Diduga Ulah Kelalaian Pendaki, Hutan Gunung Cikuray Terbakar

GARUT,(GE).- Tampaknya, musibah kebakaran tengah mengakrabi kawasan Garut. Kal ini sebagian areal hutan Gunung Cikuray yang menjadi korban amukan api. Kepulan asap terlihat membumbung tinggi di kawasan gunung Cikuray pertama kali terlihat sekira  pukul 12.30 WIB, Rabu, (13/9/17).

Menurut Wandira, salah seorang warga Desa Pamalayan, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, kebakaran tersebut disinyalir akibat kelalaian pendaki gunung. Hal ini ditenggarai dari lokasi kebakaran yang terletak di jalur pendakian Gunung Cikuray melalui Cigedug dan Pamalayan.

“Kemungkinan itu kelalaian pendaki, soalnya itu kebakarannya dijalur pendakian tepatnya di pos 5 Paku Keresek,” katanya.

Sementara itu Kepala Desa Pamalayan, Sutisna mengatakan pihaknya sudah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kecamatan untuk melanjutkan laporan ke BPBD Garut.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan melaporkan kejadian tersebut,” tukasnya

Ditambahkannya,  beberapa warga juga sudah ada yang menuju lokasi untuk memadamkan api dengan peralatan seadanya.

“Warga juga sudah ada yang menuju lokasi kebakaran untuk melakukan pemadaman dengan alat seadanya.  Kami juga mengerahkan unsur pemerintahan desa untuk bersama-sama warga menuju lokasi kebakaran,” pungkasnya. (Agus muhram)***

Editor: Kang Cep.

Kondisi Hutan Gunung Cikuray Kritis, Puluhan Sumber Mata air Mengering

GUNUNG Srimanganti atau masyarakat kini lebih mengenalnya dengan nama gunung Cikuray merupakan gunung tertinggi di kabupaten Garut. Bagi kalangan pecinta alam, gunung yang satu ini menjadi salah satu destinasi pendakian favorit karena keindahan pemandangannya yang disuguhkan.

Namun dibalik keindahan pemadangan alam yang terdapat di puncaknya, gunung Srimanganti kini berada dalam kondisi yang sangat menghawatirkan akibat banyaknya perambahan hutan yang dialih fungsikan oleh segelintir warga untuk laha pertanian.

Dari data yang dihimpun oleh Wahana Cinta Hutan Persada, salah satu organisasi konservasi dan pemerhati Cikuray menyebutkan, alih fungsi dan rusaknya hutan Cikuray terjadi sejak tahun 2002 hingga sekarang.

“Rusaknya hutan lindung di Cikuray sejak dibongkarnya kebun teh yang kini disebut tanah carik bagi 23 desa yang berada di 2 kecamatan, yaitu Bayongbong dan Cigedug. Lahan tersebut dikonversi jadi lahan pertanian hingga kini. Selain tanah carik, segelintir warga yang tidak bertanggung jawab malah merambah kawasa hutan lindung yang dikelola Perhutani.
Iman Tasdik menyayangkan, hal itu seolah dibiarkan oleh Perhutani.

“Malah, berdasarkan informasi yang kami terima, warga yang merambah hutan mengaku menyewa lahan kepada Perhutani,” Kata Iman Tasdik, Ketua Wahana Cinta Hutan Persada, Minggu (30/10/ 2016).

Ini menjadi sebuah ironi, lanjut Iman, ketika Perhutani yang seharusnya melindungi dan menjaga kondisi hutan agar tetap hijau malah membiarkan hutan rusak, yang parahnya lagi mereka malah mengambil keuntungan dengan menarik sejumlah uang dari warga yang merambah hutan. Ratusan hektare area tangkapan air Cikuray kritis dan menyebabkan puluhan sumber mata air mengering.

“Perhutani harusnya mengedepankan keseimbangan alam dan menjaga hutan agar tidak rusak, bukan malah menyewakannya. Dari catatan kami dari puluhan sumber mata air yang di Cikuray kini hanya da 2 mata air saja yang masih mengalir, yaitu Cinaniwung dan Ciburuy yang dimanfaatkan oleh warga desa Pamlayan Kecamatan Bayongbong, sedangkan sisanya sudah tidak mengeluarkan air akibat rusaknya hutan di area tangkapan air”, ungkapnya.

Ditegaskannya, Gunung Cikuray merupakan salah satu daerah hulu sungai Cimanuk. Di gunung ini terdapat ratusan lembah membentuk aliran sungai yang bermuara ke sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat iitu. (Agus Muhram)***

Editor: Kang Cep.

SMP dan SMK Persada “Ngaruat Jeung Ngarawat Gunung Cikuray”

BAYONGBONG, (GE).- Kejadian Banjir Bandang yang diakibatkan meluapnya Sungai Cimanuk menjadi bencana terbesar yang pernah terjadi di Kabupaten Garut. Salah satu penyebabnya disinyalir telah terjadi kerusakan hutan di area hulu Sungai Cimanuk akibat alih fungsi lahan hutan lindung dan penyalahgunaan area hutan konservasi.

Seperti halnya yang terjadi di Gunung Cikuray. Sebagian besar lahan hutan lindung di gunung ini kritis akibat perambahan dan alih fungsi. Hal tersebut mengundang keprihatinan organisasi pemerhati lingkungan Wahana Cinta Hutan Persada sehingga melakukan penanaman 1000 pohon di sana.

Ketua Wahana Cinta Hutan Persada, Iman Tasdik mengatakan, kegiatan penanaman pohon tersebut sebetulnya bukan kali pertama dilakukan di Cikuray. Sejak tahun 2003 bersamaan didirikannya SMP Persada, ia bersama dengan elemen masyarakat pecinta lingkungan dan siswa sekolahnya sudah melakukan konservasi lahan kritis di beberapa titik di Cikuray.

“Sejak tahun 2003 kami anak desa bersama Wahana Cinta hutan Persada, siswa/i SMP dan SMK Persada sudah bertindak nyata dengan melakukan penanaman pohon di lahan2 kritis secara swadaya dan berkelanjutan,” kata Iman Tasdik yang juga kepala SMK Persada Bayongbong disela acara, Minggu (30/10/2016).

Dengan mengusung tema Ngaruat jeung Ngarawat Gunung Cikuray, Wahana Cinta Hutan Persada bekerjasama dengan pemerintah Desa Pamalayan, Muspika Kecamatan Bayongbong dan ratusan aktivis lingkungan. Kegiatan tesebut secara simbolis Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar memberikan bibit pohon kepada siswa SMP Persada, dan peserta penanaman pohon dari berbagai elemen pecinta lingkungan di komplek SMP dan SMK Persada Bayongbong.

“Alhamdulillah pada kesempatan kali ini penanaman pohon di area kritis Cikuray di pimpin dan dihadiri langsung oleh Pa Wagub, H. Deddy Mizwar yang berkenan berkunjung dan membuka secara resmi kegiatan ini. Kehadiran beliau menjadi motivasi dan semangat bagi kami kian bertambah untuk terus konsisten dalam upaya pelestarian dan menjaga keseimbangan alam,” ungkap Herdy Mulyana, Kepala SMP Persada Bayongbong.

Pada acara penanaman 1000 pohon tersebut turut hadir Bupati Garut Rudy Gunawan unsur SKPD Garut, Muspika Kecamatan Bayongbong serta tokoh Masyarakat. (Agus Muhram)***

Editor: Kang Cep.