Halaman yang Hilang (4)

Anne A. Permatasari.***

Halaman yang Hilang (4)

oleh : Anne A. Permatasari

“TERIMA kasih sudah mengingatkanku untuk selalu menjaga pola makanku,” ujarnya di ujung telepon.
It’s oke. Aku kan harus peduli pada seorang teman,” jawabku sambil berusaha agar nada khawatirku tentang kesehatannya tidak terdengar olehnya.
“Aku serasa memiliki seseorang yang mengasihiku. Seseorang yang mencintaiku,” ujarnya menggodaku.
“Hem… aku perlu hati-hati juga rupanya.”

“Setidaknya aku mengingatkan, barangkali kau merasakannya atau barangkali kau diam-diam jatuh cinta kepadaku. Hati-hati lho, kita berada di daerah rawan untuk itu. He…he….”

“Ah… Terimakasih sudah mengingatkan aku untuk tidak jatuh cinta, ya?”

“Oke, tapi ingat! Di daerah itu tanahnya sangat licin, banyak orang terpeleset. Apalagi musim hujan gini. Kemarin saja ada orang jatuh sampai berdarah dan terluka hatinya. Kasihan, tak ada dokter yang sanggup mengobati. Ibunya menangis setiap hari,” guraunya.

“Sepertinya dia anak yang manja ya? Sudah tahu daerahnya licin, masih juga melalui jalan itu. Ibunya pasti sudah memperingatkannya pula. Pasti dia juga bandel ya? Tuh kan? Kalau sudah terluka, ibunya juga menderita,” sambutku.

“Bukan manja sebenarnya, dia hanya mengikuti kata hati dan perasaannya. Perasaan yang diam-diam menyelinap melewati batas kemampuannya. Ya, perasaan itu seperti asap yang halus lembut namun tak mampu dibendung. Dia tak kuasa menahan karena dia manusia biasa.” Terdengar seperti pembelaan diri.
“Oh… kalau begitu, aku salah ya? Ternyata dia pemberani dan kuat. Lagi pula, dia tidak mengeluh meski terluka dan yang menangis itu malah ibunya, ya?”

“Dia memang pemberani. Setiap kesadarannya ingin menolak, setiap itu pula perasaan bertambah kuat ikatannya. Setiap rontaan dijawab dengan bertambahnya kekuatan yang menelikung dirinya.”

“Wah kasihan juga juga ya? Kira-kira dia sadar ga ya dengan apa yang diperjuangkannya? Atau mungkin dia hanya terkena halusinasi.  Harusnya ada seseorang yang mengulurkan tangan cepat! Dia pasti butuh bantuan.” Aku mencoba menghentikannya. Tapi dia tak bergeming.

“Kadang ia ingin memberontak, kadang ia ingin menikmatinya sendirian, ya sendirian. Dalam remang cahaya malam atau dalam sepi sisa hari, ia tengadah dalam gundah.”
“Ah… dia. Membuatku ingin mengenalnya. Mungkin ada yang bisa kupelajari tentang keinginannya.Tapi aku takut tak bisa sekuat dia. Aku bahkan tak mau ah, melangkah ke tempat licin itu.” Aku melarikan diri dari alir percakapan yang mulai melibatkan hati.

“Kau tak sadar ya? Kau berada dalam area itu sekarang. Hati-hatilah. Kalau tidak, dia pasti akan menarikmu ke daerah licin yang kerap menggelincirkan kaki itu.”

“Ah… aku akan segera menjauh saja. Lagi pula, dia tidak akan berani mengajakku.”

“Kau salah! Dia pasti akan berusaha. Dia pasti bahagia dan malah berharap terus berada dalam kubangan itu bersama seorang lainnya. Yakinkan itu!” Nada lembutnya penuh ancaman.

“Tapi… itu kan bukan cerita tentang dia dan aku,” elakku setelah berhasil meredakan kengerian.

Dia tertawa dengan lepas.

“Percayalah… kau akan menemaninya di sana.” Dia menakutiku.

“Dia bisa berharap apa saja tapi aku akan tetap lari.”
“Dia tetap mengejarmu atau dia pasti menantimu di sana. Kau tahu? jika hati sudah terlibat, kau yakin bisa kembali?”
“Dia akan menghabiskan waktunya dengan menanti!”
“Baginya, malam adalah penantian dan siang adalah harapan. Meski dia tidaklah paham apa yang dia nanti dan apa yang dia harap.”

“Mungkin seperti mimpi ya? Semoga dia cepat terbangun dan sadar, kalau dia sebenarnya telah memiliki hari yang sempurna.”

“Dia  itu aku, dan engkau … kuharap itu, engkau, Ami. Dan ya kuakui, aku tergelincir!”

Aku tahu itu. (Bersambung)***

Halaman yang Hilang (2)

oleh : Anne A. Permatasari

PERTAMA kali aku mengenal namanya adalah ketika kami dinyatakan diterima di sebuah universitas ternama di negeri ini. Nama aku dan dia ditulis besar-besar pada kain yang direntangkan di depan sekolah. Ucapan selamat yang membanggakanku sàat itu. Hanya kami berdua yang mampu menembus universitas sebesar itu dengan jurusan yang luar biasa pula. Dia diterima di kedokteran. Dan aku, pada jurusan farmasi.

Teman seangkatan, guru, bahkan adik kelas seperti tak henti membicarakan dan memuji aku dan dia. Meski aku sering mendengar namanya, tapi aku sungguh  tak pernah mengenalnya. Dia tidak termasuk pada jajaran siswa yang terkenal di sekolahku.

