Ade Ginanjar Mundur dari Pencalonan, Dedi Mulyadi Rekomendasi Rudy untuk Maju di Pilkada Garut 2018

GARUT,(GE).- Gonjang ganjing siapa bakal calon Bupati Garut dari partai “beringin” terus mengemuka. Baru-baru ini Bupati Garut, Rudy Gunawan kembali disebut-sebut menjadi bakal calon kuat yang akan diusung partai Golkar. Bahkan Rudy diketahui mendapat rekomendasi langsung dari petinggi Partai Golkar Jawa Barat untuk maju menjadi bakal calon bupati dari  pada Pilkada 2018.

Dedi Mulyadi yang merupakan Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat saat ini mengatakan, jajarannya sudah mencapai komitmen dengan Rudy untuk bersama-sama bertarung dalam Pilkada. Pihaknya pun memerintahkan agar Golkar Garut menindaklanjuti komitmen tersebut.

Namun belakangan sejumlah kader Partai Golkar menyatakan enggan jika Rudy maju dari partai Golkar. Bahkan para kader Golkar mengancam tak akan mendukung Dedi Mulyadi dalam Pilgub Jabar jika tetap mengusung Rudy.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Ketua DPD Golkar Garut. Mereka mengetahui dan menyetujui soal Rudy, tinggal Ketua DPD harus jelaskan ke pengurusnya,” ujar Dedi saat dihubungi, Jumat (25/8/2017).

Dedi menyebut, rekomendasi yang diberikan kepada Rudy karena Ade Ginanjar selaku Ketua DPD Golkar Garut mundur dari pencalonan. Namun Ade tidak menjelaskan pada internalnya tentang permasalahan tersebut.

“Lagian di Golkar selain pak Ade yang surveinya bagus pak Rudy. Tapi karena pak Ade mundur, jadi weh pak Rudy (rekomendasi calon bupati),” kata bakal calon Gubernur Jabar itu.

Ketua DPD Golkar Kabupaten Garut, Ade Ginanjar mengakui bahwa pencalonan Rudy sebagai calon Bupati Garut dari Partai Golkar atas sepengetahuan dirinya. Bahkan Pria yang menjabat sebagai ketua DPRD Kabupaten Garut ini menambahkan, sejak Rapimda lalu dirinya sudah dipasangkan dengan calon petahana tersebut.

“Dinamika saja kan tidak apa-apa. Mungkin belum tersosialisasikan di internal saja dan pencalonan pak Rudy itu pun hasil koordinasi saya,” ujar Ade ketika dihubungi melalui sambungan telepon.

Terkait kabar bahwa dirinya mundur dari pencalonan, Ade menuturkan bahwa hal tersebut tidak benar. Bahkan sebagai ketua partai yang diamanatkan, dirinya tetap mematuhi hasil Rapimda Golkar yang digelar di Karawang.

“Ya saya patuh pada hasil Rapimda serta tugas dan amanat yang diembankan pada saya,” katanya.

Terlebih Partai Golkar Garut sendiri menurutnya harus mencalonkan dari internal. Selain itu pencalonan Rudy pun diketahui olehnya.

“Kami kan kaji secara internal dan eksternal dan dicalonkan pak Rudy. Itu kan hasil sepengatahuan saya. Mungkin memang belum tersampaikan pada pengurus,” ujarnya. (Tim GE)***

Bupati Garut Tak Hadir, Guru Sukwan Curhat ke Bupati Purwakarta

GARUT, (GE).- Ribuan guru honorer Garut mempertanyakan ketidak hadiran Bupati Garut, Rudy Gunawan pada perayaan hari jadi Fagar yang ke-11. Pertanyaan ini disampaikan para guru honorer, karena pada kegiatan sebelumnya orang nomor satu di Kabupaten Garut ini selalu menghadirinya. Pada peringatan hari lahir Fagar ke 11 tahun ini (2017) Rudy mewakilikannya kepada bawahannya, asisten daerah 3 (asda 3) Asep Sulaeman Faruk.

Sementara itu, beberapa tamu undangan lainnya turut hadir dalam hajatan para guru honorer ini. Tampak hadir, Kepala BKD Kabupaten Garut, Kabid DikdasDisdik Garut, serta Ketua PGRI Kabupaten Garut, H. Mahdar Suhendar.

