Banyak Kades yang Tak Pasang Baligo APBDes, Pihak Kecamatan Cisewu: Jika Membandel Pencairan DD Selanjutnya akan Ditangguhkan

GARUT, (GE).- Seperti diberitakan sebelumnya, bahwa beberapa Desa yang ada di wilayah Kecamatan Cisewu, Garut sebagian belum memasang baligo APBDes. Padahal hal tersebut telah menyalahi Undang-undang Keterbukaan Informasi Publik. Disamping Itu Pemasangan baligo APBDes tersebut dianjurkan oleh Kementrian Desa.

Meski sudah tahu menyalahi perundang undangan, ironisnya, dari 8 desa yang tersebar di Kecamatan Cisewu hanya satu desa yang sudah memasang Baligo APBDes, yaitu Desa Pamalayan.

Sementara itu, pihak kecamatan sendiri mengaku sudah sering mengintruksikan kepada para kepala desa agar menasang baligo APBDes dan papan Informasi Kegiatan. Demikian disampaikan Heri selaku Sekmat Kecamatan Cisewu, Rabu (5/7/17).

“Kami sudah berkali-kali mengintruksikan dan menghimbau agar di setiap desa memasang baligo APBDES dan papan informasi kegiatan. Namun kenyataanya dari pantauan kami hanya satu desa yang sudah memasang baligo tetsebut yaitu desa Pamalayan,” ungkapnya.

Sekmat menegaskan, pihaknya akan terus mengintruksikan kepada para kepala desa agar segera memasang Baligo APBDes dan papan informasi kegiatan. Diakuinya, pihak kecamatan kerap kali mendapat laporan dari warga terkait di beberapa desa yang tidak memasang papan informasi.

“Masyarakat banyak yang bertanya terkait pembangunan yang sedang dilaksanakan di desanya. Untuk itu kami tidak akan bosan mengingatkan dan menghimbau para kades agar memasang baligo APBDES dan papan informasi. Jika masih ada yang membandel kami akan memberikan sanksi berupa penahanan pencairan Dana Desa (DD) tahap selanjutnya,” tandasnya. (Deni/Siti)***

Editor: Kang Cep.

BREAKING NEWS : Diduga Mencuri Kerbau, Adul Nyaris Tewas Diamuk Massa

GARUT, (GE).- Peristiwa amuk massa kembali terjadi di kawasan Garut Selatan (Garsel), Jawa Barat. Amukan warga ini dipicu hilangnya seekor kerbau milik Dadang, warga Kampung Sukanagara, Desa Panggalih, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut. Pencurian diduga dilakukan pada malam hari.

“Saya kaget saat memeriksa kandang, kerbau saya telah hilang. Saat itu saya langsung memberitahukan kepada tetangga dan warga lainnya,” kata Dadang, Sabtu (8/4/17).

Pagi itu, Dadang bersama warga pun langsung beramai-ramai melakukan pencarian. Karena masih ada jejak kaki kerbau, sangat mudah bagi warga menelusuri ke mana arah larinya si pencuri. Akhirnya, sekira pukul 14.00 WIB, di hari yang sama, warga mendapati kerbau yang diduga milik Dadang tengah dituntun seseorang. Tak menunggu aba-aba sebelumnya, orang yang menuntun kerbau tersebut langsung dikeroyok puluhan warga hingga babak belur.

“Ya, sekitar jam dua siang kami menemukan kerbau milik Kang Dadang sedang dituntun seseorang. Dan warga pun menghajarnya habis-habisan hingga babak belur, hampir tewas,” ungkap warga lainnya.

Menurut Holid, Kepala Desa Panggalih, Kecamatan Cisewu, beberapa saat usai dihajar massa orang yang diduga mencuri kerbau milik Dadang ini mengaku bernama Adul (30), warga Kampung Cibaregbeg, Desa Indralayang, Kecamatan Caringin.

