Empat Bulan Dikelola Pihak Swasta, Pembangunan Infrastruktur Taman Wisata Papandayan Baru 20%

CISURUPAN, (GE).- Proses pembangunan infrastruktur Taman Wisata Alam Gunung Papandayan baru mencapai 20 persen sejak diserahkan pengelolaannya dari pemerintah ke Perusahaan swasta bidang kepariwisataan. Pihak swasta yang kini mengelola kawasan ini adalah PT Indah Alam Lestari.

“Ya, pembangunan infrastruktur di Gunung Papandayan baru sekitar 20 persen dengan pengerjaan selama empat bulan,” kata Komisaris PT Indah Alam Lestari, Putra Kaban, Minggu (15/8/2016)

Dijelaskannya, penataan kawasan wisata alam itu mulai dari gerbang, akses jalan aspal, tempat istirahat, kamar mandi dan masjid yang nyaman. Selanjutnya penataan jalur menuju kawah Papandayan, jalur pendakian dan tempat berkemah di Pondok Saladah.

“Kita lakukan semua penataan ini untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pengunjung,” katanya.

Diungkapkannya, penataan wisata unggulan di Garut itu akan lebih bagus dibandingkan yang sudah diterapkannya di objek wisata Tangkuban Parahu di Kabupaten Bandung Barat. Menurut dia Gunung Papandayan memiliki potensi yang dapat dikembangkan diantaranya kawasan panas bumi, perkemahan, dan potensi alam lainnya.

“Gunung Papandayan ini bisa diberdayakan dan memiliki nilai jual tinggi,” kata Kaban yang juga pengelola kawasan wisata Tangkuban Parahu itu.

Diharapkannya, penataan wisata alam Gunung Papandayan bisa mendongkrak tingkat kunjungan wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara. Keberadaan wisata Gunung Papandayan dapat mendorong potensi lainnya di Garut, serta memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat Garut dan sekitarnya.

“Kami berharap keistimewaan Gunung Papandayan ini memberikan manfaat bagi semua,” katanya. (Tim GE)***

Dikelola Pihak Swasta, Tiket Gunung Papandayan Dinilai Terlalu Mahal

CISURUPAN, (GE).- Sejumlah pengunjung kawasan wisata Gunung Papandayan mengeluh akibat mahalnya tiket masuk. Tarif mahal tersebut dipatok mahal setelah kawasan wisata tersebut dikelola oleh pihak swasta.

Selain mengeluhkan mahalnya tiket masuk kawasan tersebut, pengunjung pun menilai pengelola kurang profesional. Pasalnya di sejumlah tempat sampah tampak bertebaran.

Warga Kalibata, Jakarta Selatan, Daniel (25 tahun) mengatakan, saat libur Lebaran beberapa waktu lalu mengunjungi Gunung Papandayan di Garut. Namun, ada perubahan tarif masuk, kamping dan parkir. Harga tiket masuk yang ada di papan pengumuman Rp 22 ribu, tapi di pintu masuk dipinta Rp 65 ribu.

“Kalau ingin kamping bayar lagi Rp 35 ribu permalam, bayar parkir Rp 17 ribu untuk kendaraan roda dua,” kata Daniel, Rabu (13/72016).

Dikatakan Daniel, wisatawan termasuk para pendaki yang datang ke Papandayan banyak yang mengeluh karena tidak ada pemberitahuan soal kenaikan tarif. Banyak juga pendaki yang mengurungkan niatnya kamping di Gunung Papandayan. Mereka turun kembali dan memilih mendaki Gunung Cikuray.

Meski sudah dipasang tarif mahal, menurut Daniel, pemandangan di Pondok Salada masih kurang nyaman karena banyak sampah berserakan. Bahkan, informasinya ada pendaki yang menuju Bengalau tapi dipinta beli tiket lagi.

Pendaki lainnya, Muhammad Kurniawan (25) menambahkan, soal kenaikan tarif tidak masalah asalkan dikelola dengan lebih baik. Jadi, setelah dikelola pihak swasta, seharunya tidak ada lagi cerita sampah berserakan di Gunung.

“Pengelola jangan hanya mengambil keuntungan dengan menaikan tarif tapi juga harus memperhatikan soal sampah, upaya menjaga lingkungan agar tetap alami,” ujar Kurniawan.

Pendaki asal Bogor, Dedi Maulana (28) mengatakan, pada Jumat (8/7) naik ke Gunung Papandayan. Memang ada perubahan, sejumlah tempat di kawasan Papandayan menjadi lebih tertata. Di sepanjang jalur mereka menempatkan security.

“Namun, masalah sampah gak berubah masih kotor, kemarin kami camp di Pondok Salada pas malamnya ada sekitar lima kali bakar petasan kembang api, padahal dilokasi ada security,” jelas Dedi.

