Terdampak Kekeringan, Warga Kertajaya Terpaksa Gunakan Air Kotor

GARUT, (GE).- Hingga pertengahan bulan September 2017, hujan tak kunjung turun. Akibat kemarau ini, sejumlah wilayah di kabupaten Garut mulai terdampak. Bahkan di beberapa wilayah, warga mulai kesulitan air bersih dan terpaksa harus menggunakan air sumur yang kotor untuk kepentingan MCK (Mandi Cuci Kakus).

Selain air yang kotor, keberadaan ir sumur ini juga sangat terbatas sehingga warga cukup kesulitan untuk mendapatkannnya. Desa Kertajaya, Kecamatan Cibatu, adalah salah satu wilayah di Kabupaten Garut yang dalam dua bulan terakhir ini merasakan kesulitan mendapatkan air bersih akibat kekeringan.

“Ya sangat sulit, ada juga air sumur sangat sedikit, dalam, kotor dan keruh. Mau bagaimana lagi, bingung. Kalau mau mandi biasa ke sunga Cimanuk saja, yang juga kotor airnya,” keluh Enok (45) salah seorang warga Desa Kertajaya, Selasa (19/9/17)

Selain kesulitan untuk kebutuhan MCK, warga Kertajaya saat ini juga praktis tidak bisa bercocok tanam yang ideal. Warga berharap pemerintah dapat membantu kesulitan air bersih ini dengan mensuplaynya. Paling tidak untuk kebutuhan masak dan mandi.

“Tentu, kami beharap pemerintah bisa membantu memberikan supalay air bersih. Ya, setidaknya untuk kebutuhan masak dan mandi,” harapnya. (Andri)***

Editor: Kang Cep.

Ketua Gatra: Bupati Garut Jangan Macam-macam Soal Kawasan Industri

GARUT, (GE).- Wacana ekspansi kawasan industri di kawasan Garut Utara mendapat penolakan dari Forum Masyarakat Garut Utara (Gatra). Gatra beranggapan rencana Bupati Garut, Rudy Gunawan yang menetapkan empat kawasan industri di kawasan Garut Utara hanya akan merusak tatanan. Oleh sebab itu, Bupati harus menunggu hasil keputusan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sebelum mendeklarasikan akan membangun kawsan industri.

“Saya dengan tegas menolak industrialisasi kawasan Garut Utara. Lebih baik bupati bersabar. Jangan macam-macam dengan industrialisasi kawasan produktif,” ujar Ketua Forum Gatra, H. Rd. Holil Akhsan kepada “GE”, Jumat (19/5/2017).

Secara prinsif, Holil Akhsan, menyambut baik terkait membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya di Garut. Namun menurutnya, jangan sampai mengorbankan kawasan strategis yang menjadi perlintasan nasional.

Holil menyarankan, di kawasan seperti Limbangan, Cibatu, Leles dan Selaawi lebih baik dikembangkan kawasan wisata atau perdagangan. Nantinya, perekonomian warga sekitar akan ikut terangkat. Jangan sampai karena ada masukan ke kantong bupati jadi memaksakan kawasan industri.

“Garut ini kaya dengan potensi alam. Sebenarnya bisa dioptimalkan untuk kawasan wisata. Jangan ikut-ikutan ke daerah lain,” paparnya.

Apa lagi, kata Holil, belum lama lagi ke Garut akan ada “exit” Tol. Tentunya hal ini harus dimanfaatkan untuk mendongkrak perekonomian masayarakat setempat. Jangan sampai peluang ini malah dinikmati pengusaha pabrik.

Jika berbicara terkait penyerapan tenaga kerja di Garut, seharusnya dari sekarang bupati sudah berhitung, berapa tenaga kerja yang dibutuhkan oleh pabrik yang akan berinvestasi di Garut. Selain itu, kriterianya juga harus sejak dini dipersiapkan. Jangan sampai, setelah pabrik berdiri malah tenaga kerja dari daerah lain yang dipekerjakan. Sementara putra daerahnya malah sulit masuk.

