Berkemah di Gunung Papandayan, Nyaman dan Aman

SEJAK dulu Kabupaten Garut, Jawa Barat, dikenal sebagai gudangnya objek wisata minat alam. Salah satunya, objek wisata perkemahan di Gunung Papandayan, Kecamatan Cisurupan. Bahkan, kawasan wisata perkemahan Gunung Papandayan, belakangan menjadi tempat favorit wisatawan domestik dari berbagai daerah yang ingin menikmati suasana alam terbuka pegunungan.
“Sekarang di Garut banyak pilihan tempat wisata untuk berkemah, tempatnya sejuk dan asri,” kata Taufik, wisatawan lokal asal Garut yang berkemah di Papandayan Camping Ground di Garut, Minggu (9/4/17).

Ia menuturkan, sudah beberapa kali mengunjungi tempat wisata alam pegunungan di Garut hanya untuk sekadar berkemah satu sampai dua malam.
Menurut dia, Kabupaten Garut memiliki banyak tempat yang menarik bagi wisatawan untuk berkemah, seperti Gunung Papandayan, Cikuray, dan Gunung Guntur.

“Di kawasan Gunung Papandayan ini banyak tempat untuk camping, dengan suasana alam pegunungan dan hutan pinus,” kata Taufik yang berkemah bersama beberapa saudara dan temannya.

Taufik menambahkan, dalam petualangannya kali ini ia memilih berkemah di kawasan wisata alam komersial Papandayan Camping Ground karena tempatnya luas dan nyaman untuk menikmati suasana alam pegunungan.
Selain itu, lanjut dia, akses menuju kawasan wisata tersebut cukup mudah dijangkau kendaraan roda empat maupun sepeda motor, serta tiket masuk yang terjangkau murah.
“Alasan pertama berkemah di sini karena belum pernah, biaya masuknya hanya Rp10 ribu per orang, kalau mau pasang tenda bayar Rp100 ribu,” katanya.
Wisatawan lainnya, Muslim, menyatakan, lebih senang berwisata kemah karena dapat menikmati suasana alam terbuka saat siang maupun malam hari.
Muslim menilai, beberapa tempat di kawasan pegunungan saat ini telah dikelola dan ditata secara baik, sehingga lebih nyaman dan menarik untuk dikunjungi.

“Seperti di kawasan Papandayan banyak tempat yang dibenahi, jalannya juga tidak terlalu jelek, sehingga wisatawan nyaman,” katanya. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Taman Edelweiss Pelengkap Pesona Wisata Alam Gunung Papandayan

CISURUPAN, (GE).- Bagi para pecinta wisata alam, Taman Wisata Alam Gunung Papandayan tentu tak asing lagi. Kemasyuran di lokasi ini, pengunjung bisa menikmati berbagai objek yang disediakan alam, seperti rimba, kawah, bumi perkemahan maupun panorama alam dengan udara sejuk. Di lokasi berjarak sekitar 20 km dari pusat Kota Garut ini, pengunjung juga bisa menikmati indahnya taman bunga Edelweis yang juga dijuluki bunga keabadian.

Bunga edelweis, merupakan jenis flora yang tak gampang ditemukan disembarang lokasi. Untuk menemukan bunga keabadian ini biasanya membutuhkan perjuangan melelahkan karena harus mendaki gunung. Namun kini wisatawan bisa melihat bunga edelweis itu tanpa perlu capai.

Objek wisata Gunung Papandayan di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut kini menawarkan sensasi baru untuk melihat edelweis. Wisatawan kini bisa melihat bunga abadi itu di taman edelweis

Menurut Dirut PT Astri Indah Lestari (AIL) yang mengelola Gunung Papandayan, Tri Persada, inovasi ini sengaja dilakukan karena banyaknya keinginan wisatawan untuk melihat edelweis. Sebelumnya, para wisatawan harus mendaki ke Pondok Saladah dan Tegalalun.

“Banyak juga wisatawan yang sudah berumur ingin melihat edelweis. Tapi karena keterbatasan fisik mereka tidak mampu mendaki. Nah dengan rekayasa ini semua pengunjung, dari anak anak sampai orang tua bisa menikmati indahnya taman edelweis,” ujar Tri di Gunung Papandayan, Jumat (1/9).

Taman edelweis Gunung Papandayan, kata Tri, kini lokasinya tak jauh dari tempat parkir atau di belakang pusat informasi. Para pengunjung bisa langsung melihat keindahan edelweis tanpa harus mendaki gunung.

“Ini hanya jadi salah satu alternatif saja. Yang utama tetap di Pondok Saladah atau Tegalalun,” katanya.

