BREAKING NEWS: Lagi, Sejumlah Titik di Kawasan Garsel Diterjang Banjir dan Longsor

GARUT, (GE).- Guyuran hujan yang melanda kawasan Garut selatan (Garsel) dan sekitarnya sejak pukul 13.00 WIB mengakibatkan genangan banjir dan longsor di beberapa titik, Sabtu (07/10/2017). Menurut laporan Kapolsek Cibalong, Kabupaten Garut, AKP Darto Mulyono, dampak dari derasnya hujan ini, salah satu kawasan di Kampung Cijreuk, Desa Sancang, Kabupaten Garut dilanda longsor.

“Ya, sekitar pukul 16.00 (WIB) longsor terjadi di Kampung Cijeruk. Belasan meter kubik tanah yang terbawa arus banjir juga menimpa dan masuk salah satu masjid,” kata Darto, melalu pesan broadcast yang dikirim ke redaksi garut-express.com, pukul 19.00 WIB, Sabtu (07/10/17).

Menurutnya, hingga saat ini guyuran hujan masih terus terjadi. Akibat hujan deras ini juga ruas jalan di kawasan Kampung Karees, Desa Sagara, Kecamatan Cibalong tertutup material longsor. “Belum ada laporan korban jiwa. Namun kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah,” katanya.

Sementara itu, dari laporan update peringatan dini cuaca Jawa Barat yang dilaporkan oleh Pusdalops PB BPBD Jawa Barat, hingga pukul 20.00 WIB, Sabtu (07/10/17), di sejumlah kawasan Jawa Barat masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang-lebat disertai angin kencang dan petir. (ER)***

BREAKING NEWS: Longsor Landa Kawasan Garsel , Sejumlah Rumah Warga Terancam Longsor Susulan

GARUT, (GE).- Intensitas hujan tinggi melanda kawasan Garut Selatan dalam beberapa hari terakhir. Akibat curah hujan tersebut sejumlah kawasan dilanda longsor. Selain di kawasan Cisompet, longsoran tanah kembali melanda kawasan Kampung Cikelentong, Desa Mekartani kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut, Minggu (01/10/17). Akibatnya, sejumlah rumah warga di kawasan tersebut terancam longsor dan tanah bergerak.

Longsor melanda kawasan Kampung Cikelentong, Desa Mekartani kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut, Minggu (01/10/17).

Rudi Suryadi (40) warga setempat mengungkapkan, wilayah kecamatan Singajaya diguyur hujan cukup deras sejak Sabtu siang hingga Minggu pagi (1/10/17).

“Ya, hujan deras dari Sabtu kemarin hingga sekarang juga masih (Minggu, 1/10). menyebabkan longsor hingga mengancam rumah warga di RT 02 RW 08 yaitu rumah Aen, Tono, Ila, dan rumah Asep,” katanya, Minggu (1/10/17).

Dikatakannya, akibat kejadian tersebut beruntung tidak sampai menelan korban jiwa. Hanya saja warga sekitar mengaku khawatir terjadi longsor susulan karena hujan masih terus mengguyur.

“Alhamdulillah semua pemilik rumah selamat, cuman mereka takut longsor susulan, soalnya hujan belum berhenti juga, sementara itu warga sekitar mencoba membantu dengan alat seadanya”, tuturnya. (Agus Muhram)***

Editor: Kang Cep.

 

Sepuluh Tahun DOB Garsel Diperjuangkan, Hasilnya Belum Jelas

GARUT,(GE).- Sepuluh tahun sudah Daerah Otonomi Baru (DOB) Garut Selatan (Garsel) diprjuangkan. Namun hingga saat ini belum ada titik terangnya. Ketidakjelasan DOB Garsel ini ditenggarai akibat adanya moratorium dari pemerintah pusat.

Diakui Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, pihaknya terus nerupaya mendorong pemerintah pusat membuka keran moratorium DOB. Jika melihat wilayah Garut yang luas, dengan 42 kecamatan, dinilai sudah layak untuk dimekarkan.

“Tadi saya hadir dalam Forum Komunikasi Nasional Percepatan Pembentukan DOB (Forkonas PP DOB) di Gedung MPR/DPR. Dalam forum itu dibahas tentang pembentukan DOB di seluruh Indonesia,” kata Wabup, Senin (21/8/ 17).