Holil mengaku, akan mendukung terkait pembangunan kawasan industri ini dilokalisir di satu tempat. Hal tersebut diyakininya akan menjadi solusi kesemrawutan tata ruang. Jika pabrik-pabrik di dirikan di empat kecamatan tentunya akan semrawut. Oleh sebab itu perlu dilokalisir di satu tempat yang terpencil.

“Jangan mendirikan pabrik di tempat strategis dong. Nantinya akan menjadi masalah baru. Coba lihat sekarang di Leles, setiap hari pasti macet karena ada pabrik sepatu di sana,” ungkapnya.

Selain itu, jika kawasan industri dipaksakan dibangun di empat kecamatan tadi, tentunya akan merusak tata ruang di sana. Apa lagi, usulan Kabupaten Garut Utara saat ini sudah mulai matang. “Jika kawasannya sudah habis oleh pabrik tentunya akan merusak wacana pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Garut Utara,” pungkas Holil. (Farhan SN)***

Puluhan Tahun Menderita Tumor, Warga Cibatu Ini Butuh Uluran Tangan Dermawan

GARUT, (GE).- Hendri Firmansyah (34) warga Bababakan Cau, Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut telah sekian lama mengidap penyakit tumor. Selain di bagian kelopak matanya tumbuh benjolan besar, di sekujur tubunya juga tumbuh benjolan.

Tumor yang diidap Hendri ini ditenggarai sebagai tumor air. Keterbatasan ekonomi membuat pria ini tidak mampu mengobati penyakitnya yang telah sekian lama menggerogoti tubuhnya.

Dengan penyakitnya ini, Hendri harus menderita rasa sakit serta gatal-gatal di sekujur tubuhnya. Selain harus merasakan sakit, pria malang ini kini sudah jarang bersosdialisasi dengan warga sekitar. Mungkin karena rasa malu akan penyakitnya.

“Kata dokter tumor cair, sejak lahir sekarang saya sudah 34 tahun. Tadinya kecil, lama-lama membesar. Rasanya gatal seperti disayat-sayat. Saya sudah berobat kemana mana, keluarga sudah kehabisan biyaya. Sekarng sudah tidak berobat lagi gak ada biayaya. BPJS gak ada, tentunya ingin sembuh,” tuturnya, lirih.

Sementara itu, Dadang, salah seorang kerabat Hendri mengatakan, sebenarnya Hendri sudah diobati kemana-mana, hingga ke rumah sakit khusus di Cicendo Bandung.

“Sebenarnya sudah diobati kemana-mana, hingga ke tumah sakit di Cicendo Bandung. Namun tidak membuahkan hasil, dan keterbatasan ekonomi keluarganya juga menjadi faktor utamanya, sehingga tidak bisa bewrobat maksimal,” katanya.

Ajang sukandar, yang merupakan staff Kaur Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, menyebutkan pihak desanya telah melaporkan penederitaan warganya ini.

“Ya, sudah lapor mah, pak lurah dan bu camat dan dari puskesmas juga dari desa nunggu-nunggu. Tapi tidak ada kelanjutannya untuk membatu, karena tidak punya BPJS,” ungkapnya.

Dikatakannya, melakukan oprasi menjadi satu-satunya solusi untuk meringankan penderitaan Hendri. Untuk melakukan oprasi tumor tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit, sementara kondisi pekonomiu keluarga Hendri tidak memungkinkan untuk membiayai oprasi.

“Oprasi adalah salah satu cara untuk meringankan penderitaan Hendri. Kami berharap ada dermawan yang mau membantunya, atau pemerintah Garut bisa peduli dengan penderitaan warganya,” harapnya. (Idrus)***

Editor: Kang Cep.

 

BREAKING NEWS : Tiga Orang Petugas Damkar Diserang Ribuan Tawon! Begini Ceritanya…

GARUT, (GE).- Nasib nahas dialami tiga petugas pemadam kebakaran (Damkar) Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ketiganya menjadi korban serangan ribuan tawon saat mencoba membantu warga RW 05 Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, memusnahkan sarang tawon, Sabtu (15/4/17) malam.

