Tanah Bergerak Landa Cisompet, Seratusan Rumah Warga Terancam Ambrol

GARUT, (GE).- Intensitas hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir melanda kawasan selatan Garut, tepatanya di Kecamatan Cisompet dan sekitarnya. Akibat guyuran hujan yang cukup deras, menyembabkan pergerakan yang meluas. Pergerakan tanah ini membuat warga khawatir. Tercatat, sedikitnya ada 107 unit rumah warga terancam ambrol akibat pergerakan tanah.

Seratusan rumah yang kini keberadaannya terancam diantaranya berlokasi di  Desa Sindangsari, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut. Disamping itu, saat terjadinya hujan deras dan tanah bergerak, diantaranya ada tiga unit rumah warga rusak berat. Ketiga rumah warga tersebut rusak setelah sebelumnya pondasi rumah bergeser dari posisi sebelumnya sehingga mengaibatkan ambrol.

Sementara itu, retakan tanah terbaru melada Kampung Batusari, Desa Sindangsari, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, Jum’at (6/10/17).

Menurut Dede, salah seorang warga setempat, sebelum terjadinya pergerakan tanah, terdengar suara gemuruh disertai getaran gempa. Sontak saja, keadaan tersebut membuat warga panik dan berhamburan kelauar rumah.

“ Ya, sebelumnya terdengar suara gemuruh seperti gempa, kami panik tentunya dan kita berhamburan keluar rumah. Saat di luar tanah di sekitar rumah kami sudah retak retak cukup besar,” ungkapnya, Minggu (6/10/17).

Menurut Jajang Sumarna, salah seorang petugas Taruna Siaga Bencana (Tagana) dari Dinas Sosial Kabupaten Garut, akibat pergerakan tanah di kawasan Cisompet, saat ini ada 107 rumah warga yang kondisinya terancam. Sementara, pihaknya juga sudah mendapatkan laporan terputusnya jalan akses penghubung antar kampung.

“Ya, ada 107 unit rumah di Kampung Batusari kondisinya terancam,” ujarnya.

Dikatakannya, karena khawatir akan keselamatannya, sejumlah warga mengungsi kle tempat yang lebih aman. (Andri)***

Editor: Kang Cep.

 

Masjid dan Infrastruktur Jalan Rusak Diterjang Longsor, BPBD: Garut Selatan Waspada Bencana

GARUT, (GE).- Guyuran hujna deras di awal bulan Oktober mengakibatkan bencana longsor di sejumlah wilayah di kawasan Garut selatan. Selain di kecamatan Cisompet, longsoran tebing yang menutup badan jalan raya, longsor juga melanda sejumlah titik di wilayah Kecamatan Banjarwangi dan Cihurip, Sabtu (30/9/17).

Jalan ambrol di Kampung Pasirtua, Desa Jayamukti, Kecamatan Cihurip, Kabupaten Garut. Sepanjang 10 meter dengan lebar 2,5 meter ini memutuskan jalur penghubung dua desa, Minggu (1/10/17)***

Dari informasi yang berhasil dihimpun “Tim GE,” di wilayah Kecamatan Cihurip, Kabupaten Garut, menurut Camat Cihurip, Asep Harsono, HS, S. Sos., M.Si., longsor sempat memutuskan badan jalan di Kampung Pasirtua, Desa Jayamukti sepanjang 10 meter dengan lebar 2,5 meter. Selain memtuskan jalan desa, longsor juga berdampak pada ambruknya jembatan Cipongpok.

Jembatan Cipongpok kawasan Kampung Pasirtua, Desa Jayamukti, Kecamatan Cihurip, Kabupaten Garut, ambrol, Minggu (1/10/17)***

“Ya, untuk penanggulangan bencana sementara, kita (Muspika) satpol PP bergotong-royong bersama masyarakat untuk membenahi akibat longsor. Alhamdulillah, untuk korban jiwa tidak ada, hanya kerugian materiil saya yang masih kita catat berapa-berapanya,” kata Asep, Minggu (1/10/17).

Sementara itu, di wilayah Garut selatan lainnya, tepatnya di sebuah masjid jami di Kampung Kubang, Desa Talagajaya, Kecamatan Banjarwangi, ambrol diterjang material tanah longsor, Minggu (1/10/17).

