Sejak Wacana Kenaikan Rokok Bergulir, Petani Tembakau di Garut Masih Dipusingkan dengan Harga Jual

TARKA,(GE).- Bergulirnya wacana kenaikan harga rokok oleh pemerintah tempo hari sempat membuat kegaduhan di tengah masyarakat. Berbagai tanggapan pro dan kontra terkait rokok ini tidak bisa dielakan. Isyu kenaikan rokok ini sebelumnya disambut baik para petani tembakau karena akan berdampak pada meningkat nya harga jual hasil panennya.

Namun apa yang terjadi, ternyata jauh dari dugaan. Khusus di Kabupaten Garut, penjualan tembakau belum bwranjak baik, malah mengalami penurunan. Selain itu, sejumlah petani juga mengalami penurunan produksi. Salah satu faktor penyebab menurunnya produksi karena kondisi cuaca tidak menentu.

Penasihat Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Garut, Endang Solihin mengatakan, umumnya tembakau ditanam pada Maret. Pada Agustus dan September biasanya sudah habis dipanen dan dijual. Kemarin, sejumlah petani tembakau menghadapi permasalahan penjualan.

“Biasanya ada pembeli dari Jawa yang membeli tembakau basah, tapi kemarin para pembeli dari Jawa tidak ada,” tukasnya, Ahad (4/92016)

Ia menerangkan, sejumlah petani tembakau memperkirakan, para pembeli dari Jawa akan membeli setelah tembakau dikeringkan. Akan tetapi, musim kemarau yang diperkirakan akan segera tiba, ternyata sampai saat ini masih sering terjadi hujan. Penjualan pun menurun sehingga omzetnya berkurang.

Petani tembakau di Desa Mekarjaya, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Endang mengatakan, saat ini kondisi cuaca sedang tidak menentu. Seharusnya sudah kemerau, tapi kerap turun hujan. Akibatnya berpengaruh kepada produksi tembakau.

Ia mengatakan, lahan tembakau yang digarapnya seluas 3.500 meter persegi. Menurutnya, dari luas lahan tersebut hanya mampu panen tembakau basah sebanyak 4 ton. Padahal, normalnya bisa menghasilkan 7 ton.

Diakuinya, dari hasil panen tembakaunya, hanya mendapatkan uang sekitar Rp 7 juta. Berbeda dengan tahun lalu saat harga jualnya tinggi.

“Tahun kemarin saya mendapatkan Rp 25 juta lebih, tahun ini hanya sekitar Rp 7 jutaan” ujarnya.

Selain produksi panen menurun, menurutnya harga jual tembakau basah di tengkulak juga sedang turun. Petani tembakau pada musim panen kali ini cukup memprihatinkan karena tingkat kerugian yang cukup besar. (Tim GE)***

Wacana Kenaikan Harga Rokok, Malah Picu Turunnya Harga Tembakau di Garut

TARKA, (GE).- Gonjang-ganjing wacana akan dinaikannya harga rokok hingga Rp 50 ribu per bungkusnya, tak dipungkiri ternyata membuat “kegaduhan” di tengah masyarakat. Isyu akan dinaikannya harga rokok ini ternyata malah memicu pada penurunannya harega tembakau di tingkat petani Kabupaten Garut. Situasi ini, tak pelak dikeluhkan sejumlah petani tembakau di Garut yang biasa menjual hasil pertaniannya ke tengkulak.

Dari catattan sejumlah petani, Garut, di tahun 2015 lalu para petani masih bisa menjual daun tembakau basah Rp 5.000 per Kg. Sementara saat ini, daun tembakau dari tangan petani hanya dihargai Rp 2.000 per kg.

Seorang petani tembakau asal Kampung Cikatul, Desa Mekarjaya, Kecamatan Tarogong Kaler, Endang (40), mengaku tidak tahu penyebab turunnya harga jual tembakau ini. Rendahnya harga jual membuat petani merugi.

“Tidak tahu pasti apa penyebabnya, karena kalau harga Rp5.000 per kg tengkulak enggan membelinya. Saat ini kami memang sangat merugi, “ ujar Endang, Rabu (24/8/2016).

Diungkapkannya, awalnya petani tembakau di kampungnya berharap akan dapat merauh untung berlebih ketika wacana kenaikan harga rokok banyak diperbincangkan.

“Kalau harga jual hanya Rp2.000 saja saya rasa biaya yang telah saya dan keluarga mulai dari pengadaan bibit hingga pemeliharaan, tidak akan kembali. Belum lagi biaya pemeliharaan yang tinggi, jelas tidak akan sebanding dengan harga yang ditawarkan tengkulak saat ini”, ungkapnya.

Selain masalah harga jual yang rendah, petani tembakau seperti dirinya dihadapkan persoalan lain, yakni turunnya jumlah produksi panen. Dari luas lahan 3.500 meter persegi yang digarapnya, Endang hanya mampu memanen daun tembakau basah seberat 4 ton.

“Tahun lalu bisa sampai 7 ton saat panen. Mungkin karena banyak faktor, mulai dari cuaca yang tidak menentu, kemudian pemeliharaan yang beresiko tinggi sementara degan harga yang anjlok. Kita petani tembakau benar-benar merugi tahun ini,” tuturnya.

Dengan harga jual yang murah, dia mengaku pendapatan dari hasil penjualannya saat ini hanya sekitar Rp 6 juta hingga Rp 7 juta saja dalam sekali panen.

“tahun lalu dengan jumlah luas yang sama, kami mendapatkan Rp25 juta lebih. Tahun ini benar-benar rugi besar,” imbuhnya.

Hasil daun tembakau basah maupun tembakau kering yang dihasilkan petani Garut, biasanya dijual ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebagian di antaranya ada juga yang dijual hingga ke Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. (Tim GE)***