Bahkan, salah seorang di antaranya, Agus, terpaksa harus mendapat perawatan di rumah sakit akibat luka sengatan tawon cukup parah. Sementara itu, dua petugas lainnya yaitu Adam dan Ujang, hanya menderita luka ringan akibat sengatan tawon. Mereka hanya diberi perawatan medis seperlunya.

Kepala Dinas Damkar Garut, Aji Sukarmaji, membenarkan adanya tiga petugas Damkar yang tersengat tawon saat berupaya memusnahkan ribuan tawon dan memusnahkan sarangnya di kawasan Wanakerta, Kecamatan Cibatu.

Menurut Aji, sebenarnya petugas yang saat itu diturunkan semuanya sudah terlatih. Namun entah kenapa saat beraksi, mereka masih saja terkena serangan tawon.

Sebelum memusnahkan sarang tawon dan mengusir tawon dari tempatnya, kata Aji, petugas mengevakuasi para penghuni rumah di sekitar sarang tawon berada. Tak hanya itu, warga lainnya terutama anak-anak yang tinggal di sekitar daerah itu pun diminta untuk menjauh dulu.

Sementara itu Ketua RW 05 Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, Undang Supardi, menuturkan, selama ini warganya dilanda keresahan menyusul kehadiran ribuan  ekor tawon di daerah mereka. Mereka menilai kehadiran ribuan tawon itu cukup membahayakan. Apalagi selama ini banyak warga yang disengat.

Untuk menyingkirkan tawon dan memusnahkan sarangnya, Undang terpaksa meminta bantuan petugas Damkar.

“Sudah beberapa hari ini warga dibuat resah dengan keberadaan ratusan bahkan mungkin ribuan ekor tawon. Tawon ini bersarang di suatu tempat di kawasan Kampung Pabrik, dekat PAUD Sifaussudur,” ujar Undang, Minggu (16/4/17).

Dikatakan Undang, jika terus dibiarkan berada di daerah tersebut, dikhawatirkan tawon-tawon itu akan terus memakan korban. Selama ini sudah ada beberapa orang yang menjadi sasaran sengatan tawon tersebut. Kian hari, jumlah tawon itu kian banyak dan sarangnya pun kian besar pula.

Undang menjelaskan, setelah dimintai bantuan, sejumlah petugas dari Dinas Damkar Garut, Sabtu (15/4/2017) malam, tiba di lokasi. Mereka kemudian mengevakuasi ratusan tawon serta memusnahkan sarangnya. Namun saat itu, tiga orang petugas Damkar justeru malah jadi sasaran sengatan tawon yang merasa terganggu. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Pemkab Garut Berharap Reaktivasi Jalur Kereta Api Cibatu-Garut-Cikajang bisa Segera Diwujudkan

GARUT, (GE).- Rencana reaktivasi jalur kereta api jurusan Cibatu-Garut-Cikajang oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI), hingga kini belum ada kejelasan. Namun demikian, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut, Jawa Barat, berharap reaktivasi jalur kereta api tersebut bisa terwujud.

“Sebagian warga sangat menanti. Tapi sebagian lagi juga ingin kepastian karena rumahnya atau lahan sawahnya berdiri di atas tanah PT KAI,” ujar Wakil Bupati Garut, dr. Helmi Budiman, di Hotel Sumber Alam, Cipanas, Rabu (22/3/17).

Ia juga mengaku kurang mengetahui skema yang harus dilakukan Pemkab jika ingin mengaktifkan jalur yang telah berhenti pada tahun 1982 itu. Helmi juga baru tahu jika Pemkab yang harus usulkan.

“Sampai 2018 saja belum ada kegiatan lagi untuk aktivasi ini,” katanya.

Lebih jauh Helmi mengatakan, warga Garut sangat antusias terhadap rencana aktivasi. Bahkan, dirinya sering mendapatkan pertanyaan dari warga masyarakat yang tempat tinggalnya di atas lahan PT KAI mengenai rencana pengaktifan kembali jalur kereta api tersebut.

“Warga juga ingin menikmati moda transportasi alternatif ini. Jadi kami sangat berharap bisa segera diaktifkan,” ucapnya.

