BPBD Jabar : Empat Wilayah Siaga Darurat Kekeringan

GARUT, (GE).- Hingga akhir Agustus 2017 sejumlah daerah di Jawa Barat mulai merasakan dampak musim kemarau. Memasuki musimkemarau tahun ini, BPBD Jawa Barat telah menetapkan Empat kabupaten dengan status siaga darurat kekeringan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, Dicky Saromi, mengatakan, keempat kabupaten dengan status siaga tersebut diantaranya Kabupaten Cianjur, Sukabumi, Karawang, dan Banjar.

“Empat daerah itu sudah laporkan siaga darurat kekeringan. Sudah mulai kekeringan dari air bersih dan minum. Selain itu juga dari daerah pertaniannya,” kata Dicky , di Gedung Pendopo Garut, Selasa (29/8/17).

Diejlaskannya, berdasarkan laporan dari Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak kemarau dperkirakan terjadi pada bulan Agustus sampai September. Namun sulit untuk memprediksi sampai kapan musim kemarau akan berlangsung.

“Kemarau ini susah diprediksi. Biasanya begitu (Oktober mulai hujan) tapi belum bisa diperkirakan,” ujarnya.

Selain masalah kekeringan, pihaknya juga mengantisipasi kebakaran. Baik kebakaran gedung maupun hutan. Kebakaran hutan yang cukup riskan terjadi seperti di Taman Nasional Gunung Ciremai.

“Itu yang jadi perhatian kita (kebakaran hutan). Beberapa kebakaran terjadi di daerah itu tahun-tahun lalu,” ucapnya.

Pihaknya pun meningkatkan pengawasan ancaman kebakaran di Gunung Ciremai. Di Kabupaten Garut hingga kini BPBD Jawa Barat belum menerima laporan kekeringan dan kebakaran hutan. Meski sempat terjadi kebakaran di Gunung Guntur beberapa waktu lalu. (Tim GE)***

BNPB-BPBD Garut Kemas Sosialisasi dengan Pentas Seni Tradisi

GARUT, (GE).- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama dengan Pemkab Garut dan BPBD Garut, baru-baru ini melaksanakan sosialisasi budaya sadar bencana.

Sosialisasi tersebut dikemas menarik melalui seni budaya dengan pagelaran Wayang Golek bersama Ki Dalang Opick Sunandar Sunarya. Acara yang digelar malam hari ini telah berlangsung di lapangan alun-alun Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (20/5/17).

Dalam sosialisasi ini, materi yang disampaikan terkait dengan potensi bencana di daerah Garut. Acara dikemas dalam bentuk tanya jawab, dongeng yang mudah diterima, diingat dan membuat anak-anak tertarik.

Dalam acara tersebut hadir Kepala BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Bupati Garut Rudy Gunawan, Kepala BPBD Garut Dadi, Muspika Kecamatan Bayongbong, dan ribuan warga yang antusias mengikuti acara.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, Garut merupakan daerah yang memiliki potensi bencana lengkap, mulai dari bencana banjir, longsor, gunung api, gempa bumi, kebakaran hutan, dan sebagainya.

“Maka dari itu kita harus meningkatkan kesiapsiagaan dan menumbuhkan kesadaran bencana. Melalui kesenian tradisional, dengan mudah masyarakat mendapatkan hiburan sekaligus edukasi bencana. Diharapkan dengan sosialisasi ini, budaya sadar bencana meningkat di masyarakat. Kita masih sering mengabaikan aspek risiko bencana dalam kehidupan sehari-hari,” ucap Sutopo.

Sementara itu, dalam pidato sambutannya, Bupati Garut mengatakan, kegiatan  ini adalah inovasi dari BNPB. Dengan acara ini BNPB melakukan sosialisasi dengan kemasan berbeda kepada masyarakat bagaimana dalam rangka menghadapi bencana.

