Minim Sarana Prasarana, SMK Ma’arif Sukawening Butuh Bantuan

SMK MA’ARIF Sukawening berdiri pada tahun 2009, yang beralamat di Kampung Pasangrahan, Desa Pasangrahan, Kecamatan Sukawening, biarpun berstatus swasta, namun bajak diburu oleh para orangtua siswa untuk menyekolahkan putra-putrinya  di sekolah tersebut. Apalagi terhadap sekolah itu ada apresiasi khusus dari pemerintah setempat, terutama mengenai prasarana sekolahnya yang masih minim sekali.

Namun menurut pengakuan Juanda, S.Pd.,MA sebagai Kepala SMK Ma’arif Sukawening menyatakan,  bahwa SMK Ma’arif Sukawening dari sejak berdiri hinga saat ini belum pernah menerima batuan dari Pemkab Garut.

Padahal sekolah menengah kejuruan itu benar-benar telah menyedot perhatian para  orangtua siswa untuk menyekolahkan anak-anakanya di SMK Ma’arif Sukawening. Hal itu terbukti, pada saat ini jumlah peserta didiknya sebanyak 736 siswa telah melampaui SMPN 1 Pangatikan yang menyandang status negri dengan peserta didiknya berjumlah 730 siswa.

Sayangnya SMK Ma’arif Sukawening ini masih minim prasarana sekolahnya. Bahkan lebih minim lagi apabila mengacu kepada Peraturan Pemerintah  (PP) No.24 Tahun 2007, bahwa sebuah tingkat satuan pendidikan harus memiliki prasarana yang telah ditetapkan, diantaranya  Ruang Perpustakaan, Ruang Pimpinan, Ruang guru, Jamban, dan Ruang LAB. Bahkan Ruang Kelas untuk Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) di sekolah tersebut masih kekurangan 7 ruang kelas.

“Jumlah ruang kelas di SMK Ma’arif pada saat ini sebanyak 16 kelas untuk menampung 736 siswa dengan jumlah rombelnya sebanyak 23 rombel. Jelas sekali, sekolah ini masih kekurangan 7 ruang kelas. Sehingga ada peserta didik kelas 11 sebanyak 8  rombel, masuk sekolahnya pada siang hari, yakni 4 rombel dari jurusan automotif,  3 rombel jurusan Multimedia, dan 1 rombel jurusan butik,” ungkap Juanda.

Selain itu, ujarnya, di SMK Ma’arif Sukawening masih belum memiliki prasarana sekolah, seperti bangunan ruang perpustakaan, dan ruang praktek yang representatif. “Makanya Saya mengharapkan sekali kepada pemerintah, agar ada perhatian khusus untuk sekolah swasta yang memiliki jumlah peserta didiknya setara dengan sekolah yang berstatus negri,” ucapnya, sewaktu bersua di ruang kantornya yang sempit.

Kepala SMK Ma’arif tersebut mengaku, sebenarnya bantuan dari provinsi untuk pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB), semenjak berdirinya sekolah ini hingga saat sekarang baru mendapatkan satu kali bantuan. Bahkan dari Pemerintahan Daerah Kabupaten Garut (Pemda Garut) belum pernah menerima sama sekalipun.

“Jangankan untuk bantuan, berupa pembangunan  ruang Lab,  ruang praktek, dan ruang kantor. Bantuan rehab pun belum pernah mendapatkannya. Berarti, pemerintah daerah belum melihat kondisi SMK Ma’arif yang sebenarnya. ” Ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Komite SMK Ma’arif Sukawening, Abas Sofiandi, S.Pd  mengatakan, bangunan untuk sekolah ini masih belum maksimal, perlu bantuan dari pemerintah daerah maupun pusat. Pasalnya jumlah murid saat ini berjumlah 736 siswa.

Apalagi pada ajaran yang akan datang pada periode 2017/2018, diprediksi murid yang mendaftakarkan diri ke SMK Ma’arif akan bertambah menjadi 24 rombel. Sehingga sekolah ini perlu penambahan ruang kelas baru.

