Halaman yang Hilang (3)

oleh : Anne A. Permatasari

“IBU menyuruhku menikah,” ujarku tanpa harapan dia akan mereaksi. Dia menolehkan wajah dengan cepat. Lompatan kilat kekagetan membinar dari matanya. Tiba-tiba aku menemukan sesuatu dari dalamnya.

“Secepat itu?”

“Kata ibu, kuliahku sudah usai. Pekerjaan telah kumiliki. Lalu apa lagi yang harus aku tunggu?”

“Jangan… ” ujarnya, “tunggulah aku!” ungkapnya memecah semua kegalauan hatiku. Jawaban itu, cukup bagiku.

*****

“Andi meminta ibunya melamarkan kamu, Ami,” ujar ibu.

“Tidak Bu. Aku mau menunggunya.”

“Berapa lama? Usiamu makin meninggi!”

“Aku telah berjanji untuk menunggunya, Bu.”

“Ami, tidak mudah berjarak itu. Kau yakin dia serius? Setidaknya, dalam usiamu sekarang, seharusnya dia telah melamarmu.”

“Bu… dia kan jauh, ibunya juga sudah sepuh. Mungkin nanti kalau masa pengabdiannya di daerah selesai, dia bisa kembali ke kota. Kami akan menikah,” ujarku tanpa keyakinan.

“Ya… tapi berapa lama lagi? Ibu sudah semakin tua. Ibu ingin cepat memiliki cucu.”

Aku terdiam tak bisa kujanjikan apapun pada ibu. Sama seperti dia, yang tak bisa menjanjikan waktu untukku. Apalagi sekarang, tugas pengabdiannya ke daerah terpencil daerah pedalaman Kalimantan, membuat komunikasi sangat sulit.

Tapi aku yakin, dia teguh pada janji. Aku pun berusaha dengan keras.  Tapi cinta, itu soal hati. Tak pernah bisa diduga. Kedalamannya, mampu membuat  siapapun ragu pada perasaannya sendiri.

Bahkan, sampai akhirnya ibu wafat di tahun keempat aku selesai kuliah, aku belum bisa memberinya cucu. Kepedihan itu membuatku tak berpikir panjang ketika mendapatkan penugasan untuk pindah ke kota kecilku ini. Aku pikir, itu akan mampu melupakan rasa bersalahku pada ibu dan mengobati kesedihan akan harapan yang tak kunjung menjelma.

Harapan itu terus menyala walau kian mengecil. Hanya sebuah keyakinan bahwa aku bisa mengandalkan kesetiaannyalah yang membuatku bertahan. Berlarut-larut memang tapi teleponnya setidaknya dalam  tiga bulan sekali, menggambarkan harapannya agar aku mau menunggu. Artinya, tak ada alasan aku tak bersetia kepadanya. Kecuali…  tentu saja, jika aku tak bertemu dengan Sam.

******

“Besok sore aku agaknya pulang dulu ke Riau. Proses perceraianku sudah mulai masuk masa sidang. Mungkin akan lebih cepat jika aku mau bekerja sama.”

“Kau yakin? Lalu Prita bagaimana?”

“Aku sudah tak mengenal kata ‘yakin’ lagi, Mi!

But… live must go on. Tak bisa aku terus melarikan diri  seperti ini. Dan entah mengapa, pertemuan denganmu membuatku yakin menempuh jalan itu.”

“Hai… jangan sampai aku salah memberimu pengaruh,” elakku terkejut.
“Tenang, usiaku sudah cukup dewasa untuk dapat kau pengaruhi!”
“Tapi kalau kupikir-pikir …”lanjutnya.
“Ya?” tanyaku sambil menaikkan alis.
“Ah…nanti kau marah!”
Aku tersenyum. Beberapa langkah saja, ber-aku dan ber-engkau telah nyaman dalam hubungan kami. (Bersambung)*****

Empati atas Kasus Anak Menggungat Ibu Kandung Rp 1,8 Miliar, Ribuan Siswa SMKN 1 Garut Menggelar Doa Bersama untuk Amih

GARUT, (GE).- Kasus gugatan perdata yang menimpa seorang ibu asal Kabupaten Garut, Jawa Barat, ternyata mengundang reaksi dari berbagai pihak. Bagaimana tidak, sang ibu – Siti Rohaya atau akrab disapa Amih (83), dituntut oleh anak kandung dan menantunya sendiri untuk membayar utang Rp1,8 miliar dari jumlah utang awal Rp20 juta. Padahal, yang ditunt oleh Yani Suryani dan Handoyo Adianto itu bukan merupakan utang Amih.

Bentuk kepedulian dan rasa empati terhadap kasus tersebut juga ditujukkan para siswa SMKN 1 Garut. Sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar, Jumat (31/3/17) pagi, ribuan siswa dan guru SMKN 1 Garut memenuhi lapangan sekolah menggelar doa bersama yang ditujukan untuk Amih. Mereka juga mendoakan agar Amih selalu diberikan kesehatan dan jalan keluar dalam masalah ini.

“Kami warga sekolah sepakat untuk menggelar doa bersama untuk Amih yang digugat anaknya Rp 1,8 miliar. Saya sebagai orang tua juga sangat priatin atas apa yang menimpa Amih. Saya harap anaknya tersebut mau mencabut gugatan dan menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan,” ungkap Kepala SMKN 1 Garut, Dadang Johar Arifin, Jumat (31/3/17).

Ungkapan senada disampaikan para siswa. Mereka bahkan tak habis pikir, seorang anak tega menggugat ibunya sendiri.

