PTM Elang Kadungora Gelar Kejuaraan Tenis Meja Se-Kabupaten Garut

KADUNGORA, (GE).- Untuk menjaring talenta talenta atlit berbakat, khususnya untuk cabang olahraga (cabor) tenis meja, baru-baru ini PTM Elang Kadungora Garu menggelar kejuaraan tenis meja tingkat Kabupaten Garut. Kejuaraan yang diikuti 68 peserta digelar selama tiga hari di Aula Tanggulun, Kecamatan Kadungora, (25- 27/ 03/2016).

Gelaran kejuaraan ini merupakan bagian dari rangkaian penyambutan HUT PTM kadungora Garut ke 12. Kejuaraan tenis meja ini secara resmi telah ditutup oleh Ketua pengurus PTM Elang Kadungora Garut, Drs Zaenal Abidin yang juga penanggung jawab kegiatan ini.

Dalam acara penutupan turut serta hadir, Ketua Turnamen, Drs Asep Setia Aji beserta Sekretarisnya Ir Soleh Saputra , sesepuh PTM Elang Kadungora dan Leles , serta empat orang anggota Wabin Kamtibmas Polsek Kadungora dan para wasit ,para peserta, serta para pencinta olah raga tenis meja se Kecamatan Kadungora dan Kecamatan Leles.

Pada prosesi penutupan diawali dengan pertandingan final memperebutkan juara 1-2-3 dan 4. Dalam kejuaeaan ini, Guruh MB keluar sebagai juara pertama, sementara Budianto sebagai runner up, posisi ke 3 tiga ditempati oleh Samsu dan Herman menempati posisi ke empat. Kepada para pemenang, panitia memberikan hadiah berupa piala dan sejumlah uang tunai.

Penangung jawab turnamen tenis meja Elang Cap 2016, Drs Zaenal, mengatakan bahwa olah raga tenis meja ini adalah olah raga yang menyenangkan. Ia berjanji kejuaraan ini akan terus berlanjut pada tahun depan, dan acara ini sudah jadi agenda rutin PTM Elang Kadungora Garut,

“Kita sampaikan selamat kepada para pemenang yang telah menjuarai kejuaraan ini. Juga Kami menyampaikan terimaka kasih kepada Dispora Kabupaten Garut yang telah membuka turnamen tenis meja Elang Cap 2016 ini.” ungkap Zaenal

Hal senada disampaikan sesepuh PTM Elang Kadungora Garut yang sekaligus perwakilan dari peserta turnamen Kecamatan Kadungora dan Kecamatan Leles, Iptu Iyay Wahyu. Ia menyampaikan selamat atas suksesnya pelaksanaan kejuaraan ini. Diharapkannya, kejuaraan ini terus berlanjut pada tahun tahun berikutnya.

“Ya, saya ucapkan selamat kepada panitia, dan semua pihak yang teah mendukung suksesnya kejuaraan tenis meja ini. Dengan kegiatan seperti ini, selain badan jadi sehat kita juga bisa menjain silaturahmi dengan sasama atlit tenis meja .” Ungkapnya. (Kus Kuswara)***

BPMPD Garut Sidak Simbol Simbol Negara dan Foto Presiden

LEUWIGOONG, (GE).- Guna menciptakan ketertiban, kepastian, dan standardisasi penggunaan simbol simbol negara semisal bendera negara, lambang negara serta penempatan foto presiden, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa (BPMPD) Kabupaten Garut, Drs. Teddi Iskandar, M.Si., menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke Desa Singdangsari Kecamatan Leuwigoong. Rabu (27/04/2016).

Sidak yang dilakukan Kepala BPMPD tersebut, bertujuan untuk mengoreksi penempatan posisi dan keadaan bendera negara, lambang negara, serta memantau penggunaan lambang negara yang rusak dan tidak sesuai dengan bentuk, warna, dan perbandingan ukurannya.

Kepala BPMPD mengatakan, bahwa menjelang peresmian Pasar Tradisional Leuwigoong, ia sidak masuk ke Desa Sindangsari. Nampak garuda, dan foto presiden, terlihat di bawahnya kosong. Dan foto gubernur serta wakilnya lebih besar dibanding foto presiden dan wakilnya.

“Bagaimana kalau dilihatnya oleh Presiden, pasti akan marah,” kata Teddi Iskandar, M.Si.

