BREAKING NEWS: Kapal Penangkap Ikan Tenggelam, Seorang Nelayan Dinyatakan Hilang

GARUT, (GE).- Ganasnya pantai selatan Garut kembali merenggut korban. Kali ini sebuah kapal nelayan yang tengah melaut malam hari dikabarkan tenggelam. Penyebab tenggelamnya kapal penangkap ikan tersebut akibat mengalami kebocoran pada bdan kapal. Musibah tenggelamnya kapal ini terjadi beberapa mil dari pesisir Pantai Nagara, Kecamatan Cibalong, Garut, Sabtu (22/7/17).

Menurut Joshua Banjarnahor, salah seorang pejabat Basarnas Jawa Barat, peristiwa tersebut terjadi siang sekira pukul 12.30 WIB, Sabtu (22/7/17). Dari empat awak kapal, tiga diantaranya berhasil selamat, sementara satu orang lainnya hingga kini dinyatakan hilang.

“Kapal bernama Anak Tuna milik nelayan tenggelam sekitar 8 mil dari tepi Pantai Nagara, karena mengalami kebocoran,” ujar Joshua, Sabtu (22/7/17).

Dijlaskannya, tiga orang korban selamat dalam peristiwa ini diantaranya Husna (35), Sugih (27) dan Engkos (50). Ketiga orang nelayan ini sebelumnya sempat ikut tenggelam. Beruntung ketiganya bisa menyelamatkan diri dan berhasil dievakuasi oleh warga bersama petugas Satpolairud Pantai Santolo.

“Seorang korban lainnya bernama Jiji (56) belum ditemukan. Empat orang korban itu merupakan warga Dusun Jampang, Desa Jatimulya, Pamengpeuk, Garut,” tandasya.

Hingga berita ini diturunkan, Minggu (23/7/17) petugas gabungan dari Basarnas, polisi, anggota TNI bersama warga bahu- membahu melakukan pencarian seorang korban yang masih hilang. (Memphis)***

Editor: Kang Cep.

Berlibur di Muara Cibaluk, Dua Pelajar Ini Meregang Nyawa Terseret Arus Sungai

GARUT, (GE).- Kabar duka kembali datang dari kawasan Garut selatan. Dua orang remaja Bagas Dzul Azhar (15) dan Geral (15) yang tengah beriwsata di kawasan muara Sungai Cibaluk, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut harus meregang nyawa terseret arus sungai.

Kejadian nahas yang menimpa dua remaja ini terjadi sekira pukul 31.00 WIB, Selasa (4/7/2017). Menurut keterangan Kapolsek Cibalong, AKP Supian, kedua remaja ini diduga tewas tenggelam karena tidak bisa berenang.

“Mereka kemungkinan tidaki bisa berenang, saat bermain di sungai itu,” kata AKP Supian kepada wartawan, Selasa (4/7/170.

Berdasarkan keterangan dari Rinaldi Putra (15) teman korban yang selamat, kejadian bermula saat Geral berenang di sekitar bibir sungai. Tiba-tiba Geral terbawa arus sungai.

Beberapa saat setelah kejadian, Bagas dan Geral ditemukan mengambang dan sudah dalam keadaan tak bernyawa. Saat itu juga Polisi serta anggota TNI dibantu warga membawa jasad remaja tersebut ke Puskesmas Kecamatan Cibalong.

Menurut aparat setempat, kedua remaja berstatus pelajar yang meninggal dunia dalam kecelakaan ini merupakan warga Perum Bumi Asri, Kecamatan Tarogong kidul, Kabupaten Garut. (ER)***

Menerjang Derasnya Sungai Cimerak Demi Mengajar di SD Mekarsari

MENEMPUH jalur berlumpur, melintasi jalan setapak puluhan kilo meter, hingga menembus derasnya arus sungai tak pernah membuat semangatnya luntur.Tekadnya untuk mencerdaskan anak bangsa terus tertanam dalam jiwanya.

Adalah Apid Kurnia, sosok guru muda potensial yang telah mendedikasikan hidupnya sebagai guru honorer sejak tahun 2005 lalu. Setiap harinya, Apid yang bertempat tinggal di Kampung Lengkong, Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut. Dengan menunggangi speda motor kesayangannya, setiap harinya Ia harus berpeluh keringat untuk menempuh perjalanan 25 Kilo meter selama 2,5 jam untuk mengajar di SDN Mekarsari V yang berlokasi di Desa Mekarsari.

Selain harus melintasi jalan setapak berlumpur, Apid juga harus bertaruh nyawa dengan melintasi derasnya arus Sungai Cimerak.