“Orang ini (pelaku/red) mengaku warga Kampung Ciberegbeg. Ia mengaku bernama Adul. Untuk menyembuhkan luka-luka akibat amuk massa, kita langsung  membawanya ke Puskesmas untuk mendapatkan perawatan,” ungkapnya.

Terkait kejadian ini, Kapolsek Cisewu, AKP Yayat Hardiat, mengaku belum menerima laporan resmi dari masyarakat.

“Hingga saat ini (Sabtu/8/4/17-red) Saya belum mendapat laporan dari warga terkait aksi massa ini. Kita akan cross chek dulu,” tukasnya. (Deni-Siti/GE)***

Editor: Kang Cep.

Pelaksanaan UNBK Hari Pertama di SMKN 11 Garut Berjalan Lancar

GARUT, (GE).- Pelaksanaan Ujian  Nasional Berbasis Komputer (UNBK) hari pertama di SMKN 11 Garut,  Jawa Barat, berjalan lancar. Sebanyak 46 peserta ujian tampak serius menjawab soal-soal yang tertera di layar komputer. Meski untuk pertama kali mengikuti UNBK, mereka tidak canggung dalam melaksanakannya.

Wakasek SMKN 11 Garut,  Iwan Ruswandi, S.Pd, M.M.Pd, mengaku bangga dapat melaksanakan UNBK di sekolahnya.

“Kami juga merasa bangga walau sekolah berada di daerah terpencil, kami bisa melaksanakan UNBK sepeti sekolah-sekolah di perkotaan,” ungkap Iwan kepada “GE” di sela pelaskanaan UNBK, Senin (3/4/17).

Hanya saja, terang Iwan, karena jumlah fasilitas komputer terbatas, UNBK dilaksanakan bergilir dalam tiga sesi. Sesi pertama sebanyak 16 peserta, sesi kedua dan ketiga masing-masing diikuti sebanyak 15 peserta.

“Mudah-mudahan pelaksanaan UNBK  berjalan lancar sampai hari terakhir. Terutama tidak terjadi mati lampu, karena hal tersebut dapat menjadi kendala dalam pelaksanaan UNBK. Jika mati lampu, ini tentunya akan berdampak pada hilangnya jaringan internet,” terang Iwan.

Iwan juga menambahkan, pelaksanaan UNBK tahun ini diikuti SMK IT Talegong dan SMK Darul Uyum. Kedua sekolah tersebut, untuk fasilitas server komputernya dipusatkan di SMKN 11 Garut. (Deni/GE)***

Editor : SMS

Dedi Mulyadi, “Maung” dan Hutan sebagai Sumber Kemakmuran Masyarakat Jawa Barat

GARUT, (GE).- Ketua DPD Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menekankan pentingnya harimau dalam peradaban masyarakat Sunda. Menurutnya, harimau merupakan simbol penjaga hutan. Sementara hutan sendiri merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat Sunda. Sebab, dengan kelestarian hutan, ketersediaan air yang menjadi sumber kehidupan menjadi terjamin.

“Dari hutan yang di dalamnya terdapat mata air, lahirlah sungai. Dari sungai tersebut lahirlah bendungan. Dari bendungan itu, lahirlah peradaban pertanian, perikanan, pariwisata, dan sumber kehidupan lain bagi masyarakat Sunda,” ucap Dedi, saat peresmian patung maung siliwangi yang kini terpajang gagah di halaman Markas Koramil 1123 Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (31/3/17) malam. Acara peresmian sendiri digelar singkat dan sederhana.

Menurut Bupati Purwakarta ini, kemakmuran orang Sunda ditentukan oleh kelestarian hutan. Hutan itu adanya di gunung.

“Hutan akan lestari kalau didalamnya ada harimau, karena tidak akan ada manusia yang berani merambah hutan,” jelas Dedi.

