Ratusan Jemaah Haji Kloter Pertama Tiba di Garut, Seorang Jemaah asal Karangpawitan Dilaporkan Meninggal

GARUT,(GE).-  Ratusan jemaah haji asal kloter 20 Jawa Barat atau kloter pertama Garut tiba dengan selamat di tanah jelahirannya. Kedatangan jemaah haji kloter pertama asal Garut tiba di gedung Pendopo, sekira pukul 23.00 kemarin.  Ada sedikit perbedaan tahun ini, dari total 404 jemaah, hanya 403 jemaah yang kembali pulang.

Menurut Kasi Haji dan Umrah Kementerian Agama Kabupaten Garut, Karimudin, seorang  jemaah dari kloter 20 meninggal dunia usai melaksanakan lempar jumrah. Jemaah yang meninggal atas nama Toto Bin Ici, warga Kiarapayung, Kecamatan Karangpawitan, Garut.

“Jemaah tersebut meninggal di Mina setelah lempar jumrah. Kabarnya tidak dirawat, beliau langsung meninggal. Usianya juga sudah tua,” ujarnya, Kamis (14/9/17).

Dijelaskannya, jemaah yang meninggal tersebut telah dimakamkan di Arab Saudi. Hingga kini, pihaknya belum mendapat laporan kembali terkait jemaah asal Garut yang meninggal dunia.

” Alhamdulillah dari kloter lain belum ada laporan yang meninggal. Semuanya masih sehat,” tukasnya.

Semenatara itu, jumlah jemaah yang diberangkatkan dari Kabupaten Garut tahun ini totalnya mencapai 1.790 orang jemaah yang terbagi dalam lima kloter.

Secara garis besar menurut Bupati Garut, Rudy Gunawan menilai, proses perjalanan haji seluruh jemaah asal Garut tahun ini berjalan lebih baik dari tahun lalu. Terlebih jumlahnya jemaah tahun ini lebih banyak, setelah pihak Arab Saudi menambah kuota.

“Tahun ini (2017/red.) secara keseuruhan proses pemberangkatan jemaah haji relatif lebih baik. Alhamdulillah mereka bisa kembali dengan selamat sampai ke Garut lagi,” katanya. (Tim GE)*** 

Kesel jadi Korban First Travel, Warga Garut Berharap Pemerintah Turun Tangan

GARUT, (GE).- Beberapa orang warga Garut mengaku jadi korban penipuan penyedia jasa perjalanan umrah/ haji First Travel. Setelah terlanjur menjadi korban, mereka berharap pemerintah turun tangan membantu pengembalian dana yang sudah disetorkan.

Mereka (beberapa warga Garut) mengaku, hingga saat ini, para korban belum mendapatkan kepastian mengenai uang yang akan diganti atau keberangkatan umrah.

Prity (45) bukan nama sebenarnya, salah seorang korban warga Kelurahan Lebakjaya, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, mengaku sebelumnya akan diberangkatkan awal tahun ini (2017) setelah membayar lunas ongkos umrah via agen First Travel di Bandung sebesar Rp 22 juta. Namun, pemberangkatan tersebut ternyata diundur hingga Maret.

Pada bulan April korban kembali diharuskan menambah ongkos Rp 5 juta dengan alasan agar pemberangkatan dipercepat, dan korban pun dipastikan akan berangkat pada Mei. ” Setelah bayar tambahan yang Rp 5 juta saya juga dan rekan-rekan lainnya dari Garut diberi koper yang didalamnya ada mukena, dan jas khusus yang pakai aksesoris First Travel,” ungkapnya.

Dijelaskannya, janji berangkat Mei gagal lagi, lalu diundur setelah lebaran Idul fitri. Selanjutnya janji-janji dari pihak First Travel tak kunjung ditepati. Akhirnya kasus ini terpublikasi secara luas seperti sekarang ini.

” Ahirnya saya menyadari telah tertipu. Kesel juga, kini saya tahu ternyata yang menjadi korban jumlahnya puluhan ribu orang. Di Garut juga banyak korban kasus ini yang mendaftar di agen Bandung termasuk saya dan saudara serta rekan lainnya,” katanya.