Menurut panitia pelaksana peringatan HUT Fagar ke 11, ketidak hadiran Bupati Garut ini diketahui karena Bupati kebetulan sedang melakukan study banding ke Bali bersama para Camat.

“Ketidak hadiran Bupati Garut, tentunya sangat mengecewakan kami. Padahal di hari jadi yang ke 11 ini kami ingin menyampaikan sesuatu ke beliau,” ujar salah seorang guru honorer.

Dalam peringatan hari jadinya yang ke 11, Fagar masih membahas seputar  tuntutannya menjadi PNS dan peningkatan kesejahteraan.

Kekecewaan kaum honorer dengan ketidak hadiran Bupati Garut sedikit terobati. Adalah Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi yang jauh jauh datang ke Garut, khusus untuk menghadiri harlah Fagar dan memberikan dukungannya. Bahkan, Dedi Mulyadi hadir sekaligus menghibur dengan rombongan para pelawak tenar Sule dan Ohang.

Ketua Fagar Garut, Cecep Kurniadi, S.Pd.I dalam pidatonya menyampaikan empat poin yang dinilainya mendesak untuk segera disikapi oleh pemerintah. Keempat poin tersebut diantaranya tuntutan peningkatan kesejahteraan guru honorer yang hingga saay ini jauh dati kata layak.

“Jika dibandingkan dengan tukang kebun saja, penghasilan kami belum memenuhi standar hidup layak sesuai undang-undang.  Kedua, kami juga meminta Bupati Garut segera memberikan surat  penetapan sebagai honorer  Kabupaten Garut seperti diamanatkan oleh permendikbud no 8 tahun 2017. Bila Bupati tidak mengeluarkan surat perintah, maka nasib honorer Garut akan semakin terpuruk. Dalam juknis Bos honorer bisa dibayar Bos apabila honorer tersebut telah memiliki surat penugasan dari Bupati,” ungkap Cecep.

Dijelaskannya, selama ini sumber penghasilan honorer hanya mengandalkan dari dana Bantuan Oprasional Sekolah (BOS). “Yang ketiga, mendesak pemerintah Kabupaten Garut untuk mendorong pemerintah pusat agar revisi undang -undang aparatur sipil negara segera di selesaikan. Yang terahir, saya mewakili ribuan guru honorer mendesak Pemkab Garut dapat singkron dengan honorer,” katanya.

Terkait nasib para guru honorer, Bupati Purwakarta, H. Dedi Mulyadi mencontohkan, di daerahnya (Purwakarta)  para honorer sudah diberikan surat penugasan dari Bupati .

“Sama seperti di Sumedang yang telah mendapatkan SK dari Bupatinya. Garut pun sebenarnya bisa melakukan yang terbaik untuk honorernya. Mereka sudah mengabdi lama menjadi pendidik,” kata Dedi.

Dedi sempat terrenyuh, saat mendengarkan kisah penderitaan guru honorer asal Banyuresmi Garut. Bagaimana tidak, Asep Hikmat, seorang honorer yang kesehariannya mengajar di salah satu SMP Negeri ini menceritakan kisah getirnya sebagai guru honorer hingga Ia berusia 80 an.

“Saya berharap Pemkab Garut memberikan penghargaan kepada bapak Asep Hikmat, atas dedikasi dan pengabdianya kepada negara meski tanpa gaji.  Tanpa tunjangan dari negara 32 tahun mendedikasikan hidupnya sebagai guru Honorer.  Merupakan perjuangan yang sangat luar biasa,” kata Dedi, usai memberikan “uang kadeudeuh”  sebesar Rp 10 juta kepada guru tersebut. ( TAF Senopati/GE ) ***

Editor: Kang Cep.

Dedi Mulyadi, “Maung” dan Hutan sebagai Sumber Kemakmuran Masyarakat Jawa Barat

GARUT, (GE).- Ketua DPD Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menekankan pentingnya harimau dalam peradaban masyarakat Sunda. Menurutnya, harimau merupakan simbol penjaga hutan. Sementara hutan sendiri merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat Sunda. Sebab, dengan kelestarian hutan, ketersediaan air yang menjadi sumber kehidupan menjadi terjamin.

