Hujan Tak Kunjung Turun, Sejumlah Wilayah Mulai Terdampak Kemarau

GARUT,(GE).- Hingga akkhir bulan Agustus 2017 hujan tak kunjung turun, sehingga berdampak pada mengeringnya beberapa sumber air. Menanggap hal ini, Bupati Garut , Rudy Gunawan, menyebut di sejumlah kecamatan Kabupaten Garut, mulai dilanda kekeringan akibat musim kemarau. Dampaknya, warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

” Ya, saat ini di Garut sudah mengalami kesulitan, sumber air semakin berkurang,” kata Bupati, Senin (28/8/2017).

Diungkapkannya, saat ini musim kemarau sudah melanda Kabupaten Garut, menyebabkan sejumlah daerah kesulitan air untuk kebutuhan pertanian maupun rumah tangga. Menyikapi hal ini, Pemerintah daerah (Pemda) Garut mengumpulkan para camat untuk melakukan langkah antisipatif di kecamatannya masing-masing.

“Kami (Pemda/red.) sudah mengumpulkan para camat untuk meneliti masalah kekeringan,” katanya.

Bupati menyebutkan, kekeringan yang cukup parah terjadi di daerah tadah hujan seperti di wilayah utara Garut. Sementara Sungai Cimanuk yang menjadi salah satu sumber untuk mengaliri areal pertanian, ditenggarai mulai menyusut.

Dijelaskannya, sejumlah daerah yang mulai dilanda kekeringan pada musim kemarau tahun ini (2017) yakni meliputi Kecamatan Cibatu, Leuwigoong, Limbangan, Selaawi, Malangbong, dan Cibiuk.

“Pemerintah daerah melakukan upaya mengatasi kekeringan tersebut dengan mencari sumber mata air baru, pompanisasi dan bak penampung air,” tukasnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

Harga Garam Melonjak 400 Persen, Industri Kulit Sukaregang Mulai Terdampak

GARUT, (GE).- Dampak kenaikan garam memang tidak begitu membuat gejolak di masyarakat. Namun, lonjakan harga garam ini mulai dirasakan. Kenaikan harga garam mulai dirasakan para pelaku usaha yang dalam usahanya tergantung dengan pasokan garam. Salah satu sektor usaha yang tergantung pada keberadaan garam ini adalah industri penyamakan kulit di Sukaregang, Garut.

Menurut Wakil Ketua Bidang Pemerintahan Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Kabupaten Garut, Sukandar, lonjakan harga garam yang tak diduga ini diakui sangat memberatkan para pengusaha. Garam yang biasa dibeli dari Cirebon itu kini naik hingga 400 persen.

“Ya, sejak bulan Juni harganya naik. Semula hanya Rp 1100 per kilo, sekarang jadi Rp 5000 per kilo,” ungkapnya, Kamis (27/7/2017).

Menurutnya, bahan baku garam ini sangat vital untuk proses penyamakan kulit. Kegunaan garam untuk penyamakan kulit ini dipakai untuyk proses awal pembuatan bahan kulit setengah jadi. Jika tak ada garam, bahan baku kulit bisa membusuk.

Dijelaskannya, Di kawasan indutri kulit Sukaregang saat ini sedikitnya terdapat 320 pelaku usaha yang menekuni penyamakan kulit ini. Dalam sebulan kebutuhan Garam untuk kebutuhan penyamakan kulit ini bisa mencapai 120 ton.

“Bhkan, kebutuhan garam ini akan meningkat beberapa kali lipat saat memasuki musim Idul Adha. Jika harga garamnya mahal apalagi sampai tidak ada barang tentu akan jadi masalah besar,” tukasnya.

Diakuinya, akibat kenaikan harga garam ini ongkos produksi otomtasi meningkat. Sejumlah pengusaha pun kebingungan dengan kondisi saat ini. Ia menyebut naiknya harga garam yang sangat tinggi baru pertama kali terjadi dalam sejarah industri kulit Sukaregang.

“Tahun-tahun lalu kalau naik juga paling tinggi Rp 1.500. Itu juga tidak lama naiknya. Sekarang sampai Rp 5.000 juga bikin bingung,” keluhnya.

Kebingunan para pengusaha kulit ini bertambah,saat akan memesan garam barangnya malah tak ada. Namun penjual sudah mematok harga terlebih dulu.

“Harga naik tapi saat konfirmasi barang tak ada. Kalau ada enggak jadi masalah. Penjual di Cirebon tak berani buka harga. Malah balik nanya berani bayar berapa,” tukasnya.

Diungkapkannya, harga garam yang mencapai Rp 5.000 per kilo ini belum termasuk ongkos kirim. Jika ditambah ongkos kirim, maka harga garam mencapai Rp 5.500 per kilonya.

“Ongkos produksi naik berdampak pada harga kulit. Tapi konsumen tidak mau dinaikkan harganya,” ucapnya.

Diakuinya, dampak kenaikan garam ini bukan hanya akan berdampak kepada pengusaha penyamak saja. Jika penyamakan tak berproduksi, para pekerja pun otomatis tak akan mendapat penghasilan.

“Produksi bisa berkurang setengahnya sekarang. Saat ada garam diproses kalau tak ada diam,” ujarnya seraya menyebut terdapat sekitar 1.300 pekerja di usaha penyamakan kulit.

Untuk mengatasi persoalan garam, kini para pengusaha kulit di Sukaregang terpaksa menggunakan garam bekas. Walau hasil yang didapat kurang baik. (Tim GE)***