Namun demikian, Helmi mengaku telah menerima dua opsi jika aktivasi dilakukan. Pertama, dengan menggunakan jalur yang lama. Kedua, membuka jalur lama, namun saat memasuki wilayah perkotaan menggunakan jalur baru.

Helmi menilai, kehadiran kereta api akan ikut mendongkrak pertumbuhan ekonomi Garut. Apalagi pertumbuhan ekonomi Garut pada 2015 menjadi yang ketiga terendah di Jawa Barat sebesar 4,2 persen.

“Dengan moda transportasi yang baik, diharapkan akan mengundang banyak investor masuk. Dengan begitu, hasil pertanian dan wisata di Garut akan semakin berkembang,” katanya.

Jika hanya mengandalkan armada angkutan jalan raya, imbuh Helmi, akan sulit mengejar ketertinggalan. Untuk itu, diperlukan moda transportasi alternatif. Dengan kembalinya kereta api di Garut, Helmi menyebut jika julukan Swiss Van Java bisa kembali disandang. Saat pertama kali dibuka pada 1930, julukan tersebut diberikan sejumlah tokoh dunia.

Kasi Kelaikan Jalur Pembangunan Kereta Api Wilayah I Dirjen Perkeretapian Kementerian Perhubungan, Santoso Sinaga, mengungkapkan, jalur yang menjadi prioritas untuk diaktivasi di Jawa Barat, yaitu jalur kereta Rancaekek-Tanjungsari. Sedangkan untuk Cibatu-Garut-Cikajang belum menjadi prioritas meski telah dilakukan studi kelayakan.

“Reaktivasi Cibatu-Garut-Cikajang belum masuk sampai program di 2018. Sedangkan untuk reaktivasi Rancaekek-Tanjungsari tahun lalu sudah diprogramkan. Tinggal menunggu pembebasan lahan dari PT KAI,” ujar Santoso.

Guna reaktivasi jalur kereta Cibatu-Garut-Cikajang, Santoso menyarankan Pemkab dan pemerintah pusat harus duduk bersama. Apalagi belum ada keputusan terkait trase yang akan digunakan.

Berdasarkan kajian dilakukannya, terang Santoso, dana yang dibutuhkan untuk reaktivasi jalur Cibatu-Garut-Cikajang ini membutuhkan Rp 2,3 triliun. Jumlah sebesar itu karena harus memperbaiki rel yang rusak, dan termasuk memperbaiki sejumlah jembatan. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Hanya Bisa Gunakan Terowongan PT. KAI, Bahaya Mengintai Warga Karyasari-Karoya Girang

GARUT, (GE).- Masyarakat di wilayah Desa Karyamukti, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, khususnya yang berdomisili di Kampung Karyasari dan Karoya Girang, hingga saat ini masih menggunakan jalan setapak, lalu menyusuri jalan kereta api untuk bisa menempuh perjalanan dari kampungnya. Kondisi ini dikeluhkan warga karena bisa saja sewaktu-waktu membahayakan jiwanya. Warga berharap ada akses jalan alternatif, sehingga bisa aman beraktivitas.

“Tentu harus ada solusi untuk mengantisipasi bahaya dari kecelakaan karena kereta api. Kita harus sedia payung sebelum hujan. Satu-satunya adalah membuka jalan baru melalui lahan PT. KAI,” ungkap Widya Heru Kartika, SE.Akt., yang merupakan Kades Karyamukti periode 2015-2021.

Dijelaskannya, ide pembangunan jalan baru melalui lahan PT. KAI itu telah lama muncul ketika ada warga dari Kampung Karyasari dan Karoya Girang yang meminta pertolongan, karena sakit maupun akan melahirkan. Sekalipun dalam keadaan darurat, warga terpaksa harus melalui terowongan jalan kereta api.

“Mobil milik saya tidak bisa menjemput atau mengantarkan langsung ke rumah warga yang benar-benar darurat memerlukan pertolongan. Soalnya akses jalan menuju ke rumah warga, jalannya masih darurat. Sehingga saya hanya sebatas mengantar, atau menjemput dari dari depan gonggo (terowongan kereta api/ red.)” tuturnya, saat dijumpai “GE” di kantornya, Selasa (17/1/2017).