“Dari hutan yang di dalamnya terdapat mata air, lahirlah sungai. Dari sungai tersebut lahirlah bendungan. Dari bendungan itu, lahirlah peradaban pertanian, perikanan, pariwisata, dan sumber kehidupan lain bagi masyarakat Sunda,” ucap Dedi, saat peresmian patung maung siliwangi yang kini terpajang gagah di halaman Markas Koramil 1123 Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (31/3/17) malam. Acara peresmian sendiri digelar singkat dan sederhana.

Menurut Bupati Purwakarta ini, kemakmuran orang Sunda ditentukan oleh kelestarian hutan. Hutan itu adanya di gunung.

“Hutan akan lestari kalau didalamnya ada harimau, karena tidak akan ada manusia yang berani merambah hutan,” jelas Dedi.

Simbol gunung sendiri, lanjut Dedi, sangat melekat dalam tradisi dan peradaban orang Sunda. Ini dibuktikan dengan bentuk “aseupan” (alat untuk menanak nasi yang terbuat dari anyaman bambu/red) yang bentuknya lancip mirip gunung. Begitu juga, setiap kali dalang membuka lakon wayang, pasti didahului kemunculan “gugunungan”.

Dalam dialog singkat pendalaman konsepsi hutan sebagai sumber kemakmuran, Dedi berbagi strategi kepada Bupati Garut, Rudy Gunawan, dan Ketua DPRD Garut, Ade Ginanjar, yang juga turut hadir di lokasi peresmian tersebut.

Budayawan Sunda itu menyebut, dibutuhkan komitmen dan program strategis untuk menjadikan hutan sebagai “basic core” pembangunan di Jawa Barat. Langkah tersebut menurut Dedi, dapat ditempuh dengan beberapa cara. Di antaranya, menjadikan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan untuk melakukan pemulihan hutan dengan cara penanaman kembali lahan yang gundul.

KETUA DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat menyampaikan sambutan pada acara peresmian pemajangan patung Maung Siliwangi di halaman Markas Koramil 1123 Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (31/3/17) malam. (Foto : Istimewa)***

“Masyarakat yang tinggal di sekitar hutan itu harus diangkat sebagai tenaga harian lepas oleh pemerintah. Tugasnya, setiap hari menanam pohon di lahan yang gundul. Gajinya bisa Rp2,5 Juta sampai Rp3 Juta per bulan. Saya yakin, itu masyarakat yang biasa diminta oleh para orang kaya untuk merambah hutan, paling hanya dapat Rp1,5 Juta per bulan sudah bagus, kita pasang harga lebih besar,” tegasnya.

Konsep selanjutnya, imbuh Dia, setelah wilayah hutan berhasil di-recovery, dapat langsung dibangun perkampungan berbasis adat Sunda dengan jumlah rumah masing-masing sebanyak 40 rumah setiap kampung. Anak-anak warga di kampung tersebut dididik pendalaman pengetahuan tentang kepariwisataan berupa bahasa Inggris dan nilai tradisi.

Cara ini, ia yakini dapat menumbuhkan sektor pariwisata di Selatan Jawa Barat, tanpa harus menggunduli hutan di sekitarnya.

“Setelah itu, anak-anak kita didik kepariwisataan, bangun rumah penduduk dengan arsitektur Sunda, jadi wisatawan tidak perlu tinggal di resort, rumah penduduk dapat sekaligus menjadi resort, ini ke depan dapat menjadi sumber pendapatan bagi wilayah Jabar Selatan,” papar Dedi.

Konsep yang dipaparkan Dedi, diapresiasi Bupati Garut. Rudy Gunawan mengatakan terlalu kecil jika konsep tersebut hanya diberlakukan di Purwakarta atau Garut. Menurutnya, konsep ini harus diterapkan di Jawa Barat.

“Paparan Kang Dedi ini bagus untuk Jawa Barat, bukan hanya Purwakarta atau untuk saya di Garut. Saya ini kenal beliau sudah lama. Saya banyak berguru kepada beliau soal filosopi dan penerapan falsafah Sunda dalam kebijakan sebagai kepala daerah. Empati Kang Dedi terhadap kondisi ‘maung lucu’ kemarin itu, ternyata didasari oleh pemikiran yang luas seperti ini,” ujar Rudi.

