Halaman yang Hilang (2)

oleh : Anne A. Permatasari

PERTAMA kali aku mengenal namanya adalah ketika kami dinyatakan diterima di sebuah universitas ternama di negeri ini. Nama aku dan dia ditulis besar-besar pada kain yang direntangkan di depan sekolah. Ucapan selamat yang membanggakanku sàat itu. Hanya kami berdua yang mampu menembus universitas sebesar itu dengan jurusan yang luar biasa pula. Dia diterima di kedokteran. Dan aku, pada jurusan farmasi.

Teman seangkatan, guru, bahkan adik kelas seperti tak henti membicarakan dan memuji aku dan dia. Meski aku sering mendengar namanya, tapi aku sungguh  tak pernah mengenalnya. Dia tidak termasuk pada jajaran siswa yang terkenal di sekolahku.

Hal itu yang membuatku penasaran, untuk mengenalnya lebih dekat. Berbagai informasi kukumpulkan diam-diam. Dan, aha… akhirnya kudapat!

Lelaki introvert itu memang tak pernah tampil ke depan. Hanya saja, guru-guru sering menggambarkan kesempurnaan akademisnya dengan hebat. Kutu buku itu tak suka berorganisasi, sepertiku. Lainnya, dia berada jauh dari kelasku.

Kesempatan bertemu langsung adalah saat perpisahan sekolah. Sebagai sebuah bentuk apresiasi karena mengharumkan nama sekolah, aku dan dia diberi tempat duduk berdampingan di deretan kursi paling depan.

Dia hanya mengangguk ringan dengan tatapan yang tawar. Tak kutemukan senyum setitik pun di seluruh wajahnya. Sedikit angkuh dan…. menyebalkan! Sikapnya itu mendadak sontak telah merontokan seluruh keinginanku untuk mengenalnya lebih dekat. Perasaan sebaliknya yang justru tumbuh seketika.

Tak ada usaha membuka percakapan darinya. Padahal, aku terlihat jelas di sampingnya. Aku, aktivis OSIS, si pintar yang cemerlang, yang tak pernah diabaikan siapapun! Aneh, pada akhirnya ketidakacuhan itu malah tak membekukan keinginanku untuk mengenalnya. Setidaknya, sekadar persiapan,  jika suatu hari nanti, kami terpaksa harus bareng masuk ke gerbang universitas yang sama.

Hari itu, suasana jadi terasa dingin dan kaku di tengah hiruk pikuk acara. Pandanganku lurus ke depan. Aku berpura-pura mengikuti dan menikmati setiap acara. Pikiranku tak  lepas dari dia.

Aku merasa sial sekali harus duduk di sebelahnya. Menyesal rasanya, aku tak duduk bersama teman sekelas yang tak berhenti mengumbar canda sejak duduk. Aku hanya bisa mendengar derai dan tawa  renyah mereka. Sesekali, teriakan godaan mereka yang ditujukan kepada kami berdua, yang berperan sebagai pengantin dalam upacara adat yang jauh dari khidmat itu.

Selintas,  mau tak mau aku menatap wajahnya dari samping. Manis. Memang manis. Tapi membosankan!  Duduk bersanding dengannya diiringi tatapan ratusan pasang mata, rasanya seperti di neraka. Sama sekali aku tak merasa beruntung. Masih terbayang ketika tadi, sebelum masuk gedung ini, Pak Handi, guru BP kami berkata dengan senyum lebar

“Sepertinya, kalian berjodoh.”

Aku tersentak kaget.

Oh.. jangan! Jangan sampai. Aku tak mau menghabiskan hidupku dengan lelaki sedingin ini. Bisa beku hidupku.

“Ingat… semua yang pernah Bapak jodohkan, tak pernah meleset,” ujar beliau membuatku merinding.

Sayang, di depanku tak ada cermin atau sekadar kaca saja. Biar aku bisa melihat reaksiku atau raut wajanya tanpa harus kutatap langsung ke arahnya.

Pertemuan itu menyisakan sebuah tantangan buatku. Caranya yang dingin dan tak acuh, membuatku merasa direndahkan. Terpikir  olehku, mencari cara untuk merebut perhatian dan menaklukan hatinya.

*****

Opspek adalah masa pengenalan lingkungan kampus untuk para mahasiswa baru. Saat itulah aku baru merasa bahwa penilaianku pada dia, berbeda jauh.

Perilakunya yang super dingin, ketat dengan etika yang pernah aku cibiri, ternyata membuatku merasa aman dan nyaman.

Entah mengapa, meski berbeda jurusan, dia tetap menjadi teman baikku. Jika ada waktu luang, kami selalu berdiskusi dengan seru.

Mulai dari tempat kontrakan, diskusi soal jumlah SKS yang akan ditempuh tiap semester, memilihkan prioritas buku literatur yang harus dibeli, sampai pada menemukan tempat makan yang bersih dan murah, sesuai untuk kantong mahasiswa sepertiku.

Sayang, kebersamaan itu berlalu terlalu cepat. Kesibukan, serta jadwal kuliah yang berbeda, membuat kami jarang bertemu. Jangankan untuk saling mengenal dan bercengkrama, saling berbagi beritapun terasa sangat mahal.

Sampai suatu ketika. Aku telah menyelesaikan seluruh perkuliahanku dan dia menjalani masa co-ass. Ada perasaan khawatir ketika tiba waktuku meninggalkan kampus dan segera mengabdi pada negara. Sementara dia masih keluar masuk di dalam kampus.

