Sidang Lanjutan Kasus Gugatan Anak kepada Ibu Kandung Rp 1,8 Miliar. Majelis Hakim Kembali Meminta Kedua Pihak Berdamai

GARUT, (GE).- Sidang ketujuh kasus gugatan perdata sebesar Rp 1,8 miliar yang diajukan seorang anak dan menantu kepada ibunya, kembali digelar di Pengadilan Negeri Garut, Kamis (6/4/17). Ketua Majelis Hakim, Endratno Rajamai, kembali mengimbau kedua belah pihak agar melakukan upaya damai dan kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan sebelum putusan pengadilan.

“Di sini majelis tetap mencoba mendamaikan dulu, sebelum jatuh putusan. Karena kan ini urusan keluarga, bagaimanapun pasti bisa diselesaikan secara kekeluargaan,” ujar Endratno.

Persidangan sendiri dimulai sekira pukul 10.15 WIB. Agenda sidang, penambahan bukti-bukti gugatan. Pada sidang kali ini, penggungat kembali tidak menampakkan batang hudungnya. Mereka hanya diwakili oleh kuasa hukumnya, sedangkan dari pihak tergugat dua, Asep Rohendi, hadir di ruang sidang.

Kedua pihak langsung memberikan bukti-bukti kepada majelis hakim. Dari pihak tergugat, tim kuasa hukum memberikan bukti berupa rekam medis dari dokter yang menyatakan saat Siti Rohaya (83) menandatangani surat pengakuan berutang pada tahun 2016 tersebut dalam keadaan sakit. Sementara dari pihak penggugat, dua orang saksi yang diminta dihadirkan, batal datang dengan alasan sibuk.

Dalam persidangan tersebut, kuasa hukum penggugat menyampaikan, pihaknya tetap mempertanyakan uang Rp 20 juta yang katanya dipinjam oleh Asep Rohendi dan diberikan secara tunai.

Menanggapi pernyataan tersebut,  Asep langsung membantah. Ia tetap menolak jika dirinya disebut menerima uang tunai yang ditudingkan kepadanya.

“Saya kan enggak menerima. Tadi saya disuruh jelaskan sama majelis. Bagaimana saya mau menjelaskan kalau saya tidak menerima. Kan saya bingung mau jawab apa,” jelas Asep Rohendi kepada wartawan usai persidangan.

Sidang akan kembali dilanjutkan Kamis (12/4/17), dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari kedua belah pihak. Pihak tergugat, berencana akan menghadirkan saksi dari Rumah Sakit RSUD dr. Slamet Garut, yang menangani penyakit yang diidap Siti Rohayah. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Lanjutan Sidang Kasus Anak Menggugat Ibu Kandung Rp 1,8 Miliar. Majelis Hakim : Kita Lahir dari Siapa? Surga di Telapak Kaki Ibu!

GARUT, (GE).- Majelis Hakim Pengadilan Negeri Garut, Jawa Barat, menyarankan Handoyo Adianto (47), berdamai atau mencabut gugatannya kepada Siti Rohaya (83).

“Majelis hanya mau menggugah penggugat dan tergugat. Ini bukan masalah yang prinsipil. Semua masih memiliki hubungan darah. Lebih baik islah,” ujar ketua Majelis Hakim Endratno Rajamai, di ruang Sidang Pengadilan Negeri Garut, Kamis (30/3/17).

Menanggapi saran majelis hakim, Handoyo mengaku tidak ada masalah dengan keluarga mertuanya.

“Hubungan kami masih baik. Saya ingin perkara ini tuntas,” ujarnya di hadapan Majelis Hakim dan disambut riuh para pengunjung sidang.

Handoyo mengaku munculnya kasus ini karena pihak tergugat tidak memenuhi perjanjian yang telah disepakati. Selain itu, dirinya dianggap melakukan penipuan oleh tergugat.

Namun begitu, kata Handoyo, bila menang dalam gugatan ini, separuh hasilnya akan diberikan kepada mertuanya.

“50 persen akan kami dedikasikan buat ibunda tercinta,” ujarnya.

Pernyataan Handoyo tidak begitu ditanggapi Majelis Hakim. Malah, Majelis meminta penggugat merenungkan kembali upayanya tersebut.

“Saya harap ada perdamaian sebelum terjadi putusan,” ujar Endratno.

Menurut Endratno, masalah utang piutang memang harus diselesaikan. Namun bila dapat diselesaikan secara musyawarah, akan lebih baik. Apalagi para pihak yang terlibat memiliki hubungan darah atau keluarga.

Endratno meminta agar para penasehat hukum lebih proaktif dalam mendampingi para kliennya. Selain itu juga para penasehat hukum diharapkan memberikan saran yang lebih baik lagi.

