BREAKING NEWS : Lagi-Lagi Terjadi di Garut. Bocah 14 Tahun Dicabuli Tukang Ojek. Begini Ceritanya…

GARUT, (GE).- MH (58) harus berurusan dengan aparat berwajib. Akal bulusnya berdalih mengajarkan ilmu kehidupan akhirnya terungkap. Ilmu yang dijanjikan MH ternyata hanya akal-akalan agar bisa mencabuli anak tetangganya yang baru berusia 14 tahun.

Aksi bejat MH terbongkar setelah orang tua korban membaca surat yang dikirim MH kepada korban. Isi surat mengajak korban untuk mempelajari ilmu kehidupan di rumah MH. Merasa curiga atas isi surat tersebut, akhirnya orang tua korban melaporkan hal tersebut kepada polisi.

“Pelaku mengakui perbuatannya tersebut. Aksinya dilakukan di kebun singkong dekat rumah pelaku. Pelaku mencabuli korban selama empat kali dalam waktu berbeda,” ungkap Kapolsek Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kompol Suhendar, Senin (17/4/17).

Akibat perbuatannya tersebut, kini MH yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang ojek harus meringkuk di sel tahanan Mapolsek Cilawu. MH disangkakan melanggar Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun kurungan penjara. Polisi menangkap bapak empat anak tersebut di rumahnya.

Barang bukti diamankan polisi di antaranya pakaian korban, botol parfum dan body lotion. Polisi masih mendalami dan mengembangkan kasus tersebut. Sebab, berdasarkan keterangan warga sekitar TKP, korban kejahatan seksual yang dilakukan MH diduga lebih dari satu orang.

Selama ini, kata Suhendar, hampir setiap hari MH datang ke warung milik orang tua korban. Semakin lama, rupanya MH tambah kepincut oleh kemolekan tubuh korban. Otak jahat MH pun mulai mencari siasat. Singkat cerita, pelaku pun berhasil memperdayai korbannya sampai empat kali. Namun, sebelum aksi bejatnya berlanjut, MH akhirnya diringkus polisi.

“Untuk dugaan itu (perkosaan kepada korban) masih menunggu hasil visum. Kami juga mengimbau bagi siapa saja yang menjadi korban kekerasan seksual MH untuk melaporkannya kepada kami,” tandas Suhendar. (Mempis/GE)***

Editor : SMS

Mulai Tahun ini. Unpad Ambil Alih Pegelolaan Akademik Akper Pemda Garut

GARUT, (GE).- Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung dipastikan mengambil alih pengelolaan akademik Akademi Keperawatan (Akper) Pemda Garut, Jawa Barat, mulai tahun 2017 ini. Kepastian tersebut ditandai penandatangan kesepakatan oleh Bupati Garut, Rudy Gunawan, dengan Rektor Unpad, Tri Hanggono Achmad.

Penandatangan kesepakatan ini dilakukan sebagai tanda dimulainya Penyatuan Program Studi D3 Keperawatan Akper Pemda Garut kepada Unpad. Penandatanganan kesepakatan dilakukan di ruang Pamengkang Pendopo Garut, Jumat (7/4/17).  Tampak hadir pada acara tersebut Asisten Administrasi Umum Pemkab Gaut, Asep Sulaeman Farouq, Kepala Dinas Kesehatan, Tenni S. Rivai, jajaran manajemen Akper Pemkab Garut, serta rektorat Unpad.

Bupati Garut menyatakan, Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah mengamanatkan, semua lembaga pendidikan yang ada di Dinas Kesehatan milik Pemda bisa dialihkan ke Kementrian Kesehatan atau ke Perguruan Tinggi Negeri. Karena itu, Rudy merasa bersyukur dan bangga atas penyatuan ini.

“Dengan demikian, tahun ini Akper Pemda resmi menjadi Universitas Padjajaran. Bahkan semua asetnya pun dilimpahkan ke Kementrian Pendidikan Tinggi dan pengelolaan semuanya termasuk penyelenggaraan wisudanya,” ujar Rudy.

Menurut Rudy, kondisi seperti ini tentu sangat menguntungkan. Mengingat, orang lain yang ingin masuk Unpad harus melalui seleksi yang tidak mudah. Selain itu, ke depan, calon mahasiswa dari daerah lain seperti Sumedang atau Cianjur mungkin akan sekolah di Garut. Unpad dan Pemkab Garut pun tentunya ingin mensupport fasilitasnya agar lebih baik lagi.

Rektor Unpad, Tri Hanggono Achmad, menyebutkan, penyatuan ini sebenarnya sebagai komitmen dari Kementrian Dikti. Ini juga jawaban atas tuntutan untuk meningkatkan pendidikan tinggi dan memperluas akses. Begitupun dengan tugas yang diberikan kepada perguruan tinggi untuk ikut serta dalam menangani atau mencari kandidat keluar didasarkan pada undang-undang, bahwa pendidikan kesehatan itu tidak bisa lagi berada di wilayah dalam negeri ataupun pemerintah per kabupaten.