Helmi mengungkapkan, dalam forum tersebut dibahas kesepakatan agar tahun ini (2017) ada DOB yang dibentuk. Menurut catattan, Garut menjadi salah satu dari 22 daerah yang diprioritaskan.

” Dalam Forkonas PP DOB mendorong agar DOB segera dibentuk. Garut juga terkena moratorium dan minta segera dicabut,” tukasnya.

Menurutnya, sudah 10 tahun DOB Garsel diperjuangkan. Berdasarkan hasil kunjungan DPD RI, Garut memang sudah selayaknya memiliki DOB. Hasil analisis dari DPRD Kabupaten Garut dan DPRD Provinsi Jabar juga sudah menyepakati pembentukan DOB Garsel.

“Analisis di daerah sudah ada kesepakatama. Garut layak punya DOB yakni Garsel,” tandasnya.

Wabup menyebut, dari 300 lebih pengajuan DOB, Garut masuk ke dalam 22 daerah prioritas. Pihaknya pun kini masih menunggu keputusan DOB dari pemerintah pusat.

“Ada yang 22, 65, 88, dan 314 (prioritas) DOB itu. Nah Garut itu masuk ke yang awal (22 daerah prioritas DOB). Apalagi Garut menunggu lebih dari 10 tahun. Tentunya di forum ini ingin ada percepatan,” jelasnya.

Helmi menyebut, nantinya Forkonas PP DOB akan meminta agar pemerintah pusat segera merealisasikan DOB. Target tahun ini agar bisa diwujudkan DOB diharapkan bisa terlaksana.

“Jika DOB Kabupaten Garut Selatan terbentuk, akan ada 16 kecamatan yang menjadi bagiannya. Yakni Kecamatan Banjarwangi, Bungbulang, Caringin, Cibalong, Cihurip, Cikajang, Cikelet, Cisewu, Cisompet, Mekarmukti, Pameungpeuk, Pakenjeng, Pamulihan, Peundeuy, Singajaya, dan Talegong,” ungkapnya. (Tim GE)***

Warga Garsel Keluhkan Tingginya Harga “Si Melon” Jelang Ramadhan

GARUT, (GE).- Menjelang tibanya bulan suci Ramadhan 1437 H – 2017, warga di kawasan Garut Selatan (Garsel) mengeluhkan tingginya harga gas 3 kg (Si Melon). Untuk harga di tingkat pengecer harga gas 3 kg bisa mencapai Rp 29 ribu hingga Rp 30 ribu per tabung. Di hari biasa harga gas bersubsidi ini biasa di banderol Rp 21 ribu sampai Rp 23 ribu per tabung.

Siti (40) salah seorang warga Kampung Rancabuaya, Desa Purbayani, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut mengaku dipusingkan dengan kondisi ini. Terlebih jelang Randhan kerap hampir semua kebutuhan pokok naik dario biasanya.

“Pokoknya mah lieur. Pasti kalau menjelang Ramadhan semua pada naik, sembako naik, dan sekarang gas 3 Kg mulai naik juga. Sudah naik, gas ukuran 3 Kg ini juga sekarang mah cepat habis,” keluhnya, Jumat (19/5/17).

Sementara itu, Oma Sutisna (45)  pemilik pangkakan gas di Kampung Bojong, Desa Purbayani, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut mengakui kenaikan tersebut memang sudah biasa menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.

“Ya, kalau menjelang Ramadhan dan Idul fitri mah sudah biasa semuanya pada naik. Untuk di pangkalan , kami menjualdengan harga Rp 22 ribu per tabung. Ongkos oprasional juga jadi salah satu alasan kenaikan harga gas ini,” ungkapnya.

Dikatakannya, pemilik pangkalan di kawasan Garut selatan sendiri untuk saat ini membeli gas 3 kg sebesar Rp 15 ribu per tabungnya.

Warga berharap pemerintah segera menertibkan harga gas ini, sehingga bisa meringankan beban masyarakat. Bagi masyarakat dengan ekonomi di bawah standar, tentu kenaikan gas 3 kg memberatkan.

