Jelang HUT RI Pedagang Bendera Bisa Raup Untung Rp 700 Ribu Sehari

GARUT, (GE).- Mejelang peringatan Hari Ulah Tahun (HUT) kemerdekaan RI merupakan saatnya “marema” bagi para pedagang bendera dan atribut utnuk acara Agustusan. Para pedagang musiman di beberapa kawasan Kabupaten Garut yang menjual bendera merah putih, umbul-umbul dan sejenisnya sejak dua mingguan sebelum hari H Perayaan mulai ramai menjajakan barang dagangannya.

Menurut pengakuan beberapa pedagang di kawasan perkotaan Garut, keuntungan dari berjualan bendera dan sejenisnya ini cukup lumayan. Sebagian pedagang ada yang mengaku bisa meraup keuntungan hingga RP 700 ribu dalam seharinya.

Bagi para pedagang musiman, momentum HUT kemerdekaan RI merupkan berkah tersendiri. Dengan berjulanan benedra menjelang perayaan HUT RI ini keuntungannya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari hingga beberapa bulan.

“Tahun sekarang cukup lumayan, jika dibaningkan tahun lalu (2016/red.). Alhamdulilah lumayan, penghasilan perhari bisa sampai Rp 700,” tutur Suprianto, salah seorang pedagang bendera yang dijumpai “GE” beberapa hari yang lalu.

Selain menjual bendera berbagai ukuran, para pedagang musiman ini juga menjula berbagai corak umbul-umul dengan harga variatif. Para pedagang menjual bendera mulai dari harga Rp 20 ribu hingga Rp  125 ribu per buah. Sementara untuk umbul umbul atau bandir dijual mulai Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu per 10 meter. (Andri)***

Editor: Kang Cep.

Kecamatan Malangbong Bersiap Menggelar Lomba Potensi Desa

KEPALA Seksi Pemberdayaan Masyarakat Desa ( PMD ) Kecamatan Malangbong, Deden Munawar menyambut baik apa yang diinstruksikan pemerintah daerah (Pemda) Garut terkait pengelolaan kepariwsitaan di pedesaan. Sebagai respon dam salah satu terobosan, pihaknya dalam waktu dekat akan menggelar lomba penggalin potensi desa.

” Dalam rangka perayaan HUT RI kami akan menggelar lomba penggalian potensi desa.  Kegiatan itu sekaligus untuk merangsang  warga desa terutama kepala desa  agar termotivasi memunculkan dan menggali potensi desanya. Dengan demikian diharapkan  pertumbuhan ekonomi di desa semakin meningkat. Selama ini, berdasarkan laporan , APBDes pendapatan asli desanya masih dibawah rata-rata, ” ujarnya, Minggu (16/07/17).

Dijelaskannya, dalam perlombaan nanti,  para kepala desa diharuskan mempresentasikan apa saja potensi desanya kepada tim penilai. Pada saat perlombaan nanti, tim penilai akan menggunakan analisis yang dinamai SWAT (sebuah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (Strengths), kelemahan (Weaknesses), peluang (Opportunities), dan ancaman (Threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis.

“Saat ini di Kecamatan Malangbong  terdapat lima desa yang telah mendapatkan SK bupati terkait kawasan agro  wisata, diantaranya, Desa Cinagara, Desa Sanding, Desa Giri Makmur dan Desa Barudua,” ungkapnya.

Menurutnya,  masih terdapat beberapa desa lain yang memiliki potensi wisata yang pada akhirnya akan saling menunjang satu sama lainnya.  Letak gerpgrafis  Malangbong  sendiri berada di segi tiga emas ini menguntungkan. Malangbong sebagai poros bagi Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Pangandaran serta Kabupaten Garut menuju wisata waduk Jati Gede Sumedang.
Desa Cikarag, salah satu desa di wilayah Malangbong, bisa dijadikan contoh, dengan ketinggian 1600 M dpl. Dari ketinggian Desa Cikarag kita bisa menyaksikan eksoktiknya alam Priangan Timur.