Diharapkannya, pemerintah bisa turun tangan menyelesaikan kasus penipuan ini. “Saya mengetuk hati pengelola First Travel, Kemenag, OJK, Bareskrim dan pihak-pihak lainnya untuk segera menyelesaikan kasus ini, dan agar membantu mengembalikan dana para korban,” harapnya, Kamis (24/8/2017). (Alle)***

Editor: Kang Cep.

Dua Jemaah Haji Asal Garut Dilaporkan Wafat di Kota Mekkah, Seorang Diantaranya Akibat Serangan Jantung

KEMENAG, (GE).- PascaIdul Adha 1437 H, tersiar kabar duka dari kota Mekah. Dua orang jemaah haji asal Kabupaten Garut dilaporkan wafat saar prsesi ibadah Haji. Dari kedua jemaah ini, seorang diantaranya dikabarkan meninggal akibat serangan jantung.

Kepala Seksi Pemberangkatan Haji dan Umroh Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Garut Irwan Nurjaman mengatakan, jemaah yang meninggal akibat serangan jantung ini diketahui bernama Nana Sumpena (60) warga Kampung Mekarsari, Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Almarhum merupkan rombingan jemaah dari kloter 10.

“Ya, Almarhum dikabarkan meninggal hari Senin 5 September 2016 pekan lalu, sekira pukul 17.00 waktu Saudi Arabia,” ungkapnya kepada sejumlah awak media, di Kantor Kemenag Garut, Selasa (13/9/2016).

Sebelum berangkat ke tanah suci, almarhum yang berstatus sebagai pensiunan ini telah mendapat pengawasan dari tim medis pendamping. Ia menjelaskan pengawasan medis tersebut berlaku bagi seluruh jemaah yang tercatat memiliki riwayat penyakit.

“Untuk seorang jemaah lain yang juga dikabarkan meninggal, kami belum bisa menyampaikan detail informasinya. Kami masih menunggu COD (Cause of Death) dari petugas di Arab Saudi. Cuma memang kabarnya ada seorang jemaah lagi yang meninggal,” ujarnya.

Dijelaskannya, para jemaah yang meninggal di tanah suci biasanya langsung dimakamkan. Pihak keluarga jemaah pun selalu mendapat informasi terkait kematian anggota keluarga mereka dari petugas.

“Keluarga jemaah selalu mendapat kabar terkait kabar kematian ini,” tandasnya.

Dari catattan Kemenag Garut, seluruh jemaah haji asal Kabupaten Garut yang berada di Arab Saudi berjumlah 1.449 orang. Mereka terdiri dari para jamaah yang diberangkatkan dari Garut, dan mutasi ke sejumlah daerah lainnya.

“Total jemaah yang berangkat dari Garut itu ada sebanyak 1.343 orang. Sementara yang mutasi ke daerah lain total sebanyak 106 orang. Daerah tujuan mutasi jemaah dari Garut ini adalah Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bogor, dan Kota Tasikmalaya,” jelasnya.

Jemaah yang berangkat dari Kabupaten Garut terbagi dalam empat kloter, yakni Kloter 1, 10, 47, dan 68. Para jemaah tersebut dijadwalkan kembali ke Indonesia secara bertahap.

“Dijadwalkan pada 17 September 2016 mendatang rombongan pertama jemaah Haji asal Garut akan tiba di Bandara Halim Perdanakusuma,” pungkasnya. (Tim GE)***

Mengidap Penyakit Berat, Calon Haji Asal Garut Gagal Berangkat

TAROGONG, (GE).- Meski sudah melengkapi berbagai persyaratan, seorang calon jemaah haji (Calhaj) asal Kabupaten Garut dipastikan batal berangkat ke tanah suci. Alasan kesehatan menjadi penyebab gagalnya keberangkatan calon jemaah asal Tarogong Kidul tersebut.

Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Garut Usep Saepudin Muhtar mengatakan, saat ini calhaj yang memiliki penyakit berat dan mesti menjalani cuci darah tidak bisa diberangkatkan.

“Sebab tidak ada aturan dari Permenkes-nya, jemaah yang harus cuci darah dengan sangat terpaksa mesti dibatalkan keberangkatannya,” ujar Usep di Kantor Kemenag Garut, Kamis (11/8/2016).