“Pada saat ini, di SMK Ma’arif Sukawening, bukan saja meliputi bidang studi keahlian automotif, Teknik Kendaraan Ringan (TKR), Teknik Speda Motor (TSM), Multimedia, dan Tatabusana. Namun ditambah lagi dengan Bidang Studi Keahlian Pertanian yang telah menyediakan areal lahan seluas 2 hektar. Tentunya hal itu perlu dukungan prasarana sekolah dari pemerintah daerah, maupun pusat,” jelasnya. (Ilham Amir)***

 

Rumah Janda Renta Ludes Terbakar, Ma Ita : Saya Harus ke Mana?

GARUT, (GE).- Nasib nahas menimpa janda renta warga Kampung Karangsari, Desa Karangsari, Kecamatan Leuwigoong, Garut, Jawa Barat bernama Ma Ita (70). Di usianya yang tak muda lagi, Ita harus kehilangan harta berharganya. Kini ia hanya bisa meratapi nasib. Seluruh hartanya ludes terbakar dini hari tadi, Selasa (31/1/2017).

IMG-20170131-WA0036

Janda tua yang sudah ditinggalkan meninggal suaminya puluhan tahun yang lalu ini kini hanya bisa meratapi nasib. “Rumah ini satu-satunya harta peninggalan suami saya. Kini sudah ludes. Saya mau tinggal di mana?,” kata Ita dengan wajah iba.

Ita dikenal warga setempat sebagai wanita tangguh yang sehari-harinya berjualan gorengan. Dari hasil berjualannya ia bisa menyambung hidup dan membiayai cucunya.

IMG-20170131-WA0027

Peristiwa terbakarnya rumah milik Ita terjadi pada Selasa (31/1/2017) dini hari tadi. Saat itu, Ita sedang menggoreng berbagai jenis makanan untuk dijual paginya.

Namun karena mengantuk dan kelelahan Ita tertidur. Sementara api menjalar menghabiskan semua rumah dan perabotan yang ada di dalamnya. Saat api membesar, Warga segera berupaya mematikan api. Namun sayang Api sulit dipadamkan.

Saat Kobaran Api membesar, warga sempat panik karena di dalam rumah, tinggal pula dua Cucu Ma ita yang tertidur pulas di kamarnya. Beruntung Ma Ita dan dua Orang cucunya dapat diselamatkan oleh warga sekitar.

Saat Api mulai Padam pukul 03.15 Wib, pasukan Damkar baru datang ke lokasi. Sehingga upaya Damkar yang ingin menyelamatkan harta milik Ita sia-sia. Rumah Ma Ita keburu rata dengan tanah.

Tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Hanya rumah Ma Ita yang rata dengan tanah. Kini nasib Ma Ita, tak menentu. Maklum saja, untuk menyambung hidupnyapun ia harus menjajakan daganganya berkeliling kampung yang penghasilannya tak seberapa. Kini tak ada harta apapun yang tersisa milik Ita kecuali pakaian yang melekat di badannya.(TAF Senopati)***

Hancur Diterpa Puting Beliung, Rumah Janda Renta Ini Butuh Uluran Tangan

GARUT, (GE)- Satu unit rumah sangat sederhana di kawasan Kampung Pangkurisan Kaler, Desa Leles, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut belum lama ini hancur hingga rata dengan tanah akibat terpaan angin puting beliung.

Rumah milik Mak Atik (75) janda renta ini, memang salah satu rumah yang yang jauh dari kata layak. Dengan berdinding bilik bambu, rumah Mak Atik sangat rawan ambruk.

“Ya, kasihan rumah Mak Atik berukuran 4×6 meter roboh diterjang angin puting beliung. Beruntung yang punya rumah lagi pada keluar,” ujar Den Ayat alias Goib, salah seorang tetangga Atik.

Sementara itu, menurut Marni (40) anak Mak Atik, rumah ibundanya memang sudah rapuh, sehingga sangat rawan ambruk. “Memang, rumah kami sudah rapuh, sudah reyot, beberapa tiang penyangganya juga sudah bayak yang patah. Untuk sementara kami terpaksa numpang tinggal di rumah tetangga, sebelum rumah ini bisa diperbaki,” tuturnya, lirih,Jumat (6/1/2016).

