BREAKING NEWS: Dua Jasad Pegawai Kirmir Korban Arus Cimanuk Ditemukan

GARUT, (GE).- Hari ini akhirnya petugas gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD Garut, Polisi dan TNI berhasil menemukan dua korban yang tenggelam di Sungai Cimanuk. Korban pertama ditemukan sekira pukul 04.30 WIB dalam kondisi sudah tak bernyawa, 1 kilometer dari lokasi saat tenggelam.

“Ya, kita temukan korban pertama atas nama Riki (19). Dia yang kemarin sempat hilang dengan satu temannya yang lain,” kata Kapolsek Garut Kota, Kompol Uus Susilo, Rabu (23/8) pagi.

Petugas gabungan bersama masyarakat mengangkat jasad korban tenggelam dari bantaran Sungai Cimanuk di kawasan Kampung Maktal, Kelurahan Paminggir, Kecamatan Garut kota, Kabupaten Garut, Rabu (23/8/17)/ foto: Andri/GE.

Sesaat setelah ditemukan, jasad Riki langsung dievakuasi ke RSU dr. Slamet Garut. Rencananya jasad Riki akan dipulangkan ke kampung halamannya di Desa Cempaka Mekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung.

Sementara itu, jasad kedua korban sungai Cimanuk atas nama Fajar Hoirul (18) kembali ditemukan sekira pukul 9.00 WIB pagi, juga dalam kondisi tewas. Kedua korban tersebut diketahui merupakan buruh yang tengah mengerjakan proyek pembangunan kirmir di bantarang Sungai Cimanuk, Garut.

Alhamdulillah setelah 16 jam pencarian, kedua korban telah ditemukan. Terakhir atas nama Fajar Hoirul kita ditemukan,” ungkap Uus kepada wartawan di Jalan Rumah Sakit, Tarogong Kidul, Garut, Rabu (23/8/17) (Memphis/ Andri)***

Editor: Kang Cep.

BREAKING NEWS: Sebuah Mortir Ditemukan Tak Jauh dari Anarto Mall

GARUT, (GE).- Menjelang waktu maghrib, warga di sekitar Desa Haurpanggung dikagetkan dengan ditemukannya sebuah bahan peledak. Bahan peledak jenis mortir yang diduga masih aktif ini dtemukan sekira pukulk 17.00 WIB di bantaran Sungai Cimanuk, Kampung Mekar Asih, Desa Haurpanggung, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Kamis (3/8/17).

Menurut Kapolsek Tarogong Kidul, Kompol Hermansyah, mortir tersebut pertama kali ditemukan oleh warga yang sedang menggali batas kirmir di bantaran  Sungai Cimanuk, tak jauh dari kompleks pertokoan Anarto Mall.

“Iya betul, tepatnya di depan Anarto Mall,” ungkap Herman melalui pesan singkat, Kamis (3/8/2017) malam.

Diungkapkannya, bahan peledak jenis mortir kaliber 80 milimeter tersebut ditemukan warga sudah dalam kondisi berkarat. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, mortir-80 tersebut dibawa ke Koramil Tarogong untuk kemudian diserahkan ke Detasemen Peralatan (Denpal) TNI setempat. (Memphis)***

Editor: Kang Cep.

Aktivis Lingkungan Pertanyakan Kelanjutan Penanganan Kasus Alih Fungsi Lahan

GARUT, (GE).- Lambannya penanganan kasus alih fungsi lahan yang berakibat pada banjir bandang Cimanuk mulai dipertanyakan. Pemerhati lingkungan asal Garut selatan, Suryaman Anang Suatma, misalnya.

Ia mendesak pihak Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat, untuk segera mengumumkan secara transparan hasil penyelidikan terkait pelaku alih fungsi lahan yang menyebabkan banjir bandang sungai Cimanuk, September 2016 lalu.

“Sudah jelas secara kasat mata, kasus alih fungsi lahan penyebab banjir bandang sungai Cimanuk tahun lalu, ahirnya ditangani secara hukum oleh Polda Jabar. Akan tetapi, sampai saat ini masyarakat menunggu kejelasan hukumnya,” ungkapnya, Selasa (13/6/2017).

Diungkapkannya, bencana di Kabupaten Garut dari tahun ke tahun terus terjadi. Hal itu terjadi sebab akibat dari penataan pengelolaan lingkungan yang tidak prosedural. Salah satunya di kawasan-kawasan tertentu yang merupakan hulu daerah aliran sungai (DAS) Cimanuk beralih fungsi.