“Bagi saya, sebagai warga yang pas pasan tentunya kenaikan harga gas ini sangatlah memberatkan. Saya berharap pemerintah segera membantu menertibkan harga gas ini, khsusnya di tingkat pengecer,” tutur Siti. (Deni Permana/ GE)***

Editor: Kang Cep.

Hj. Siti Mufattahah Berikan Penghargaan kepada Sejumah Guru Honorer Berdedikasi di Garsel

GARUT, (GE).- Sebagai bentuk kepeduliannya kepada guru, khususnya yang berstatus honorer, Hj. Siti Mufattahah Anggota DPR RI Komisi IX Partai Demokrat berikan penghargaan kepada sejumlah guru honorer berdedikasi di Garut Selatan (Garsel).

Penghargaan yang diberikan tersbut diberikan kepada para pendidik yang telah mengabdikan dirinya untuk bangsa dan negara. Acara ini telah berlangsung di Aula PGRI Kecamatan Pameungpeuk, Ahad (30/4/17).

Kegiatan ini digagas oleh gabungan  pengurus DPC Fagar beberapa kecamatan, yang meliputi Kecamatan Pameungpeuk, Cisompet, Cibalong dan Cikelet. Selain memberikan penghargaan kepada delapan guru honorer, ia juga memberikan santunan kepada siswa/i dan yatim  piatu.

Dalam materi kuliah umumnya, Hj. Siti Mufattahah menyebutkan, tanpa adanya peran serta para guru honorer sangat dimungkinkan  pendidikan akan terhambat. Menurutnya, jumlah guru honorer di kabupaten Garut lebih banyak dibandingkan guru yang berstatus PNS.

“Untuk itu memberikan pengakuan dan kesejahteran bagi mereka bukan sekedar keharusan tapi suatu kewajiban pemerintah yang tidak  bisa ditawar-tawar lagi.  Saya akan dorong Bupati Garut untuk segera mengeluarkan SK Bupati sesuai Amanat Permendikbud No. 8 Tahun 2017, ” tuturnya.

Dijelaskannya, cita-cita awal lahirnya Hari Penddikan Nasional (Hardiknas), merupakan sebuah cita-cita yang saat itu dicirikan dengan semangat kepahlawanan.

“Semangat kesediaan diri untuk memberikan lebih dari kewajibannya. Dan untuk menerima kurang dari hak-haknya, disertai dengan keyakinan bahwa pemberian yang lebih dan penerimaan yang kurang itu dijadikan sebagai investasi kemasyarakatan. Insya Allah pada saatnya akan diperoleh kemanfaatan yang lebih,” urainya.

Dikatakannya, pendidikan sangat penting dalam menentukan  kemajuan suatu bangsa. Artinya semua unsur masyarakat harus berperan aktif dalam mensukseskan pendidikan.

“Apabila hal ini terwujud saling melengkapi antar perangkat pemerintahan dan masyarakat, maka pendidikan yang diimpikan akan terwujud,” tandasnya.

Menurutnya, hardiknas memberikan dorongan besar pada pemerintahan dan masyarakat untuk evaluasi dalam bidang peningkatan kualitas pendidikan individu.

“Dalam peringatan hari pendidikan nasional  kita  bisa mengevaluasi seberapa besar  kualitas pendidikan kita, dan apa lengkah yang tepat untuk meningkatkan kualitas pendidikan kedepannya,” katanya.

Menurutnya, hardiknas juga bisa dimaknai  untuk kembali pada nilai-nilai Pendidikan Nasional yang telah di gariskan oleh Ki Hajar Dewantara. Generasi muda, pelajar dan mahasiswa harus bertekad dalam memacu kualitas setiap  individi peserta didik itu sendiri.

“Mutu pendidikan tidak  ditentukan oleh perangkat pendidikan, tetapi ditentukan oleh kreativitas mahasiswa atau peserta didik itu sendiri. Peserta didik harus bekerja keras menigkatkan muu pendidikan dengan memenuhi standar kompetensi,” ungkapnya.  (TAF Senopati/Adv.)***

Tanam 10.000 Pohon di Lahan Kritis, Kades Pancasura bersama Pokmas Pensibar Gagas Penghijauan di Kawasan Garsel

PEMANASAN global kini bukan lagi isu, melainkan fakta  masalah lingkungan yang  terjadi. Pemanasan global menyebabkan siklus pergantian musim  menjadi sulit diprediksi. Fakta dari pemanasan global ini ditandai dengan musim kemarau yang menyebabkan kekeringan, dan curah hujan yang tinggi menyebabkan banjir.