“Ya, masjid Al Barokah hampir seluruh bagian sampingnya ambrol diterjang longsor,” ujar Ridwan, warga setempat, Minggu (1/10/17).

Menanggapai musibah longsor di sebagian kawasan selatan Garut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, mengimbau masyarakat untuk mewaspadai berbagai ancaman bahaya bencana longsor di jalur selatan Garut.

” Sebagian kawasan Garut selatan, salah satunya di Cisompet dam sekitarnya memang labil kondisi tanahnya rawan pergerakan tanah,” kata Kepala Pelaksana BPBD Garut, Dadi Djakaria kepada wartawan di Garut, Minggu (1/10/17)

Dijelaskannya, Kabupaten Garut merupakan peringkat rawan bencana kedua di Indonesia setelah Kabupaten Cianjur dengan berbagai jenis ancaman bencana alam. Dadi mewanti-wanti untuk masyarakat Garut harus tetap waspada.

“Garut tercatat sebagai daerah rawan bencana nomor dua di Indonesia, setelah Cianjur,” katanya.

Ditambahkannya, masyarakat yang bermukim di kawasan rawan bencana, dihimbau kalau bisa pindah untuk menghindari bahaya dampak dari bencana alam. Masih menurut Dadi, warga juga harus menjaga lingkungan seperti tidak membuang sampah sembarangan dan jangan sekali-kali mengalih fungsikan lahan yang dapat menimbulkan bencana.

“Warga harus memelihara dan bersahabat dengan alam, jangan ada alih fungsi lahan,” tandasnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

Tuntut Bupati Sediakan Rumah Tinggal Baru, Korban Pergerakan Tanah Cisompet Turun ke Jalan

GARUT, (GE).- Menuntut janji Bupati Garut, Rudy Gunawan, ratusan korban pergerakan tanah yang terjadi di Cisompet, wilayah selatan Kabupaten Garut pada Februari 2016 lalu, gelar aksi demonstrasi ke Kantor Bupati Garut, Kamis (24/8/2017). Mereka menuntut pemerintah segera memenuhi janjinya untuk menyediakan rumah tinggal baru.

Para demonstran itu merupakan warga yang berasal dari Kampung Sawah Hilir, Desa Sindangsari, Cisompet, Garut. Menurut Ipin (63), salah seorang peserta aksi, demonstrasi ini merupakan reaksi karena pemerintah tak kunjung merealisasikan janjinya.

“Sudah 18 bulan kami tinggal di Hunian Sementara (Huntara). Sekarang kami ingin meminta kepastian, apakah pemerintah akan memberikan kami rumah baru sesuai janjinya, atau membiarkan kami hidup selamanya di huntara,” tuturnya.

Diungkapkannya,sejak mereka menjadi korban pergerakan tanah, bantuan kini tidak lagi mengalir. Bantuan-bantuan tersebut hanya datang hingga tiga bulan setelah kejadian.

“Memang dulu banyak yang datang (bantuan), bahkan diserahkan secara seremoni. Tapi sekarang tidak ada lagi. Kami minta santunan Rp 10 juta per keluarga,” harapnya.

Setelah menyuarakan aksinya di depan kantor Bupati Garut, massa kemudian melanjutkan aksinya menuju gedung Dewan Pimpinan Rakyat Daerah (DPRD) Garut. (Memphis/ Andri)***

Menderita Kanker Payudara, Janda Renta Ini Tak Mampu Berobat

DUA puluh tahun sudah Mak Ade Asmanah (55) warga Kampung Cidahu, RT04/05, Desa Neglasari, Kecamatan, Cisompet, Kabupaten Garut ditinggal wafat suaminya. Kini janda yang telah berusia senja ini hidup bersama dua anaknya dalam keterbatasan ekonomi.

Dua anak Ade sendiri hanya bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kelaurganya. Penderitaan Mak Ade kini bertambah, setelah setahun terakhir tubuhnya digerogoti penyakit berbahaya, yakni kanker payudara.

”Pun biang sateuacanna gaduh panyawat mah, calikna di bumi anjeuna,ngurus nyalira margi sateuacan gaduh panyawat mah sok buburuh ngaramet. Kirang langkung tos dua taun pun biang calikna sareng abdi, teras panyawatna kalah langkung kacida. Simkuring salaku putrana bujeng-bujeng tiasa ngalandongan pun biang ka rumah sakit, kango neda sadidinten ge batan sakieu sesahna. Kantenan pun lanceuk teu gaduh padamelan nu puguh,” ungkapnya, seraya menyeka air matanya.

