Bupati : Ekonomi Lemah Jadi Faktor BAB Sembarangan

KARANGPAWITAN,(GE).- Bupati Garut, Rudy Gunawan Bupati menyebutkan, masyarakat di beberapa wilayah Garut masih rendah dalam BAB yang sehat. Masih banyak warga yang buang air besar sembarangan (BABS), terutama bagi masyarakat yang tinggal di “pasisian” Garut. Faktor lemanya ekonomi menjadi salah satu penyebabnya.

” Kalau banyak duit mah tentu di rumahnya akan dibuatkan WC. Salah satu faktornya memang ekonomi,” tandas Bupati.

Dijelaskannya, untuk menjadikan masyarakat bebas BABS cukup susah, karena beberapa factor, Disamping masalah ekonomi, juga kebiasaan di daerahnya yang luas.

Bupati mencanangkan pada tahun 2019 mendatang, Kabupaten Garut akan terbebas dari BABS dengan lima pilar sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) akan segera diwujudkan. Bupati menyebut, deklarasi di Kecamatan Karangpawitan merupakan yang ke 100 desa dari sebanyak 421 Desa yang ada di Kabupaten Garut.

Pada tahun 2016 ini ditargetkan  menjadi 120 desa, dan pada 2017 bertambah lagi yang ahirnya pada tahun 2019 mendatang ditargetkan seluruh Desa di Kabupaten Garut bebas buang air besar sembarangan (BABS).

“Dulu kan hanya tiga desa, tapi selama saya sudah tiga tahun bertambah menjadi 100 desa. Karena Pemerintahan yang lama kurang perhatian soal BABS ini. Nah saya targetkan pada tahun 2019 Garut akan bebas Open defecation free (ODF) atau BABS,” Kata Bupati usai memperingati Hari Cuci Tangan Pakai Sabun se Dunia Tingkat Kabupaten Garut di Perum Bumi Cempaka Indah, Kelurahan Lebakjaya, Kecamatan Karangpawitan, Garut, Selasa (18/10/2016).

Untuk lebih mengoptimalkan pencanangan program tersebut, dirinya membuat komitmen dari mulai anak-anak harus mulai hidup bersih. Karena dalam lima pilar itu disebutkan, yakni stop buang air besar sembarangan (BABS), cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, dan pengelolaan limbah cair rumah tangga.

Rudy menyebutkan, untuk membuat Garut bebas dari BABS dananya cukup besar, yakni sekitar Rp 20 miliar. Namun dana tersebut jika dibagi-bagi tentunya akan mendapatkan jatah tidak seberapa.

“Misalnya di Garut ini terdapat 421 Desa atau sekitar 8.000 RW. Coba kalau uang itu dibagikan ke setiap RW, paling menerima seberapa, kecil kan. Tapi anggaran itu bisa didapat dari mana saja saling mendukung,” ujarnya.

Dalam kegiatan itu, sebanyak 8 desa dan 2 kelurahan membacakan Deklarasi Stop Buang Air Besar Sembarangan yang dibacakan oleh Ketua Apdesi Kecamatan Karangpawitan, H. Aep Saepuridin, Kepala Desa Lebakagung. (Jay)***