Pemkab Garut Gagal Kendalikan Gas 3 Kg

SEJAK memasuki bulan Ramadan harga gas 3 Kg terus naik. Saat ini harganya sampai Rp30.000 di tingkat eceran. Padahal biasanya warga membeli gas melon ini hanya berkisar Rp18.000. Akibat langka dan mahalnya gas melon ini, sejumlah warga rela berdesakkan di SPBU kawasan Ciateul untuk membeli gas dengan harga murah.

“Kalau di warung eceran harganya sudah sampai Rp30.000 kalau di sini masih normal Rp16.500,” kata Esih (39) saat ditemui di SPBU di kawasan Ciateul, Kecamatan Tarogong Kaler, Garut, Jawa Barat, Jumat (9/6/17).

Esih mengaku dirinya sudah mengantre sejak pagi untuk mendapatkan gas 3 Kg. Namun sampai mau buka puasa gas 3 Kg tak kunjung datang.

Menurutnya, kelangkaan gas 3 Kg, sudah terjadi sejak dua pekan yang lalu, mulai dari pangkalan sampai dengan pengecer. Ia berharap pemerintah segera turun tangan atasi mahal dan langkanya gas 3 Kg. Jangan sampai orang-orang yang punya modal mempermainkan kepentingan rakyat kecil.

“Dulu saya baca nerita katanya Pemkab Garut siap jamin ketersediaan gas tapi nyatanya tetap sulit. Kalau begitu mereka sudah gagal, ” ujar Esih dengan nada kesal.

Hal senada diungkapkan, Imas (25). Dirinya sengaja datang ke SPBU karena gas 3 Kg menghilang dari warung dan toko dekat tempat tinggalnya.

“Saat mencari ada informasi kalau di SPBU ada, ya langsung saja datang, tetapi pas datang harus menunggu dahulu. Lantaran stok yang ada sudah habis dibeli warga lainnya,” cetusnya.

Enung menuturkan, kebutuhan gas 3 Kg, selama bulan puasa memang sangat meningkat, lantaran kebutuhannya untuk memasak baik buka atau sahur setiap harinya, berbeda dengan hari-hari biasa.

Ia berharap ketersefiaan gas 3 Kg bisa kembali normal jelang hari raya idul fitri. Pasalnya kebutuhan untuk memasak akan semakin meningkat.

Menurutnya peran pemerintah sangat diharapkan untuk menjamin stabilitas kebutuhan gas 3 Kg. Jika dibiarkan sesuai permintaan pasar tentunya akan dipermainkan oleh para pemilik modal yang memasok gas 3 Kg ini.

“Aneh gas 3 Kg ini kan subsidi tapi dalam pendistribusiannya dilakukan secara bebas. Jadi tolong diprioritaskan bagi keluarga yang kurang mampu, ” harapnya. (Farhan SN)***

Warga Garsel Keluhkan Tingginya Harga “Si Melon” Jelang Ramadhan

GARUT, (GE).- Menjelang tibanya bulan suci Ramadhan 1437 H – 2017, warga di kawasan Garut Selatan (Garsel) mengeluhkan tingginya harga gas 3 kg (Si Melon). Untuk harga di tingkat pengecer harga gas 3 kg bisa mencapai Rp 29 ribu hingga Rp 30 ribu per tabung. Di hari biasa harga gas bersubsidi ini biasa di banderol Rp 21 ribu sampai Rp 23 ribu per tabung.

Siti (40) salah seorang warga Kampung Rancabuaya, Desa Purbayani, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut mengaku dipusingkan dengan kondisi ini. Terlebih jelang Randhan kerap hampir semua kebutuhan pokok naik dario biasanya.

“Pokoknya mah lieur. Pasti kalau menjelang Ramadhan semua pada naik, sembako naik, dan sekarang gas 3 Kg mulai naik juga. Sudah naik, gas ukuran 3 Kg ini juga sekarang mah cepat habis,” keluhnya, Jumat (19/5/17).

