Telan Anggaran Rp 23 Miliar, Pembangunan GOR Ciateul Kecewakan Bupati Garut

GARUT, (GE).- Bupati Garut, H. Rudy Gunawan mengaku kecewa terhadap proses dan hasil pembangunan Gelanggang Olahraga (GOR) di kawasan Ciateul. Selain hasilnya tidak memuaskan, prosesnyapun molor dari tenggat waktu yang telah ditentukan. Padahal anggaran GOR Ciateul menelan anggaran pantastis Rp 23 Miliar.

Rudy meminta, agar pembangunan GOR segera dituntaskan. Pasalnya, kata Rudy, seharusnya pembangunan GOR itu selesai di Bulan Desember 2016 silam.

Bahkan, katanya, pada pelaksanaan Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) tahun 2016 gedung tersebut harus sudah bisa digunakan. Namun pada kenyataannya akibat buruknya pelaksanaan pembangunan, gedung tersebut tidak bisa digunakan sama sekali.

Sebenarnya, lanjut Rudy, ada dua kegiatan pembangunan gedung olahraga. Kedua pembangunan gedung itu tidak selesai tepat waktu. GOR beladiri baru selesai sekitar 90 persen. Sedangkan yang satu lagi baru sekitar 30 persen.

Anggaran yang disediakan Pemkab Garut untuk pembangunan kedua GOR tersebut mencapai Rp 23 miliar. Selain itu, Pemkab juga mengeluarkan dana sebesar Rp 5 miliar untuk pembebasan lahan.

Dari pantauan “GE”, GOR beladiri yang mulai dibangun sejak Februari 2016 itu hingga kini masih dalam tahap proses penyelesaian. GOR dengan cat warna kuning itu nantinya akan digunakan untuk berbagai kegiatan atlet beladiri. Hingga akhir Januari ini, sejumlah pekerja masih terlihat menyelesaikan pembangunan GOR.

Salah seorang pekerja pembangunan GOR beladiri, menyebut proses pembangunan sudah hampir rampung. Saat ini ia dan pekerja lainnya sedang menyelesaikan pemasangan karpet dan mengecat beberapa bagian GOR.

“Seminggu lagi juga sudah bisa selesai. Kursi dan pemasangan pipa saluran udara sudah selesai. Kalau soal batas waktu pengerjaan saya kurang tahu. Cuacanya juga tidak menentu jadi menyulitkan proses pembangunan,” ucapnya saat tengah memasangkan karpet di dalam GOR. (Farhan SN)***

Bupati Kecewa PKL Tetap Jualan di Pengkolan

KOTA, (GE).- Penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) sebagai bagian dari program penataan kota Garut ternyata tak mudah. Tak heran jika berkali kali berganti Bupati, hingga kini belum sukses juga. Kendati pemerintah telah menyediakan fasilitas untuk kepindahan para PKL, ternyata tak otomatis mereka bersedia pindah di tempat yang dibangun Pemkab dengan biaya milyaran rupiah tersebut.

Tak heran, Bupati Garut Rudy Gunawan pun merasa kecewa dengan sikap para PKL, yang seharusnya menempati bangunan Gedung PKL Intan Medina 1 dan 2 di Jalan Guntur Garut Kota. Padahal, gedung yang diperuntukan sebagai tempat relokasi PKL itu sudah disiapkan dan dibangun dengan anggaran yang tidak sedikit. “Kami menertibkan PKL di kawasan Pengkolan untuk direlokasi ke tempat itu, tapi ternyata sampai sekarang mereka tidak mau pindah,” katanya.

Menurut Bupati, pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk mengajak para PKL itu, agar mau berjualan di tempat yang baru. Sebab kawasan Pengkolan atau Jalan Ahmad Yani itu merupakan kawasan tertib lalulintas.

Tidak hanya kepada para PKL, Bupati juga menyatakan kecewa dengan sikap petugas Satuan Polisi Pamong praja (Satpol PP), yang tidak mampu bertindak. “Saya juga gak ngerti, penertiban PKL itu kan sudah ada Perdanya, lalu disana juga ada Satpol PP berjaga. Tapi PKL masih saja banyak berjualan,” kata Bupati heran.

Oleh karena itu, lanjut Rudy, Pemkab Garut memberikan waktu selama dua bulan ke depan kepada para pedagang. Jika dalam waktu tersebut mereka masih belum mau mengisi bangunan yang telah disiapkan oleh Pemkab Garut, maka kios-kios itu akan diberikan dan ditawarkan kepada masyarakat yang mau berjualan di sana.

“Kalau mereka tetap tidak mau pindah, maka kios-kios itu akan kami tawarkan kepada masyarakat yang mau berjualan di sana. Dan hak para PKL yang memdapatkan kios di gedung itu akan kita coret,” ujar bupati.

Sebagaimana diketahui, pada tahun 2014 lalu Pemkab Garut telah membangun Gedung Intan Medina 1 di Kelurahan Sukamenteri, selanjutnya pada tahun 2015 dibangun lagi gedung Intan Medina 2 di Kelurahan Ciwalen, keduanya berada tepat di jalan Guntur, Garut Kota. Namun hingga kini kedua gedung tersebut belum maksimal digunakan, dan terkesan gedung itu mubazir. Sementara PKL di Pengkolan malah marak kembali, seakan akan dibiarkan oleh petugas. (Slamet Timur)***