Simbol gunung sendiri, lanjut Dedi, sangat melekat dalam tradisi dan peradaban orang Sunda. Ini dibuktikan dengan bentuk “aseupan” (alat untuk menanak nasi yang terbuat dari anyaman bambu/red) yang bentuknya lancip mirip gunung. Begitu juga, setiap kali dalang membuka lakon wayang, pasti didahului kemunculan “gugunungan”.

Dalam dialog singkat pendalaman konsepsi hutan sebagai sumber kemakmuran, Dedi berbagi strategi kepada Bupati Garut, Rudy Gunawan, dan Ketua DPRD Garut, Ade Ginanjar, yang juga turut hadir di lokasi peresmian tersebut.

Budayawan Sunda itu menyebut, dibutuhkan komitmen dan program strategis untuk menjadikan hutan sebagai “basic core” pembangunan di Jawa Barat. Langkah tersebut menurut Dedi, dapat ditempuh dengan beberapa cara. Di antaranya, menjadikan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan untuk melakukan pemulihan hutan dengan cara penanaman kembali lahan yang gundul.

KETUA DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat menyampaikan sambutan pada acara peresmian pemajangan patung Maung Siliwangi di halaman Markas Koramil 1123 Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (31/3/17) malam. (Foto : Istimewa)***

“Masyarakat yang tinggal di sekitar hutan itu harus diangkat sebagai tenaga harian lepas oleh pemerintah. Tugasnya, setiap hari menanam pohon di lahan yang gundul. Gajinya bisa Rp2,5 Juta sampai Rp3 Juta per bulan. Saya yakin, itu masyarakat yang biasa diminta oleh para orang kaya untuk merambah hutan, paling hanya dapat Rp1,5 Juta per bulan sudah bagus, kita pasang harga lebih besar,” tegasnya.

Konsep selanjutnya, imbuh Dia, setelah wilayah hutan berhasil di-recovery, dapat langsung dibangun perkampungan berbasis adat Sunda dengan jumlah rumah masing-masing sebanyak 40 rumah setiap kampung. Anak-anak warga di kampung tersebut dididik pendalaman pengetahuan tentang kepariwisataan berupa bahasa Inggris dan nilai tradisi.

Cara ini, ia yakini dapat menumbuhkan sektor pariwisata di Selatan Jawa Barat, tanpa harus menggunduli hutan di sekitarnya.

“Setelah itu, anak-anak kita didik kepariwisataan, bangun rumah penduduk dengan arsitektur Sunda, jadi wisatawan tidak perlu tinggal di resort, rumah penduduk dapat sekaligus menjadi resort, ini ke depan dapat menjadi sumber pendapatan bagi wilayah Jabar Selatan,” papar Dedi.

Konsep yang dipaparkan Dedi, diapresiasi Bupati Garut. Rudy Gunawan mengatakan terlalu kecil jika konsep tersebut hanya diberlakukan di Purwakarta atau Garut. Menurutnya, konsep ini harus diterapkan di Jawa Barat.

“Paparan Kang Dedi ini bagus untuk Jawa Barat, bukan hanya Purwakarta atau untuk saya di Garut. Saya ini kenal beliau sudah lama. Saya banyak berguru kepada beliau soal filosopi dan penerapan falsafah Sunda dalam kebijakan sebagai kepala daerah. Empati Kang Dedi terhadap kondisi ‘maung lucu’ kemarin itu, ternyata didasari oleh pemikiran yang luas seperti ini,” ujar Rudi.

Sementara itu, Komandan Rayon Militer 1123 Cisewu, Kapten (Inf) Nandang Sucahya, menyebut harimau yang dikirim Dedi Mulyadi menjadi harimau paling gagah di seluruh wilayah kerja Kodam III Siliwangi. Bahkan, menurutnya, patung harimau di Markas Kodam Siliwangi III pun kalah gagah oleh patung harimau yang hari ini ada di kantornya tersebut.