Sementara itu, Komandan Rayon Militer 1123 Cisewu, Kapten (Inf) Nandang Sucahya, menyebut harimau yang dikirim Dedi Mulyadi menjadi harimau paling gagah di seluruh wilayah kerja Kodam III Siliwangi. Bahkan, menurutnya, patung harimau di Markas Kodam Siliwangi III pun kalah gagah oleh patung harimau yang hari ini ada di kantornya tersebut.

“Di kantor pimpinan saya di Kodam III Siliwangi pun harimaunya jadi kalah gagah dengan yang punya saya di sini.  Saya terima kasih kepada Kang Dedi dan seluruh jajarannya,” pungkasnya menutup. (Sony MS/GE)***

Upaya Mediasi Sengketa Anak dan Ibu Kandung. Dedi Mulyadi : “Kalau sampai Rp 1,8 Miliar itu tidak Logis!”

GARUT, (GE).- Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, mengaku prihatin atas gugatan hukum yang dilakukan seorang anak terhadap ibu kandungnya sendiri di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sebab, menurut politisi yang juga budayawan itu, ibu adalah sosok yang memiliki kemuliaan sangat tinggi. Karena itu, seharusnya kemuliaan seorang ibu dijunjung tinggi terutama oleh anaknya sendiri.

Sebagai bukti empatinya, Dedi Mulyadi, sengaja menyempatkan diri mengunjungi kediaman Siti Rohaya (83) di Jalan Cimanuk, Kampung Sanding Atas, Kelurahan Muara Sanding, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (25/3/17) malam. Bahkan, sebelum itu, Dedi mengutus anak buahnya untuk menyampaikan bantuan uang kepada Siti Rohaya. Ketika itu, diserahkan uang sebesar Rp 20 juta, sesuai nilai awal yang dianggap dipinjam Siti Rohaya dari anak kandungnya itu.

“Tapi, kalau memang mintanya Rp 41 juta, saya juga akan lunasi. Hanya kalau sampai Rp 1,8 miliar, itu tidak logis!” tandas Dedi Mulyadi kepada “GE”, Minggu (26/3/17).

Lebih jauh Dedi mengungkapkan, semula berniat memediasi persetruan anak dan ibu kandung ini. Hanya saja, sampai sekarang ia belum dapat menghubungi Yeni Suryani dan suaminya yang menetap di bilangan Jakarta Timur.

“Saya coba kontak dulu melalui telepon, tidak pernah diangkat. Padahal hpnya aktif. Tetapi, anehnya kalau dikontak oleh wartawan, selalu diangkat dan dia mengatakan siap dimediasi oleh saya,” terang Dedi.

Seperti diberitakan sebuah portal berita, Yeni Suryani mengaku sangat senang dan siap dimediasi persoalannya oleh Dedi Mulyadi. Bahkan, katanya, ia menantikan momentum ini agar bisa bertemu dan menyalami ibu kandung yang telah dihadapkannya ke meja hijau.

Tetapi, lanjut Dedi, itu hanya ungkapan kepada wartawan. Buktinya, beberapa kali ia coba hubungi langsung lewat telepon genggamnya tidak pernah diangkat.

“Ini masalah keluarga, bisa diselesaikan dengan kekeluargaan. Seharusnya gak usah sampai ke pengadilan,” kata Dedi, menanggapi gugatan Rp 1,8 miliar yang dilakukan Yani Suryani beserta suaminya Handoyo Adianto, terhadap Siti Rohaya, ibu kandungnya sendiri.

Kasus gugatan perdata itu sendiri sudah memasuki proses persidangan keenam di Pengadilan Negeri Garut. Namun, pada persidangan Kamis (23/3/17), kedua pihak baik penggugat maupun tergugat tidak hadir di ruang sidang. Mereka hanya diwakili oleh kuasa hukumnya masing-masing. (Sony MS/GE)***

Dedi Mulyadi Datang, Patung Macan Siliwangi di Koramil Cisewu pun Terlihat Gagah

GARUT, (GE).- Patung macan “lucu” di Markas Koramil Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, kini berubah gagah. Patung macan yang sempat jadi olok-olok netizen karena rupa muka satwa liar simbol Kodam III Siliwangi itu tampak konyol, sudah diganti dengan yang baru.

Adalah Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, yang berinisiatif mengganti patung harimau kebanggaan warga Jawa Barat tersebut. Ia datang langsung menyambangi Markas Koramil Cisewu sambil membawa patung “maung” seberat tiga kuintal dengan panjang empat meter tersebut, Sabtu (18/3/17).