“Perjalanan seperti ini tak jadi soal. Yang penting saya bisa mengajar anak anak. Ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai pendidik,” tuturnya, saat dijumpai “GE” di SDN Mekarsari, Rabu (7/12/2016).

Untuk bisa sampai di sekolah tepat waktu, Apid harus harus sudah berangkat dari rumahnya sejak pukul 4.30. Jika musim hujan, tak jarang Apid harus menginap di sekolah karena dipastikan arus Sungai Cimerak akan meluap hingga tak bisa dilntasi motornya.

Dengan gaji guru honorer yang tak seberapa, tentunya tak sebanding pekerjaan dan kinerjanya yang begitu berat. Namun baginya, semua itu bukan halangan untuk tetap bisa mendidik sebaik mungkin. Namun demikian, harapannya untuk diangkat menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil tetap menjadi angan-angannya selama ini.

“Ya, kalau harapan utamanya yang ingin anak anak didik saya menjadi orang sukses, cerdas dan bisa berguna bagi agama, dan negara. Ada juga harapan lainnya, mudah-mudahan pemerintah bisa memperhatikan harapan saya untuk segera diangkat menjadi PNS,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala SDN Mekarsari V, Iyay Sugiarti S.Pd., mengakui jika Apid Kurnia merupakan salah seorang staf pengajar yang disiplin, walau setiap hari harus menempuh perjalanan jauh untuk mengajar, Apid hampir tak pernah telat datang ke sekolah.

“Apid memang guru yang disiplin, walau harus menempuh perjalanan yang jauh, ia tak pernah telat masuk sekolah. Bahkan hampir tak mengeluhkan kondisinya.Kadang pak Apid sering menginap di sekolah jika hujan deras karena tak mungkin menyebrangi Sungai Cimerak. Melihat pengabdiannya yang begitu besar, menurut saya, pak Apid layak diangkat menjadi guru PNS. Semoga pemerintah dapat memperhatikannya,” tuturnya.(Deni-Siti)***

Editor: Kang Cep.

Sambangi Cibalong, H. Ahmad Zacky Siradj Gelar Dialog Bersama Warga

GARSEL, (GE).- Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dari Fraksi Golkar asal Kampung Dangdeur, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, H. Ahmad Zacky Siradj menggelar kunjungan silaturahmi untuk menyerap aspirasi warga di kawasan Garut Selatan (Garsel), tepatnya di Kecamatan Cibalong dan sekitarnya.

Kunjungan perseorangan selama 9 hari tersebut, (03-11/11/2016) diikuti dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari pengurus Apdesi, Himpaudi, Guru Raudhatul Atfal, PK PD Golkar, Guru TK, PGRI, PK KNPI, Muspika, Polsek, Pimpinan pesantren, Anshor, Aisyiah, Fatayat, hingga kelompok Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Gapoktan.

Dalam sesi tanya jawab, masyarakat sangat antusias menyampaikan tanggapan, keluhan, saran dan semua harapan pada wakilnya yang yang juga duduk sebagai anggota Komisi III DPR RI. Masyarakat tidak hanya membahas hasil usaha pertanian yang kerap merugi, tetapi mereka juga masuk dalam pertanyaan isu hangat yang menjadi trending topic saat ini yakni penistaan agama.

H. Yayat, selaku anggota Gapoktan Desa Karyasari, menyampaikan curahan unek-uneknya. “Pak dewan, kami memerlukan pembangunan irigasi untuk menunjang usaha hasil pertanian. Lahan sawah yang digarap selama ini menjadi terus merugi jika tanpa ada irigasi,” ucapnya, saat dialog terbuka di Aula Kecamatan Cibalong.

Hal serupa disampaikan Usep dari Desa Karyamukti, prioritas saat ini yang dibutuhkan masyarakat adalah pembangunan infrastruktur. ” Jalan poros desa seperti di Desa Sancang, Nejaten dan Cigugur sangat parah hingga warga menyebutnya sebagai jalan tanjakan rewel. Ketika panen pisang tiba, satu kilo dijual hanya laku seribu rupiah terus dipotong ongkos ojeg, sisa 400 rupiah per kilo,” sebut Usep, saat sesi akhir tanya jawab acara silahturahim itu.

Seusai mendengar beragam keluhan, Sekretaris Dewan Penasehat ICMI ini siap untuk memperjuangkan dan akan disampaikan melalui komisi IV sesuai bidangnya yaitu pertanian dan pembangunan infrastruktur. Selain itu, H. Zacky juga memberikan pencerahan terkait tugas dan wewenang komisi III bahkan mewanti-wanti pada masyarakat agar mau menegur dan mengingatkan terhadap dirinya jika berbuat salah.