“Di kantor pimpinan saya di Kodam III Siliwangi pun harimaunya jadi kalah gagah dengan yang punya saya di sini.  Saya terima kasih kepada Kang Dedi dan seluruh jajarannya,” pungkasnya menutup. (Sony MS/GE)***

Usai Meresmikan Jembatan Gantung, Wagub Jabar Menebar Ribuan Benih Ikan di Sungai Cilaki

GARUT, (GE).- Jembatan gantung di atas Sungai Cilaki akhirnya selesai dibangun. Jembatan cukup vital di kawasan Garut Selatan ini secara simbolik diresmikan penggunaannya oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar. Senin (27/3/17).

Peresmian dihadiri sejumlah pejabat muspika setempat, mulai dari kepala desa, danramil hingga beberapa perwakilan camat di kawasan Garut Selatan.

Keberadaan jembatan gantung yang berlokasi di Kampung Pamalayan, Desa Cikarang, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, ini  sangat penting. Pasalnya, jembatan ini merupakan akses utama yang menghubungkan dua wilayah di 2 kabupaten.  Kampung Pamalayan Desa Cikarang, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut dan Kampung Ciseureuh, Desa Cimaragang, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur.

Menurut Kepala Desa Cikarang, Kecamatan Cisewu, H. Oboh, jembatan ini pembangunannya selesai dalam kurun waktu dua pekan, dengan biaya puluhan puluhan juta rupiah.

Alhamdulillah, selesai juga. Jembatan ini mulai dibangun dua pekan yang lalu. Biayanya sekira Rp 30 jutaan. Dana tersebut merupakan hasil rereongan dari para relawan, donatur, warga Desa Cikarang, dan Desa Cimaragang, Kabupaten Cianjur. Kami bersyukur dengan dibangunnya jembatan gantung ini. Kami berharap, program pembangunan jembatan ini bisa berkelanjutan,” katanya.

Wakil Gubernur Jawa barat, Deddy Mizwar, berharap, dengan diresmikannya penggunaan jembatan gantung tersebut bisa mempermudah akses kehidupan masyarakat sekitar.

“Saya harap dengan dibangunnya jembatan ini bisa meningkatkan perekonomian warga di dua desa. Kami atas nama Pemprov Jabar mengucapkan terima kasih kepada relawan Vertical Rescue Indonesia yang sampai hari ini sudah membangun 19 jembatan,” ungkapnya.

Menurutnya, jembatan Cilaki ini merupakan jembatan gantung terpanjang yang pernah dibangun di kawasan Garut Selatan dengan tingkat kesulitan sangat tinggi.

“Kami berharap semua warga bisa menjaga dan merawat jembatan ini,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, usai prosesi peresmian jembatan, Deddy juga melakukan penebaran ribuan benih ikan di Sungai Cilaki. Diharapkannya, bibit ikan yang ditebar setelah besar bisa dikonsumsi warga sekitar.

“Setelah ikannya besar-besar nanti, warga semua bisa mengkonsumsinya sehingga bisa menambah asupan gizi,” tuturnya.

Sambutan antusias atas diresmikannya Jembatan Gantung Cilaki disampaikan Dadang (45), warga yang tinggal di sekitar jembatan. Dadang yang memilki kerabat di dua tempat yang terhalang sungai tersebut, tentunya gembira dengan adanya akses jalan yang akan mempermudah transportasi.

“Alhamdulilah apa yang kami tunggu-tunggu akhirnya terwujud. Dengan adanya jembatan ini kita tak perlu lagi bersusah-payah menyebrang Sungai Cilaki untuk mengangkut hasil bumi dan keperluan lainya. Terima kasih buat Pak Wagub, Vertical Rescue Indonesia, dan semua pihak yang telah ikut serta dalam membangun jembatan gantung ini,” ungkapnya. (Deni/Siti)***

Editor: Kang Cep.

Laju Perekonomian Mati, Warga Cisewu Keluhkan Lambatnya Evakuasi Material Longor yang Menimbun Badan Jalan

GARUT, (GE).- Warga Kampung Tutugan, Desa Sukajaya, Kecamatan Cisewu, Garut Selatan, Jawa Barat, mengaku kecewa atas lambatnya penanganan longsor oleh pemerintah. Masalahnya, hal itu sangat menggangu laju perekonomian warga.

Salah seorang warga setempat, Eduard (30), menuturkan, sejak terjadi musibah lonsor Sabtu (18/3/17), roda perekonomian warga nyaris mati.

“Cukup kecewa sih karena proses evakuasi cukup lama. Ini sudah tiga hari dengan sekarang belum bisa dilalui. Saya juga kan usaha jadi gak bisa,” Eduard kepada “GE”.

Memang, pascabencana longsor yang menerjang wilayah Kecamatan Cisewu pada Sabtu lalu, akses jalan kabupaten penghubung beberapa kecamatan di wilayah Garut Selatan masih terputus. Jalan utama penghubung Kecamatan Cisewu dan Caringin juga belum bisa dilalui kendaraan roda empat.

Jalan raya di bilangan Kampung Tutugan, Desa Sukajaya, masih tertimbun material longsor yang berasal dari tebing setinggi 80 meter.

“Jalan ini menghubungkan dua kecamatan, kondisinya masih tertutup material longsor tebalnya sekitar 5 meter,” ungkap Camat Cisewu, Doni Rukmana, saat ditemui di lokasi longsor, Senin (20/3/17).

Sementara itu, di Desa Pamalayan, jalan yang menghubungkan tiga desa juga masih terputus, jalan kabupaten tersebut masih tertimbun longsoran tanah dan bebatuan besar.

Hingga Senin (20/3/17) siang, petugas dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Garut masih berjuang keras mengevakuasi material longsor yang menimbun badan jalan. Para petugas cukup kesulitan karena hujan deras terus mengguyur kawasan Cisewu. Itulah yang membuat material longsor dari tebing terus berjatuhan menutupi badan jalan. (Mempis/GE)***

Editor : SMS

Dedi Mulyadi Datang, Patung Macan Siliwangi di Koramil Cisewu pun Terlihat Gagah

GARUT, (GE).- Patung macan “lucu” di Markas Koramil Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, kini berubah gagah. Patung macan yang sempat jadi olok-olok netizen karena rupa muka satwa liar simbol Kodam III Siliwangi itu tampak konyol, sudah diganti dengan yang baru.

Adalah Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, yang berinisiatif mengganti patung harimau kebanggaan warga Jawa Barat tersebut. Ia datang langsung menyambangi Markas Koramil Cisewu sambil membawa patung “maung” seberat tiga kuintal dengan panjang empat meter tersebut, Sabtu (18/3/17).

Patung tersebut merupakan karya Suherman, seniman asal Bandung yang dipercaya Dedi membuat sejumlah karya artistik di Purwakarta.

Dedi mengungkapkan, alasannya memberikan bantuan sebagai bukti soliditas. Terlebih karena dirinya merupakan anak seorang mantan tentara prajurit yang berpangkat Praka III. Selain itu, ia juga menjadi dewan pembina FKPPI Jawa Barat.

“Bentuk soliditas saya sebagai seorang anak tentara. Juga sebagai spirit diri sebagai anak seorang tentara dan kecintaan saya terhadap tentara,” ujar Dedi saat dihubungi usai menyerahkan patung harimau di Koramil Cisewu.

Dedi mengungkapkan, TNI di Jawa Barat dilambangkan dengan Siliwangi yang harus memiliki kegagahan. Patung yang berada di setiap Koramil di Jawa Barat dan Banten pun harus memiliki nilai-nilai Siliwangi.

“Sudah seharusnya patung tersebut terlihat gagah. Makanya saya datang ke sini (Cisewu/red) untuk mengganti patung sebelumnya,” ucapnya.