“Pendekatannya, karena Garut dengan Sumedang berhimpitan. Kampusnya ada di Sumedang, sehingga langkah yang sudah lama ditempuh bersama-sama sehingga tercapai kesepakatan. Sedangkan aspek aset semuanya diserahkan ke kementrian,” kata Tri.

Lebih jauh, Tri mengungkapkan, yang akan dikelola oleh Unpad hanya BMN (Barang Milik Negara) yang terkait dengan sarana. Sedangkan status tanahnya sendiri merupakan milik kementrian yang tetap tercatat di Upad.

“Yang lebih penting sebenarnya adalah pengelolaan akademiknya. Jadi mulai tahun 2017 ini, pengelolaan akademik sudah ada di Unpad,” katanya.

Tri juga menjelaskan, untuk status mahasiswa  Program Studi  D3 Keperawatan Akper Pemkab Garut akan ditransformasikan menjadi mahasiswa Program Sarjana Keperawatan yang ada di Unpad. Pasalnya, Unpad tidak punya Prodi D3 Keperawatan yang adanya Sarjana Keperawatan sampai Plus. Dengan demikian, kata Tri, nantinya kelulusannya tidak sebagai D3 Keperawatan tapi sebagai sarjana S1 Keperawatan. Namun demikian, pihaknya akan menawarkan kepada para mahasiswa pada masa transisi, berkaitan dengan haknya sebagai mahasiswa terutama yang menginjak di tahun ketiga. Kecuali untuk tahun pertama dan kedua, tidak ada pilihan lain.

“Bagi pegawai yang saat ini menjadi Pegawai Pemkab Garut yang akan menjadi tenaga pendidik di Dikti penugasannya ada di Unpad. Sedangkan bagi dosen, undang-undang menetapkan minimal harus S2. Konsekuensi berikutnya, kalau ingin jadi dosen di Unpad, juga harus sekolah lagi,” ucap Tri.

Lebih jauh Tri menandaskan, masalah biaya kuliah, selama ini Unpad berkomitmen hal itu bukan permasalahan esensial. Karena setiap mahasiswa dijamin bila sudah menjadi mahasiswa Unpad tidak boleh berhenti.

“Keberadaan perguruan tinggi mestinya bisa menjadi daya dorong ekonomi. Diharapkan dengan adanya perguruan tinggi di daerah, akan timbul daya tarik yang lebih tinggi,” pungkas Tri. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Lanjutan Sidang Kasus Anak Menggugat Ibu Kandung Rp 1,8 Miliar. Majelis Hakim : Kita Lahir dari Siapa? Surga di Telapak Kaki Ibu!

GARUT, (GE).- Majelis Hakim Pengadilan Negeri Garut, Jawa Barat, menyarankan Handoyo Adianto (47), berdamai atau mencabut gugatannya kepada Siti Rohaya (83).

“Majelis hanya mau menggugah penggugat dan tergugat. Ini bukan masalah yang prinsipil. Semua masih memiliki hubungan darah. Lebih baik islah,” ujar ketua Majelis Hakim Endratno Rajamai, di ruang Sidang Pengadilan Negeri Garut, Kamis (30/3/17).

Menanggapi saran majelis hakim, Handoyo mengaku tidak ada masalah dengan keluarga mertuanya.

“Hubungan kami masih baik. Saya ingin perkara ini tuntas,” ujarnya di hadapan Majelis Hakim dan disambut riuh para pengunjung sidang.

Handoyo mengaku munculnya kasus ini karena pihak tergugat tidak memenuhi perjanjian yang telah disepakati. Selain itu, dirinya dianggap melakukan penipuan oleh tergugat.

Namun begitu, kata Handoyo, bila menang dalam gugatan ini, separuh hasilnya akan diberikan kepada mertuanya.

“50 persen akan kami dedikasikan buat ibunda tercinta,” ujarnya.

Pernyataan Handoyo tidak begitu ditanggapi Majelis Hakim. Malah, Majelis meminta penggugat merenungkan kembali upayanya tersebut.

“Saya harap ada perdamaian sebelum terjadi putusan,” ujar Endratno.

Menurut Endratno, masalah utang piutang memang harus diselesaikan. Namun bila dapat diselesaikan secara musyawarah, akan lebih baik. Apalagi para pihak yang terlibat memiliki hubungan darah atau keluarga.

Endratno meminta agar para penasehat hukum lebih proaktif dalam mendampingi para kliennya. Selain itu juga para penasehat hukum diharapkan memberikan saran yang lebih baik lagi.

“Harta masih dapat kita cari, kalau orang tua sudah murka mau bagaimana. Kita lahir dari siapa, surga di telapak kaki ibu,” ujarnya dengan nada meninggi.

Persidangan sendiri akan kembali gelar pekan depan dengan agenda pemeriksaan bukti-bukti dari kedua belah pihak. Alasannya, karena pada persidangan kali ini kedua belah pihak belum menyampaikan seluruh bukti. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS