“Gégél Jubleg,” Seni Tradisi Atraksi yang Masih Lestari

BAGI sebagian warga Garut tentunya masih asing dengan seni “buhun” (lama) yang satu ini. Adalah “Gégél Jubleg”, sebuah seni tradisi yang mempertontonkan ilmu “kanuragaan” yang kerap membuat penonton merasa ngeri. Seni tradisi ini masih lestari di Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Gégél Jubleg, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti menggigit “jubleg” (tempat menumbuk padi/red), yang beratnya bisa mencapai 15 kg lebih. Tak heran, saat para seniman mempertontonkan keahliannya, mereka yang melihat dibuat “linu” (ngeri).

Seni ini menjadi pusat perhatian warga Garut acara Helaran Budaya Hari Jadi Garut ke 204 di Jalan Ahmad Yani, Garut Kota, belum lama ini.

Seni yang dimainkan oleh banyak orang ini dilakukan kaum laki-laki maupun perempuan. Kesenian ini tergolong unik karena memadukan tarian dan atraksi kekuatan gigi menggigit “jubleg” yang beratnya mencapai 15 kg.

Meski bobot jubleg sangat berat, para pemain Gégél Jubleg tampak santai saat menggigit jubleg. Bahkan mereka terus menari mengikuti rancak irama tetabuhan musik khas Sunda.

Menurut salah seorang pemain  Gégél Jubleg, Caca Kosasih yang juga merupakan pegawai salah satu desa di Kecamatan Cisewu, seni ini adalah seni “buhun” yang turun temurun dilakukan di Kecamatan Cisewu. Dahulunya, seni yang mempertontonkan kekuatan gigi dan otot rahang tersebut, selalu dipentaskan saat usai panen hasil pertanian, sebagai ungkapan rasa syukur .

Namun seiring waktu, kini Gégél Jubleg hanya ditampilkan jika ada acara-acara khusus, baik di tingkat kecamatan, maupun kabupaten. Pada kesempatan HJG ke 204 seni Gégél Jubleg mendapatkan kesempatan unjuk gigi.

“Walau seni Gégél Jubleg merupakan seni buhun yang entah kapan dan siapa yang menciptakannya, semua warga Cisewu akan selalu menjaga kesenian warisan leluhur. Ada kisah dari para orang tua kami, seni ini juga biasa pertontonkan kepada orang-orang Belanda penjajah ketika itu, dengan harapan mereka akan ‘gimir’ (ketakutan/red) melihat kekuatan fisik orang pribumi,” ungkapnya.  (Useu G Ramdani)***

Editor: Kang Cep.

Bupati Purwakarta Pimpin Rombongan Kesenian “Tinye” di Helaran Budaya HJG 204

GARUT, (GE).- Kemeriahan tahunan dalam menyambut Hari Jadi Garut (HJG) kembali tersaji dengan karrnaval seni budayanya. Bahkan dalam HJG yang ke 204 kali ini Pemkab Garut mengundang beberapa rombongan kesenian dari beberapa negara sahabar.

Dalam helaran budaya tahun ini (2017) beberapa Kabupaten juga turut serta memeriahkan perhelatan tahunan yang lebih kental cita rasa budayanya ini. Salah satunya rombongan kesenian dari Kabupaten Purwakarta. Bahkan, Dedi Mulyadi yang tak lain Bupati Purwakarta memimpin langsung rombongan kesenian kabupaten yang dipimpinnya. Rabu (22/2/2017).

Dengan penampilan pakaian khasnya yang serba putih, Kang Dedi, demikian sapaan akrab Bupati Purwakarta tampak bergembira mengikuti Karnaval seni budaya ini. Saat berkarnaval ria, Bupati Purwakarta tampil beda, dengan menggendong anak kecil dipundaknya, seraya diiringi para penari dan alunan musik tradisional.

“Ya, tentunya saya senang dengan budaya dan pagelaran seni seperti ini. Makanya saya sengaja datang bersama rombongan kesenian dari Purwakarta,” tuturnya.

Diungkapkannya, dirinya bersama rombongan kesenian lainnya sempat menunggu sampai tiga jam untuk antre giliran pentas dalam acara helaran tersebut.

“Tadi saya harus menunggu sampai tiga jam antrean untuk pentas, ” katanya.

Ia menyampaikan, kesenian yang dipentaskannya yaitu Tarian Nyere atau Tinye bersama para penari dari Kabupaten Purwakarta. Diharapkannya, kesenian yang ditampilkannya itu memberi kegembiraan bagi warga Kabupaten Garut.

“Semoga warga Garut semakin bangga dan mencinta terhadap budaya Sunda.” Tandasnya.

(Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

.