Hari Kedua Lebaran, Pantai Selatan Renggut Empat Korban Jiwa

GARUT, (GE).- Memasuki hari kedua Lebaran Idul Fitri tahun ini (2017)  kawasan pantai selatan Garut kembali merenggut korban jiwa. Sedikitnya dua korban yang merupakan wisatawan pengunjung di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut terseret ombak, sekira pukul 14.30 WIB, Senin (26/6/2017).

Menurut Kepala Basarnas Jawa Barat, Slamet Riyadi, korban yang terseret gelombang pantai selatan Garut tersebut diketahui atas nama Rijal (15), warga Desa Wanamekar, Kecamatan Wanaraja, Garut dan Nandang (14), warga Pakuwon, Kecamatan Cisurupan, Garut.

“Ya, keduanya terseret arus saat tengah berenang di kawasan pantai,” ujar Riyadi kepada  wartawan, Senin (26/6/2017).

Dijelaskannya, Pantai Cijeruk sendiri memang masih jarang dikunjungi wisatawan. Ombak di kawasan selatan Garut memang dikenal memiliki gelombang yang terbilang tinggi.

” Kami masih melakukan pencarian dibantu Satpolair Polres Garut, TNI, dan warga sekitar,” katanya.

Menurutnya, selain di Pantai Cijweruk, peristiwa serupa juga terjadi di kawasan Pantai Rancabuaya, Kecamatan Caringin, Garut. Dua orang wisatawan juga terseret arus pantai.

Sementara itu, menurut Iwan, salah seorang pengunjung Pantai Cijeruk menyebutkan, sebelum digulung ombak korban sebelumnya sempat diperingatkan beberapa temannya agar jangan berenang terlalu jauh.

“Koban sebelum digulung ombak sempat diperingatkan teman-temannya. Namun tidak menghiraukan,” katanya. (ER)***

 

Warga Garsel Keluhkan Tingginya Harga “Si Melon” Jelang Ramadhan

GARUT, (GE).- Menjelang tibanya bulan suci Ramadhan 1437 H – 2017, warga di kawasan Garut Selatan (Garsel) mengeluhkan tingginya harga gas 3 kg (Si Melon). Untuk harga di tingkat pengecer harga gas 3 kg bisa mencapai Rp 29 ribu hingga Rp 30 ribu per tabung. Di hari biasa harga gas bersubsidi ini biasa di banderol Rp 21 ribu sampai Rp 23 ribu per tabung.

Siti (40) salah seorang warga Kampung Rancabuaya, Desa Purbayani, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut mengaku dipusingkan dengan kondisi ini. Terlebih jelang Randhan kerap hampir semua kebutuhan pokok naik dario biasanya.

“Pokoknya mah lieur. Pasti kalau menjelang Ramadhan semua pada naik, sembako naik, dan sekarang gas 3 Kg mulai naik juga. Sudah naik, gas ukuran 3 Kg ini juga sekarang mah cepat habis,” keluhnya, Jumat (19/5/17).

Sementara itu, Oma Sutisna (45)  pemilik pangkakan gas di Kampung Bojong, Desa Purbayani, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut mengakui kenaikan tersebut memang sudah biasa menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.

“Ya, kalau menjelang Ramadhan dan Idul fitri mah sudah biasa semuanya pada naik. Untuk di pangkalan , kami menjualdengan harga Rp 22 ribu per tabung. Ongkos oprasional juga jadi salah satu alasan kenaikan harga gas ini,” ungkapnya.

Dikatakannya, pemilik pangkalan di kawasan Garut selatan sendiri untuk saat ini membeli gas 3 kg sebesar Rp 15 ribu per tabungnya.

Warga berharap pemerintah segera menertibkan harga gas ini, sehingga bisa meringankan beban masyarakat. Bagi masyarakat dengan ekonomi di bawah standar, tentu kenaikan gas 3 kg memberatkan.

“Bagi saya, sebagai warga yang pas pasan tentunya kenaikan harga gas ini sangatlah memberatkan. Saya berharap pemerintah segera membantu menertibkan harga gas ini, khsusnya di tingkat pengecer,” tutur Siti. (Deni Permana/ GE)***

Editor: Kang Cep.

Proses Pencarian Korban di Pantai Cidora Rancabuaya Dihentikan, Jasad Santri yang Menjadi Korban ke 5 Berhasil Ditemukan

GARUT, (GE).- Tim SAR gabungan akhirnya resmi menutup proses pencarian korban yang terseret ombak Pantai Cidora, kawasan Rancabuaya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut. Setelah empat hari melakukan proses pencarian, akhirnya menemukan santri atas nama Saefullah Abdul Azis. Saefullah menjadi santri ke 5 yang menjadi korban tewas setelah terseret arus pada Selasa (16/5/17) lalu.

Kepala Kantor SAR Jawa Barat, Slamet Riyadi, menyebutkan jasad santri asal Ujungberung Bandung itu ditemukan Jumat (19/7/17) sekitar pukul 11.30 WIB. Tim menemukannya sekitar 4 kilometer ke arah timur dari kejadian pertama dia tenggelam.

“Alhamdulillah semua korban telah berhasil kita temukan. Seluruh rangkaian operasi tim SAR resmi kita tutup,” tandasnya.

Dijelaskannya, Saefullah sendiri merupakan warga Komplek Cipayanti Graha II Nomor C 27, Ujungberung RT 05/10 Cigending, Bandung. Sebelumnya, Selasa (16/5/17) Saefullah bersama 45 rekannya sesama santri Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok dinyatakan hilang setelah terseret ombak Pantai Cidora Rancabuaya saat mereka berenang.