Diungkapkannya, pihak Desa setempat memang telah mengontrol dan mendokumentasikan rumah milik Mak Atik yang telah rata dengan tanah. Hal ini dilakukan, katanya untuk laporan ke tingkat Kecamatan. Namun, hingga berita ini diturunkan, bantuan untuk perbaikan rumah Mak Atik tak kunjung datang.

“Sampai saat ini kami bingung untuk memperbaiki rumah. Kami berharap pemerintah atau siapun bisa membantu untuk memperbaiki rumah kami yang hancur.” Harap Marni, salah seorang anak Mak Atik yang juga menjanda. (Kus Kuswara)***

Editor: Kang Cep.

Tak Miliki Lubang Anus, Bocah Ini Butuh Bantuan untuk Berobat

GARUT, (GE). – Nasib malang menimpa bocah Rizki berusia 2 tahun warga Kampung Batususun RT. 8 RW. 8 Desa Sukahati, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat yang harus menahan rasa sakit terus menerus saat hendak buang air besar karena Rizki terlahir tanpa lubang anus.

Kini anak dari pasangan Wawan (45) dan Omih (36) ini sehari harinya tidak mau lepas dari pangkuan ibunya terutama saat hendak buang air besar ia selalu rewel karena ia harus buang air besar melalui lubang diperutnya.

“Sekarang Rizki masih menjalani berobat jalan di RS Santosa Bandung rencananya akan di operasi menggunakan kartu PPJS,” Kata Omih, ibu kandung Rizki, saat ditemui di rumahnya Jumat (6/1/2016).

Menurut Omih proses kelahiran Rizki saat itu berlangsung normal seperti kebanyakan bayi lainnya bisa buang air normal.

“Awalnya normal-normal saja, tapi setelah usia dua puluh hari sejak dilahirkan Rizki mendadak tak bisa buang air besar sehingga perunya kembung dan muntah muntah setelah diperiksakan ternyata ia mengalami kelainan tidak memiliki lubang anus,”Ungkapnya.

Diakuinya, Rizki pernah di rawat di RSUD dr. Slamet Garut selama empat belas hari, tapi hasilnya Rizki harus dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung. Pihak RSUD dr. Slamet beralasan tidak ada alat untuk melakukan operasi.

“Akhirnya Rizki saya bawa ke RS Santosa Bandung karena bisa memakai kartu PPJS untuk biaya perawatannya dan berlangsung selama 16 hari, sampai sekarang menjalani berobat jalan,” tuturnya, seraya menyeka air matanya.

Meski berobat di RS Santosa Bandung tidak memakai biaya karena ditanggung BPJS, tetapi untuk keperluan lainnya kesulitan. Terlebih saat menunggu di Rumah Sakit selama Rizki di rawat, harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Rizki juga memerlukan makanan makanan tambahan lainnya.

Ayah kandung Rizki yang bekarja serabutan, sesekali bekerja sebagai buruh tani kini mengaku sudah tidak sanggup lagi memenuhi kebutuhan biaya selama perawatan anaknya tersebut.

“Suami saya hanya kuli, buruh tani dengan penghasilan yang tidak jelas. Kalau ada yang menyuruh kalau tak ada yang menyuruh kerja terpaksa hany bisa pasrah,” ucap Omih, lirih.

Omih bersama suaminya kini hanya bisa pasrah, Ia berharap ada dermawan yang bersedia mengulurkan tangannya guna membantu menyelesaikan perawatan Rizki hingga selesai operasi pembuatan lubang anusnya.

“Mudah-mudahan saja ada dermawan yang mau membantu pengobatan anak saya sampai upaya operasi pembuatan lubang anusnya berhasil dilakukan tim dokter di RS Santosa Bandung,” imbuhnya.