Patung tersebut merupakan karya Suherman, seniman asal Bandung yang dipercaya Dedi membuat sejumlah karya artistik di Purwakarta.

Dedi mengungkapkan, alasannya memberikan bantuan sebagai bukti soliditas. Terlebih karena dirinya merupakan anak seorang mantan tentara prajurit yang berpangkat Praka III. Selain itu, ia juga menjadi dewan pembina FKPPI Jawa Barat.

“Bentuk soliditas saya sebagai seorang anak tentara. Juga sebagai spirit diri sebagai anak seorang tentara dan kecintaan saya terhadap tentara,” ujar Dedi saat dihubungi usai menyerahkan patung harimau di Koramil Cisewu.

Dedi mengungkapkan, TNI di Jawa Barat dilambangkan dengan Siliwangi yang harus memiliki kegagahan. Patung yang berada di setiap Koramil di Jawa Barat dan Banten pun harus memiliki nilai-nilai Siliwangi.

“Sudah seharusnya patung tersebut terlihat gagah. Makanya saya datang ke sini (Cisewu/red) untuk mengganti patung sebelumnya,” ucapnya.

Menurut Dedi, di sejumlah tempat di Jawa Barat dan Banten, patung harimau masih belum terlihat gagah.

“Bukan Cisewu saja, hampir semua tempat. Ramainya patung harimau di Cusewu, setidaknya bisa diambil hikmahnya. Minimal patung seluruh koranmil sekarang mulai diganti,” katanya.
Danramil Cisewu, Kapten Inf. Nandang, berterima kasih atas bantuan yang diberikan Dedi Mulyadi. Bantuan tersebut akan menjadi motivasi tersendiri bagi pihaknya dan masyarakat Cisewu.

“Saya ucapkan terima kasih atas kepedulian Kang Dedi. Ini merupakan motivasi bagi kami khususnya masyarakat Cisewu, yang sempat dihebohkan oleh beredarnya foto patung tersebut,” kata Nandang.

Adapun keberadaan patung yang sebelumnya menjadi pembicaraan, diakui Nandang sudah dicopot dan dimuseumkan.

“Ya dimuseumkan saja patungnya di belakang kantor. Tapi, sayangnya patung tersebut jatuh ketika kami bongkar. Kalau sekarang patungnya gagah, sesuai kata Kang Dedi, maung sancang,” pungkas Nandang, seraya tersenyum. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Bupati Purwakarta Pimpin Rombongan Kesenian “Tinye” di Helaran Budaya HJG 204

GARUT, (GE).- Kemeriahan tahunan dalam menyambut Hari Jadi Garut (HJG) kembali tersaji dengan karrnaval seni budayanya. Bahkan dalam HJG yang ke 204 kali ini Pemkab Garut mengundang beberapa rombongan kesenian dari beberapa negara sahabar.

Dalam helaran budaya tahun ini (2017) beberapa Kabupaten juga turut serta memeriahkan perhelatan tahunan yang lebih kental cita rasa budayanya ini. Salah satunya rombongan kesenian dari Kabupaten Purwakarta. Bahkan, Dedi Mulyadi yang tak lain Bupati Purwakarta memimpin langsung rombongan kesenian kabupaten yang dipimpinnya. Rabu (22/2/2017).

Dengan penampilan pakaian khasnya yang serba putih, Kang Dedi, demikian sapaan akrab Bupati Purwakarta tampak bergembira mengikuti Karnaval seni budaya ini. Saat berkarnaval ria, Bupati Purwakarta tampil beda, dengan menggendong anak kecil dipundaknya, seraya diiringi para penari dan alunan musik tradisional.

“Ya, tentunya saya senang dengan budaya dan pagelaran seni seperti ini. Makanya saya sengaja datang bersama rombongan kesenian dari Purwakarta,” tuturnya.

Diungkapkannya, dirinya bersama rombongan kesenian lainnya sempat menunggu sampai tiga jam untuk antre giliran pentas dalam acara helaran tersebut.

“Tadi saya harus menunggu sampai tiga jam antrean untuk pentas, ” katanya.

Ia menyampaikan, kesenian yang dipentaskannya yaitu Tarian Nyere atau Tinye bersama para penari dari Kabupaten Purwakarta. Diharapkannya, kesenian yang ditampilkannya itu memberi kegembiraan bagi warga Kabupaten Garut.

