Indikasi Korupsi Penyelenggaraan Haornas, Wabup Dukung Langkah Hukum Kejari Garut

GARUT, (GE).- Wakil Bupati Garut, dr. Helmi Budiman menanggapi serius permasalahan kegiatan Hari Olah Raga Nasional (Haornas) yang terindikasi korupsi agar segera ditindak secara hukum. Namun sebelum itu, dirinya memastikan akan memanggil Kadispora, Kuswendi untuk dimintai keterangan.

“Tentunya jika memang terbukti ada kesalahan apalagi tindak pidana korupsi kita dukung untuk diproses. Namun saya ingin tahu dulu sejauh mana pelanggaran yang dilakukan panitia penyelenggara,” ujar Wabup, Kamis (12/10/17) di Pendopo Garut.

Ia melanjutkan, transfaransi dalam hal anggaran tentunya sangatlah penting. Semua anggara yang digunakan tentunya harus diketahui publik. Apalagi memungut anggaran dari publik untuk uang pendaftarannya.

“Memang Haornas itu sudah ada anggarannya dalam APBD. Namun jika memang kurang penyelenggara boleh memungut uang pendaftara,” ungkap Helmi.

Helmi menandaskan yang penting pihak penyelenggara jangan mencoba bermain-main dengan anggaran. Dirinya berjanji akan meminta pertanggungjawaban terkait penggunaan anggara Haornas.

Helmi mengaku sempat menerima laporan kalau penyelenggaraan Haornas memungut kepada peserta. Namun untuk kegiatan seperti ini tentunya tak melanggar. Asalkan dimusyawarahkan. Namun dirinya pun sedikit heran masalahnya alokasi dalam APBD untuk penyelenggaraan Haornas itu sudah besar. Belum lagi ada dukungan dari beberapa pperusahaan yang memberikan Corporate Social Responsibility (CSR).

“Saya kira anggaran Rp 100 juta sudah besar untuk kegiatan internal ASN Pemkab Garut yang hanya diselenggarakan selama dua hari. Belum lagi ada bantuan CSR dari perusahaan,” katanya.

Terkait persoalan ini yang dalam waktu dekat akan segera ditangani Kejaksaan Negeri (Kejari) Garut, ia mendukung langkah itu. Menurutnya, jika memang ada tindakan pidana korupsi ia mendukung langkah Kejari. Tujuannya tak lain agar terwujud pemerintahan yang terbebas dari tindak korupsi. (Useu G Ramdani)***

Kental Aroma Korupsi, Kejari Garut Segera Periksa Penyelenggara Haornas

GARUT, (GE).- Aroma korupsi pada penyelenggaraan Hari Olahraga Nasional (Haornas) mulai mengemuka. Kegiatan tersebut telah menggunakan dobel anggaran yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta memungut uang pendaftaran dari peserta. Bahkan penyelenggaraan kegiatannya pun terkesan alakadarnya.

Berdasarkan hasil penelusuran “GE”, penyelenggaraan Haornas hanya dilakukan selama dua hari. Padahal anggaran dari APBD dicantumkan sebesar Rp 100 juta. Belum lagi anggaran untuk piala dan piagam dialokasikan secara terpisan. Tak berhenti sampai di situ saja, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) masih memungut uang pendaftaran dari peserta.

Pungutan yang dilakukan Dispora besarnya bervariatif, seperti untuk tim futsal dipungut Rp 250 ribu tiap timnya. Sementara untuk Cabor Catur dipungut Rp 50 ribu tiap orang yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Data lainnya mengungkapkan, peserta yang menjadi juara pada cabang olah raga (Cabor) futsal untuk juara ke satu mendapatkan hadiah sebesar Rp 2,3 juta, juara ke dua Rp 1,7 juta dan juara ke tiga 1,5 juta. Sementara untuk kejuaraan catur juara ke satu mendapatkan hadiah sebesar Rp 1,3 juta, juara ke dua Rp 1 juta, juara ke tiga dapat hadiah Rp 800 ribu, juara ke empat Rp 600 ribu, juara ke lima Rp 400 ribu dan juara ke enam mendapatkan hadiah Rp 200 ribu.

Menanggapi persoalan ini, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Garut, Mamik Suligiono, mengaku akan segera menurunkan anggotanya untuk mendalami informasi tersebut. Mamik menegaskan akan menindak semua praktik yang mengarah terhadap tindak pidana korupsi.

“Dalam waktu dekat saya akan berkoordinasi dengan insfektorat. Kita akan gali informasi yang sudah beredar ini,” ujarnya.

Menurut Mamik, tentunya Kejari Garut selalu melakukan langkah preventif agar tidak terjadi praktik korupsi. Melihat permasalahan ini, tentunya ia takkan tinggal diam. Langkah penindakan akan dilakukan jika memang ada laporan yang otentik.