Kondisi penyakit kanker yang diidap Mak Ade tampak semakin parah. Terkait penyakitnya ini, Mak Ade mengaku belum mendapatkan bantuan dari  pemerintah, hanya tetangganyalah yang sudah membantu.

“Belum, belum ada yang bantu, apalagi dari pemerintah. Selama ini hanya  para tetangga yang membantu untuk sekedar makan,” tututnya,lirih. (Iwan Setiawan).***

Editor: Kang Cep.

Bahas Teknologi Tepat Guna, Tenaga Ahli Kunjungi Cisompet

GARUT, (GE).- Tenaga Ahli Bidang Teknologi Tepat Guna (TTG) Kabupaten Garut, Ghinan Wibawa, baru-baru ini melakukan monitoring kegiatan pendampingan desa sekaligus membahas kegiatan di bidang Tekhnologi Tepat Guna (TTG).

Kunjungan monitoring dilaksanakan di Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut beberapa waktu lalu. Kedatangan TA TTG yang didampingi tiga orang staff tersebut diterima langsung oleh Kasi PMD Kecamtan Cisompet, Hj. Ayi dan tiga orang pendamping desa, Asep Ridwan, Alamsyah Ridwan dan Syamsul Ridwan.

Selama kunjungan, Ghinan mendiskusikan kinerja pendamping desa dalam proses perencanaan pembangunan desa serta memantau kegiatan program bidang Tekhnologi Tepat Guna (TTG) di Cisompet yang dinilai masih minim.

Ghinan menjelaskan, sebenarnya untuk mengembangkan tekhnologi tepat guna di daerah seperti di Kecamatan Cisompet sangat mudah. “Hanya yang menjadi persoalan kesadaran masyarakat setempat yang masih minim,” ungkapnya.

Dia mencontohkan, sampah-sampah pun bisa menghasilkan keuntungan dan memiliki potensi ekonomi yang bagus jika dapat dikelola dengan baik.

“Kementerian pusat beberapa waktu yang lalu memberikan bantuan modal ke warga di Kec. Kersamanah karena disana program TTG telah berjalan dengan baik. Sebab itu, kita mesti rajin sosialisasikan ke masyarakat terkait pentingnya TTG dan sebuah kesadaran terhadap lingkungan,” tandasnya disela-sela diskusi di ruangan Kantor Kecamatan Cisompet.

Master hukum ini menjelaskan, pendamping desa diharapkan dapat memberikan dorongan kepada masyarakat untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan teknologi sederhana yang ada disekitar masyarakat.

Diungkapkannya, di sini (Garut) kinerja pendamping desa masih cukup mudah dan terjangkau, berbeda dengan di Papua atau Kalimantan. “Kunjungan dari satu desa ke desa lainnya bisa menelan biaya transfortasi Rp 10 juta dan untuk sewa perahu saja bisa mencapai 4 juta,” imbuhnya. (Sy)***

Editor: Kang Cep.

 

Tembus Pasar Korea, Hasil Olahan Kelompok Wanita Tani “Sindu Basuni Abadi” Dilengkapi Berbagai Bersertifikat

GARUT, (GE).- Kelompok Wanita Tani Sindu Basuni Abadi merupakan sebeuah kelompok pengembangan ekonomi kreatif di kawasan Garsel. Kelompok ini telah berdiri sejak tahun 2012 silam. Setelah sekian lamanya eksis, hingga saat ini Kelompok Wanita Tani Sindu Basuni Abadi diketuai Ny Nurmanah.

Ny. Nurmanah, mengatakan, sejak didirikan pada tahun 2012 silam sampai sekarang hanya beranggotakan 12 orang. Kelompok ibu ibu kretaif ini mengolah hasil pertanian, terutama dari palawija seperti singkong, ubi jalar, pisang, pepaya, labu dan talas.

“Dengan bahan dasar tersebut, kami membuat produk olahan berupa keripik dan manisan, keripik pun ada yang rasa pedas,manis dan asin,” katanya.