“Begitu juga ada beberapa lahan perkebunan di atasnya beralih fungsi dan dikelola secara tidak prosedur. Sehingga menyebabkan banjir bandang yang menelan korban jiwa,” katanya.

Menurut Suryaman, transparansi diperlukan supaya berdampak positif terhadap masyarakat, terutama yang melakukan pelanggaran-pelanggaran lingkungan atau yang menyangkut perijinan di Pemerintah Daerah.

” Kalau sekarang hanya menyebutkan saja ada pelanggaran, ada pelanggaran perizinan tapi tidak transparan siapa yang melanggar. Tolong sebutkan lalu ditindaklanjuti secara hukum. Nah saya kira ini yang harus diselesaikan oleh Polda.  Ini bukan masalah politik tapi masalah lingkungan dan nyawa manusia,” tukasnya.

Sementara itu, Mia Kurniawan salah seorang aktivis lingkungan sekaligus Ketua Forum Komunitas Kader Konservasi Indonesia (FK3I) menyebutkan, kondisi hulu Sungai Cikamiri yang menyambung dengan Sungai Cimanuk, sangat memprihatinkan.

“Kondisi hulu Sungai Cikamiri yang menyambung dengan Sungai Cimanuk, sudah sangat memprihatinkan,” ungkapnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

 

BREAKING NEWS : Diduga Akibat Keracunan Makanan, 81 Korban Banjir Bandang Cimanuk Dilarikan ke Rumah Sakit

GARUT, (GE).- Sedikitnya 81 warga Kabupaten Garut, Jawa Barat, diduga mengalami keracunan makanan sehingga harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis, Minggu (21/5/17) dini hari sekira pukul 03.00 WIB. Mereka diketahui merupakan korban banjir bandang yang menerjang Kota Garut pada September 2016 lalu.

“Ada puluhan yang dilarikan ke sini. Yang pasti sedang kami tangani,” kata Bupati Garut, Rudy Gunawan, kepada wartawan di RSUD dr. Slamet Garut, Minggu (21/5/17).

Menurut Rudy, puluhan wargannya ini dilarikan ke rumah sakit setelah sebelumnya menyantap hidangan di salah satu acara sosial yang diselenggarakan salah satu sponsor.

“Ya katanya dari idangan acara kemarin, tapi belum tahu juga, harus diteliti dulu. Terlebih ada banyak orang yang makan hidangan itu, tapi tidak semuanya dilarikan ke rumah sakit,” ucap Rudy.

Salah seorang korban, Entin (34), mengatakan, bebapa jam setelah menyantap hidangan itu ia merasakan sakit perut , lemas, dan pusing-pusing.

“Dari malam, setelah makan rendang di acara kemarin,” kata Entin di RSUD Dr. Slamet Garut, Minggu (21/5/17).

Menurut informasi dari petugas rumah sakit, para korban mulai berdatangan ke RSUD dr. Slamet sejak Minggu dini hari sekira pukul 03.00 WIB. Jumlah pasien yang datang mencapai 81 orang. Hingga saat ini mereka masih mendapat perawatan intensif dari pihak rumah sakit. (Mempis/GE)***

Editor : SMS

BREAKING NEWS : Diduga Mengalami Kram, Rian Ramdani Tewas Tenggelam di Cimanuk

GARUT, (GE).- Diduga akibat kakinya mengalami kram saat berenang, seorang remaja bernama Rian Ramdani (15)  tewas tenggelam di Sungai Cimanuk Desa Haurpanggung, Tarogong Kidul Garut, Jawa Barat, Selasa (16/5/17) sekira pukul 14.00 WIB.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Dadi Djakaria, saat itu korban sedang berenang bersama tiga orang temannya di Sungai Cimanuk, tidak jauh dari rumahnya. Namun tiba-tiba, remaja malang itu diduga mengalami kram di bagian kaki sehingga dia tidak dapat menggerakkan kaknya. Kondisi air sungai yang cukup deras membuat Rian akhirnya tenggelam terbawa arus sungai.

“Kakinya kram jadi dia tidak bisa bergerak, beruntung tiga orang temannya bisa menyelamatkan diri,” katanya.

Mendapat laporan kejadian tersebut, Tim SAR dari BPBD dibantu warga, anggota koramil, dan kepolisian setempat langsung melakukan pencarian. Jasad Rian pun berhasil ditemukan satu jam kemudian di pinggir Sungai Cimanuk sekira 2 km dari tempat kejadian.

“Korban ditemukan di bawah Jembatan Copong, Jalan Jendral Sudirman dengan kondisi kritis,” kata Dadi.