Ditempat lainnya,  Desa Sukamanah tampil dengan kisah Batu Layang dan Batu Bentengnya, Desa Malangbong dengan Curug Leuwi Monyet, Desa Cisitu dengan Manuk Mandinya. Sementara itu, Desa Mekarasih, Skawayana, dan Sekarwangi tampil dengan wisata religinya, di kawasan ini terdapat Pondok Pesantren Nurul Huda di Desa Sakawayana.
“Desa akan maju cepat apabila pandai menggali permasalahan dan potensi desanya sendiri.  Baik skala lokal maupun kewilayahan. Potensi desa bisa dijadikan bahan pemecahan permasalahan juga,” katanya.

Menurutnya, sejumlah potensi fisik maupun non fisik akan menjadi penopang pembangunan di wilayah pedesaan. Potensi fisik misalnya SDA, produk unggulan desa, kelompok usaha, pertanian, UMKM, dan yang lainnya.

Disamping itu, tak kalah penting potensi non fisik, yakni aparatur pemerintah desa profesional yang inovatif sebagi sumber kelancaran roda pemerintahan desa. Dengan adanya aparatur profesional inilah, pemerintahan desa diharapkan mampu mendorong partisipasi masyarakat dalam mendorong pembangunan.

Sekmat Malangbong, Asep Ajun Wahyudin menilai, pengembangan industri pariwisata khususnya agrowisata memerlukan kreativitas dan inovasi, kerjasama dan koordinasi serta promosi dan pemasaran  yang baik. “Pengembangan agrowisata berbasis kawasan berarti juga adanya keterlibatan unsur-unsur wilayah dan masyarakat secara intensif,” kata sekmat.

Diharapkannya, pengembangan industri pariwisata ini mampu menunjang upaya-upaya pelestarian alam, kekayaan hayati dan kekayaan budaya bangsa. Pengembangan agrowisata merupakan salah satu alternatif untuk mendorong potensi ekonomi daerah maupun upaya-upaya pelestarian. ( TAF Senopati.) ***

Tradisi Lari Marathon di Kampung Pangyosogan

SEJARAH tradisi lomba Marathon di Kampung Panyosogan yang selalu gebyar digelar setiap menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI), terlahir ketika ada ajang maraton antara anggota Organisasi Keamanan Desa (OKD) sewilayah Kecamatan Cibatu.

Munculnya tradisi lomba Marathon di Kampung Panyosogan diselenggarakan meriah setiap menyambut HUT Kemerdekaan RI. Mulanya diadakan oleh Koramil Cibatu pada tahun 1960. Waktu itu Koramil Cibatu menyelenggarakan lomba kejuaraan marathon antara anggota OKD sewilayah Kecamatan Cibatu dengan jarak tempuhnya sejauh 11 km. Start-nya dari Kecamatan Wanaraja dan finish-nya di alun-alun Cibatu.

Kegiatan marathon antar OKD tersebut, hanya berlangsung selama 4 tahun. Pasalnya, pada tahun 1961, OKD dan OPR ada penyempurnaan dengan dibentuknya Pertahanan Sipil (Hansip), Perlawanan Rakyat (Wanra), dan Keamanan Rakyat (Kamra). Sehingga tidak ada lagi nama OKD. Dengan demikian kegiatan maraton pun tidak diselenggarakan lagi oleh Koramil Cibatu.

“Sehubungan selama 4 tahun berturut-turut, juara lomba maraton antara OKD sewilayah Kecamatan Cibatu yang diselenggarakan oleh Koramil Cibatu, juara kesatu, kedua dan ketiganya, diraih secara bergiliran oleh ketiga bersaudara dari Kampung Panyosogan, yaitu Toha, Unu dan Enet (kini sudah pada almarhum), maka pada tahun 1964-1967 menggugah pimpinan OKD di Wilayah Desa Wanakerta, almarhum Udin yang didukung oleh almarhum Enet menyatakan, bahwa apapun bentuk kegiatan yang diselenggarakan oleh Koramil Cibatu dalam rangka menyambut Kemerdekaan RI, harus dilanjutkan di Kampung Panyosgan, diantaranya lomba maraton jangan sampai hilang,” tutur tokoh masyarakat Kampung Panyosogan, Sunarya yang kini sebagai anggota BPD Wanakerta.