“Tentu akan kita periksa. Namun kita butuh data yang lengkap,” ujarnya kepada “GE” saat ditemui di halaman Gedung Kajari Baru di Jalan Merdeka, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut. (Fauziani/Farhan SN)***

Indikasi Korupsi? Anggaran Haornas Rp 100 juta, Ngakunya Hanya Rp 70 juta

GARUT (GE).- Kebijakan anggaran di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) kembali menjadi sorotan publik. Setelah gagal membangun sarana olahraga yang memadai, kini Dispora disorot terkait anggaran penyelenggaraan Hari Olahraga Nasional (Haornas).

Anggaran penyelenggaraan Haornas tercatat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Garut sebesar Rp 100 juta. Belum lagi untuk pengadaan piala semua kegiatan di Dispora dalam setahun sudah dicadangkan dalam APBD sebesar Rp 157 juta.

Namun pada praktiknya penyelenggaraan Haornas yang diselenggarakan selama dua hari malah memungut lagi biaya dari peserta. Sehingga penyelenggaran Haornas dibiaya dari dua anggaran “dobel anggaran”.

Menanggapi hal tersebut anggota Masyarakat Peduli Anggaran Garut (Mapag), Haryono, mengatakan Dispora telah melakukan kekeliruan. Jadi menurutnya, Dispora wajib membuka pagu anggaran ke publik agar semuanya bisa jelas.

(Kalau mengarah ke ranah korupsi tentunya harus diinvestigasi lagi. Namun jika dilihat dari caranya ini sudah salah kaprah,” ujar Haryono.

Menurutnya, kalau semua dinas berbuat seperti ini tentu bahaya bagi keuangan Pemkab Garut. Pasalnya, semua kegiatan tentunya sudah direncanakan dengan matang. Sehingga diakomodir dalam APBD. Jika tiba-tiba mengeluh kurang anggaran lalau menghalalkan segala cara tentunya tidak baik. Malah cenderung mengarah ke ranah korupsi atau pungutan liar (Pungli).

Ia memaparkan dalam APBD, anggaran langsung di Dispora tercatat sebesar Rp 20,7 miliar. Rinciannya Rp 1,1 Miliar untuk pengembangan dan kebijakan olahraga, Rp 937 juta untuk pengembangan pemasyarakatan olahraga dan Rp 14,5 miliar untuk pembenahan sarana olahraga. Sementara itu, sisanya digunakan untuk administrasi dan pembinaan kewirausahaan dan kepemudaan.

Anggaran untuk penyelenggaraan Haornas, kata Haryono, masuk ke pagu pengembangan pemasyarakatan olahraga Rp 100 juta. Belum lagi anggarannya ditunjang dari penyediaan piagam dan piala yang anggarannya mencapai Rp 157 juta.

Diberitakan sebelumnya Kadispora Garut, Kuswendi, membenarkan adanya penarikan biaya pendaftaran tersebut. Menurutnya pemungutan itu akan digunakan untuk menutupi kekurangan anggaran yang ada dalam APBD.

“Memang kita memungut biaya Rp 250 ribu untuk peserta futsal dan Rp 50 ribu untuk peserta catur. Sementara Cabor lainnya saya kurang tahu,” ujar Kuswendi kepada “GE” saat ditemui di lingkungan Gor Pesona, Jalan Proklamasi, Kamis (5/10/17).

Menurutnya anggarannya di APBD murni Rp 50 juta dan perubahan Rp 20 juta. Total anggaran Haornas Rp 70 juta.

Kuswendi menandaskan praktik serupa telah dilakukan pada kegiatan “napak tilas” hari jadi Garut. Ia berjanji akan membuka pagu anggaran secara terbuka. (Farhan SN)****

Penyelenggaraan Haornas di Garut Dobel Anggaran, ini Jawaban Kadispora

GARUT (GE).- Penyelenggaraan Haornas yang dibiayai dari Alokasi Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp 100 juta, namun pada praktiknya masih melakukan pemungutan uang pendaftaran kepada peserta. Besarnya pungutan bervariasi antara Rp 50 ribu sampai Rp 250 ribu.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Garut, Kuswendi, membenarkan adanya penarikan biaya pendaftaran tersebut. Menurutnya pemungutan itu akan digunakan untuk menutupi kekurangan anggaran yang ada dalam APBD.

“Memang kita memungut biaya Rp 250 ribu untuk peserta futsal dan Rp 50 ribu untuk peserta catur. Sementara Cabor lainnya saya kurang tahu,” ujar Kuswendi kepada “GE” saat ditemui di lingkungan Gor Pesona, Jalan Proklamasi, Kamis (5/10/17).

Menurutnya anggarannya di APBD murni Rp 50 juta dan perubahan Rp 20 juta. Total anggaran Haornas Rp 70 juta.

“Anggarannya kan ada diperubahan. Jadi penyelenggaraan ini dari dana talangan dulu,” kata Kuswendi.

Setelah dilakukan penghitungan, ternyata anggaran yang ada dalam APBD masih kurang. Jadi sisanya harus ditutupi dari uang pendaftaran.

Kuswendi menandaskan praktik serupa telah dilakukan pada kegiatan “napak tilas” hari jadi Garut. Ia berjanji akan membuka pagu anggaran secara terbuka.