Perasaan Heru begitu sedih, setiap menyaksikan warga yang sangat memerlukan pertolongan emergensi, sebelum sampai ke depan gonggo, dari tempat tinggalanya harus digotong pakai blangkar, atau digendong oleh seorang warga, menelusuri jalan kereta api sejauh 800 m. Lalu turun melalui jalan bertangga di samping kiri gonggo, atau pulang harus meniti tangga jalan.

“Tentunya, saya sebagai bapak warga, jam berapapun jika ada warga yang meminta pertolongan, karena sakit keras, atau ada yang akan melahirkan, selalu siap pulang-pergi mengantarkannya. Akan tetapi perasaan hati saya menjadi tak tega dan sedih. Setiap akan memberikan bantuan harus menunggu di depan gonggo.” Kisahnya.

Menyaksikan kondisi seperi demikian, akhirnya Heru semakin kuat mengagas pembanguan jalan baru melalui lahan PT. KAI. Menurutnya, ide tersebut selain sebagai penyelamatan warga dari marabahaya, juga akan menopang perekonomian masyarakat.

“Mudah-mudahan saja pihak dari PT. KAI memberikan izin. Soalnya rencana jalur pembuatan jalan itu melalui lahan milik PT.KAI, sejauh 800 m dengan lebarnya 2,5 m.” Harapnya.

Ditambahklannya, saat ini pemerintahan Desa Karyamukti segera mengambil sikap, salah satunya dengan membuat proposal untuk pembuatan jalan baru. Proposal tersebut telah disampaikan kepada pihak PT. KAI.

“Saya yakin, ke depannya, jalan tersebut bukan hanya sebatas sedia payung sebelum hujan dari mara bahaya yang tidak diharapkan oleh warga kami. Akan tetapi jalan tersebut kedepannya merupakan jalan yang vital sebagai akses meningkatkan perekonomian masyarakat,” paparnya. (Ilham Amir)***

Editor: Kang Cep.

Pembangunan Pabrik Kabel di Cibatu Dihentikan Sementara

GARUT,(GE),- Diduga tak memiliki Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dan tidak ada sosialisasi terhadap warga, Selain itu, warga sekitar lokasi pendirian pabrik kabel milik PT. Piranti Indonesia itu, khawatir akan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh limbah produksi, serta ketakutan akan penyusutan debit air tanah. Akhirnya warga sepakat menolak pendirian pabrik yang berlokasi di Kampung Salagedang, Desa Cibatu, Kecamatan Cibatu ini.

Bupati Garut, Rudy Gunawan yang ditemui di kantornya, Rabu (18/01/2017), menyebutkan, proses pembangunan pabrik tersebut sudah dihentikan sementara, sambil menunggu seluruh perijinan selesai. ” Bukan pabrik ini sudah diajukan permohonan ijin IMB nya, sudah bayar, yang belum ada itu rekomendasi amdal Lalin dan rekomendasi dari BBWS ( Balai Besar Besar Wilayah Sungai), makanya sekarang pembangunannya dihentikan dulu,” ungkap Rudy.

sedangkan mengenai kemungkinan adanya dampak penyusutan air, hingga warga kesulitan untuk mendapatkan air, akibat pendirian pabrik tersebut. Menurut Bupati, jika hal itu ada rekomendasi dari kementerian, atau pejabat yang berwenang, maka pendiriannya akan dibatalkan.” Ya sudah kalau begitu tidak boleh,” tegasnya.

Dijelaskannya, bahwa pihak Kementerian PU PR dan Badan Geologi tengah mengadakan peninjauan ke beberapa daerah di Garut Utara, yang akan dijadikan sebagai kawasan industri. Seperti Kecamatan Leles, Limbangan, Malangbong dan Cibatu.

” Dari lima kecamatan ini paling hanya empat hektaran yang bisa dijadikan kawasan industri,” ujarnya.