“Bagaimana sosialisasi ini dilakukan agar masyarakat sendiri bisa menghindari hal-hal yang akan menimbulkan bencana. Misalnya terhadap penggunaan tanah dalam keadaan yang sangat labil, sehingga mereka juga bisa menghindari dan mengikuti program mitigasi bencana yang dilakukan oleh BPBD,” ungkap Rudy.

Dikatakannya, wayang golek merupakan bagian dari seni tradisi Jawa Barat yang sudah 30 tahun tidak digelar oleh masyarakat Bayongbong. Tak heran, masyarakat begitu antusias menyaksikan seni tradisi ini. Ribuan orang hadir memadati alun-alun Bayongbong.

“Saya harap masyarakat bisa memahami bahwa masalah yang berhubungan dengan bencana ini bisa dilakukan pencegahan. Juga bisa dilakukan penanganan bilamana terjadi bencana dengan SOP yang mungkin bisa dilakukan oleh masyarakat,”  pungkasnya.

Disela acara Kepala BNPB, Bupati Garut dan Kepala BPBD Garut memberikan santunan kepada 20 anak yatim. Pada sesi tersebut, anak-anak diberikan sejumlah pertanyaan, dan yang bisa menjawab diberikan hadiah menarik. (Hendra YG/GE)***

Editor: Kang Cep.

 

BREAKING NEWS : Diduga Mengalami Kram, Rian Ramdani Tewas Tenggelam di Cimanuk

GARUT, (GE).- Diduga akibat kakinya mengalami kram saat berenang, seorang remaja bernama Rian Ramdani (15)  tewas tenggelam di Sungai Cimanuk Desa Haurpanggung, Tarogong Kidul Garut, Jawa Barat, Selasa (16/5/17) sekira pukul 14.00 WIB.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Dadi Djakaria, saat itu korban sedang berenang bersama tiga orang temannya di Sungai Cimanuk, tidak jauh dari rumahnya. Namun tiba-tiba, remaja malang itu diduga mengalami kram di bagian kaki sehingga dia tidak dapat menggerakkan kaknya. Kondisi air sungai yang cukup deras membuat Rian akhirnya tenggelam terbawa arus sungai.

“Kakinya kram jadi dia tidak bisa bergerak, beruntung tiga orang temannya bisa menyelamatkan diri,” katanya.

Mendapat laporan kejadian tersebut, Tim SAR dari BPBD dibantu warga, anggota koramil, dan kepolisian setempat langsung melakukan pencarian. Jasad Rian pun berhasil ditemukan satu jam kemudian di pinggir Sungai Cimanuk sekira 2 km dari tempat kejadian.

“Korban ditemukan di bawah Jembatan Copong, Jalan Jendral Sudirman dengan kondisi kritis,” kata Dadi.

Seketika itu juga tubuh Rian langsung dievakuasi menuju RSUD dr. Slamet Garut, untuk diberi pertolongan medis. Namun saat masih di perjalanan menuju rumah sakit, nyawa korban sudah menghilang,

Mendapati kenyataan itu, pihak keluarga korban pun akhirnya membawa kembali jasad Rian ke rumah duka di Kampung Mekarjaya RT/RW 01/16 Desa Haurpanggung, Kecamatan Tarogong Kidul. (Mempis/GE)***

Editor : SMS

BPBD : Saat Berwisata di Garut Hindari Zona Rawan Bencana

GARUT,(GE).- Untuk meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, secara khusus Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengimbau wisatawan yang hendak berdarmawisata ke destinasi wisata di Garut agar menghindari zona rawan bencana alam.

“Kami mengimbau, khsusnya  kepada wisatawan untuk menghindari zona bahaya di lokasi rawan kecelakaan, misalnya tebing curam dan tepi pantai,” katanya Kepala BPBD Garut, Dadi Zakaria, Sabtu (15/4/17).

Dadi menyebutkan, beberapa wilayah di Kabupaten Garut tercatat memiliki berbagai ancaman bahaya bencana alam seperti longsor, banjir, dan pergerakan tanah. Dengan catatan BPBD tersebut, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan melakukan upaya pencegahan untuk mengurangi risiko bencana alam.