Dijelaskannya setiap harinya kelompok tani ini bisa menghasilkan 21 kg keripik siap saji. Dari bahan mentah 70 kg,keuntungannya cukup lumayan. Dari keuntungan menjual produk olahan ini sebesar 2% disishkan untuk kas kelompok.

“Untuk pemasarannya, selain di Garut, kita juga memasarkan ke luar daerah, seperti ke Bandung,Jakarta dan Bekasi. Bahkan ke luar negeri pun sudah sampai seperti ke Korea. Untuk pengiriman ke Korea hanya setahun sekali, setelah Hari Raya Idul Fitri,” ungkapnya.

Nurmanah mengisahkan,pesanan dari Korea mencapai 200 kg setiap kali order. Pemasaran sampai Korea ini berawal dari seorang warga Desa Jatisari yang kebetulan bekerja di Korea.

“Ya, awalnya untuk pemasan ke Korea karena ada warga Desa Jatisari yang bekrja di sana. Dan waktu pulang membawa kripik dan manisan sebagai oleh-oleh saja. Beberapa bulan kemudian kami mendapat berita lewat surat yang intinya mohon dikirim lewat paket. Akhirnya setelah berkomunikasi kami mengirimnya dan sampai sekarang Alhamdulilah masih berjalan,hanya satu tahun sekali,” paparnya.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Sindu Basuni Abadi saat ini beralamat di Kampung Cinengah, Desa Jatisari, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut.

“Perlu diketahui, usaha kami juga telah dilengkapai legalitas berupa sertifikat Produksi Pangan Industri dari Dinas Kesehatan Kabupaten Garut dengan nomor P-IRT.No 2143205011022.Kami pun sudah beberapa kali mengikuti pelatihan baik tingkat Kabupaten maupun di tingkat Provinsi,” ungkapnya.(Iwan Setiawan).***

Editor : Kang Cep.

Diduga sudah Tewas Tiga Hari. Jasad Ujang Suryana Ditemukan Membiru dan Mengeluarkan Darah

GARUT, (GE).- Warga Kampung Hanjuang RT03 RW 03, Desa Cisompet, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, geger menyusul ditemukannya mayat Ujang Sunarya (40).  Ketika ditemukan, jasad Ujang mengeluarkan bau tak sedap, tubuhnya membiru, dan mengeluarkan darah dari hidungnya.

Menurut Camat Cisompet, Titin, jasad Ujang ditemukan warga terbaring di atas tempat tidur, sekira pukul 09.25 WIB. Dari kondisinya, Ujang diperkirakan telah meninggal selama tiga hari.

“Ia diduga meninggal karena penyakit yang dideritanya. Sebab, menurut penuturan warga, Pak Ujang ini menderita sakit sejak lama,” kata Titin, Jumat (7/4/17).

Saat ditemukan, jasad Ujang masih mengenakan pakaian berupa kaos, jaket, dan sarung. Namun kondisi tubuhnya sudah membiru dan mengeluarkan darah dari hidung.

Setelah melakukan pemeriksaan seperlunya, warga dan aparat Kecamatan Cisompet kemudian mengevakuasi jenazah ke Puskesmas Cisompet untuk diperiksa. Karena kondisi mayat mengeluarkan bau tak sedap, warga dan petugas terpaksa menggunakan masker penutup hidung saat melakukan evakuasi. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Hadapi Era Digital, Kepala SD Panyindangan 1 Genjot Guru Bidang IT

GARUT, (GE).- Saat ini sudah menjadi tuntutan dan kebutuhan bagi para guru dalam penguasaan teknologi guna mendukung pembelajaran di era digital. Melihat kebutuhan tersebut, Sekolah Dasar Negeri (SDN) Panyindangan 1 Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, sangat serius dalam membekali guru kemampuan di bidang information technology (IT).

Kepala SD Panyindangan 1 Kecamatan Cisompet, Iwan Setiawan, S.Pd, saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (31/3/17), mengatakan, penguasaan IT atau biasa dikenal dengan Teknologi Informasi sangatlah penting bagi guru.

“Sebab itu, para guru dalam menjalankan aktivitasnya diharuskan menggunakan komputer, laptop termasuk WiFi. Berbagai kemudahan dan keberadaannya bisa dimanfaatkan seperti membuat kisi-kisi soal, membuat agenda harian, silabus, administrasi kelas dan lainnya,” paparnya.