Aksi nyata yang dapat mencegah memburuknya kondisi lingkungan akibat pemanasan global adalah dengan memelihara dan menjaga lingkungan alam. Berbagai konsep pemeliharaan lingkungan dibentuk oleh organisasi internasional, juga komunitas di dalam negeri. Aksi nyata yang dapat dilakukan adalah penghijauan lingkungan, dalam ruang lingkup makro dan mikro.

Dalam skala makro, penghijauan yang dilakukan seperti pemetaan luas hutan konservasi dan konsistensi perlindungan terhadap hutan konservasi dalam satu daerah/kabupaten maupun negara. Untuk ruang lingkup skala mikro yaitu penghijauan untuk perkotaan. Masalah lingkungan seperti memburuknya kualitas udara perkotaan dan masalah air bersih disebabkan karena memburuknya kondisi daerah resapan air.

Daerah resapan air yang seharusnya menjadi zona hijau, kini berubah fungsi menjadi kawasan terbangun. Jumlah luas perubahan lahan resapan menjadi terbangun menyebabkan pemanasan kota secara terpusat yang disebut “Urban Heat Island”. Pemanasan terpusat ini meningkatkan suhu panas dalam kota, sehingga penggunaan air conditioner dalam gedung semakin bertambah.

Penghijauan lahan pegunungan adalah aksi nyata menyelamatkan kondisi lingkungan yang terus memburuk. Melalui penghijauan, masalah lingkungan seperti banjir, kesulitan air bersih, dan polusi udara frekuensi dampak lingkungannya semakin berkurang.

Penghijauan salah satu cara mudah menyelamatkan lingkungan. Mempertahankan zona hijau dengan melakukan penghijauan/gerakan hijau akan memperbaiki kualitas lingkungan dan kehidupan mahluk hidup.

Baru-baru ini intensitas hujan di kawasan Garut Selatan (Garsel) kerap membuat cemas warga, khususnya yang berdekatan dengan daerah tebing dan pegunungan yang gundul. Mereka cemas jika sesekali bencana longsor mengancam. Demikian diungkapkan Kepala Desa Pancasura, Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Saefullah A. Ridho, Senin (3/4/17).

“Ya, intensitas hujan yang terjadi di Garut Selatan khususnya di beberapa  kawasan seperti Peundeuy dan Singjaya belakangan membuat warga cemas. Memang mereka pada umumnya tinggal di lereng dan bantaran Sungai Cikaengan,” ungkapnya.

Saefulloh mencontohkan, banjir bandang Cimanuk yang terjadi tahun lalu menjadi pengalaman buruk yang harus diantisipasi sejak dini.

“Musibah buruk amuk Cimanuk harus jadi pelajaran di wilayah lainnya. Potensi itu sangat berpeluang terjadi di tiga wilayah Garut Selatan pada khususnya di Peundeuy, Banjarwangi dan Singajaya, yang memang memiliki sungai dan hulu Cikuray yang kini sudah beralih fungsi dari penanaman pohon keras menjadi lahan pertanian,” jelasnya.

Dikatakannya, sebagai bentuk perhatian dan antisipasi rusaknya lingkungan lebih parah, dirinya mengagas program penghijauan bersama sejumlah elemen masyarakat.  Salah satu yang digagas Kades Saefullah di antaranya dengan membentuk Forum Komunikasi Masyarakat Peundeuy, Singajaya, dan Banjarwangi.

“Forum tersebut kami sebut ‘Pokmas Pensibar’ yang diketuai saya sendiri. Kita juga bekerja sama dengan lintas organisasi seperti ‘Lentera Hijau’, ‘Jarang Pulang’, dan ‘Laskar Indonesia’. Kami juga didukung oleh Muspika di tiga kecamatan, salah satunya Pak Heri Junaeri yang merupakan Camat Singajaya,” jelasnya.