Dedi menambahakan, sepengetahuannya tarif masuk ke kawasan Gunung Papandayan Rp 30 ribu. Tarif kamping permalam Rp 35 ribu. Tapi, ada pendaki lain yang harga tarif masuk dan kampingnya tidak sama. Dedi pun tidak tahu mengapa tarifnya bisa berbeda-beda. Masalah tarif yang tidak jelas pun banyak membuat para pendaki kecewa. Uje***

Butuh Rp 5,7 Triliun untuk Kelola Potensi Panas Bumi Gunung Papandayan

DEWAN, (GE).-  Butuh investasi relatif besar untuk mengelola potensi sumber daya alam (SDA) panas bumi Gunung Papandayan, Garut. Karenanya, wajar jika pemerintah harus berhati hati memilih perusahaan yang akan bekerja sama untuk mengelola Mega proyek tersebut.

Terkait hal ini, DPRD Kabupaten Garut mempertanyakan kemampuan finansial perusahaan lokal Garut yang telah menyatakan siap berinveatasi pada sektor ini, yakni, PT Garut Energi. Dari hasil pertemuan dengan PT Garut Energi investasi yang ditanamankan mencapai triliunan rupiah.

“Kami harus hati hati. Maka kami masih mempertanyakan finansial perusahaannya. Tahun pertama saja harus menghabiskan Rp 15 miliar untuk surveinya. Tapi kami dorong karena itu perusahaan daerah,” ujar Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Garut,
Dudeh Ruhiyat di ruang kerjanya, Jumat (20/5).

Menurut Dudeh, selain PT Garut Energi terdapat perusahaan lain yang telah mengajukan izin ekplorasi panas bumi di Papandayan yakni PT Wika Jabar Power. Perusahaan tersebut pun sudah menerima rekomendasi dari Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan Kabupaten Garut.

“PT Garut Energi tetap akan melakukan survei karena sudah punya izinnya. Masalah ekplorasi panas bumi sekarang kan ditangani pusat,” ucapnya.

Dudeh juga menyatakan, DPRD akan mendukung perusahaan dari Garut itu untuk bisa mengelola panas bumi. Hanya saja dewan meminta perusahaan untuk mengkaji kemampuan finansial.

“Jangan sampai di tengah jalan perusahaannya malah dijual. Kami kan belum tahu kemampuannya seperti apa karena masih perusahaan baru,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Garut Energi, Hasanudin, mengaku siap untuk berinvestasi mulai dari survei hingga pembangunan pembangkit listrik. Dari segi pembiayaan pihaknya pun sudah menyiapkannya.

“Investasi yang kami tanamkan sebesar Rp 5,6 triliun sampai Rp 5,7 triliun. Jumlah itu gambaran dr eksplorasi sampai pembangunan pembangkit,” ujar Hasanudin usai bertemu anggota dewan.

Jika tak ada kendala, tutur Hasanudin, operasional pembangkit bisa dilakukan lima sampai tujuh tahun lagi. Rencananya di tahun ini pihaknya akan melakukan survei pengeboran panas bumi.

“Kami juga akan menanggung resiko kerugian jika saat pengeboran gagal. Satu kali kegagalan itu kerugiannya bisa mencapai Rp 70 miliar,” katanya.

Meski begitu, Hasanudin yakin perusahaannya bisa membangun pembangkit listrik panas bumi. Pihaknya akan mengeksploitasi lahan seluas 118 ribu hektare yang berada di 10 kecamatan.

“Kami juga sudah meminta izin ke pemerintah pusat. Perkiraan kami listrik yang bisa dihasilkan sebanyak 350 megawatt. Tapi yang akan kami upayakan sebesar 110 megawatt dulu,” ucapnya. (Slamet Timur).***

Investor Datang, Objek Wisata Gunung Papandayan Akan Dipercantik

CISURUPAN, (GE).- Dalam waktu yang tidak lama lagi salah satu destinasi wisata alam favorit di Kabupaten Garut, yakni Gunung Papandayan yang berlokasi di kawasan Kecamatan Cisrurupan, Kabuoaten Garut, Jawa Barat akan “berubah wajah.”

Demikian diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kabupaten Garut, Budi Gangan, kepada wartwan, belum lama ini. Budi mengatakan, bahwa memang selama ini kawasan objek wisata pegunungan ini terkesan kumuh karena tidak didukung insfratruktur yang memadai.

Dikatakannya, untuk mempercantik kawasan gunung Papandayan ini, pihaknya memastikan akan mendatangkan investor yang ahli di bidangnya. Investor yang dimaksud Budi adalah investor yang telah sukses mengelola Objek Wisata Gunung Tangkuban Parahu di Bandung.

“Izin pengelolaan dan bentuk kerjasamanya sudah disepakati antara pihak knvestor dan pemangku kepentingan, baik dengan BKSDA sebagai yang memiliki kawasan wisata alam Gunung Papandayan dan juga dengan Pemkab Garut.” Jelasnya.

Meski tidak akan mendapatkan keuntungan secara langsung dari pengelolaan Objek Wisata Gunung Papandayan yang dikelola pihak swasta tersebut, tetapi ada keuntungan lainnya yang akan berdampak bagi masyatakat setempat.

“Masyarakat di kawasan Gunung Panadayan atau di luar kawasan akan diberdayakan secara ekonomi dengan difasilitasi oleh pihak investor.” Tandasnya. (Tim GE)***