“Kita berharap, masyarakat dapat mengenali kondisi alam di Garut.  Termasuk berbagai ancaman bahayanya. Selain itu, masyarakat wajib bersahabat dengan alam dan menjaga lingkungan wisata agar tetap asri,” tandasnya. (Tim GE)***


Editor: Kang Cep.

Puluhan Rumah Terdampak Banjir di Sukaresmi, BPBD Mulai Distribusikan Bantuan Logistik

GARUT, (GE). – Seperti diberitakan sebelumnya, Akibat luapan Sungai Cikeruh puluhan rumah warga di kawasan Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat dilanda banjir bandang. Akibat musibah alam ini, tercatat sedikitnya 56 unit rumah terdampak banjir. Ahad (26/2/2017).

Untuk menanggulangi warga terdampak banjir, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut telah mendistribusikan bantuan logistik. Kepala Pelaksana BPBD Garut, Dadi Djakaria di Garut Bantuan logistik ini dipusatkan di dua desa yang paling parah terdampak banjir, Desa Sukalilah dan Sukamulya.

“Ya, bantuan logistik sudah kami distribusikan untuk warga korban banjir di Sukaresmi. Kami juga juga membantu membersihkan lumpur dan material sisa banjir,” katanya, Senin (27/2/2017).

Dijelaskannya, bencana banjir tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa atau kerusakan infrastruktur parah. Penyebab banjir sendiri menurut Dadi, disebabkan karena intensitas hujan tinggi, sehingga membuat anak sungai Cikeruh meluap. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

BPBD Garut : Waspadai Curah Hujan Tinggi Hingga Januari

KOTA, (GE).- Intensitas hujan tinggi diprediksi akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Dengan cuaca seperti ini masyarakat, khususnya di Kabupaten Garut dihimbau untuk tetap waspada.

Demikian disampaikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, melalui Kasi Kesiapsiagaan, Tubagus Agus Sofyan. Dijelaskannya, hujan akan terus mengguyur wilayah Garut dan sekitarnta hingga bulan Januari (2017).

“Ya, informasi dari BMKG, intensitas hujan tinggi akan terjadi sampai minggu kedua bulan Januari 2017. Jadi warga, khusunya di Garut tetap harus waspada. Pascabanjir bandang kemarin, kami juga terus waspada,” tandasnya, Jumat (28/10/ 2016).

BPBD Garut menghimbau kepada warga yang berada di lokasi rawan bencana untuk mengungsi jika hujan mengguyur lebih dari tiga jam. Apalagi seluruh wilayah Garut berpotensi bencana.

“Longsor dan banjir bandang mengancam setiap wilayah. Kita tidak tahu kapan bencana terjadi. Kewaspadaan harus ditingkatkan agar meminimalisir korban,” tukasnya.

Tubagus menyebutkan, pihaknya sering mengalami kesulitan saat memberi informasi kepada warga. Pasalnya banyak warga yang enggan mengungsi jika potensi bencana mulai terlihat.

“Kalau bencananya sudah terjadi mereka baru mau dipindahkan. Padahal kami terus memberi peringatan saat bahaya mengancam,” tandasnya.

Tubagus menambahkan, potensi banjir dan longsor di Garut sama-sama tinggi. Apalagi di musim hujan ini, banyak wilayah di Garut yang lahannya labil. Menurut teori, semua wilayah di Garut berpotensi terjadi bencana.

“Sudah diusulkan untuk mengedarkan surat imbauan ke setiap kecamatan. Yang pasti kami terus pantau semua wilayah,” ujarnya.

Dijelaskannya, pada pekan ini saja sudah terjadi beberapa peristiwa bencana. Seperti banjir bandang di Cisurupan dan longsor di Cisewu. Dari keterangan BMKG, kecepatan angin di wilayah Garut antara 10 sampai 25 kilometer per jam. Sedangkan kelembaban udara antar 59 persen sampai 96 persen. BMKG pun telah mengeluarkan peringatan dini.