Sunarya mengatakan, Seiring dengan dibubarkannya organisasi Garakan Masyarakat (Gemar) pada tahun 1964 oleh almarhum Wa Udin, lalu pada tahun itu didirikan organisasi Himpunan Pemuda Panyosogan Pabrik (HP3) hingga tahun 1966. Kemudian pada tahun 1967, nama organisasi pemuda itu berubah menjadi Himpunan Pemuda Pemudi Panyosogan (HP3), namun lomba maraton masih terus diadakan tidak terpengaruhi oleh perubahan keorganisaian masyarakat.

“Selanjutnya pada Tahun 1967 hingga 1975, panitia lomba maraton dipegang oleh anak-anak muda dari HP3. Selama 8 tahun lomba maraton yang diselenggarakan oleh generasi muda itu, tetap mengambil start-nya dari Kecamatan Wanaraja tepatnya dipertigaan pengkolan Cikole, dan finish-nya di Kampung Panyosogan dengan jarak tempuhnya 10 km,” ujar Sunarya.

Ternyata, kata Sunarya, karena banyak permintaan dari para peserta lomba maraton, mengenai start dari wilayah Kecamatan Wanaraja kondisi jalan raya menurun hingga finish di Kampung Panyosogan. Mereka mengeluh, seperti langkah kakinya hampa dan perut terasa terkocok, maka dicobalah start-nya dari wilayah Sasakbesi. Kebetulan tidak ada yang dikeluhkan oleh para peserta maraton. Akhirnya setiap menyambut HUT Kemerdekan RI, start-nya dimulai dari lokasi Sasakbesi (di wilayah Sindangsuka) sampai garis finish, dengan jarak tempuhnya sejauh 8 km.

“Saat kepanitiaan maraton terbuka dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI dipegang oleh HP3, tak diduga Juara pertamannya dari lomba tersebut, selama 7 kali (dari tahun 1967-1974) diraih oleh sosok atlit maraton bernama Iya yang menyisihkan tidak kurang dari 60 peserta per tahunnya. Bahkan atlit berbakat itu pernah diajukan pada ajang maraton tingkat Kabupaten via KONI Cibatu hingga menjadi juara ke-1 tingkat Kabupaten, dan meraih juara ke-3 tingkat provinsi,” papar Sunarya.

Tak diduga, ujarnya, sehubungan suhu politik waktu itu lagi memanas, pada tahun 1982 para tokoh masyarakat Kampung panyosogan sepakat membubarkan organisasi HP3. Selama 2 tahun di kampung kami pakum tidak ada pembentukan organisasi pemuda. Meskipun demikian, kegiatan tradisi gebyar maraton untuk menyambut HUT Kmerdekaan RI tetap diselenggarakan tidak terpangaruhinya. Karena di Kampung Panyosogan telah dibentuknya panitia Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN).

“Jadi sejarah kegiatan lomba maraton di Kampung Panyosogan, berdiri semasa Organisasi Keamanan Desa, atau OKD. Hingga saat ini lomba maraton itu sudah menjadi suatu tradisi. Bahkan seirama dengan kemajuan jaman, para peserta Maraton sebelum berlari diiring dulu oleh kompoy kendaraan motor roda dua menuju garis start di wilayah Sasakbeusi Desa Sindangsuka. Dan dikawal sampai garis finish oleh kompoy kendaraan motor roda dua yang dikawal oleh pihak Muspika Cibatu,” kata Sunarya. (Ilham Amir/Ushe G. Ramdani)***