Kepada “GE” Rudy sempat menceritakan kekesalannya terhadap salah seorang wartawan dari salah satu tabloid nasional, yang meminta konstruksi pabrik tersebut agar dibongkar.” Kemarin dia menyebutkan warga meminta dibongkar, masyarakat yang mana? Jangan sok jagoan lah,” tandasnya.(Jay)***

Editor: Kang Cep.

Warga Keluhkan Dampak Bendung Copong, BBWS Cimanuk-Cisanggarung Segera Lakukan Pengecekan Jaringan

GARUT, (GE).- Menanggapi keluhan warga Kampung Babakan Cau, Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung berjanji segera melakukan pengecekan salah satu jaringan irigasi Bendung Copong di wilayah Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut.

Kepala BBWS Cimanuk-Cisanggarung,Muhammad Mazid, membenarkan telah terjadi rembesan air di sekitar saluran irigasi Bendung Copong tersebut. Namun, diakuinya, permasalahan tersebut sudah selesai dengan dilakukannya penambahan pelapisan beton pada Oktober 2016 lalu.

“Sudah ada upaya agar persoalan rembesan air ini selesai. Pada Oktober 2016 lalu telah dilakukan pelapisan beton pada titik yang dilaporkan warga yang mengalami rembesan air.” Tukasnya, Kamis (19/1/ 2017).

Dijelaskannya, pihaknya selalu melakukan pemantauan terhadap pengerjangan jaringan irigasi Bendung Copong. Terkait letak saluran irigasi yang berada persis di atas permukiman warga. Ia menyebut, pada awalnya pembangunan saluran kawasan itu didesain saluran tanah.

“Memang awalnya didesain berupa saluran tanah. Dalam setiap pembangunan selalu memerhatikan aspek lingkungan dan sosial. Kami selalu konfirm mengenai dampak lingkungan ini,” katanya.

Terkait adanya permintaan warga untuk memindahkan lokasi saluran irigasi atau pembebasan lahan warga di sekitar saluran, ia menjelaskan hal tersebut tidak bisa dilakukan.

“Saluran irigasi ini kan sudah jadi, sudah selesai dibangun. Tidak mungkin dipindah. Persoalan terkait pembebasan lahan juga sudah dilakukan. Tapi akan saya cek dulu, karena kegiatan di lapangan saya tidak hapal seluruhnya,” jelasnya.

BBWS Cimanuk-Cisanggarung sendiri memprediksi, Bendung Copong dan seluruh saluran irigasi yang telah dibangun akan mulai dioperasikan pada 2019 mendatang.(Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

KBM Tak Nyaman, SDN 6 Sindangsuka Menanti Bantuan RKB

KONDISI SDN 6 Sindangsuka didiri pada tahun 1983, konstruksinya masih berupa bangunan inpres jaman orde baru. Dari sejak berdiri hingga saat ini baru mendapatkan Bantuan Ruang Kelas Baru (RKB) 3 kali.  Saat ini, para pelaksana teknis pendidikannya menti kembali bantuan RKB dari pemerintah. Terutama untuk 2 uang kelas yang membuat para-guru dan murid gerah tak nyaman melakasanakan kegiatan belajar dan mengajar.

SDN 6 Sindangsuka berdiri di atas tanah seluas 1160 m². Sekolah itu berlokasi di Kampung Pangeureunan, RW.05 /RT.02, Desa Sindangsuka, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Saat ini di sekolah tersebut memiliki 74 siswa, dengan jumlah pelaksana teknis pendidikannya terdiri dari 3 PNS, dan 5 sukwan.

Menurut pengakuan dari para gurunya, di SDN 6 Sindangsuka terhitung dari tahun 1983 hingga tahun ini (2016) baru mendapatkan 3 kali bantuan Program RKB, yaitu pada tahun 2008, 2011.