“Jadi semua warga harus siap siaga. Jika hujan sangat deras, segera pindah ke lokasi yang lebih aman. Terutama warga di bantaran sungai dan yang berada di tebing,” pungkasya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

 

Mengaku Korban Banjir dan Belum Dapat Bantuan, Perempuan Ini Menangis di Hadapan Wartawan

KOTA, (GE).- Seorang perempuan tiba-tiba menangis sejadi-jadinya di hadapan sejumlah wartawan yang tengah berada di depan kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Rabu (12/10/2016).

Belakangan, ibu muda ini diketahui bernama Mery, yang mengaku warga korban banjir dari Kampung Sindangheula. Saat itu Ia datang tergesa-gesa bersama dua orang tetangganya sesama korban banjir.

Mery mengaku, dirinya bersama tetangganya telah berjalan beberapa kilometer menuju kantor BPBD untuk meminta mendapatkan bantuan berupa kasur dan beberapa alat-alat dapur. Namun ketiganya gagal mendapatkan apa yang mereka inginkan lantaran tidak membawa surat pengantar dari RT/RW tempat asal mereka.

“Kumaha atuh, abdi tos cape cape kadieu (kantor BPBD/ red.) geningan teu dipasihan bantuan Padahal apanan abdi teh tos puguh korban banjir. Pilih kasih pamarentah mah, ongkohan bantuan teh sakitu seueurna ti manda mendi,” ungkapnya, seraya tak henti terisak.

Seperti diketahui, beberapa minggu pascamusibah banjir, pemerintah sendiri telah menetapkan beberapa peraturan ketika warga ingin meminta langsung bantuan kepada pihak pemerintah. Salah satunya dengan menyertakan surat pengantar dari RT/RW atau Kelurahan setempat. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar tidak terjadi salah sasaran dalam pendistribusian bantuan. (Hakim AG)***

Longsor Terjang Cibeber, Ayah Bersama Anaknya Tewas Tertimbun

SUKAWENING, (GE).- Bencana tanah longsor kembali menerjang salah satu wilayah Garut. Musibah yang menelan korban jiwa ini terjadi di kampung Cibeber, Desa Cintamanik, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut. Dalam kejadian, dua orang tewas tertimbun longsor. Kedua orang korban ini teridentifikasi bernama Anang (50) serta Daud (30) anaknya yang merupakan warga Cibeber. Ayah dan anaknya ini tewas tertimbun saat menambang pasir. Selasa pagi (9/8/2016).

Menurut saksi mata, musibah ini terjadi sekmira pukul 8.00 WIB. Pagi itu di lokasi kejadian ada 5 orang penambang pasir yang tengah melakukan aktivitasnya. Longsoran tanah terjadi saat galian pasir mencapai kedalaman 5 meter, tebing setinggi 3 meter yang tidak kuat menahan beban akhirnya menimpa para penambang pasir.

“Ya, Anang dan anaknya tidak sempat berlari menghindar longsor, sementara tiga orang lainnya selamat karena sempat berlari menghindari longsoran pasir,” ungkapnya.

Pasca kejadian ini, keluarga dan kerabat korban meninggal tampak mengalami duka yang mendalam. Bahkan, salah seorang rekan korban selamat menangis histeris dan sempat tak sadarkan diri. Kedua orang korban tewas rencananya keduanya akan dikebumikan di tempat pemakaman di Kampung Cibeber.

Saat mendapatkan informasi kejadian ini, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Dadi Djakaria langsung meninjau ke TKP. Pihak BPBD sendiri memberikan santunan kepada keluarga korban.