“Nanti akan saya laporkan mana uang yang dari APBD dan mana uang yang dari pendaftaran,” tuturnya.

Ia meyakinkan tindakannya ini tak akan menimbulkan masalah. Pasalnya pemungutan pendaftaran telah sesuai dengan komitmen peserta yang akan mendaftar.

“Lagipula, uangnya bukan dari peserta. Pasti dari dinas,” pungkasnya. (Farhan SN)****

Indikasi Korupsi? Penyelenggaraan Haornas di Garut Dobel Anggaran

GARUT (GE).- Hari olahraga nasional (Haornas) di Kabupaten Garut mendapat respon negatif dari para pesertanya. Kenapa tidak, anggaran Haornas yang telah diakomodir dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dalam praktiknya panitia penyelenggara (Dispora) malah memungut biaya pendaftaran kepada peserta.

“Baru sekarang penyelenggaraan Haornas harus bayar. Padahal tahun sebelumnya engga,” ujar Nurdin, salah seorang atlet futsal, saat ditemui di lapang Pesona, Kamis (5/10/17).

Ia mengaku dipungut biaya pendaftara sebesar Rp 250 ribu. Padahal sepengetahuannya, penyelenggaraan Haornas telah dibiayai Pemkab Garut.

“Kalau begini caranya dobel anggaran dong. Itu tak boleh dilakukan,” kata Nurdin.

Nurdin berharap, Dispora mau transfaran terkait anggaran penyelenggaraan Haornas. Jangan sampai Dispora mengambil keuntungan dari momen kebangkitan olahraga ini.

Sementara itu, Sekjend Garut Governance Watc (GGW), Yuda Ferdinal, mengatakan setiap kegiatan tentunya telah direncanakan dengan baik. Jadi tidak mungkin pemerintah memberikan anggaran kegiatan yang tekor.

“Saya jadi curiga dengan pengelolaan keuangan Dispora. Jangan-jangan ada permainan,” ujar Yuda.

Yuda berharap Dispora mau transparan terkait anggaran penyelenggaraan Haornas. Pasalnya kalau dobel anggaran tentu nantinya jadi rancu.

“Nanti bentuk laporannya mau seperti apa? Kalau yang termaktub dalam APBD sangat mudah diawasi tapi kalau pungutan seperti yang dilakukan Dispora tentunya jadi liar,” ungkapnya.

Terkait persoalan ini, GGW berjanji akan turun tangan melakukan investigasi. Ia mencurigai ada tindak pidana korupsi dalam pungutan penyelenggaraan Haornas di Garut. (Farhan SN)***

Askab Garut Kirim Pemain Muda ke Haornas PSSI U-15

GARUT, (GE).- Sedikitnya 23 pemain muda dari tim Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Garut ikuti Haornas U-15 Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) tingkat Provinsi Jawa Barat.

Pelepasan kontingen yang terdiri dari 23 pemain, 5 official dan 3 pelatih itu dilakukan oleh Ketua Askab PSSI Kabupaten Garut, H. Deden Rohim didampingi Sekertaris Umum KONI Kabupaten Garut, Abdusy Syakur Amin, Minggu (9/7/17) di Kantor KONI Garut.

“Kita punya talenta pemain yang sangat mumpuni sehingga pantas ikut kejuaraan Haornas U-15. Dengan adanya program yang digulirkan PSSI pusat ini diharapkan menjadi momentum peningkatan potensi dan mental anak-anak. Sehingga diharapkan nantinya bisa lebih profesional,” ujar Deden.

Untuk mendapat hasil maksimal pihaknya sudah menyiapkan skuat muda Garut sejak 4 bulan lalu. Kendati tidak menargetkan juara, namun diharapkan Garut bisa mendapat hasil bagus. “16 besar juga sudah bersyukur, namun alangkah lebih baik jika lebih dari itu,” katanya.

Kejuaran Haornas tingkat Jawa Barat ini akan berlangsung dari tanggal 10 hingga 14 Juli 2017, di Lapang Sepak Bola Armed Kota Cimahi.
Sementara, Sekertaris Umum KONI Kabupaten Garut, Abdusy Syakur Amin, mengatakan, suatu kebanggaan Askab PSSI U-15 Kabupaten Garut mengikuti kompetisi tahunan ini.

“Semoga ini jadi bagian dari kebangkitan olahraga Garut, sepakbola khususnya. Saya optimis (mendapat hasil bagus/red.) karena Garut memiliki banyak potensi. Kedepan akan lebih baik, jika dikembangkan lebih bagus lagi dengan terarah, terukur, hingga tidak menutup kemungkinan bisa menjadi atlet, tidak hanya di Garut, tapi bisa nasional, bahkan bisa juga ke Internasional,” pungkas Syakur.

Oleh karenanya, Rektor Uniga ini berharap Pemkab Garut bisa memnangun sarana dan prassrana olahraga, khususnya lapang sepakbola yang lebih baik. (Jay)***

Editor: Kang Cep.