Bupati Akui Pembangunan Dua Gedung PKL Gagal

GARUT, (GE).- Pembangunan dua gedung PKL senilai Rp 3 miliar diakui Bupati Garut, Rudy Gunawan sebagai upaya yang yang gagal untuk mengatasi PKL. Padahal gedung yang didirikan di Jalan Guntur, Kecamatan Garut Kota dinilai strategis untuk berjulan.

“Saya akui bahwa program Gedung PKL gagal, padahal itu tempatnya strategis,” katanya, Senin (7/8/17).

Diakuinya, dua gedung yang dibangun di Jalan Guntur tersebut tidak mampu menarik PKL di Jalan Ahmad Yani atau Pengkolan kawasan perkotaan Garut. Sebelumnya, gedung PKL yang dibangun dari dana APBD Garut sebesar Rp 3 miliar itu dibangun untuk mengatasi persoalan para pedagang yang melanggar peraturan daerah.

“Meskipun gagal (Gedung PKL) diramaikan, pemberdayaan pedagang di Jalan Ahmad Yani (Pengkolan) tetap diproses dalam penegakan hukumnya,” tukasnya.

Menurutnya, kegagalan pembangunan Gedung PKL tersebut akibat berbagai faktor. Salah satunya persoalan masyarakat yang daya belinya masih rendah. Sementara itu, penggunaan Gedung PKL tetap akan digunakan untuk pedagang.

Selain itu, pemerintah daerah sesuai ketentuan program pemberdayaan ekonomi telah memberikan 200 gerobak untuk pedagang kreatif jalanan. “Ya, ada 200 gerobak kita berikan untuk pemberdayaan pedagang,” katanya. (Tim GE)***

Tali Kincir Putus, Pengunjung Hiburan Rakyat di Gedung PKL Histeris

KOTA, (GE).- Teriakan histeris dan tangisan anak-anak langsung pecah saat hiburan rakyat berlangsung, Senin (17/10/2016) malam berlangsung. Pengunjung merasa khawatir akibat tali pada bagian pemutar kincir angin tiba-tiba putus.

Para pengunjung yang sedang menikmati hiburan pun langsung panik dan berhamburan. Bahkan teriakan semakin membuncah saat sejumlah anak yang sedang berada di dalam kincir angin terjebak. Meski suasana kepanikan menyelimuti jalannya hiburan namun dengan cekatan para petugas penyelenggara hiburan menyelamatkan satu persatu orang yang masih terjebak dalam kincir angin.

“Saya kaget saat kincir angin berputar tiba-tiba berhenti dan arah putarannya berbalik,” kata Rini (23) saat ditemui dilokasi kejadian, Senin malam (17/10/2016).

Rini mengaku, naik kincir angin bersama anak dan adiknya yang masih berumur 9 dan 3 tahun. Saat peristiwa tersebut terjadi, kata Rini, anak dan adiknya menangis histeris.

“Untung saja waktu itu, petugas cekatan mengeluarkan pengunjung yang terjebak di dalam kincir angin,” aku Rini.

Masih menurut Rini, saat itu suasana hiburan sedang ramai. Bahkan kincir angin yang ditungganginya hampir penuh. Maklum saja, lokasi tempat hiburan rakyat tersebut cukup strategis karena ada di tengah kota tepatnya di Gedung Intan Medina atau yang biasa disebut gedung PKL.

Pengunjung lainnya, Irma (27), mengaku trauma pascaperistiwa putusnya tali pengikat kincir angin tersebut. Saat itu ia merasakan jantungnya hampir copot. Apa lagi saat kincir angin berputar berbalik arah rasanya mau jatuh.

“Lihat kaki saya masih gemetaran. Ampun kapok,” teriaknya sambil berlalu.

Sampai berita ini diturunkan tak ada satu orang pun dari pihak pengelola yang mau dimintai keterangan tentang peristiwa putusnya tali kincir angin yang membahayakan itu. Meski sempat terjadi peristiwa menghebohkan, namun hiburan rakyat tersebut terus berjalan sampai larut malam. (Farhan SN)***