Omih juga mempersilahkan bagi siapapun yang hendak membantu keperluan biaya pengobatan Rizki dapat menghubungi langsung atau konfirmasi melalui No Hp 082118553676 atas nama Mimin. (Kus Kuswara)***

Editor: Kang Cep.

Tak Tersentuh Bantuan, Ruang Kelas SDN Cihikeu III Terbengkalai Hingga Ditumbuhi Rumput Liar

BUNGBULANG,(GE).- Kabar terkait fasilitas pendidikan yang tak layak hingga terbengkalai, masih saja terdengar dari kawasan pinggiran Kabupaten Garut. Salah satunya, SDN Cihikeu III yang berlokasi di Kampung Nempel, Desa Cihikeu, Kecamatan Bungbulang, Garut.

SDN Cihikeu merupakan salah satu sekolah tingkat dasar yang menjadi andalan warga sekitar. Lokasi SD ini kurang lebih berjarak 5 Km dari ibu kota kecamatan. Kondisi salah satu ruangan SD yang memiliki jumlah anak didik 170 orang ini, kini kondisinya sangat memperihatinkan.

Dari 5 ruang kelas yang ada di SDN Cihikeu III, satu ruangan diantaranya praktis tidak bisa digunakan , karena memang sudah lama dibiarkan tidak direhabilitasi hingga ditumbuhi rumput liar.

Demikian diungkapkan, Awang Karwati S.Pd.Sd selaku kepala sekolah SDN Cihikeu III, saat dijumpai “GE” di ruang kerjanya, Senin (17/10. 2016)

” Kami memiliki bangunan ruang kelas yang tidak bisa digunakan, karena memang kondisi bangunannya sudah ruksak. Saya khawatir, jika dibiarkan begitu saja bangunan tersebut bisa saja sewatu-waktu ambruk karena sudah tua dan bertahun tahun tidak tersentuh bantuan dari pemerintah ini,” ungkapnya.

Awang mengakui, pihaknya sudah sering mengajukan permohonan untuk mendapat bantuan rehab berat . Namun, hingga sekarang ini bantuan yang dinantikan tak kunjung datang.

“Kami berharap sekali, pemerintah dapat memperhatikan dan memberikan bantuan ke sekolah kami agar bangunan tersebut bias difungsikan untuk penunjang Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) anak- anak,” harapnya. (Siti)***

Dua Bulan Pascakebakaran, Basar Masih Menunggu Bantuan Pemerintah

CARINGIN, (GE).- Salah satu musibah kebakaran di kawasan Garut selatan sudah hampir dua bulan berlalu. Kebakaran tersebut telah menghanguskan satu unit rumah milik Basar (40) warga di Kampung Pasir Kaliki, RT/RW. 4/7, Desa Samudrajaya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Pasca kebakaran, Basar bersama istri dan ke tiga orang anaknya hingga kini hanya bisa menumpang di rumah saudaranya. Karena keterbatasan ekonomi, Basar tak mampu untuk kembali membangun rumah sederhananya.

‘’Jangankan berpikir untuk membangun rumah, untuk makan sehari-hari sangat susah. Saya sudah tidak punya apa-apa lagi harta benda sudah habis terbakar. Yang tersisa hanya pakaian yang melekat di badan.” Tuturnya, lirih.

Diungkapkannya, beberapa waktu lalu pernah mengajukan permohonan bantuan pada pemerintahan desa setempat, namun untuk memberikan bantuan keperluan pembangunan rumah, pihak desa mengaku tidak bisa karena tidak ada anggaran.

“Kalau bukan pemerintah siapa lagi yang akan membantu kami sekeluarga?!” Tukasnya.

Sementara itu sekretaris Desa Samudra Jaya, Kecamatan Caringin, Asep Akung mengatakan, pihak desa sendiri sebenarnya sudah mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintahan Kabupaten Garut.

“Sudah kita ajukan permohonan bantuan ke Pemkab, dan beberapa waktu itu korban mendapatkan bantuan berupa beras, minyak goreng dan karpet dari Dinas Sosial.” Jelasnya. (Deni-Siti)***