Menurut Dedi, di sejumlah tempat di Jawa Barat dan Banten, patung harimau masih belum terlihat gagah.

“Bukan Cisewu saja, hampir semua tempat. Ramainya patung harimau di Cusewu, setidaknya bisa diambil hikmahnya. Minimal patung seluruh koranmil sekarang mulai diganti,” katanya.
Danramil Cisewu, Kapten Inf. Nandang, berterima kasih atas bantuan yang diberikan Dedi Mulyadi. Bantuan tersebut akan menjadi motivasi tersendiri bagi pihaknya dan masyarakat Cisewu.

“Saya ucapkan terima kasih atas kepedulian Kang Dedi. Ini merupakan motivasi bagi kami khususnya masyarakat Cisewu, yang sempat dihebohkan oleh beredarnya foto patung tersebut,” kata Nandang.

Adapun keberadaan patung yang sebelumnya menjadi pembicaraan, diakui Nandang sudah dicopot dan dimuseumkan.

“Ya dimuseumkan saja patungnya di belakang kantor. Tapi, sayangnya patung tersebut jatuh ketika kami bongkar. Kalau sekarang patungnya gagah, sesuai kata Kang Dedi, maung sancang,” pungkas Nandang, seraya tersenyum. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Kecamatan Cisewu Terus Diguyur Hujan, Rumah Sahrudin Tertimbun Longsor

GARUT, (GE).- Sejak Jumat (17/3/17) sore hujan deras terus mengguyur Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Akibatnya, bencana longsor pun tak bisa dihindari. Lonsoran tanah yang terjadi di Kampung Tutugan RT/RW 02/06, Desa Sukajaya, menimbun rumah milik Sahrudin (45).

Saat kejadian, Sabtu (18/3/17) sore sekira puku 14.00 WIB, Sahrudin bersama sanak keluarganya tengah asyik mengobrol di dalam rumah. Tiba-tiba saja ia mendengar suara bergemuruh dari arah tebing di seberang rumahnya. Sahrudin pun sempat panik dan spontan berlarian keluar rumah.

“Saya sempat panik dan  lari keluar. Begitu kami sampai di luar, ternyata rumah saya sudah tertimpa longsor,” kenang Sahrudin dengan nada getir.

Beruntung, musibah longsor tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Namun demikian, untuk sementara Sahrudin sekeluaga terpaksa harus diungsikan ke rumah saudara terdekatnya, karena dihawatirkan akan terjadi longsor susulan.

Kepala Desa Sukajaya, Tosin Budi Susila, mengatakan, selain mengakibatkan satu rumah warga rusak, longsoran tanah juga mengakibatkan akses jalan penghubung antara Kecamatan  Cisewu dengan Kecamatan Caringin sempat terputus hingga beberapa jam. Namun, berkat kesigapan warga, persoalan tersebut segera dapat diatasi. (Deni/Siti/GE)***

Editor : SMS

“Gégél Jubleg,” Seni Tradisi Atraksi yang Masih Lestari

BAGI sebagian warga Garut tentunya masih asing dengan seni “buhun” (lama) yang satu ini. Adalah “Gégél Jubleg”, sebuah seni tradisi yang mempertontonkan ilmu “kanuragaan” yang kerap membuat penonton merasa ngeri. Seni tradisi ini masih lestari di Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Gégél Jubleg, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti menggigit “jubleg” (tempat menumbuk padi/red), yang beratnya bisa mencapai 15 kg lebih. Tak heran, saat para seniman mempertontonkan keahliannya, mereka yang melihat dibuat “linu” (ngeri).

Seni ini menjadi pusat perhatian warga Garut acara Helaran Budaya Hari Jadi Garut ke 204 di Jalan Ahmad Yani, Garut Kota, belum lama ini.

Seni yang dimainkan oleh banyak orang ini dilakukan kaum laki-laki maupun perempuan. Kesenian ini tergolong unik karena memadukan tarian dan atraksi kekuatan gigi menggigit “jubleg” yang beratnya mencapai 15 kg.