Sementara itu, prosesi penghijauan di kawasan Singajaya ini telah dilakukan dengan melakukan penanaman 10 ribu pohon mahoni yang ditanam di kawasan Lawang Angin hingga kawasan Peundeuy, Ahad (2/4/17).

Alhamdulillah kita juga didukung semua pihak. Di antaranya dalam proses penanaman pohon ini, Pak Kapolsek Sinagjaya yang diwakili Pak Acep dan Pak Egi, juga Kapolsek Banjarwangi, Bapak Medi ikut mendukung dan bergabung melakukan penanaman 10 ribu pohon mahoni.  Alhmdulilah berjalan lancar. Pohon yang ditanam semoga bisa menjaga lingkungan dari longsor dan erosi. Dan yang paling utama kita bisa mendukung program pemerintah terkait pemanasan gelobal,” ungkapnya. (ER)***

Editor: Kang Cep

Lagi, gara-gara Disangka Penculik, Pemuda Terbelakang Mental ini Digebuki Warga

GARUT, (GE).- Berbagai isu penculikan yang menyebar melalui media sosial membuat masyarakat panik. Setelah sebelumnya seorang kakek dihakimi massa gara-gara dituduh penculik, kali ini warga di kawasan Garut Selatan, Jawa Barat, kembali dihebohkan dengan penemuan soerang pemuda yang memiki keterbelakangan mental (setengah idiot) juga dituduh penculik. Bahkan, pemuda ini sempat menginap di Mapolsek Pakenjeng.

Demikian diungkapkan Abdurrahman Laka, tokoh pemuda setempat yang juga aktivis Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Pakenjeng, Kabupaten Garut. Kamis (23/3/17).

“Awalnya pemuda ini ditemukan warga Desa Pasirlangu, Pakenjeng pada hari Selasa (21/3/17). Saat ditemukan warga setempat pemuda ini ditanya warga, ia tidak bisa menjawab apapun dan hanya ‘ngabedeb,’ karena memang pemuda ini agak idiot. Akhirnya, pemuda ini diteriakin culik oleh warga, dan digebukin warga hingga bonyok. Kasihan, sekujur tubuhnya memar-memar. Beruntung polisi sigap, dan diamankan di Mapolsek Pakenjeng, hingga menginap semalam,” ungkapnya.

Menurut Abdurrahman Laka, pemuda naas ini akhirnya diketahui bernama Fikih Rustandi (17) warga Kampung Sukamanah, Desa Hegarmanah, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Menurut Laka, pemuda malang ini berhasil diedintifikasinya setelah ditanyai dengan tekhnik pendeketan secara pesuasif.

“Sebelumnya anak ini ditanya siapaun tidak mau ngomong. Termasuk oleh pegawai dari dinas sosial Garut. Memang anak yang agak idiot harus ditanya secara persuasif, biasanya orang seperti ini akan panik jika ditanya secara tiba-tiba. Saya berusaha menanyanya dengan cara yang biasa digunakan untuk berinteraksi dengan orang yang memiliki keterbelakangan mental. Alhamdulilah dia menjawab, walau agak susah payah,” jelasnya.

Dijelaskannya, pemuda ini kemungkinan diturunkan dari elf karena sebelumnya ikut dari Cianjur. Pemuda tanggung ini mengaku akan ke orangtuanya di Ciranjang. Namun sopir elf salah sangka dikiranya akan ke Cikajang. Saat akan diturunkan di Cikajang tidak mau, akhirnya diturunkan di Pakenjeng.

“Saat ditanya, ia mengaku akan ke orang tuanya di Ciranjang. Kemungkinan elf menyangkanya akan ke Cikajang, dan akhirnya diturunkan di Pakenjeng,” katanya.

Setelah melalui proses koordinasi dengan aktivis TKSK di Ciranjang, Kabupaten Cianjur, benar saja pemuda ini merupakan pemuda terbelakang mental yang tercatat di TKSK Ciranjang. Untuk sementara pemuda bernama Fikih ini dititipkan di Rumah Perlindungan Terlantar dan Cacat (RPTC) di kawasan Caringin Bandung.

“Alhamdulillah, setelah berkoordinasi dengan kawan kawan di TKSK, pemuda yang memiliki keterbelakangan mental ini bisa kita lindungi. Dan untuk sementara dititipkan di RPTC Caringin Bandung,” ujarnya.