Teddi menegaskan, lambang negara itu seharusnya ditempatkan bersama-sama dengan bendera negara, foto presiden dan wakil presiden, yakni penempatan lambang negara posisinya di sebelah kiri dan lebih tinggi daripada bendera negara. Sedangkan letak foto resmi presiden dan wakil presiden, dipasang lebih rendah daripada lambang negara dengan ukuran fotonya harus sesuai dengan peraturan undang-undang yang berlaku.

“Maka dari itu, kita harus malu, sehubungan uang yang dialokasikan ke setiap desa, jumlahnya ratusan juta rupiah. Tapi masih saja ada lambang negara yang terpangpang, dan bendera negara yang berkibar keadaanya masih perlu dibenahi lagi,” kata Teddi.

Kades Sindangsari, Kusnadi Hermawan dengan adanya sidak Kepala BPMPD tersebut, mengatakan bahwa dirinya masih baru menjabat kepala desa. Sehingga belum kosentrasi ke arah pembenahan mengenai, lambang negara, bendera negara, foto presiden, gubernur, maupun Bupati.

“Namun, saya sangat berterimakasih dengan adanya teguran dari Kepala BPMPD, saya akan membenahinya,” ujar Kades Sindangsari. (Ilham Amir)***

Ditanya Soal Pencalonan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi Masih Malu-malu Kucing

PENDOPO, (GE).-  Setelah terpilih menjadi Ketua Ketua DPD Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi ternyata masih malu-malu kucing mengutarakan keinginannya untuk maju pada pesta demokrasi menjadi Jabar 1. Padahal, dirinya berpeluang besar diusung oleh partai beringin.

Mengenai rencana pencalonannya sebagai Gubernur Jabar pada Pilkada mendatang, Dedi belum berkomentar panjang. Dia menyatakan akan lebih fokus untuk bekerja, agar Golkar lebih dicintai rakyat.

“Saya orangnya tidak suka bicara hasil, tetapi proses. Yang penting sekarang, saya harus bekerja dengan baik agar Golkar makin dicintai rakyat. Soal nanti hasilnya seperti apa, nanti bagaimana alam saja, ada yang Maha Kuasa,” kata Dedi.

Dedi menbahkan, partai harus berperan maksimal memgawal pembangunan, karena, lanjut Dedi, partai dipilih rakyat agar berperan untuk itu.

“Jadi ke depan tidak boleh ada jalan tidak baik, tidak boleh ada masyarakat yang tidak mendapat pelayanan kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Itu semua tugas partai,” pungkas Dedi di Gedung Pendopo, Selasa, (26/4). (Slamet Timur)***

Hati-hati ! Ribuan Lembar Uang Palsu Beredar di Garut

KARANGPAWITAN, (GE).- Anda patut hati-hati jika bertransaksi uang dalam jumlah banyak. Pasalnya peredaran uang palsu di Garut semakin mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu kurang dari empat bulan, sudah ada lima kasus uang palsu yang terjadi di Garut.

Kepala Divisi Sistem Pembayaran Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jabar, Mikael Budisatrio, menyebutkan dari lima kasus penyebaran uang palsu di Garut, ditemukan sebanyak 3.414 lembar uang palsu. Ini terungkap hanya dalam kurun waktu kurang dari empat bulkan, yaitu dari awal januari hingga pertengahan April 2016.

“Ini jumlah yang terhitung banyak dibandingkan daerah lainnya di Jabar meskipun masih ada yang jumlahnya lebih banyak dari yang ditemukan di Garut,” ujar Mikael saat ditemui disela kegiatan Sosialisasi Keaslian Uang Rupiah dan Penanganan Tindak Pidana Uang Palsu di Aula Mumun Surachman, Mapolres Garut, Senin (25/4/2016).

Menurut Mikael, untuk tingkat Jabar, kasus yang terjadi di Garut ini menempati urutan keempat setelah Indramayu, Kota Bandung, dan Sukabumi. Jumlah uang palsu yang telah didapatkan di Garut ini mencapai 3.414 lembar, sedangkan di Indramayu 5.423 lembar, Kota Bandung 2.773 lembar dan Sukabumi 2.459 lembar.

Berdasarkan laporan yang diterimanya, tutur Mikael, pada kasus terakhir uang palsu di Garut ditemukan barang bukti sebanyak 1.847 lembar. Hal ini tentu patut disesalkan sehingga perlu adanya pengetahuan dari berbagai pihak di Garut termasuk masyarakat agar bisa membedakan antara uang asli dengan yang palsu.