Meski bobot jubleg sangat berat, para pemain Gégél Jubleg tampak santai saat menggigit jubleg. Bahkan mereka terus menari mengikuti rancak irama tetabuhan musik khas Sunda.

Menurut salah seorang pemain  Gégél Jubleg, Caca Kosasih yang juga merupakan pegawai salah satu desa di Kecamatan Cisewu, seni ini adalah seni “buhun” yang turun temurun dilakukan di Kecamatan Cisewu. Dahulunya, seni yang mempertontonkan kekuatan gigi dan otot rahang tersebut, selalu dipentaskan saat usai panen hasil pertanian, sebagai ungkapan rasa syukur .

Namun seiring waktu, kini Gégél Jubleg hanya ditampilkan jika ada acara-acara khusus, baik di tingkat kecamatan, maupun kabupaten. Pada kesempatan HJG ke 204 seni Gégél Jubleg mendapatkan kesempatan unjuk gigi.

“Walau seni Gégél Jubleg merupakan seni buhun yang entah kapan dan siapa yang menciptakannya, semua warga Cisewu akan selalu menjaga kesenian warisan leluhur. Ada kisah dari para orang tua kami, seni ini juga biasa pertontonkan kepada orang-orang Belanda penjajah ketika itu, dengan harapan mereka akan ‘gimir’ (ketakutan/red) melihat kekuatan fisik orang pribumi,” ungkapnya.  (Useu G Ramdani)***

Editor: Kang Cep.

Sambut HUT PGRI ke 71, SDN Pamalayan 01 Ajak Anak Didiknya “Ngamumulé” Seni Réog

SEJUMLAH seni tradisi di wilayah Garut dikenal beragam dan unik. Namun, seiring perkembangan zaman beberapa kesenian tradisi “karuhun” ini ditenggarai hampir punah. Reog, adalah salah satu seni tradisi yang hingga kini masih eksis walau terkadang keberadaannya kembang kempis.

Dalam momentum Hari Ulah Tahun PGRI dan Hari Guru Nasuinal ke 71, SDN Pamalayan 01 , Desa Pamalayan Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut mengajak anak didiknya untuk mengenal dan “ngamumule” (melestarikan) salah satu seni tradisional ini.

Sebagai upaya pelestraian seni tradisi, Pengelola SDN Pamalayan 01 mengajarkan Seni Reog kepada para siswanya. Sejumlah siswa yang telah dilatih kesenian ini menampilkan kreasinya dalam perayaan menyambut HUT PGRI ke 71 di kawasan selatan Garut.

Supardi, S.Pd., selaku guru pembimbing kesenian di SDN Pamalayan 01 mengatakan, penampilan anak didiknya dengan pentas Seni Reog ini sebagai upaya pihaknya dalam menanamkan kecintaan akan seni tradisi kepada anak didiknya.

“Ya, ini upaya kami (SDN Pmalayan 01/red.) untuk mengenalkan dan “ ngamumule” seni tradisi kepada anak anak. Kami sebelumnya telah melatih dan mempersiapkannya sejak jauh hari. Allhamdulillah, anak anak semua pada antusias dalam menjalani latihan ini. Sebagai orang Sunda tentunya harus bangga mempelajari seni Sunda, salah satunya Seni Reog ini,” ungkapnya, saat djumpai “GE” di ruang kerjanya, Kamis (24/11/2016).

Dikatakannya, sejak usia dini harus mendapatkan pengenalan, pemahaman, dan pendalaman seni budaya.

“Mereka harus akrab serta memahami akar budaya dan kesenian warisan leluhurnya, fungsinya sebagai bekal hidupnya kelak saat dewasa. Jika bukan kita urang Sunda, siapa lagi yang akan melestarikan seni wariasan leluhur ini,” pungkasnya. (Deni-Siti)***

Editor: Kang Cep.