Sebagai aktivis sosial, Abdurrahman Laka berharap kepada masyarakat jangan mudah terpancing isu isu yang belum jelas. “Jika menemukan orang yang mencurigakan tanya dulu dengan baik. Apa yang dibawanya, jangan langsung digebukin,” tandasnya. (ER)***

Bersilaturahmi ke Kawasan Garsel, Mayjen TNI (Purn) Supiadin AS: “Saya takkan Pernah Lelah Memperjuangkan Garut Selatan”

GARUT,(GE).- Meski usianya tidak muda lagi, purnawirawan Jenderal berbintang dua yang satu ini seolah tiada lelah menemui konstiutennya, di manapun berada. Kali ini Mayjen TNI (Purn) Supiadin Aries Sputra, yang merupakan Anggota Komisi 1 DPR RI Fraksi Partai Nasdem, kembali melakukan silaturrahmi kepada masyarakat di kawasan Garut Selatan (Garsel).

Disamping bersilaturrahmi, agenda kunjungan Mayjen TNI (Purn) Supiadin AS ke “pakidulan” Garut ini juga merupakan bagian dari pemanfaatan reses Masa Sidang III, Tahun Sidang 2016-2017. Dalam agenda kunjungan  selama 9 hari (6-14 Maret 2017) ini, Mayjen TNI (Purn) Supiadin didampingi Ketua DPD Partai Nasdem Garut, serta para Ketua DPC setempat.

Dalam rentang sembilan hari tersebut, ia menggelar kegiatannya di tiga Kecamatan, yang meliputi Kecamatan Cikelet, Caringin dan Mekarmukti. Sebagai putra daerah, Mayjen TNI (Purn) Supiadin, tahu betul harapan yang diinginkan masyarakat Garut, khususnya konstituen di kawasan Garut Selatan.

“Ya, selain bersilaturrahmi dengan masyarakat Garut Selatan, juga kita serap aspirasi warga untuk kemudian kita tampung dan disampaikan ke pemerintah pusat. Dalam kunjungan kali ini juga, sebagai kader partai, tentunya saya juga melakukan konsolidasi dengan struktur partai di tingkat kecamatan. Ini sebagai persiapan menghadapi Pilkada 2018 dan Pileg tahun 2019,” ungkapnya.

Seperti dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya di beberapa wilayah, Mayjen TNI (Purn) Supiadin selalu mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat. Begitupun di kawasan selatan Garut kali ini. Memang, dalam setiap pertemuannya bersama masyarakat, ia dikenal ramah saat berinteraksi dengan siapa pun.

Sebagai representasi pemerintah pusat, dan wakil rakyat di DPR RI, Mayjen TNI (Purn) Supiadin selalu gigih memperjuangkan aspirasi konstiutennya di daerah. Tak heran, dalam kunjungannya di Garut selatan kali ini, ia secara khusus membahas Daerah Otonomi Baru (DOB) Garut Selatan.

“Memperjuangan Garut Selatan adalah kewajiban saya sebagai anggota DPR RI. Jadi selama saya memilki kemampuan, saya akan terus berusaha memperjuangkan harapkan dan aspirasi masyarakat. Ya, termasuk DOB Garut Selatan. Kalau memang DOB ini nantinya berpotensi untuk kemajuan masyarakat, tentunya saya harus saya perjuangkan,” tandasnya. (ER/ Adv.)***

Upaya Tingkatkan Minat Baca di Garsel, KPAB FP Uniga Gulirkan Program “Satu Buku Satu Juta Harapan Anak Desa”

GARUT, (GE).- Komunitas Pecinta Alam Belantara Fakultas Pertanian (KPAB FP) Universitas Garut (Uniga), menargetkan bantuan 1000 eksemplar buku untuk pelajar dan masyarakat umum di Garut Selatan (Garsel), Jawa Barat.

Target tersebut merupakan inisiatif anggota Belantara yang mendapat informasi bahwa di Garut Selatan masih minim bahan bacaan dan buku tulis, khususnya di SD dan SMP Falidatul Jihad, Pakenjeng, dimana pihak sekolah meminta bantuan pengadaan buku.