“Harta masih dapat kita cari, kalau orang tua sudah murka mau bagaimana. Kita lahir dari siapa, surga di telapak kaki ibu,” ujarnya dengan nada meninggi.

Persidangan sendiri akan kembali gelar pekan depan dengan agenda pemeriksaan bukti-bukti dari kedua belah pihak. Alasannya, karena pada persidangan kali ini kedua belah pihak belum menyampaikan seluruh bukti. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Soal Anak Memejahijaukan Ibu Kandung. Keluarga Menilai Gugatan Yani Salah Alamat

GARUT, (GE).- Gugatan Yani Suryani beserta suaminya, Handoyo Adianto, kepada Siti Rokayah (83), dinilai pihak keluarga salah alamat. Pasalnya, masalah utang-piutang itu seharusnya ditujukan kepada kakak Yani, Asep Ruhendi.

Juru bicara keluarga Siti Rokayah, Eef Rusdiana, mengatakan, permasalahan tersebut seharusnya ditujukan kepada Asep Ruhendi, anak Amih yang nomor enam. Eef menjelaskan, pada 2001 Asep meminjam uang kepada Handoyo dan Yani sebesar Rp 40 juta.

“Uang itu akan digunakan untuk melunasi kredit macet rumah Asep di salah satu bank sebesar Rp 40 juta. Yani memang menjanjikan memberi dana talangan,” kata Eef, Rabu (29/3/17).

Dana talangan itu, terang Eef, kemudian ditransfer oleh Yani kepada Asep sebesar Rp 21,5 juta. Sisanya akan diberikan berbarengan dengan membayar kredit macet dan membayar sertifikat.

“Jadi, Asep hanya merasa punya utang Rp 21,5 juta. Yang sisanya, Rp 20 juta lagi, tak pernah merasa menerima. Cuma Handoyo menyebut sudah memberikan secara tunai sebesar Rp 20 juta kepada Amih dan Asep,” ujarnya.

Jika pun Amih menerima uang tersebut, tutur Eef, pasti akan diingat. Uang sebesar Rp 200 ribu pemberian putri kesembilannya itu untuk ongkos pulang dari Jakarta saja masih diingat Amih hingga kini.

“Karena kalau merasa meminjamkan Rp 40 juta, sertifikatnya pasti ada di Yani. Intinya Yani lawan Asep, bukan Amih. Masalahnya, dari selisih itu yang harus diluruskan,” katanya.

Eef menilai, gugatan Handoyo dan Yani sebesar Rp 1,8 miliar merupakan hal yang di luar nalar. Dari informasi yang diterimanya, jika uang Rp 41,5 juta dikelola sendiri hingga kini atau dikali harga emas bisa menghasilkan Rp 640 juta. Sedangkan Rp 1,2 miliar merupakan tuntutan immaterial.

“Oktober 2016 Yani sembunyi-sembunyi datang ke rumah Leni, anak bungsu Amih. Di situ malah terjadi penandatanganan surat pengakuan utang Amih sebesar Rp 41,5 juta,” ucapnya.

Eef menerangkan, dirinya sudah berkali-kali mengupayakan mediasi. Namun upaya tersebut tak berhasil. Meski menghadapi gugatan, Amih tetap tegar dan tak perlihatkan rasa kesalnya.

“Tak pantas ibu kami diperlakukan seperti itu. Secara etika, miris,” ujarnya. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Soal Gugatan Anak kepada Ibu Kandung. Nitizen Pertanyakan Bupati Garut

GARUT, (GE).- Kasus viral gugatan perdata anak kepada ibu kandungnya di Kabupaten Garut, Jawa Barat, tak pelak menimbulkan berbagai komentar di media sosial. Umumnya komentar bernada menghujat sang anak yang telah tega memejahijaukan ibu yang selama 13 tahun membesarkannya sendirian.

Namun, banyak pula yang malah akhirnya mempertanyakan sikap Bupati Garut, Ruddy Gunawan, yang belum pernah sekalipun menyambangi Siti Rohaya (83), sang ibu yang dimejahijaukan anak kandungnya sendiri. Pertanyaan itu muncul setelah Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, justru yang lebih dulu memberikan bantuan uang dan bahkan menyambangi langsung ke kediaman Siti Rohaya di Garut untuk memperlihatkan rasa empatinya, Sabtu (25/3/17) malam.

“Yang penting niat baiknya! Jangan melihat dari sudut pandang sempit sebuah pencitraan!! Nuhun Kang Dedi!! Ari bupati garut kamana nya? Di garut aya anggota DPRD kitu? Atanapi tos baronge?? Gawe naon atuh maraneh teh!!” tulis warga Garut dengan nama akun Iman Tasdik di laman facebooknya.