Seketika itu juga tubuh Rian langsung dievakuasi menuju RSUD dr. Slamet Garut, untuk diberi pertolongan medis. Namun saat masih di perjalanan menuju rumah sakit, nyawa korban sudah menghilang,

Mendapati kenyataan itu, pihak keluarga korban pun akhirnya membawa kembali jasad Rian ke rumah duka di Kampung Mekarjaya RT/RW 01/16 Desa Haurpanggung, Kecamatan Tarogong Kidul. (Mempis/GE)***

Editor : SMS

BREAKING NEWS : Setelah 4,5 Jam Terhanyut di Sungai Cimanuk, Jasad Apip Ditemukan tak Bernyawa

GARUT, (GE).- Jasad bocah berusia 7 tahun, Apip bin Hasim, ditemukan sudah tak bernyawa, Minggu (7/5/17) sekira pukul 17.30 WIB. Bocah warga Kampung Batara RT/RW 01/07, Desa Sukarame, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, itu tewas setelah tenggelam dan terseret derasnya arus Sungai Cimanuk.

Menurut Kapolsek Bayongbong, AKP Bambang Supriyono, kejadian bermula ketika pada sekira pukul 13.00 WIB, korban sedang bermain di bantaran Sungai Cimanuk, tidak jauh dari rumahnya.

“Saat itu korban sedang bermain bersama dua orang temannya, Fahrul (8) dan Nazril Anggara (8). Ketika tengah asyik berjalan di bibir sungai, tiba-tiba kaki korban terpeleset. Seketika itu juga korbanpun tercebur dan terseret arus Sungai Cimanuk,” kata Bambang, Minggu (7/5/17).

Kedua teman korban yang menyaksikan kejadian itu tidak bisa berbuat apa-apa. Saat itu arus Sungai Cimanuk sangat deras dan begitu tercebur, tubuh korban langsung tenggelam. Fahrul dan Nazril pun segera memberitahukan kejadian itu kepada orang tua korban dan warga sekitar.

Mendapat laporan dari warga, Petugas Polsek Bayongbong bersama Tim SAR langsung menuju tempat kejadian perkara (TKP). Bersama warga lainnya, petugas Polsek kemudian menyisir pinggiran Sungai Cimanuk dengan berjalan kaki. Sementara itu, Tim SAR berusaha mencari korban dengan menggunakan perahu karet.

Setelah sekira 4,5 jam pencarian, akhirnya tubuh korban bisa ditemukan. Korban terseret arus sejauh 8 km dari tempat kejadian, tepatnya di Kampung Salakuray, Kecamatan Cilawu. Saat ditemukan, tubuh korban sudah tak bernyawa. Jasad korban pun langsung dievakuasi ke rumah orang tuanya. Korban pun langsung dimakamkan di TPU Kampung Batara. (Hendrayana/GE)***

Editor : SMS

Lima Bulan Pascabanjir, Jembatan Penghubung Banyuresmi-Karangpawitan Tak Kunjung Dibangun

GARUT, (GE).- Pascabanjir bandang Cimanuk beberapa bulan yang lalu, sudah lima bulan jembatan penghubung Kecamatan Banyuresmi-Karangpawitan hingga saat ini belum kunjung diperbaiki. Akibat kondisi ini, warga terpaksa harus menyebrangi  Sungai Cimanuk dengan menggunakan rakit bambu.

Sebenarnya, pascabanji saat itu sempat dibuatkan jembatan darurat untuk memudahkan akses transportasi warga. Belakangan jembatan darurat tersebut hanya bertahan selama satu bulan. Sejak saat itu warga harus kembali menggunakan rakit.

Luvita Nurmadipah (17), warga Kampung Cijambe, Desa Sindanglaya, Kecamatan Karangpawitan, menyebut terpaksa menyebrangi sungai memakai rakit karena jembatan belum diperbaiki. Luvita mengaku khawatir air sungai membesar saat ia menyebrang menggunakan rakit.

“Tidak ada pilihan lain daripada harus memutar. Sampai ke sekolah bisa satu jam lebih kalau putar jalan. Walau beresiko terpaksa kita gunakan rakit untuk menyebrang,” kata, Luvita, salah seorang pelajar di SMAN 25 Garut, Rabu (12/4/ 2017).

Ia berharap, jembatan penghubungkan desanya dengan Desa Sukaratu, Kecamatan Banyuresmi bisa segera diperbaiki.

“Kalau lewat jalan lain, ongkosnya juga lebih mahal. Harus naik ojek dulu. Kalau nyebrang sungai tinggal naik angkot,” keluhnya.