Sebaliknya, di Kecamatan Banjarwangi, untuk membangkitkan budaya baca, senior Belantara yakni Ari Ambon yang berasal dari daerah itu juga, mendirikan Taman Baca Umum. Bentuk bantuan mereka dengan cara menggalang donasi buku dari masyarakat umum sejak 15 Februari 2017.

Buku yang dibutuhkan untuk pelajar SD dan SMP seperti buku mata pelajaran IPA dan IPS. Sedangkan Taman Baca Umum di Banjarwangi tidak terpatok dengan genre buku, karena pembacanya masyarakat umum.

Pengurus Belantara, Dudi Damara, mengatakan, donasi buku tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan budaya membaca buku sebagai bentuk perhatian Belantara terhadap pendidikan warga desa.

“Intinya sih kita pengen meningkatkan kebiasaan lama, baca buku. Biar anak-anak desa di sana (pedesaan/red) berwawasan,” ujarnya, di Sekretariat Belantara, Jalan Hampor,Senin (06/03/2017).

Sampai saat ini, dari 1000 target pengumpulan buku, baru 300 eksemplar yang terkumpul di sekretariat Belantara. Sedangkan pendistribusian buku akan dilakukan pada akhir Maret ini. Fahmi, salah seorang pengrus Belantara lainnya, berharap antusiasme warga Garut untuk membantu anak desa lebih terbangun. Terlebih diketahui, sejumlah buku yang terkumpul merupakan donasi dari masyarakat luar Garut.

“Ya, sampai saat ini masih kurang, buku yang sekarang terkumpul ini dari teman-teman Pustaka Jalanan di Yogya, Jakarta, dan Jawa. Mudah -mudahan masyarakat Garut juga turut membantu,” tukasnya.

Sejauh ini, pengurus Belantara mempublikasikan program donasinya melalui sosial media semisal instagram dengan akun belantara2007. Mereka berharap, tema program “Satu Buku Satu Juta Harapan Anak Desa” bisa tercapai. Tidak hanya di daerah Pakenjeng dan Banjarwangi, mereka pun berencana menggalang buku untuk daerah lain di Garut selatan. (Rohmah Nashruddin)***

Editor: Kang Cep.

Kawasan Desa Pancasura di Garut Selatan Rawan Pergerakan Tanah

PERGERAKAN TANAH-GARSEL

GARUT, (GE). – Beberapa wilayah di kawasan Garut selatan ditenggarai rawan terjadi pergerakan tanah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut menyebutkan, salah satunya di wilayah Desa Pancasura, Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Garut Dadi Djakaria menjelaskan, hal tersbut diperoleh berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di tahun 2015 lalu.

PERGERAKAN TANAH-

“Ya, sudah ada penelitian di sana (Desa Pancasura/ red.) tahun 2015 dan 2016. Memang daerahnya masuk rawan pergerakan tanah,” jelasnya, Selasa (7/2/2017).

Dijelaskannya, penanganan pemerintah terhadap pergerakan tanah di Desa Pancasura baru sebatas penelitian.

“Penanganan lebih jauh itu diperlukan peran sejumlah pihak, seperti instansi terkait, swasta, bahkan masyarakat. BPBD tidak bisa sendirian menanganinya,” ujarnya.

Dadi mengingatkan di Kabupaten Garut tercatat masih banyak wilayah yang memiliki potensi bencana serupa. Selain di Desa Pancasura, Kecamatan Singajaya, potensi pergerakan tanah juga terjadi di kawasan Garut selayan lainnya, semisal di Kecamatan Banjarwangi.

“Belum lagi pergerakan tanah di Kecamatan Cisompet. Intinya kami membutuhkan peran semua pihak untuk peduli bencana, ” tukasnya.

Terkait jumlah rumah yang terdampak pergerakan tanah di Desa Pancasura, ia menjelaskan pihaknya tidak memiliki data. Pasalnya, upaya yang dilakukan pemerintah dan PVMBG di wilayah itu baru sebatas penelitian.

Sebelumnya, Kepala Desa Pancasura Saefullah A Ridho menuturkan, pergerakan tanah di desanya telah berlangsung lama. Pergerakan tanah yang mengakibatkan rusaknya beberapa bagian rumah permanen dan mengubah posisi rumah panggung itu setidaknya sudah terjadi sejak era 80-an. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.