Status yang diunggah Iman Tasdik pun langsung mendapat komentar nitizen lain. Di bawah ini sebagian dari komentar nitizen yang menimpali status Iman Tasdik.

Dunk Garut : naha,,,,pajabat garut,,,,te marampuh,,,kitu,,,

Stugart Bass Clef : Di garut mah tos loba nu maraot kang, teu baronge ngan emang eweuh gawe wehh……nganggur ngan nyokotan duit rakyat weh

Denny Baron Oi : Sok araraneh wae garut mah….gerak atuh bupati garut…..

Juragan Bako Kurniawan : Ah… boboraah inget ka rahayatna…nu aya mah keur sibuk babanda

Cecep Suhendar : Kang Iman Tasdik emang garut aya bupatian kitu? Saha kang ngarana??

Yayat Hikmat : Nuju ngantosan amplop kang kanu mejana… teu aya wae… jd we ngabarigeu… doraka ti kolot jg na mah jd we ngabaratu….

Thomas Sugihartono : Nuju babagi dana banjir nu kamari … wkwkwk

Andri Gunadi : Sumpah kang, era jd warga Garut

Manz BinaAl Ranggarut : Asa di popokan ku e’e nyalira kang abi sebagai warga garut

Dwi Feb : Make diparilih atuh ari euweuh gawe na mah. (SMS/GE)***

Upaya Mediasi Sengketa Anak dan Ibu Kandung. Dedi Mulyadi : “Kalau sampai Rp 1,8 Miliar itu tidak Logis!”

GARUT, (GE).- Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, mengaku prihatin atas gugatan hukum yang dilakukan seorang anak terhadap ibu kandungnya sendiri di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sebab, menurut politisi yang juga budayawan itu, ibu adalah sosok yang memiliki kemuliaan sangat tinggi. Karena itu, seharusnya kemuliaan seorang ibu dijunjung tinggi terutama oleh anaknya sendiri.

Sebagai bukti empatinya, Dedi Mulyadi, sengaja menyempatkan diri mengunjungi kediaman Siti Rohaya (83) di Jalan Cimanuk, Kampung Sanding Atas, Kelurahan Muara Sanding, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (25/3/17) malam. Bahkan, sebelum itu, Dedi mengutus anak buahnya untuk menyampaikan bantuan uang kepada Siti Rohaya. Ketika itu, diserahkan uang sebesar Rp 20 juta, sesuai nilai awal yang dianggap dipinjam Siti Rohaya dari anak kandungnya itu.

“Tapi, kalau memang mintanya Rp 41 juta, saya juga akan lunasi. Hanya kalau sampai Rp 1,8 miliar, itu tidak logis!” tandas Dedi Mulyadi kepada “GE”, Minggu (26/3/17).

Lebih jauh Dedi mengungkapkan, semula berniat memediasi persetruan anak dan ibu kandung ini. Hanya saja, sampai sekarang ia belum dapat menghubungi Yeni Suryani dan suaminya yang menetap di bilangan Jakarta Timur.

“Saya coba kontak dulu melalui telepon, tidak pernah diangkat. Padahal hpnya aktif. Tetapi, anehnya kalau dikontak oleh wartawan, selalu diangkat dan dia mengatakan siap dimediasi oleh saya,” terang Dedi.

Seperti diberitakan sebuah portal berita, Yeni Suryani mengaku sangat senang dan siap dimediasi persoalannya oleh Dedi Mulyadi. Bahkan, katanya, ia menantikan momentum ini agar bisa bertemu dan menyalami ibu kandung yang telah dihadapkannya ke meja hijau.

Tetapi, lanjut Dedi, itu hanya ungkapan kepada wartawan. Buktinya, beberapa kali ia coba hubungi langsung lewat telepon genggamnya tidak pernah diangkat.

“Ini masalah keluarga, bisa diselesaikan dengan kekeluargaan. Seharusnya gak usah sampai ke pengadilan,” kata Dedi, menanggapi gugatan Rp 1,8 miliar yang dilakukan Yani Suryani beserta suaminya Handoyo Adianto, terhadap Siti Rohaya, ibu kandungnya sendiri.

Kasus gugatan perdata itu sendiri sudah memasuki proses persidangan keenam di Pengadilan Negeri Garut. Namun, pada persidangan Kamis (23/3/17), kedua pihak baik penggugat maupun tergugat tidak hadir di ruang sidang. Mereka hanya diwakili oleh kuasa hukumnya masing-masing. (Sony MS/GE)***