Ia menambahkan, setiap guru dituntut untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM)  menggunakan laptop dan internet.

“Namun demikian, masih ada kendala, sebanyak 3 guru belum menggunakan laptop yaitu guru kelas I, III dan V karena anggaran dana yang terbatas. Akan diusahakan untuk mengajukan proposal bantuan ke Pemkab. Begitu juga fasilitas yang belum tersedia yakni ruang sarana olahraga dan perpustakaan,” tuturnya.

Selain menerapkan penguasaan IT, lanjut Iwan, pihaknya juga menggulirkan program apotek hidup dan warung hidup.

“Tanaman pohon herbal yang tersedia di halaman sekolah cukup banyak. Dari mulai betadine, daun babadotan, batrawali hingga ke surawung. Tanaman obat dapat dimanfaatkan untuk luka para siswa maupun guru sebagai pencegahan awal,” ujar Iwan.

Dijelaskannya, Sekolah Dasar Panyindangan I Kecamatan Cisompet merupakan sekolah tertua dibangun tahun 1920 dan merupakan SD pertama di Kecamatan Cisompet.

Alhamdulilah, telah banyak prestasi sekolah yang diraih seperti juara II bulu tangkis tingkat OSN se-Kecamatan Cisompet. SD Panyindangan 1 Cisopmpet sendiri kini memilik 6 ruang kelas, 6 guru PNS, 5 guru Honorer, dan 138 murid,” pungkasnya. (Syamsul)***

Editor: Kang Cep

Miliaran Rupiah Dana Desa Segera Digelontorkan. Emu Amzi: Kepala Desa Harus Hati-hati

GARUT, (GE).– Sebanyak 11 kepala desa beserta sekretaris desa (Sekdes) se-Kecamatan Cisompet,  mengikuti pelatihan Pengelolaan Keuangan Dana Desa,  di Aula Kecamatan Cisompet, Rabu (29/3/17). Dalam kesempatan ini, Emu Muhammad Amzi, M.Pd, selaku Koordinator Tenaga Ahli Kabupaten Garut dihadirkan sebagai nara sumber utama.

Dalam sambutannya, Camat Cisompet Titin M.Si. mengatakan, pelatihan pengelolaan keuangan dana desa tahun anggaran 2017 diharapkan dapat meningkatkan sumber daya para aparatur desa. Sehingga para aparatur desa bisa melaksanakan administrasi secara menyeluruh mulai dari perencanaan pelaksanaan, pelaporan hingga pertanggungjawaban.

“Begitu juga untuk mekanisme pencairan alokasi dana desa (ADD), setiap desa harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan seperti yang tertuang dalam Perbup, yakni melampirkan APBDes, Perdes LKPJ dan lainnya,” tuturnya.

Sementara itu, Emu Azmi dalam pemaparannya menyampaikan, dengan adanya dana desa yang jumlahnya hingga miliaran rupiah, tentunya hal ini bisa menjadi kabar bahagia.

“Namun, di luar kabar bahagia tersebut juga muncul ‘ancaman’ yang sangat besar. Jika sampai dana desa tersebut dikorupsi dan berakhir di Sukamiskin,” tandasnya.

Cucu dari KH Fauzan Sukaresmi ini mengingatkan, kekhawatiran terkait kemungkinan adanya korupsi dana desa ini bukan tanpa alasan. Desa selaku pengguna anggaran yang jumlahnya sangat besar dan jauh berbeda dengan keberadaan desa sebelum lahirnya uu desa nomor 6 tahun 2014.

“Sudah ada contohnya seperti Kades Cigagade, Kecamatan Limbangan, yang kini berakhir dijeruji besi gara-gara dana desa. Begitu juga di salah satu desa di Kecamatan Cisewu, kadesnya berurusan dengan persoalan hukum gara-gara dana desa juga,” tambahnya.

Lebih jauh Azmi menjelaskan, semua penggunaan dana desa akan diaudit langsung Badan Pemeriksan Keuangan (BPK).

“Sebab itu, kami ingatkan, kepala desa jangan sekali-kali memberikan uang kepada para pendamping desa. Dan kami sampaikan juga ke pendamping desa, tolong dicatat kepala desa mana saja yang pelit,” tandas Emu Azmi sambil berkelar.