“Ingatkan saya, tegur saya jika salah. Watawa shaubil haqqi watawa shaubishabri”, tandasnya.

Ditempat terpisah tepatnya di Kampung Cibalieur Desa Sancang, mantan Ketua Umum PB HMI ini turut mengingatkan para tokoh masyarakat setempat, saat ini kita telah dijajah bukan secara fisik tapi oleh konsep dan rumusan.

“Masih ada undang-undang yang tidak berpihak terhadap kepentingan masyarakat banyak. Sebab itu, bapak bapak yang hadir disini, sampaikan dan berikanlah pemahaman kepada warga sekitar agar selalu berdaulat dalam politik dan berakhlaq dalam beragama seperti tertuang dalam Al-Qur’an ‘Innama buitstu liutammima makarimal akhlaq’,” tuturnya.

Pimpinan Ponpes Darul Qolam Dangdeur ini dimata masyarakat Cibalong begitu melekat, akrab dan familiar. Respon dan antusias masyarakat pun terus mengalir. “Alhamdulilah selain bisa lebih dekat dengan wakilnya yang duduk sebagai anggota DPR RI, kami juga mendapatkan pemahaman terkait wawasan dan tugas-tugas DPR, ungkap saah satu warga Desa Sancang.(Syamsul)***

Editor: Pimpinan Redaksi (Pimred)

Diduga Tersengat Listrik, Pria Ini Ditemukan Sudah Tak Bernyawa di Tambak Udang

CIBALONG, (GE).- Sesosok pria ditemukan dalam kondisi sudah tak bernyawa di salah satu tambak udang kawasan Garut selatan, tepatnya di Balai Pengembangan Budidaya Air dan Laut selatan Provinsi Jawa barat.

Belakangan jasad pria yang ditemukan hari ini, Sabtu (29/10/2016) diketahui bernama Rudi bin Pahru (31) warga Cadas Ngampar, Desa Mekarsari, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut.

Demikian disampaikan Humas Polres Garut, AKP. Ridwan Tampubolon,  melalui broadcast-nya yang dikirim ke redaksi www.garut-express.com.

“Ya, korban ditemukan pagi pagi, sekira pukul 07.30 , jasadnya ditemukan di bak kontrol tambak udang, di Kampung Belengbeng, Desa Mekarsari, Kecamatan Cibalong, Garut. Dugaan sementara, korban ini tersengat aliran listrik di bak kontrol tersebut,” jelasnya.

Diungkapkannya,  Rudi (alm) merupakan salah seorang karyawan di tambak udang tersebut. Sementara itu, warga yang pertama kali menemukan jasad korban adalah Andri Burhadin (30) warga Kampung Belengbeng, Desa Mekarsari, Kecamatan Cibalong.

“Yang pertama kali menemukan korban adalah Andri, berkeja juga ditambak tersebut. Setelah menerima laporan, kita langsung meluncur ke TKP, dan korban kita bawa ke RSUD Pameungpeuk  untuk dilakukan visum. Untuk keterangan sementara, pihak keluarga korban menerima atas musibah ini,” tandasnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

Mahasiswa Unpak Merambah Leuweung Sancang

CIBALONG, (GE).- Sedikitnya 88 orang mahasiswa semester VII berserta 8 dosen dari Program Study (Prodi) Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pakuan Bogor mengadakan praktik lapangan untuk observasi Primata, Hutan Dataran Rendah, Mangrove, Insecta. Penelitian di kawasan hutan Sancang ini telah berlangsung selama 4 hari.

Tajuk penelitian ilmiah ini sendiri mereka namakan “Praktik Lapang Mahasiswa Biologi di Leuweung Sancang”. Hutan Leuweung Sancang yang merupakan wilayah V Garut dalam pengawasan Balai Besar Konsevasi Sumber Daya Alam (BBKSD) Jawa Barat, dikarenakan lokasi ini Cagar Alam yang tidak boleh ada aktivitas kunjungan sebagai wisata masyarakat umum, kecuali kunjungan aktivitas penelitian.

Asep Wawan, yang merupakann Kepala Resort Balai Besar Konsevasi Sumber Daya Alam yang bertugas di Leuweung Sancang, saat itu secara resmi bersama anggotanya menerima kegiatan mahasiswa biologi ini. Program kegiatan observasi ini merupakan tugas pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan sengaja melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala yang diselidiki.

“Dalam melakukan observasi kita harus memperhatikan dengan teliti objek yang akan diteliti. Satu sampel yang kita ambil belum bisa dijadikan sebagai kesimpulan dari penilitian, oleh karena itu diperlukan banyak objek penelitian sebagai pembanding dalam melakukan observasi.” Ungkap Dr. Surti Kurniasi,M.Si, yang merupakan Ketua Prodi Biologi, belum lama ini.