Selain seorang calhaj yang batal berangkat, Usep menyebut ada empat jemaah lain yang juga terkendala masalah kesehatan. Meski demikian, keempat jemaah ini masih bisa diberangkatkan.

“Satu orang calon jemaah dari Kecamatan Samarang didiagnosa hamil. Satu orang memiliki penyakit herpes asal Kecamatan Malangbong, serta dua orang dari Kecamatan Sukawening belum mendapat suntik meningitis,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Haji Kantor Kemenag Garut Irwan Nurjaman, memastikan empat calhaj tersebut tetap bisa berangkat.

“Yang hamil masih bisa berangkat, hanya ditunda keberangkatannya pada tahun depan. Kalau yang sakit herpes, sempat tertunda namun sudah dinyatakan sembuh dan telah berangkat dengan kloter 2. Sementara dua orang lagi, yakni kakak beradik dari Kecamatan Sukawening, baru bisa berangkat 10 hari kemudian. Keberangkatannya menumpang kloter lain, tapi nanti digabung dengan kolter 1,” urainya.

Selain empat calhaj, sebut dia, enam jemaah lainnya juga terkendala keberangkatannya. Keenam orang ini bermasalah dengan visa.

“Sama juga dengan empat orang yang bermasalah kesehatannya, enam orang ini akan berangkat bersama kloter lain setelah visa selesai diurus,” katanya.

Seperti diketahui, jemaah haji asal Kabupaten Garut terbagi dalam empat kloter, yaitu kloter 1, 10, 47 dan 59. Kloter 1 telah berangkat pada 8 Agustus, kloter 10 akan berangkat pada 12 Agustus dengan jumlah 360 jemaah, kloter 47 pada 26 Agustus sebanyak 444 jemaah, dan Kloter 59 pada 31 Agustus sebanyak 103 jemaah. Farhan SN***

Sakit Tak Menghalangi Calon Haji dari Garut untuk Tunaikan Rukun Islam

KOTA, (GE).- Ratusan jemaah Haji asal Garut telah diberangkatkan secara resmi oleh Bupati Garut, Rudy Gunawan. Pemberangkatan yang dilakukan dari kompleks Gedung Pendopo ini merupakan jemaah kloter pertama dari 10 kloter, Senin (8/8/2016).

Bagi setiap Muslim, menunaikan Haji adalah sebuah kewajiban bagi yang mampu. Baik mampu secar fisik mapun materiil, karena memang dengan dukungan dua hal tersebut rukun Islam yang ke-5 ini dinilai bisa ditunaikan. Namun realitasnya tidak semua yang mampu, baik secara fisik maupun materiil bisa menunaikan rukun Islam yang satu ini.

Adalah Cucu, salah seorang jemaah Haji asal Kecamatan Samarang, dari ratusan jemaah asal Garut, dia menjadi satu-satunya jemaah Haji yang bertekad untuk berangkat Haji dengan keterbatasan kondisi fisik karena sakit.

Di tengah hiruk pikuk dan suasana haru, Cucu, tampak menggunakan kursi roda dengan dihantarkan sejumlah anggota keluarganya. Meski dalam kondisi sakit, ia tampak begitu bersemangat untuk menunaikan kewajibannya beribadah Haji bersama sang istri.

“Alhamdulillah, ini kesempatan saya bersama istri untuk menunaikan ibadah haji. Mudah-mudahan diberikan kekuatan oleh Alloh SWT dan menjadi haji yang mabrur.” Harapnya.

Tepat pukul 08.00. WIB, Bupati Garut, Rudy Gunawan melepas keberangkatan ratusan calon jemaah haji. Sementara itui, beragam peralatan dan perlengkapan para jemaah haji sudah diberangkatkan lebih dahulu. Rudy memastikan semua kebutuhan para jemaah yang menjadi kewajiban pemerintah sudah ditunaikan termasuk visa untuk para jemaah.

“Kita berharap keloter pertama ini tiba di kota Madinah sesuai jadwal untuk melaksanakan ‘Arbain.’ Selanjutnya menunaikan ibadah haji lainya, saya kira semua sudah dapat visa.” Tandasnya. (Idrus Andriawan)***