“Semoga warga Garut semakin bangga dan mencinta terhadap budaya Sunda.” Tandasnya.

(Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

.

Dedi Mulyadi Serukan Gerakan Kemanusiaan

TAROGONG, (GE).- Budayawan juga sebagai Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengajak pemimpin khususnya dari Partai Golkar untuk menerapkan gerakan kemanusiaan persaudaraan yang ramah, rendah hati dan cinta kepada rakyatnya.

“Jadi pesan yang saya sampaikan dalam kegiatan ini tentang kemanusiaan, persaudaraan, kasih sayang, asmara itu pesannya,” kata Dedi yang juga menjabat sebagai Bupati Purwakarta usai menggelar silaturahmi dan gelar budaya di Lapangan Desa Mekarjaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Kamis malam.

Kegiatan yang berlangsung sampai Jumat dini hari itu, Dedi mengingatkan pemimpin untuk hiperaktif melayani masyarakat.

“Bukan aktif lagi, pemimpin harus hiperaktif,” katanya.

Ia mencontohkan pemimpin yang melakukan gerakan persaudaraan itu seperti selalu menyapa, ramah dan menanyakan keinginannya.

Misalkan, lanjut dia, ketika pemimpin menggunakan kendaraan lalu di perjalanan bertemu dengan masyarakatnya disarankan untuk ikut naik kendaraan menuju tempat yang dituju.

“Kalau di jalan ketemu masyarakatnya yang mau ke pasar, antarkan ke pasar, lalu di pasar ketemu dengan anak-anak mau sekolah antarkan ke sekolah, itu harus dilakukan dengan cara memaksa,” katanya.

Selain itu, Dedi mencontohkan pemimpin maupun masyarakat umum lainnya untuk belajar kepada sosok ibu. Menurut dia sosok ibu memiliki kemampuan tentang keikhlasan hati dalam melakukan tugasnya.

“Cintai ibu, sosok ibu yang telah mengajarkan dengan hati ikhlas,” katanya.

Kegiatan budaya itu menghadirkan pendakwah kondang KH. Jujun Junaedi, dan Vokalis Setia Band, Charly Van Houten.

Kehadiran mereka tersebut menghibur banyak masyarakat Desa Mekarjaya yang berkumpul duduk di tengah lapangan terbuka.

Kepala Desa Mekarjaya, Asep Setiawan mengungkapkan syukur Dedi Mulyadi dapat berkenan hadir dan memberikan motivasi hidup kepada warganya.

Kegiatan seni dan budaya yang sepenuhnya ditanggung oleh tim Dedi Mulyadi itu, kata Asep, tentunya memberikan kesan bagi masyarakat Garut, khususnya di Desa Mekarjaya.

“Acara ini selain memberikan hiburan untuk masyarakat juga ada sebuah siraman rohani untuk membangkitkan rasa kewibawaan sunda supaya percaya diri,” katanya. Farhan SN***

Ditanya Soal Pencalonan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi Masih Malu-malu Kucing

PENDOPO, (GE).-  Setelah terpilih menjadi Ketua Ketua DPD Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi ternyata masih malu-malu kucing mengutarakan keinginannya untuk maju pada pesta demokrasi menjadi Jabar 1. Padahal, dirinya berpeluang besar diusung oleh partai beringin.

Mengenai rencana pencalonannya sebagai Gubernur Jabar pada Pilkada mendatang, Dedi belum berkomentar panjang. Dia menyatakan akan lebih fokus untuk bekerja, agar Golkar lebih dicintai rakyat.

“Saya orangnya tidak suka bicara hasil, tetapi proses. Yang penting sekarang, saya harus bekerja dengan baik agar Golkar makin dicintai rakyat. Soal nanti hasilnya seperti apa, nanti bagaimana alam saja, ada yang Maha Kuasa,” kata Dedi.

Dedi menbahkan, partai harus berperan maksimal memgawal pembangunan, karena, lanjut Dedi, partai dipilih rakyat agar berperan untuk itu.

“Jadi ke depan tidak boleh ada jalan tidak baik, tidak boleh ada masyarakat yang tidak mendapat pelayanan kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Itu semua tugas partai,” pungkas Dedi di Gedung Pendopo, Selasa, (26/4). (Slamet Timur)***