Sementara itu, Oma Sutisna (45)  pemilik pangkakan gas di Kampung Bojong, Desa Purbayani, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut mengakui kenaikan tersebut memang sudah biasa menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.

“Ya, kalau menjelang Ramadhan dan Idul fitri mah sudah biasa semuanya pada naik. Untuk di pangkalan , kami menjualdengan harga Rp 22 ribu per tabung. Ongkos oprasional juga jadi salah satu alasan kenaikan harga gas ini,” ungkapnya.

Dikatakannya, pemilik pangkalan di kawasan Garut selatan sendiri untuk saat ini membeli gas 3 kg sebesar Rp 15 ribu per tabungnya.

Warga berharap pemerintah segera menertibkan harga gas ini, sehingga bisa meringankan beban masyarakat. Bagi masyarakat dengan ekonomi di bawah standar, tentu kenaikan gas 3 kg memberatkan.

“Bagi saya, sebagai warga yang pas pasan tentunya kenaikan harga gas ini sangatlah memberatkan. Saya berharap pemerintah segera membantu menertibkan harga gas ini, khsusnya di tingkat pengecer,” tutur Siti. (Deni Permana/ GE)***

Editor: Kang Cep.

Warga Garsel Kesal, Si Melon Masih Mahal dan Sulit Didapat

SINGAJAYA,(GE).- Pascalebaran Iedul Fitri 1437 H, gas elpiji ukuran 3 Kg (Si Melon) di beberapa kawasan Kabupaten Garut masih mahal, selain mahal gas bersubsidi ini sulit pula didapat. Pengecer saat ini di beberapa wilayah dijual pada kisaran harga Rp 30 ribu per tabung, bahkan lebih. Misalnya, di Garut selatan (Garsel) harganya mencapai Rp 37 hingga Rp 40 ribu per tabungnya.

“Ya, di desa Kami (Desa Pancasura/ red.) harganya mencapai Rp 37 ribu per tabung,” ungkap Saefulloh, yang merupakan Kepala Desa Pancasura, Kecasmatan Singajaya, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ahad (10/7/ 2016).

Diungkapkannya, selain mahal Si Melon juga sangat sulit didapat. Kondisi ini tentunya membuat warga setempat kesal. Untuk mendapatkannya, bahkan, sejumlah warga ada yang mencari gas elpiji ke wilayah Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

“ Ada sebagian warga terpaksa harus menempuh jarak sekitar 20 km untuk mendapatkan gas elpiji ukuran 3 kg. Harga gas elpiji di wilayah Garut selatan terus berubah. Saat dipertengahan bulan puasa, harga gas elpiji jatuh di kisaran Rp 30 ribu sampai Rp 32 ribu pertabung.” Jelasnya.

Sementara itu di wilayah Garut utara keberadaan Si Melon Juga sempat tidak stabil, dan membuat kesal warga. Harganya melambung tinggi hingga jatuh di kisaran Rp 30 ribu pertabung.

“Bagaimana pemerintah ini, mengatasi gas elpiji saja tidak bisa. Kami benar-benar dibuat pusing dengan harga dan kelangkaan gas 3 Kg ini,” tutur Omis (50), warga di sekitar Kecamatan Leuwigoong.

Akibat langka dan sulitnya gas 3Kg ini, sebagian warga di wilayah selatan Garut lainnya, malah ada yang sudah beralih menggunakan kayu bakar untuk memasak.

“Pusing pokoknya kalau sudah begini. Mana di saat Lebaran banyak sanak saudara yang bersilaturahmi. Mana perhatian pemerintah. Apa boleh buat kita gunakan tungku seadanya dan kayu bakar seadanya pula,” tutur Bahtiar (47), warga di Kecamatan Bungbulang. (Tim GE)***

Hebat! Kades Jayaraga Pimpin Langsung Distribusi Gas 3 Kg

TARKID, (GE).- Langkah nyata dilakukan Kepala Desa Jaya Raga Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut untuk mengatasi kelangkaan gas 3 Kg. Tanpa ragu-ragu, ia terjun ke lapangan untuk mengkondisikan kelangkaan gas 3 Kg di wilayahnya.