Sering aku mencoba mengorek hatinya tentang perasaannya kepadaku. Dia tidak bergeming.

“Hidupku sulit.  Aku tak mau berleha dengan kuliah yang telah kuperjuangkan melalui tetesan peluh ibuku,” ujarnya.

“Apa urusan hati dengan kuliah?” Iseng aku bertanya.

“Aku tak mau kuliahku terganggu dengan urusan pribadi.”

Aku tersedak dengan jawaban gamblangnya. Tapi itu membuatku semakin bersemangat menaklukkan hatinya meski dia tetap menanggapi dengan dingin tanpa gairah. (Bersambung)******

Halaman yang Hilang (1)

Pengantar Redaksi :

Ass. Wr. Wb.

Pembaca garut-express.com yang budiman. Untuk memenuhi harapan Anda yang mencintai dunia cerita pendek dan atau cerita bersambung. Kami coba hidangkan cerita bersambung salah satu karya Anne A. Permatasari. Mohon komentar dan masukan dari Anda sekalian agar ke depan kami bisa memberikan pelayanan lebih baik lagi. Terima kasih dan selamat membaca.*** (Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi, Sony MS)

Oleh : Anne A. Permatasari

“Entahlah, sepertinya, sulit untuk  diperbaiki lagi,” ujarnya.

“Maaf. Saya tidak bermaksud mengatakan itu!” Aku melihat pasien keluar dari ruang pemeriksaan. “Eh … udah gilirannya tuh!”

“Tak apa. Inikan semacam simpulan akhir. He… he….  Terima kasih, senang bisa berjumpa . Semoga suatu hari, kita bisa bertemu lagi,” ujarnya sambil berdiri. Tangannya yang kokoh menggenggam erat jemariku, hangat.

Pasien terakhir hari ini yang kucatat dalam daptar pembeli obat itu, lalu meninggalkanku di meja resepsionis dokternya. Sambil melangkah masuk ke ruang pemeriksaan, sebelah tangannya memeluk pundak seorang gadis belasan tahun.

Sedikit aku terpana pada kehangatan sikapnya. Pada percakapan panjang lebih dari dua jam. Percakapan antara dua manusia yang baru bertemu, mengalir dengan lancar sepanjang antrean dokter sore itu.

*****

“Sepertinya… kita pernah bertemu ya?” tanyanya mengejutkan ketika dia dengan mantap mendekati tempat dudukku. Sebenarnya, aku sudah melihatnya dari tadi. Setelah terlebih dahulu mengisi Laporan SPPT-ku, aku duduk menunggu panggilan.

Dia datang dengan kaos putih dan celana jeansnya. Sepatu kets yang dikenakannya senada dengan tas sandang kecilnya. Begitu masuk ruangan, ia melepas kacamata hitam dan topi, mengambil antrean, dan mengisi beberapa berkas.

Ada kekuatan aneh yang menggerakkan mataku ke arahnya. Sekilas saja, aku merasa ada debar menghantam jantungku. Orang baru yang kukenal sekitar sebulan lalu di ruang tunggu dokter itu, adalah orang yang baru kutemui dalam dua puluh delapan tahun usiaku. Aku sungguh tak pernah bertemu sebelumnya.

“Ah…ya. Kita pernah bertemu di ruang tunggu dokter Ertina,” ujarku mengiyakan sambil menyambut uluran tangannya.

“Dan sekarang di sini,” sambutnya, “oh ya, Sam, itu namaku. Aku berjanji akan mengatakannya pada pertemuan kedua, kalau kita bertemu lagi. Dan… ternyata, kita bertemu. Senang sekali rasanya!” lanjutnya dengan hangat. Hangat sekali.

“Ah, ya… ya… aku juga senang.”

“Apa kabar?”

“Baik, dan putri Bapak?”

“Ha…ha… Bapak. Panggil aku, Sam atau setidaknya dengan panggilan yang tak resmi begitu!”

“Ya… tapi apa ya? Abang? Mas? Kakak?”

“Kakak. Cukup simpel agaknya!”

“Baiklah. Panggil aku, Ami, saja!”

Siang hari itu, aku memiliki seorang teman baru, seorang ‘kakak’ yang kutemui begitu saja.

****

Setelah pertemuan kedua itu, kami baru bertukar nomor ponsel. Hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Entahlah ada kekuatan yang menggerakkan hati. Membuka percakapan, mengenal orang lain lebih dekat, betul-betul tak pernah kulakukan sebelumnya.

Sikap hangatnya yang ringan mampu menawarkan kegundahan hati yang tengah melanda. Dengannya, begitu mudah aku bercerita tentang kehidupanku selama ini.

Kepindahanku ke kota kecil ini, bukanlah tanpa alasan, selain penugasan ke sebuah rumah sakit umum daerah. Setelah berkenalan dekat dengan teman sejawat, aku membina hubungan baik dengan beberapa dokter atasanku. Satu di antaranya, menawariku pekerjaan sampingan untuk membuka apotek  di kliniknya di luar jam kerjaku.

Tentu saja itu kusambut dengan gembira. Setidaknya kesibukan akan membuatku sejenak lupa pada kesepian dan kesendirian. Kesepian dan kesendirian yang bermula dari sebuah ketidakpastian. (Bersambung)***