Pada tahun 2017 ini, lanjut Azmi, Desa Cikondang akan menerima dana paling besar mencapai Rp 950 juta .

“Penggunaan dana tersebut harus sesuai dengan RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa) dan RKPDes (Rencana Kerja Pemerintah Desa). Dan tak jadi soal jika dana desa juga sebagian diperuntukkan bagi pencegahan kesiap-siagaan bencana,” pungkasnya. (Sy)***

Editor: Kang Cep.

Guru Sukwan ini Menggadaikan KTP-nya demi bisa Kuliah, Bagaimana Ceritanya…

KISAH pilu guru sukwan seolah tak pernah habis. Perjalanan karirnya yang pahit kerap kali jadi penghias berbagai media massa. Mengabdi puluhan tahun sebagai pendidik seperti tak pernah mendapatkan penghargaan dari pemangku kebijakan.

Gajinya yang jauh dari kata layak, tak sedikit memaksa sejumlah guru honorer untuk mendapatkan penghasilan dari usaha lain. Julukan “Pahlawan tanpa Tanda Jasa” yang disematkan untuk para guru yang sejak zaman “baheula” hingga sekarang tak lebih dari sekadar pemanis belaka.

Satu dari sekian banyak kisah pilu guru sukwan atau honorer dialamai pendidik di kawasan Garut Selatan. Adalah salah seorang guru sukwan yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mendidik di  SDN 2 Margamulya, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Setiap hari Neli, sapaan akrabnya, harus menempuh perjalanan berkilo meter dengan menggunakan speda motornya untuk bisa mengajar di SDN 2 Margamulya. Seiring tuntutan profesinya sebagai guru, ia pun diharuskan memiliki gelar S1 untuk memenuhi kompetensinya sebagai guru. Dengan motor kesayangannya itu pula, Neli “ngeureuyeuh” menempuh pendidikan tingginya di kota Garut.

Neli menceritakan salah satu kisah pilunya menjadi seorang guru sukwan. Satu ketika ia melakukan perjalanan Cisompet-Garut Kota untuk kuliah kelas karyawan di salah satu perguruan tinggi terkemuka. Belum separuh perjalanan, tiba-tiba ban motornya kempes. Setelah ditambal, tepat di bilangan Kampung Sodong ban motornya kempes lagi. Padahal perjalannan ke kota Garut masih sangat jauh.

Namun, sesampainya di tukang tambal ban berikutnya, ban motor tersebut malah sobek. “Ini tidak bisa ditambal bu, harus diganti yang baru. Begitu kata tukang ban. Dalam hati saya bingung karena sisa uang hanya tinggal Rp 12.000. Dengan bekal nekat dan malu, akhirnya KTP saya simpan di tukang tambal sebagai jaminan. Karena uang tidak akan cukup untuk membeli ban yang baru,” kenangnya.

Diungkapkannya, kisah memilukan yang dialaminya bukan saja soal ban kempes. Saat pulang kuliah dari Garut, tak jarang harus basa kuyup kehujanan.

“Kisah menyedihkan seperti ini biasa saya alami. Bahaya di pejalanan saat hujan, seperti sambaran petir dan longsoran tanah menjadi hal yang biasa,” tutur ibu dua anak ini kepada “GE”, lirih.

Neli yang dilahirkan pada 2 Februari 1984 juga bersuamikan seorang pekerja di lingkungan pendidikan.  Arman, suami Neli, adalah seorang operator di sekolah yang sama (SDN 2 Margamulya) Kampung Datar Waru RT 01/RW 05, Desa Margamulya, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut.

Dengan semangatnya yang tinggi, meski dengan tertatih akhirnya Neli bisa meraih gelar S1. Namun impian yang diidamkannya menjadi seorang PNS hingga saat ini belum juga terwujud.

“Dengan susah payah dan izin suami tentunya, Alhamdulillah saya bisa meraih gelar S1. Saya bekerja keras untuk memenuhi standar komptensi sebagai guru. Namun sudah puluhan tahun impian menjadi seorang PNS sepertinya masih angan-angan saja. Mungkin ini sudah takdir saya, ” tuturnya, seraya menyeka air matanya. (Iwan Setiawan ).***

Editor: Kang Cep