Untuk menyebrangi Sungai Cimanuk dengan menggunakan rakit, jumlah orang penumpang rakit dibatasi. Hal ini sebagai antisipasi agar tali penarik rakit tidak yang digunakan untuk menarik  rakit tidak terputus.

Sementara itu, Ai Sumiati (32), warga Kampung Cijambe, mengatakan, tidak adanyanya jembatan ini menjadi kendala untuk beraktivitas.

“Tentunya jadi kendala, kalau lewat Karangpawitan itu harus naik ojek terus dua kali naik angkot untuk sampai pasar,” katanya.

Dijelaskannya, ongkos ojek dari rumah hingga Jalan Karangpawitan sebesar Rp 15 ribu, ditambah ongkos angkot dua kali sebesar Rp 8 ribu. Jadi dengan tidak adanya jembatan ini menjadi beban tersendiri.

“Kalau lewat Banyuresmi tinggal sekali naik angkot. Bayarnya cuma Rp 3 ribu. Jadi sangat terganggu kalau jembatan tidak segera diperbaiki,” ujarnya. (Tim GE)***

Editor : Kang Cep.

Warga Korban Banjir Bandang Cimanuk Mengaku Senang Bertemu Irvan R. Faza

GARUT, (GE).- Keluarga besar Irvan R. Faza melakukan kunjungan silaturahmi dengan warga korban banjir bandang Cimacan Garut, Jawa Barat. Irvan yang didampingi istri dan keluarga besarnya itu, berbincang-bincang dengan warga yang sangat antusias menyambut kedatangannya. Selain bersilaturahmi, keluarga Irvan memberikan paket sembako kepada warga Kampung Cimacan RW 10.

Menurut istri Irvan, Cika Faza, kegiatan serupa sering dilakukan oleh keluarga besarnya. Tak hanya di Garut, di beberapa kota lain seperti Bandung, dan Jakarta pun, silaturahmi dengan warga memang sering dilakukan.

Dengan bersilaturahmi, kata Cika, kita bisa tau dan merasakan langsung bagaimana keadaan masyarakat di luar sana.

“Selain itu, momen semacam ini dijadikan kesempatan untuk beramal dan bisa berbagi rejeki dengan sesama,” papar Cika, Rabu, (5/4/17).

Kedatangan keluarga besar Irvan, tentu saja membuat puluhan warga Cimacan merasa senang. merekapun terlihat berbincang hangat dengan Irvan sekeluarga, Salah seorang warga Cimacan yang hadir saat itu, Ernawati (39), menuturkan, selain masih muda, sosok Irvan yang merupakan seorang pengusaha sukses ini sangatlah ramah.

Ernawati sangat bersyukur bisa bertemu dan berbincang langsung dengan Irvan dan keluarga besarnya.

“Kalau Pak Irvan jadi pejabat di Garut, saya mah sangat setuju dan pasti akan mendukung penuh,” ujarnya.

Selesai berbincang dengan warga Cimacan, Irvan beserta rombonganpun melakukan foto bersama. Sesaat kemudian, rombongan meninggalkan Kampung Cimacan setelah sebelumnya berpamitan kepada semua warga yang hadir. (Useu G. Ramdani/GE)***

Editor : SMS

Mensos Resmi Serahkan Bantuan Rp 3,66 Miliar untuk Korban Banjir Cimanuk

GARUT, (GE).- Seluruh korban banjir bandang Sungai Cimanuk di Kabupaten Garut, September tahun lalu diharapkan kembali bangkit.

Demikian diungkapkan Menteri Sosial (Mensos), Khofifah Indar Parawansa, di hadapan para korban banjir bandang di Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wedha, Jalan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa barat, Sabtu (4/3/2017).

“Kami mengerti dan bisa merasakan kesedihan yang anda rasakan. Namun kita harus segera bangkit agar tidak terus larut dalam kesedihan dan bisa menyongsong kehidupan yang lebih baik lagi,” kata Khofifah.

Menurutnya, musibah banjir merupakan ujian dari Allah SWT. Ini semata-mata agar kehidupan manusia bisa menjadi lebih baik dan kuat apabila mampu melewati cobaan tersebut.

Diungkapkannya, seluruh harta benda termasuk kehidupan manusia, merupakan milik Sang Pencipta yang sewaktu-waktu akan diambil-Nya. Oleh karena itu, janganlah kita terus larut dalam kesedihan jika dicoba Tuhan dengan diberikan musibah.

“Suami saya juga meninggal dan saya sangat sedih. Namun akhirnya saya sadar bahwa itu merupakan milik Allah,” tukasnya.

