Belum Berikan Nilai Tambah, MAPAG : Peringatan HJG Hanya Pemborosan Anggaran

GARUT, (GE).- Rutinitas peringatan Hari Jadi Garut (HJG) selalu diperingati secara gebyar saetiap tahunnya. Namun, di tengah gebyarnya perhelatan tahunan yang digelar Pemkab Garut ini dinilai hanya pemborosan saja, belum memberikan nilai tambah pada pembangunan Kabupaten Garut.

Ketua Masyarakat Peduli Anggaran Garut (MAPAG), Haryono menyebutkan momentum Hari Jadi Garut (HJG) sama sekali belum dapat memberilan nilai tambah terhadap masyarakat.

“Ya, terkesan stagnan dan pemborosan anggaran, HJG yang lebih bersifat seremonial serta euforia dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat.Tidak ada yang istimewa dalam setiap helaran HJG,” ucap Haryono, Selasa (21/2/2017).

Diungkapkannya, dalam setiap gelaran HJG Pemkab Garut contohnya menggelar acara pameran itu hanya memindahkan PKL dari satu lokasi ke lokasi yang telah diatur panitia. Biasa digelar di Alun alun Garut,dan itu tidak berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ekonomi kabupaten Garut.” Bebernya.

Menurut Haryono, HJG ini mestinya dimamfaatkan untuk mengekspos hasil dari pembangunan Kabupaten Garut. Dan seharusnya lebih terbuka dalam penerapan alokasi anggaran yang berbasis APBD Garut yang nilainya triliunan rupiah tersebut .

“Selama ini kan peringatan HJG itu lebih kepada memunculkan keriaan dan euforianya yang gak jelas. Saya kira Pemkab Garut belum bisa memunculkan inovasi atau kreativitasnya dalam setiap mengadakan hajatan HJG setiap tahunnya.” Tukasnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

Penundaan DAU, Akibat Buruknya Tata Kelola Keungan Pemkab Garut

TARKID, (GE).- Peneliti Masyarakat Peduli Anggaran Garut, Haryono menilai penundaan DAU untuk Kabupaten Garut otomatis akan mengganggu pembayaran gaji dan pembangunan lainnya. Hal tersebut tentunya harus menjadi perhatian Pemkab Garut.

Haryono mengaku sangat mengapresiasi produktivitas pembangunan sarana dan prasarana yang agresif. Mulai dari pembangunan jalan, Puskesmas, dan kantor pemerintahan. Namun akan lebih sempurna jika diimbangi akselerasi tata pengelolaan anggaran.

“Jangan sampai pencairan anggaran terganggu karena kurang maksimalnya tata kelola keuangannya. Apalagi tidak banyak orang yang tahu soal pengelolaannya,” kata Haryono saat dihubungi, Selasa (24/8).

Masalah anggaran di Garut berdasarkan temuan LHP BPK RI tahun 2015, tutur Haryono, menyebut jika anggaran sisa sertifikasi sebesar Rp 124 miliar dialihkan untuk membayar gaji PNS kategori 2. Padahal anggaran tersebut bukan peruntukannya.

“Apalagi sekarang muncul pinalti sampai pengurangan DAU. Harus jadi perhatian dari Pemda,” ucapnya.

Penundaan DAU karena faktor saldo kas daerah yang tinggi, lanjut Haryono, disebabkan karena banyaknya piutang. Artinya masih banyak anggaran yang tersimpan dan belum terbayarkan.

“Mungkin di bendahara pengeluaran anggarannya masih ada di saldo dinas. Banyak faktor yang membuat keterlambatan itu. Harus ada sinergitas antara bendahara dan verifikator,” ucapnya.

Haryono berharap tidak ada permainan fiskal di masin-masing satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Permainan tersebut bisa dilakukan dengan cara menyimpan dana yang ada. Misalnya dalam bentuk sertifikat bilyet atau pengendapan uang di bank.

Menurut Haryono, penundaan DAU sampai Rp 81 miliar dikhawatirkan karena sistem manajemen yang lemah. Inspektorat dan DPRD juga harus memperhatikannya. Apalagi DAU menyangkut masalah gaji pegawai dan pembangunan.

“Mudah-mudahan ini bukan sanksi. Tapi karena masalah defisit anggaran di pusat yang mencapai Rp 262 triliun,” ujarnya. Farhan SN***