Selasa (14/6/2016), warga Jayaraga berbondong-bondong membeli gas 3 Kg yang disediakan oleh pihak Desa Jayaraga. Bahkan, pihak desa menjaual gas 3 Kg kepada warga jauh di bawah harga pasaran saat ini.

“Alhamdulilah saya bisa membeli gas 3 Kg dengan harga murah. Saya beli di sini Rp 16 ribu. Padahal kalau beli di warung harganya mencapai Rp 25 ribu,” ujar Omen (42), saat ditemui di Balai Desa Jayaraga.

Sementara itu, Kepala Desa Jayaraga, Kusna, mengatakan pendistribusian secara langsung dilakukan setelah menerima laporan sejumlah warga yang sulit memperoleh gas 3 Kg. Kebetulan, kata Kusna, di Desa Jayaraga ada salah satu agen gas yaitu Asgaraya. Untuk mengatasinya ia bekerjasama dengan agen gas tersebut untuk menyalurkan gas 3 Kg kepada masyarakat secara langsung.

“Operasi seperti ini akan terus dilakukan untuk mengantisipasi kelangkaan gas di jayaraga. Saya akan berupaya sekeras mungkin untuk menjamin ketersediaan gas di wilayah hukum saya,” ungkapnya.

Dari pihak Asgaraya sendiri, Drs. H. Surahmat, mengatakan ketersediaan gas sebenarnya normal seperti hari-hari biasanya. Namun karena ada pembelian di luar kuota maka stok gas cepat habis.

Dirinya berjanji akan terus membantu pihak desa untuk menjamin ketersediaan gas 3 Kg. Bahkan dirinya pun mematok harga penjualan saat operasi pasar bersama Desa Jayaraga Rp 16 ribu. Harga tersebut jauh dari pasaran yang mematok Rp 25 tiap tabungnya.

Langkah konkrit yang dilakukan Kades Jayaraga dan Asgaraya mendapat apresiasi positif dari tokoh masyarakat Jayaraga. Dr. H. Syakur Amin menyampaikan apresiasiatas atas langkah Kades Kusna tersebut.

“Upaya taktis dari serorang pemimpin seperti inilah yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Dengan memaksimalkan potensi yang ada diwilayah desa. Sebenarnya rakyat butuh pemimpin yang memberikan solusi dan inovatif, semoga langkah ini bisa ditiru oleh kades atau pemimpin lain,” ujarnya. (Farhan SN)***

Pemkab Tak Berdaya Kendalikan “Si Melon,” Warga Makin Kesal

KOTA, (GE).- Sejak dua pekan terakhir selain langka, harga gas elpiji 3 Kg (Si Melon) di Kabupaten Garut semakin tak terkendali. Kondisi ini tentu membuat masyarakat makin kesal. Sejumlah warga menilai tingginya harga gas bersubsidi ini seolah menandakan ketidakmampuan pemerintah dan pihak terkait.

Berdasarkan pengakuan sejumlah masyarakat pengguna gas 3 Kg di beberapa wilayah di Kabupaten Garut, harga bahan bakar bersubsidi ini sudah di luar batas harga normal. Harga gas yang tak terkendali ini tentunya sangat memberatkan warga. Bagaimana tidak, dari pantauan di lapangan harga terpantau mulai dari Rp 23.000, Rp 25.000, Rp 28.000 per tabungnya. Bahkan, di salah satu kawasan Bayongyong, harga gas yang biasanya dibanderol Rp 20.000 an melonjak hingga Rp 33.000 per tabungnya.

Selain harganya yang mahal, warga juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan “Si Melon” ini. Bebeberapa agen dan pedagang mengaku stok barang minim dan distributor mengurangi pendistribusiannya ke agen agen.

“ Kalau gak salah, dalam teori ekonomi, nilai suatu barang akan cenderung naik apabila: 1. permintaan lebih besar dari pada persediaan/ stok barang. Terus maksud dari ungkapan “persediaan stok aman” tapi harga naik, bagaimana itu? Pusing jadinya… Pemerintah sepertinya hanya menonton saja. Gak punya solusi untuk mengatasi kesulitan masyarakat ini!” Tutur Agus, salah seorang warga di kawasan Bayongbong dengan nada kesal.