Lima orang santri yang tewas tenggelam ini merupakan bagian dari rombongan Pesantren Hidayatullah yang berjumlah 23 orang. Sebelumnya diketahui para santri ini tengah melakukan kegiatan liburan usai melaksanakan UNBK tingkat SMP.

Dalam kejadian ini ada 13 santri yang saat itu terseret arus gelombang Pantai Cidora, 8 orang diantaranya selamat atau menyelamatkan diri. (Tim/Deni/GE)***

Editor: Kang Cep.

 

Dalami Karakteristik Masyarakat, Kapolres Lakukan Kunker ke Garsel

GARUT, (GE).- Sebagai upaya mengakrabkan Polri dengan masyarakat, Belum lama ini Kapolres Garut , AKBP Novri Turangga , E. M.H , M.Si., beserta rombongan menggelar kunjungan kerja (kunker) ke beberapa wilayah di Garut selatan (Garsel).

Wilayah Kecamatan Caringin adalah salah satu kawasan yang disambangi Kapolres. Di Caringin, AKBP Novri mendapatkan sambutan cukup hangat dari anggotannya di kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Caringin yang dipimpin IPDA Sularto, Jumat (20/1/2017).

Dalam kunjungannya di Kecamatan Caringin, Kapolres Garut juga berkesempatan untuk bersilaturahmi dengan beberapa perwakilan tokoh masyarakat, tokoh agama, muspika setempat serta Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM). Selain bersilaturrahmi, AKBP Novri secara khusus menggelar dialog bersama warga yang hadir.

“Selain bersilaturahmi, kami juga berdialog secara langsung dengan masyarakat, dengar pendapat dan juga memberikan arahan kepada seluruh anggota. Kunjungan kerja ini juga di maksudkan untuk lebih mendalami karakteristik masyarakat, khususnya di Garut selatan ini,” tutur Novri Turangga, saat diwawancarai “GE” usai acara tersebut. (Deni/Siti)***

Editor: Kang Cep.

Alami Musim Paceklik, Upacara Adat Nelayan Digelar Sederhana

CARINGIN, (GE).- Tiap tahun, para nelayan menggelar upacara adat nelayan. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk syukur para nelayan atas limpahan rejeki dan keselamatan selama mencari ikan di laut.

Namun perayaan kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, kondisi ekonomi para nelayan sedang paceklik setelah beberapa bulan terakhir tak bisa melaut karena cuaca buruk.

Hadir pada upacara adat nelayan, unsur Muspika Rancabuaya, tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat. Meski perayaan relatif sederhana, namun rasa syukur mereka tampak dari wajah dan lantunan doa. Para nelayan berharap, Allah SWT memberikan kelancaran rejeki dan keselamatan.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Ranting Caringin, Dudeng Sunaryo mengatakan, perayaan digelar secara sederhana mengingat kemampuan finansial para nelayan sedang mengalami paceklik. Pasalnya, hampir enam bulan nelayan di Pantai Garut Selatan belum bisa melaut.

“Cuaca buruk terus, kami belum bisa melaut. Bahkan banyak nelayan yang beralih profesi menjadi petani atau buruh serabutan,” ujar Dudeng kepada “GE” di sela-sela kegiatan, Selasa (01/11/2016).

Namun meski sederhana, kata Dudeng, rasa syukur para nelayan terus dipanjatkan. Mudah-mudahan, harap Dudeng, kedepannya tangkapan ikan makin berlimpah dan senantiasa diberikan keselamatan.

Dudeng mengaku, upacara adat nelayan ini akan terus dilakukan sebagai upaya pelestarian budaya lokal. Selain itu, nelayan harus senantiasa dekat dengan penciptanya agar senantiasa diberi keberkahan dalam mencari nafkah di lautan. (Deni/Siti)***

Editor : Farhan SN

Dua Bulan Pascakebakaran, Basar Masih Menunggu Bantuan Pemerintah

CARINGIN, (GE).- Salah satu musibah kebakaran di kawasan Garut selatan sudah hampir dua bulan berlalu. Kebakaran tersebut telah menghanguskan satu unit rumah milik Basar (40) warga di Kampung Pasir Kaliki, RT/RW. 4/7, Desa Samudrajaya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Pasca kebakaran, Basar bersama istri dan ke tiga orang anaknya hingga kini hanya bisa menumpang di rumah saudaranya. Karena keterbatasan ekonomi, Basar tak mampu untuk kembali membangun rumah sederhananya.

‘’Jangankan berpikir untuk membangun rumah, untuk makan sehari-hari sangat susah. Saya sudah tidak punya apa-apa lagi harta benda sudah habis terbakar. Yang tersisa hanya pakaian yang melekat di badan.” Tuturnya, lirih.

Diungkapkannya, beberapa waktu lalu pernah mengajukan permohonan bantuan pada pemerintahan desa setempat, namun untuk memberikan bantuan keperluan pembangunan rumah, pihak desa mengaku tidak bisa karena tidak ada anggaran.

“Kalau bukan pemerintah siapa lagi yang akan membantu kami sekeluarga?!” Tukasnya.

Sementara itu sekretaris Desa Samudra Jaya, Kecamatan Caringin, Asep Akung mengatakan, pihak desa sendiri sebenarnya sudah mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintahan Kabupaten Garut.

“Sudah kita ajukan permohonan bantuan ke Pemkab, dan beberapa waktu itu korban mendapatkan bantuan berupa beras, minyak goreng dan karpet dari Dinas Sosial.” Jelasnya. (Deni-Siti)***