Sebelum menggelar penelitian, rombongan mahasiswa secara simbolik memberikan bibit Pohon Butun atau keben (Barringtonia Asiatica) sejenis pohon yang tumbuh di pantai-pantai wilayah tropika dari Kepala Resort Leuweung Sancang kepada Ketua Prodi Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dr. Surti Kurniasi, M.Si yang mengawali penanaman oleh mahasiswa dan dosen pada area penananaman yang sudah dilokalisir oleh Resort Balai Besar Konservasi sumber Daya Alam Leuweung Sancang.

Dijelaskannya, habitat tumbuhan pohon Butun merupakan kawasan litoral yang hampir ekslusif, pada beberapa daerah pohonnya dapat tumbuh jauh ke daratan pada bukit atau jurang berkapur. Biasanya tumbuh pada pantai berpasir atau koral-pasir di sepanjang pantai atau rawa mangrove pada ketinggian 0-350 meter dari ketinggian di atas permukaan laut.

Pohon keben ini merupakan spesies Barringtonia asli mangrove yang habitatnya di pantai tropis dan pulau-pulau di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Barat dari Zanzibar ke timur Taiwan, Filipina, Fiji, Kaledonia Baru, Kepulaian Solomon, Kepulauan Cook, Wallis, dan Futuna serta Polinesia Prancis. Penyabaran di Indonesia meliputi Jawa, Bali, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

Di Indonesia, keben pernah mendapat predikat sebagai pohon perdamaian. Predikat itu ditetapkan oleh Presiden Soeharto pada Hari Lingkungan Hidup, pada tanggal 5 Juni 1986. Tema Hari Lingkungan Hidup tahun itu adalah “A Tree for Peace”.

Keben tidak hanya pohon perdamaian. Keben juga punya makna lain. Di dalam Keraton Yogyakarta, terdapat area yang dinamai keben karena area tersebut ditanami tanaman tersebut. Konon, keben di Keraton Yogyakarta bermakna sebagai lambang negara yang agung dan bersih. Selain itu, keben juga bermakna merangkul kebenaran. Selain di Yogyakarta, keben juga bermakna di Pulau Anak Krakatau. Konon, keben adalah tumbuhan pertama yang tumbuh di pulau itu setelah meletusnya Gunung Krakatau.

Kadang-kadang ditanam sebagai tanaman hias. Pohon dan bijinya mengandung saponin yang dapat digunakan sebagai racun ikan. Biji yang digunakan sebagai racun ikan seringkali dicampur dengan tuba (Derris rotenon). Minyak yang berwarna kemerahan dapat diperoleh dengan memanaskan dan memeras bijinya.

“Di Jawa, cairan yang diperoleh dari bijinya dapat digunakan sebagai perekat dalam pembuatan payung, serta untuk membunuh ekto-parasit, seperti lintah.” Bebernya. (Cep)***

Innalillahi, Guru Honorer di Garut Meninggal Usai Diseruduk Babi Hutan

CIBALONG, (GE).– Nasib nahas menimpa seorang guru honorer di SMPN 2 Cibalong. Ia meregang nyawa usai diseruduk babi hutan di kawasan Leuweung Sancang.

Seorang rekan korban yang sama-sama berprofesi sebagai guru honorer, Totoh Abdul Fathah membenarkan rekannya bernama Diki Argi Sugiwa (30) meninggal dunia usai diseruduk babi hutan di kawasan Leuweung Sancang. Saat itu, Dedi pulang dari sekolah dengan mengendarai sepeda motor. Tiba-tiba seekor babi hutan melintas jalan. Sepeda motor yang dikendarainya menabrak babi hutan. Saat itu juga sepeda motor yang dikendarai Diki jatuh tersungkur.

Totoh melanjutkan, nyawa Diki tidak tertolong karena mengalami pendarahan. Saat kejadian, sama sekali tidak ada orang yang mengetahui karena posisinya ada di tengah hutan.

“Kejadiannya sore hari saat kondisi jalan sedang sepi. Bahkan TKP nya berada di tengah hutan,” kata Totoh, Kamis (30/6/2016).

Totoh mengatakan, Diki telah mengabdi menjadi guru honorer sejak enam tahun yang lalu. Ia dikenal sebagai sosok energik dan mudah bergaul. Ia meninggalkan dua orang anak yang masih kecil.

Diki tercatat sebagai warga Kampung Medong, Kecamatan Pameungpeuk. Peristiwa tersebut terjadi Selasa (28/6/2016). Korban dimakamkan Rabu (29/62016) di kampung kediamannya. Farhan SN***