagian mulut mengeluarkan busa.

“Jadi malam itu dia ditemukan dengan posisi tertelungkup. Pas dibalik, mulutnya udah berwarna ungu dan berbusa. Di sekujur tubuhnya juga sangat basah,” katanya, Selasa (21/03/17) dini hari, di RSUD dr. Slamet Garut.

Namun demikian, pihak kepolisian sendiri belum berani memastikan penyebab kematian sesungguhnya, karena harus menunggu hasil autopsi yang dilakukan di RSUD dr. Slamet Garut.

“Belum bisa kita pastikan, masih menunggu hasil autopsi. Dugaan kuat mengarah ke overdosis,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Senin (20/3/17) malam, warga sekitar Jalan Muhammadiyah, Kecamatan Garut Kota, dihebohkan dengan penemuan sesosok jasad wanita muda yang pertama kali ditemukan oleh seorang tukang parkir.

Saat dievakuasi, mayat wanita yang diperkirakan berusia 20 tahunan itu sudah dalam keadaan membusuk. Diperkirakan korban sudah tewas sejak beberapa hari sebelumnya. (Mempis/GE)***

Editor : SMS

Pembangunan Jalan Selaawi-Limbangan Segera Terealisasikan

GARUT, (GE).- Rusaknya jalan Limbangan – Selaawi sudah lama menjadi keluhan warga sekitar, khususnya pengguna jalan. Terkait rusaknya infrastruktur jalan di kawasan utara Garut inim akhirnya mendapat tanggapan positif dari pemerintah. Pemerintahan berjanji akan segera merehabilitasi jalan vital tersebut.

Rencananya, perbaikan jalan yang menghubungkan antara Kabupaten Garut dengan Sumedang itu, akan dilaksanakan pada akhir bulan April tahun 2017. Menurut Camat Selaawi, Ridwan Effendi, S.STP, pengerjaan perbaikan jalan tersebut dijadwalkan setelah selesai proses lelang proyek yang sudah ditentukan.

“Selain perbaikan jalan, gorong-gorong dan drainase. Sepanjang jalur itu akan diperbaiki. Rrencana pengerjaan perbaikan jalan Limbangan-Selaawi akan dimulai pada titik KM.9+400 dari Limbangan, dan berakhir di titik KM. 3+600. Sedangkan panjang penanganannya, mencapai 5.800 meter dengan lebar 5 meter.” Jelasnya.

Diungkapkannya, jalur sepanjang 5800 meter ini akan terbagi dua jenis perbaikan, rabat beton sepanjang 2.200 meter dan hotmix 3.600 meter. “Untuk target pengerjaannya mudah-mudahan bisa terselesaikan dalam jangka waktu 1.20 hari kerja,” tandasnya.

Camat muda yang baru satu tahun lebih menjabat sebagai Camat Selaawi, mengucapkan syukur. Rasa syukur ini tentunya merupakan ungkapan kebahagiaannya. Pasalnya, setelah sekian lama kondisi jalan Limbangan-Selaawi rusak, dan akan segera di perbaiki.

“Bersyukur tentunya, atas perbaiakan jalan ini. Saya menghimbau kepada seluruh masyarakat pengguna jalan agar selalu bersabar. Saya meminta do’a dan dukungan dari seluruh masyarakat, khususnya masyarakat Limbangan dan Selaawi.” Harapnya.Rabu (1/2/2017).

Dijelaskannya, untuk mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan harapan masyarakat, Ridwan akan segera membentuk tim monitoring yang beranggotakan wakil dari seluruh elemen masyarakat.

“Tim ini, nantinya akan selalu memantau selama pengerjaan perbaikan jalan. Saya berharap, siapapun yang mendapatkan proyek melalui lelang nanti, bisa bekerja maksimal.Sehingga hasilnyapun akan maksimal, terlebih jalur ini sangatlah penting bagi masyarakat,” pungkasnya. (Useu G Ramdani)***

Editor: Kang Cep.

Pembangunan Infrastruktur di Pamulihan Tak Terganggu Krisis DAU

PAMULIHAN, (GE).- Aktivitas pembangunan di wilayah Pamulihan seolah tiada hentinya. Waktu terus bergulir, geliat pembangunan berbagai sektor terus digelorakan di Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Garut, Jawa Barat yang kini dipimpin oleh camat muda potensial, Asep Harsono,HS, S.Sos., M.Si.

Dalam beberapa bulan terakhir, Pamulihan terus menggenjot pembangunan infrastruktur jalan sebagai penopang mobilitas perekonomian dan aktivitas sosial masyarakat sekitar. Belum lama ini pembangunan ruas jalan kabupaten di Kecamatan Pamulihan terus digarap.

Asep menyebutkan, pengaspalan/ penhotmixan jalan yang terakhir dilaksanakan diantaranya ruas jalan tottal sepanjang 12 Km yang meliputi 4 Desa, yaitu Pananjung, Pakenjeng, Garumukti dan Linggarjati.

“Ya, seiring dengan visi dan misi Bupati & Wabup terpilih 2014, Rencana kerja Dinas Binamarga Kabupaten Garut serta capaian target kinerja Camat Pamulihan Tahun 2014 baru bisa dilaksanakan 3 km (Desa Pananjung -Desa Pakenjeng). Tahun 2015 ditunda dan baru tahun 2016 dilanjutkan dengan penghotmixan 720 m jalan dari Kampung Pasir Luhur – Kampung Sodong Karacak (Desa Pakenjeng) yang sudah seleaai dilaksanakan tempo hari,” bebernya, Rabu (7/9/2016).

Dikatakannya, pelaksanaan pembangunan jalan terus dilanjutkan dari Desa Pakenjeng – Desa Garumukti sepanjang 4 km. Adapun target penghotmixan terakhir/ketiga yang akan menghubungkan dua desa, Desa Garumukti dan Desa Linggarjati sepanjang 4 km akan segera dilaksanakan pada tahun 2017, hal ini sesuai dengan rencana kerja Dinas Binamarga 2016.

Dijelaskannya, penghotmixan jalan Desa Pakenjeng sepanjang 720.m ini bersumber dari dana DAU 2015 yang ter-pending karena sudah ada kegiatan terdahulu di awal tahun 2016 dengan sistem full finance sharing/ modal sepenuhnya dari rekanan. Dengan demikian pembanguan jalan sepanjang 720m x 3 m lebar, dengan ketebalan 15 cm tetap bisa dilaksanakan, sama sekali tidak terganggu “krisis DAU.”

“Alhamdulillah ini berkat kerjasama berbagai pihak dan masyarakat tentunya. Saya bersama muspika, pemerintahan Desa Pakenjeng sangat berterima kasih kepada bapak Bupati Garut dan stake holder Binamarga, serta anggota legislatif dari fraksi Partai Demokrat bapak H. Asep Lesmana Achlan. Kebetulan beliau asli putra daerah Pamulihan yang men-support program visi misi bupati terpilih. Berkat Ridho Allah. SWT dan keinginan warga kecamatan Pamulihan yang kuat semua itu bisa terlaksana. Semoga tahun 2017 ruas jalan kabupaten, sisa 4 Km penghubung Desa Linggarjati- Kecamatan Pakenjeng /Jalan Nangkaruka bisa terealisasikan dengan baik.” Ungkapkannya. (ER)***