Hal itu yang membuatku penasaran, untuk mengenalnya lebih dekat. Berbagai informasi kukumpulkan diam-diam. Dan, aha… akhirnya kudapat!

Lelaki introvert itu memang tak pernah tampil ke depan. Hanya saja, guru-guru sering menggambarkan kesempurnaan akademisnya dengan hebat. Kutu buku itu tak suka berorganisasi, sepertiku. Lainnya, dia berada jauh dari kelasku.

Kesempatan bertemu langsung adalah saat perpisahan sekolah. Sebagai sebuah bentuk apresiasi karena mengharumkan nama sekolah, aku dan dia diberi tempat duduk berdampingan di deretan kursi paling depan.

Dia hanya mengangguk ringan dengan tatapan yang tawar. Tak kutemukan senyum setitik pun di seluruh wajahnya. Sedikit angkuh dan…. menyebalkan! Sikapnya itu mendadak sontak telah merontokan seluruh keinginanku untuk mengenalnya lebih dekat. Perasaan sebaliknya yang justru tumbuh seketika.

Tak ada usaha membuka percakapan darinya. Padahal, aku terlihat jelas di sampingnya. Aku, aktivis OSIS, si pintar yang cemerlang, yang tak pernah diabaikan siapapun! Aneh, pada akhirnya ketidakacuhan itu malah tak membekukan keinginanku untuk mengenalnya. Setidaknya, sekadar persiapan,  jika suatu hari nanti, kami terpaksa harus bareng masuk ke gerbang universitas yang sama.

Hari itu, suasana jadi terasa dingin dan kaku di tengah hiruk pikuk acara. Pandanganku lurus ke depan. Aku berpura-pura mengikuti dan menikmati setiap acara. Pikiranku tak  lepas dari dia.

Aku merasa sial sekali harus duduk di sebelahnya. Menyesal rasanya, aku tak duduk bersama teman sekelas yang tak berhenti mengumbar canda sejak duduk. Aku hanya bisa mendengar derai dan tawa  renyah mereka. Sesekali, teriakan godaan mereka yang ditujukan kepada kami berdua, yang berperan sebagai pengantin dalam upacara adat yang jauh dari khidmat itu.

Selintas,  mau tak mau aku menatap wajahnya dari samping. Manis. Memang manis. Tapi membosankan!  Duduk bersanding dengannya diiringi tatapan ratusan pasang mata, rasanya seperti di neraka. Sama sekali aku tak merasa beruntung. Masih terbayang ketika tadi, sebelum masuk gedung ini, Pak Handi, guru BP kami berkata dengan senyum lebar

“Sepertinya, kalian berjodoh.”

Aku tersentak kaget.

Oh.. jangan! Jangan sampai. Aku tak mau menghabiskan hidupku dengan lelaki sedingin ini. Bisa beku hidupku.

“Ingat… semua yang pernah Bapak jodohkan, tak pernah meleset,” ujar beliau membuatku merinding.

Sayang, di depanku tak ada cermin atau sekadar kaca saja. Biar aku bisa melihat reaksiku atau raut wajanya tanpa harus kutatap langsung ke arahnya.

Pertemuan itu menyisakan sebuah tantangan buatku. Caranya yang dingin dan tak acuh, membuatku merasa direndahkan. Terpikir  olehku, mencari cara untuk merebut perhatian dan menaklukan hatinya.

*****

Opspek adalah masa pengenalan lingkungan kampus untuk para mahasiswa baru. Saat itulah aku baru merasa bahwa penilaianku pada dia, berbeda jauh.

Perilakunya yang super dingin, ketat dengan etika yang pernah aku cibiri, ternyata membuatku merasa aman dan nyaman.

Entah mengapa, meski berbeda jurusan, dia tetap menjadi teman baikku. Jika ada waktu luang, kami selalu berdiskusi dengan seru.

Mulai dari tempat kontrakan, diskusi soal jumlah SKS yang akan ditempuh tiap semester, memilihkan prioritas buku literatur yang harus dibeli, sampai pada menemukan tempat makan yang bersih dan murah, sesuai untuk kantong mahasiswa sepertiku.

Sayang, kebersamaan itu berlalu terlalu cepat. Kesibukan, serta jadwal kuliah yang berbeda, membuat kami jarang bertemu. Jangankan untuk saling mengenal dan bercengkrama, saling berbagi beritapun terasa sangat mahal.

Sampai suatu ketika. Aku telah menyelesaikan seluruh perkuliahanku dan dia menjalani masa co-ass. Ada perasaan khawatir ketika tiba waktuku meninggalkan kampus dan segera mengabdi pada negara. Sementara dia masih keluar masuk di dalam kampus.

Sering aku mencoba mengorek hatinya tentang perasaannya kepadaku. Dia tidak bergeming.

“Hidupku sulit.  Aku tak mau berleha dengan kuliah yang telah kuperjuangkan melalui tetesan peluh ibuku,” ujarnya.

“Apa urusan hati dengan kuliah?” Iseng aku bertanya.

“Aku tak mau kuliahku terganggu dengan urusan pribadi.”

Aku tersedak dengan jawaban gamblangnya. Tapi itu membuatku semakin bersemangat menaklukkan hatinya meski dia tetap menanggapi dengan dingin tanpa gairah. (Bersambung)******