“Sekitar jam 09.15 wib, kami evakuasi para korban. Kami menghimbau kepada warga untuk berhati-hati terhadap longsor susulan,” tandasnya. (Hakim Abdul Ghani)***

Harga Tanah Melambung, Korban Tanah Retak Cisompet Lambat di Relokasi

PEMKAB, (GE).-  Warga korban bencana tanah retak dan pergerakan tanah di Desa Sindangsari, Cisompet, Garut Selatan tampaknya masih harus bersabar tinggal di tenda pengungsian. Pasalnya, hingga kini Pemerintah Kabupaten Garut masih kesulitan mencari lokasi yang tepat untuk relokasi.

Hal ini diakui Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Garut Iman Alirahman. Menurutnya, kesulitan yang dihadapi Pemda dalam mencari lokasi, diantaranya untuk mendapatkan lokasi yang diyakini aman, dan kesesuaian harga dengan kemampuan anggaran yang dimiliki. Namun demikian, pihaknya sudah melakukan survei di tiga titik yang memungkinkan.

“Ada tiga titik yang sudah kami survei yang tempatnya landai dan layak untuk permukiman,” ungkap Iman saat ditemui di kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Garut, Rabu (25/5/2016).

Sebelum menetapkan salah satu titik, kata Iman yang juga Sekda Garut, Pemkab harus meminta rekomendasi dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (BVMBG).

“Surat pengajuan ke PVMBG untuk menyurvei ketiga titik itu sudah dikirim. Tinggal menunggu jawaban,” ucapnya.

Dia menjelaskan, pihaknya mencari lokasi yang lahannya seluas 5 hektare supaya bisa menampung sejumlah korban yang terus bertambah. Terlebih, kawasan rawan pergerakan tanah yang terus meluas.

“Memperhitungkan kawasan lain yang mungkin akan terdampak oleh pergerakan tanah,” tuturnya.

Iman menyatakan akan mengusahakan dan memprioritaskan penyediaan lahan tahun ini. Namun, hal itu bergantung pada ketersediaan anggaran yang terbatas.

“Untuk sementara dana yang ada dari BTT (biaya tak terduga) sekitar Rp 2,5 miliar, mungkin sisanya dari APBD Perubahan dan mengajukan ke pemprov,” katanya.

Mengenai kondisi pengungsi, Iman mengaku terus memperhatikan mereka. BPBD pun akan menambah bangunan hunian sementara yang menyesuaikan dengan jumlah pengungsi yang terus bertambah.

“Untuk jaminan hidup terus diberikan, seperti beras dan lauk pauk,” ungkap Iman.

Terkait ini, Bupati Garut Rudy Gunawan menyatakan, pihaknya berkomitmen untuk merelokasi para pengungsi. Akan tetapi, pihaknya tidak bisa serta-merta memindahkan pengungsi tanpa rekomendasi lokasi dari PVMBG.

Bupati menjelaskan, diperlukan anggaran sekitar Rp 10 miliar untuk pembelian lahan dan pembangunan permukiman. “Dari APBD sekitar Rp 4 miliar, sedangkan sisanya akan mengajukan ke pemprov dan pusat,” ujarnya.

Akan tetapi, Bupati mengaku tidak bisa memastikan satu dari lokasi yang telah disurvei BPBD akan menjadi tempat relokasi. Pasalnya, salah satu titik relokasi seluas 5 hektare menawarkan harga jauh di atas harga pasar.

“Pemilik tanah akan menjual lahan seluas 5 hektare sebesar Rp 5 miliar. Itu terlalu tinggi. Ada juga yang lebih kecil menjual Rp 1 miliar, padahal pasarannya paling tinggi Rp 400 juta. Kalau kemahalan, kita cari tempat lain,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala PVMBG Kasbani menjelaskan, akan menelaah terlebih dahulu pengajuan dan akan segera menindaklantinya secepatnya. Setelah dirapatkan, pihaknya akan segera menurunkan tim untuk melakukan survei lapangan selama berhari-hari.

“Akan kami cek kondisi tanah dan air bawah tanah, kontur, topografi, ketinggian, keadaan batuan, dan lain-lain. Apakah rawan pergerakan tanah atau tidak,” ucapnya. (Slamet Timur)***