Ditengah tingginya harga kebutuhan pokok masyarakat ini, tampaknya pengusaha dan Pemkab Garut seolah saling tuding. Mereka beralasan, selepas dari pangkalan harga gas diluar tanggung jawabnya.

Sementara itu, Sobur yang merupakan Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswanan Migas) Kabupaten Garut, mengatakan, terjadinya gejolak harga gas 3 Kg ini merupoakan di pengecer yang sulit dikendalikan.

“Sebetulnya yang sekarang jadi dilema itu di pengecer. Soalnya kami (Hiswana Migas/ red) dengan Pertamina itu hanya bisa menindak di pangkalan. Ya kalau sudah di luar pangkalan itu yang agak susah sebetulnya itu kebijakannya ada di Pemda (Pemerintah Daerah),” kilahnya.

Sementara, Pemkab Garut melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) juga menyampaikan sikap yang tak jauh beda. Diakuinya, Pemkab Garut tak mampu mengawasi jual beli gas 3 Kg hingga sampai di tangan masyarakat.

“Kelihatannya yang bermasalah dari pangkalan ke warung. Kalau sampai di pangkalan itu aman, hanya setelah dari pangkalan ke lapangan kan kita susah memonitornya. Kita hanya bisa memonitor.” Tutur Wawan Nurdin, yang merupakan Kadisperindag Kabupaten Garut, Sabtu (4/6/2016).

Dikatakannya, jika ada laporan resmi dari masyarakat terkait lonjakan harga gas ini, pihaknya akan memanggil masing-masing pangkalan agen. “Kalau ada laporan resmi terkait hal ini, kita akan panggil pihak pihak terkait dan di BAP. Setelah disimpulkan kita panggil Hiswana Migas,” tukasnya. (Idrus Andriawan)***

“Si Melon” Kembali Langka, Masyarakat Dibuat Jengkel

KOTA,(GE).- Sepertinya sudah tradisi, menjelang ‘marema’ atau menghadapi hari – hari besar keberadaan ‘Si Melon’ atau gas ukuran 3 Kg kerap langka. Seperti halnya menjelang masuknya bulan suci Ramadhan tahun ini (2016). Dari pantauan ‘GE’ di sekitar Kecamatan Karangpawitan, Garut kota dan sekitarnya dalam seminggu terakhir gas yang katanya bersubsidi ini mulai sulit didapat.

“Ah, pokonya jengkel ! Dalam beberapa hari ini, gas 3 Kg sangat sulit didapat. Saya kok curiga ini sengaja ditimbun oleh oknum yang ingin mendapat untung. Sementara rakyat kecil menderita,” Ungkap Didin salah seorang warga di kawasan Karangpawitan.

Sementara itu, beberapa pedagang mengaku pasokan gas 3 Kg ini memang dalam beberapa hari terkahir distribusinya dibatasi oleh agen. Dibatasinya distribusi gas 3 Kg ini menurut para pedagang tidak disertai alasan jelas dari distributornya.

“Ya, memang langka sudah beberapa hari ini, dari distributornya sendiri tidak memberikan alasan yang jelas. Dari agen kita paling dapat jatah 3 tabung saja.” Tutur Titin, salah seorang pedagang di bilangan Jalan A.Yani, Karangpawitan. Minggu (29/05/2016).

Kelangkaan gas ini tentunya disesalkan warga, terlebih para pedagang kecil yang aktivitasnya biasa menggunakan jasa ‘Si Melon.’ Warga berharap pihak terkait, termasuk Pemkab Garut segera mengatasi kelangkaan kebutuhan pokok khalayak ini, sebelum terjadi gejolak di tengah masyarakat.

“Tentu, kami berharap pemerintah. Khususnya Pemkab Garut segera mengatasi krisis gas 3 Kg ini. Jangan sampai masyarakat kehilangan kesabarannya,” harap Dadan, warga Desa Suci. (ER)***