Luas taman edelweis, lanjut Tri, sekitar empat hektare. Saat ini bunga tersebut masih dalam masa penanaman. Nantinya edelweis tersebut tak kalah indahnya dengan lokasi di Tegalalun.
Selain taman edelweis, pihaknya juga menyiapkan bumi perkemahan Papandayan yang bersebelahan dengan taman edelweis. Di Pondoksaladah, tutur Tri, akan dibangun menara pandang untuk bisa melihat keindahan alam Papandayan.

“Menara pandang ini bisa dipakai wisatawan untuk melihat sunrise di sini. Kami juga tengah membangun maket yang memberi informasi fasilitas di Papandayan,” ucapnya.
Tri menyebut, saat ini jumlah kunjungan ke Papandayan memang masih di bawah 1.000 orang per harinya. Namun jumlah tersebut telah mengalami peningkatan dibanding beberapa tahun lalu.

“Rata-rata saat ini jumlah wisatawan yang datang itu sebanyak 633 orang per hari. Sebelumnya yang datang paling di angka 100 orang per hari. Wisatawan mancanegara juga datang terus ke sini,” ujarnya.

Hingga kini perbaikan sejumlah fasilitas di Papandayan baru mencapai 20 persen. Ditargetkan sebelum natal dan tahun baru, jalan menuju Papandayan sudah diaspal. Perbaikan yang dilakukan pihaknya tidak akan merusak nilai konservasi.
“Kami juga menyediakan keamanan bagi wisatawan yang akan berkemah. 24 jam keamanan akan mengawasi,” katanya.(Slamet Timur).***

Tengkorak Manusia yang Ditemukan di Gunung Papandayan Ternyata Pemilik KTA PT. Nurtanio

PAMULIHAN, (GE).- Penemuan tengkorak manusia di kawasan wisata gunung Papandayan empat hari yang lalu, sempat membuat geger warga sekitar. Sabtu (20/8/2016).

Pascapenemuan tengkorak tersebut, Asep Harsono, HS, S.Sos., yang merupakan Camat Pamulihan meninjau ke TKP untuk memastikan bahwa lokasi penemuan tersebut masuk ke wilayah administraif Kecamatan Pamulihan yang dipimpinnya.

“Ya, setelah menerima informasi dari petugas BKSDA TWG Papandayan terkait penemuan tengkorak dan kerangka manusia, 4 hari yang lalu. Saya mengutus Babinkamtibmas, Babinsa dan Kaur Trantib Desa Garumukti, Kecamatan Pamulihan untuk mengecek ke lokasi di Blok Lutung Gunung Papandayan. Dan benar ternyata, tengkorak tergeletak begitu saja dan diperkirakan sudah 1 tahun. “ Jelas Asep Harsono, melalui broadcast-nya, Selasa (23/08/2016).

Dijelaskannya, selain ditemukan KTP atas nama Komarudin, kelahiran Bandung 11 Juli 1959, warga Jalan Sukaraja II RT02/06, Desa Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, juga ditemukan Kartu Tanda Anggota (KTA) PT. Nurtanio Bandung.

“Lokasi penemuannya kira-kira 2 Km dari Pondok Saladah/Camping Ground, Kawah Papandayan. Secara administratif lokasi tersebut masuk ke wilayah Kecamatan Pamulihan. Jadi bukan Kecamatan Cisurupan. Tolong kepada BKSDA Papandayan bila mengurus izin wisata dan lain-lain, sebelumnya koordinasikan dengan pihak Muspika Kecamatan,” ungkapnya. (ER)***

Ditanya Soal Keluhan Wisatawan Gunung Papandayan, Bupati Mengaku Bukan Kewenangannya

PENDOPO, (GE).-  Bupati Garut Rudy Gunawan mengaku telah mendapatkan laporan terkait mahalnya retribusi yang harus dikeluarkan para wisatawan Gunung Papandayan sehingga banyak menimbulkan kekecewaan. Bupati mengaku sangat menyesalkan hal ini.

Namun demikian Rudy mengaku tidak bisa interpensi terlalu jauh karena keterbatasan kewenangan yang dimilikinya mengingat kawasan itu berada di bawah naungan BKSDA.

“Saya juga sudah dengar banyak pengunjung yang kecewa akibat terlalu mahalnya retribusi yang harus dibayar para wisatawan Gunung Papandayan. Seharusnya hal ini tidak terjadi tapi sayangnya saya tak bisa interpensi,” komentar Rudy saat ditemui “GE” di Pendopo, Rabu (13/7/2016).

Sesuai kewenangannya, Rudy berjanji akan menyarankan kepada pihak pengelola untuk segera menurunkan retribusi bagi para pengunjung objek wisatawan Gunung Papandayan. Dia menilai, dengan retribusi yang ditetapkan saat ini, memang terlalu mahal dan memberatkan para pengunjung. Uje***