Diharapkannya,  pada tahun 2017 mendapatkan bantuan pembangunan RKB lagi. Terutama untuk pembangunan ruang kelas 2 dan kelas 3. Ruangan tersebut  tampaknya sudah tidak layak huni.  Dengan kondisi ruangan seperti itu, sejumlah guru dan siswa mengaku kesulitan untuk bisa konsentrasi dalam menjalankan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

“Makanya pada tahun 2017, kami mengharapkan sekali bantuan dari pemerintah. Terutama untuk ruang kelas 2 dan kelas 3 perlu direhabilitas. Karena kelas tersebut sudah tidak layak untuk KBM. Ruangan kelas itu, keadaannya kumuh, beratap seng. Sehingga bikin tak kerasan guru mengajar. Jika hujan, ruangan kelas tersebut becek. Sedangkan jika terik matahari, baik guru maupun siswa akan bermandikan keringat, karena atap seng membikin udara dalam ruangan menyengat gerah,” tutur guru kelas 5 SDN 6 Sindangsuka, Wawat Setiawati S.Pd., saat dijumpai Tim GE, belum lama ini.

Sementara itu, guru kelas 6, Yana S.Pd menambahkan, mudah-mudahan saja, untuk kedepanya, apabila bantuan RKB untuk kelas dua dan tiga terealisasi, sekolah ini mempunyai “nilai jual.”

“Dengan demikian, semoga untuk kedepan jumlah siswa lebih meningkat dari sekarang.” Harapnya. (Yayan-Asep T.)***

Editor: Kang Cep.

Hj. Teti Salehati, S.Pd.,M.Pd, “Srikandi” SMP Tunas Harapan

NASIB SMP Tunas Harapan Cibatu yang dikenal dengan sebutan SMP TH sempat mengalami vakum selama setahun (2011-2012). Bahkan tersebar isu miring, bahwa sekolah tersebut telah gulung tikar.

Namun, ketika Hj. Teti Salehati, S.Pd.,M.Pd., dipercaya memangku jabatan Kepala SMP Tunas Harapan, sekolah yang berdiri sejak tahun 1982 itu, akhirnya bisa terselamatkan.

Sebelumnya para pendiri Yayasan Tutwuri Handayani mengajukan permohonan kepada Pemda Tasik, demi menarik Hj. Teti Salehati, untuk bisa memimpin SMP Tunas Harapan Cibatu. Menurut para pendiri yayasan tersebut, hanya Hj. Teti-lah sebagai “Srikandi” yang akan menyelamatkan dan mampu memberdayakan lagi SMP Tunas Harapan Cibatu.

Hj. Teti, merupakan putri dari pendiri SMP TH Cibatu, juga pengalamannya pernah menjadi guru honor di sekolah itu. Kemudian diangkat PNS pada tahun 1955 yang bertugas menjadi pelaksana teknis pendidikan di SMPN 2 Tasik.

Hj. Teti bisa dibilang sangat layak sekali menjadi sosok kepala sekolah. Pasalnya, dari sejak menjadi guru honor hingga diangkat menjadi PNS, pengalamannya sebagai tenaga pendidik sudah berusia 18 tahun.

“Akhirnya pada awal Desember tahun 2012, saya menjadi kepala sekolah. Namun ketika saya mengawali mengabdikan diri menjadi kepala sekolah di SMP Tunas Harapan, sempat dihantui rasa bingung melihat ruangan kelas yang mesti diperbaiki. Soalnya di satu sisi saya harus membenahi fisik sekolah ini, karena keadaan ruangan kelasnya kurang memadai. Selain itu, bagaimana kita harus mengembalikan kepercayaan sekolah ini kepada masyarakat,” ujar Hj.Teti.

Diungkapkannya, ntuk meyakinkan kembali kepada masyarakat mengenai kesuksesan SMP TH yang sudah terkenal sejak tahun 1982. Ia bekerja sama dengan beberapa satuan pendidikan sekolah dasar.

“Sehingga sewaktu membuka penerimaan siswa baru untuk tahun ajaran 2012-2013 per rombelnya memenuhi standarisasi minimal. Saat ini di SMP Tunas Harapan memiliki peserta didiknya sebanyak 85 siswa,” katanya.

Kini Hj. Teti, boleh dibilang menuai sukses menyelamatkan nasib sekolah tersebut. Tak percuma telah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan materi.

“Yang penting dalam suatu perjuangan itu harus diiringi dengan keikhlasan, dan senantiasa menyerahkannya kepada Allah SWT,” pungkasnya.(Ilham Amir)***

Editor: Kang Cep.