“Saya miris aja ada anak tega pada ibunya sampai menggugat karena utang. Anak itu ga berfikir bagaimana perjuangan ibu membesarkan anak tersebut. Yang penting, saya gak mau kayak anak itu,” ungkap salah seorang siswa, Salman Faira, kepada “GE”

Selain mendoakan Amih, doa bersama ditujukan bagi  800-an siswa kelas XII yang akan melaksanakan Ujan Nasional Berbasis Komputer (UNBK). (Mempis/GE)***

Editor : SMS

Lanjutan Sidang Kasus Anak Menggugat Ibu Kandung Rp 1,8 Miliar. Majelis Hakim : Kita Lahir dari Siapa? Surga di Telapak Kaki Ibu!

GARUT, (GE).- Majelis Hakim Pengadilan Negeri Garut, Jawa Barat, menyarankan Handoyo Adianto (47), berdamai atau mencabut gugatannya kepada Siti Rohaya (83).

“Majelis hanya mau menggugah penggugat dan tergugat. Ini bukan masalah yang prinsipil. Semua masih memiliki hubungan darah. Lebih baik islah,” ujar ketua Majelis Hakim Endratno Rajamai, di ruang Sidang Pengadilan Negeri Garut, Kamis (30/3/17).

Menanggapi saran majelis hakim, Handoyo mengaku tidak ada masalah dengan keluarga mertuanya.

“Hubungan kami masih baik. Saya ingin perkara ini tuntas,” ujarnya di hadapan Majelis Hakim dan disambut riuh para pengunjung sidang.

Handoyo mengaku munculnya kasus ini karena pihak tergugat tidak memenuhi perjanjian yang telah disepakati. Selain itu, dirinya dianggap melakukan penipuan oleh tergugat.

Namun begitu, kata Handoyo, bila menang dalam gugatan ini, separuh hasilnya akan diberikan kepada mertuanya.

“50 persen akan kami dedikasikan buat ibunda tercinta,” ujarnya.

Pernyataan Handoyo tidak begitu ditanggapi Majelis Hakim. Malah, Majelis meminta penggugat merenungkan kembali upayanya tersebut.

“Saya harap ada perdamaian sebelum terjadi putusan,” ujar Endratno.

Menurut Endratno, masalah utang piutang memang harus diselesaikan. Namun bila dapat diselesaikan secara musyawarah, akan lebih baik. Apalagi para pihak yang terlibat memiliki hubungan darah atau keluarga.

Endratno meminta agar para penasehat hukum lebih proaktif dalam mendampingi para kliennya. Selain itu juga para penasehat hukum diharapkan memberikan saran yang lebih baik lagi.

“Harta masih dapat kita cari, kalau orang tua sudah murka mau bagaimana. Kita lahir dari siapa, surga di telapak kaki ibu,” ujarnya dengan nada meninggi.

Persidangan sendiri akan kembali gelar pekan depan dengan agenda pemeriksaan bukti-bukti dari kedua belah pihak. Alasannya, karena pada persidangan kali ini kedua belah pihak belum menyampaikan seluruh bukti. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Soal Gugatan Anak kepada Ibu Kandung. Nitizen Pertanyakan Bupati Garut

GARUT, (GE).- Kasus viral gugatan perdata anak kepada ibu kandungnya di Kabupaten Garut, Jawa Barat, tak pelak menimbulkan berbagai komentar di media sosial. Umumnya komentar bernada menghujat sang anak yang telah tega memejahijaukan ibu yang selama 13 tahun membesarkannya sendirian.

Namun, banyak pula yang malah akhirnya mempertanyakan sikap Bupati Garut, Ruddy Gunawan, yang belum pernah sekalipun menyambangi Siti Rohaya (83), sang ibu yang dimejahijaukan anak kandungnya sendiri. Pertanyaan itu muncul setelah Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, justru yang lebih dulu memberikan bantuan uang dan bahkan menyambangi langsung ke kediaman Siti Rohaya di Garut untuk memperlihatkan rasa empatinya, Sabtu (25/3/17) malam.

“Yang penting niat baiknya! Jangan melihat dari sudut pandang sempit sebuah pencitraan!! Nuhun Kang Dedi!! Ari bupati garut kamana nya? Di garut aya anggota DPRD kitu? Atanapi tos baronge?? Gawe naon atuh maraneh teh!!” tulis warga Garut dengan nama akun Iman Tasdik di laman facebooknya.

Status yang diunggah Iman Tasdik pun langsung mendapat komentar nitizen lain. Di bawah ini sebagian dari komentar nitizen yang menimpali status Iman Tasdik.

Dunk Garut : naha,,,,pajabat garut,,,,te marampuh,,,kitu,,,

Stugart Bass Clef : Di garut mah tos loba nu maraot kang, teu baronge ngan emang eweuh gawe wehh……nganggur ngan nyokotan duit rakyat weh

Denny Baron Oi : Sok araraneh wae garut mah….gerak atuh bupati garut…..

Juragan Bako Kurniawan : Ah… boboraah inget ka rahayatna…nu aya mah keur sibuk babanda

Cecep Suhendar : Kang Iman Tasdik emang garut aya bupatian kitu? Saha kang ngarana??

Yayat Hikmat : Nuju ngantosan amplop kang kanu mejana… teu aya wae… jd we ngabarigeu… doraka ti kolot jg na mah jd we ngabaratu….

Thomas Sugihartono : Nuju babagi dana banjir nu kamari … wkwkwk

Andri Gunadi : Sumpah kang, era jd warga Garut

Manz BinaAl Ranggarut : Asa di popokan ku e’e nyalira kang abi sebagai warga garut

Dwi Feb : Make diparilih atuh ari euweuh gawe na mah. (SMS/GE)***