Khofifah juga meminta agar para korban bencana alam bisa bersabar untuk menunggu upaya pemerintah melakukan penanggulangan seperti membangun tempat tinggal yang layak dan aman. Dia meyakinkan kalau pemerintah tentunya tidak akan tinggal diam dan membiarkan rakyatnya ada dalam penderitaan.

Dalam kesempatan tersebut, atas nama Kemeterian Sosial RI, Khofifah menyerahkan bantuan senilai Rp 3,66 miliar. Bantuan tersebut untuk jaminan hidup (jadup) para korban banjir bandang di wilayah perkotaan Garut dan pergerakan tanah di wilayah Cisompet.

“Bantuan ini diperuntukan bagi santunan untuk korban meninggal dunia, dana stimulan pembangunan rumah sementara, serta bantuan kebutuhan pokok. Para korban bencana banjir juga akan mendapatkan bantuan hunian tetap yang dipersiapkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PU-PR). Kami juga merencanakan akan memberi bantuan berupa isi perabotan rumah senilai Rp 3 juta per kepala keluarga.” Jelasnya.

Jumlah korban banjir bandang dan pergerakan tanah di Kabupaten Garut yang mendapatkan bantuan berupa program jaminan hidup dari Kemsos RI sebagai upaya pemulihan pascabencana seluruhnya mencapai 1.724 jiwa. Mereka mendapatkan bantuan jaminan hidup dari pemerintah sebesar Rp 10 ribu per hari selama 90 hari atau senilai Rp 900 ribu dengan total seluruhnya Rp 1,551 miliar.

“Program jaminan hidup itu berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Nomor 04 Tahun 2015 yang diberikan kepada keluarga yang rumahnya rusak berat. Jadup diberikan satu kali dan pencairannya dilakukan setelah masa tanggap darurat. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

BREAKING NEWS: Jasad Korban Hanyut di Cimanuk Ditemukan Tewas Mengambang

GARUT, (GE).- Seperti diberitakan sebelumnya, dua warga Garut hilang terbawa arus Sungai Cimanuk, Rabu (15/2/2017) sore. Setelah proses pencarian seharian, akhirnya satu orang jasad berhasil ditemukan oleh tim SAR dalam keadaan sudah tak bernyawa.

Humas Basarnas Bandung, Andika Zein, menyebutkan dua warga yang terbawa arus sungai yakni Iin (25), warga Kampung Kondang, Desa Kertajaya, Kecamatan Cibatu dan Jamaludin (18), warga Kampung Bungur, Desa/Kecamatan Leuwigoong.

Kedua korban bersama Wanda Komara (21), yang berhasil selamat, sebelumnya diketahui sedang rongsokan sampah dengan menggynakan rakit di Sungai Cimanuk yang melintas di Kampung Rancabungur, Desa Kertajaya, Kecamatan Cibatu.

“Sekitar pukul 15.30, saksi bersama dua orang korban naik rakit. Tiba-tiba ada pusaran air. Wanda kemudian terpeleset, sedangkan dua orang korban terjatuh dan hanyut terbawa arus sungai yang deras,” ujar Andika, Kamis (16/2/ 2017).

Dengan dibantu warga dan petugas muspika setempat, Tim Basarnas Bandung langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pencarian. Proses pencarian sempat dihentikan, akibat cuaca buruk dan arus sungai yang masih besar.

“Hari ini (kemarin) sejak pukul 07.00, kami melakukan pencarian lagi. Pencarian dilakukan dengan penyisiran darat dan menggunakan perahu karet,” katanya.

Korban atas nama Jamaludin, tutur Andika, ditemukan tim dalam keadaan meninggal dunia di wilayah Limbangan. Tim menemukan korban sekitar pukul 12.30 dan langsung dibawa ke Puskesmas Limbangan. Hingga Kamis sore, tim Basarnas Bandung bersama unsur Muspika dan warga terus melakukan pencarian korban atas nama Iin.

Kepala Pelaksana BPBD Garut, Dadi Djakaria, mengatakan, selain dua warga yang terbawa arus Sungai Cimanuk, hujan deras juga mengakibatkan banjir di Kecamatan Tarogong Kidul. Derasnya air membuat benteng di SMAN 15 Garut roboh selebar lima meter. Selain itu, sejumlah pemukiman di Kampung Babakan Loa, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Tarogong Kidul terendam.

“Banjir berasal dari Sungai Cikamiri. Memang sejak tiga hari ini air Sungai Cikamiri sangat deras dan beberapa kali air sampai meluap ke jalan,” tandasnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.