Dengan alasan itulah, tambahnya, saat ini pihaknya menggelar kegiatan sosialisasi yang melibatkan berbagai unsur mulai dari aparat penegak hukum, aparat pemerintahan, serta masyarakat terutama para pedagang. Hal ini menurutnya sesuai dengan tugas BI untuk mengantisipasi peredaran uang palsu.

“Sesuai Undang-undang nomor 7 tahun 2011, BI harus melakukan sosialisasi. Temuan uang palsu setiap tahunnya mengalami peningkatan. Di Jabar peningkatannya mencapai 28 persen,” katanya.

Diungkapkannya, jika peredarannya dibiarkan, hal ini bisa membuat masyarakat tak percaya kepada rupiah. Dampaknya akan sangat buruk karena bisa mengganggu perekonomian terutama para pedagang di pasar.
Sementara itu Kapolres Garut Ajun Komisaris Besar Arif Budiman mengatakan, pihaknya terus melalukan penyelidikan terhadap peredaran uang palsu di Kabupaten Garut. Terakhir kasus temuan uang palsu terjadi pada bulan Februari.

Diterangkannya, dalam kasus terakhir yang ditangani Polres Garut, ada tiga tersangka yang diamankan. Uang palsu dari tiga tersangka itu terdiri dari pecahan 100 ribuan senilai 120 juta.

Lebih jauh dijelaskannya, kasus uang palsu tersebut ditemukan di wilayah Kecamatan Garut Kota. Kualitas uang palsu pun sangat jauh dari keaslian uang rupiah. (Farhan SN)**

Gara-Gara Maksa Minta Dibelikan Motor, Guru Ngaji di Cisewu Tega Habisi Nyawa Anaknya Sendiri

CISEWU, (GE).- Warga Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Sabtu (9/4/2016) dihebohkan dengan penemuan mayat seorang pelajar salah satu SMK swasta. Spekulasi seputar penyebab kematian Irpan Taupiq (18 tahun) itu pun bermunculan. Sebagian pihak menyatakan jika dia adalah korban pembunuhan, sebagian pihak lagi menyebutkan kalau Irpan tewas karena bunuh diri.

Keterangan yang didapat salah seorang warga, Unang Taswara, mayat siswa kelas X warga Kampung Cijoho RT 003 RW 003 Desa Karangsewu, Kecamatan Cisewu itu ditemukan tewas di belakang rumahnya sendiri. Mayat Irpan, jelas Unang, ditemukan oleh ayahnya sendiri pada Sabtu pagi (9/4/2016) sekira pukul 06.00 WIB dengan kondisi leher terkena gorokan alat tajam.

“Korban ditemukan sekitar lima meter dari bagian belakang rumahnya setelah dicari-cari sejak pukul tiga subuh,” ujarnya.

Dengan ditemukan mayat Irpan dalam kondisi leher yang nyaris putus itu, warga Cisewu mengaku aneh dan janggal. Maka tidak mengherankan jika spekulasi pun muncul seputar penyebab tewasnya Irpan, apakah dibunuh atau bunuh diri.

“Ada yang aneh kang, semoga saja polisi segera mengungkap kasus ini,” katanya.

Guna mengungkap penyebab kematian Irpan, jajaran kepolisian melakukan penyidikan dan penyelidikan. Sejak Senin (11/4/2016), dua orang saksi tengah menjalani pemeriksaan. Kedua saksi itu adalah ayah korban bernama Maman (50 tahun), dan kakak korban bernama Horiman (35 tahun).

Maman, ayah korban adalah orang yang pertama kali menemukan mayat Irpan tergeletak tak jauh dari rumahnya setelah dia lelah mencari korban sejak pukul 03.00 dinihari. Korban ditemukan sekira lima meter dari belakang rumahnya. Saat itu, korban ditemukan dalam kondisi leher nyaris putus seperti habis digorok senjata tajam.

Pada Sabtu siang, mayat Irpan pun dikuburkan di Kampung Cijoho. Tapi kegemparan di tengah masyarakat tidak serta merta hilang dengan dikuburkannya mayat korban itu. Malah yang muncul justru bentuk keheranan : mengapa mayat Irpan langsung dikuburkan sebelum diselidiki dulu guna mendapat kepastian penyebab kematiannya.

Setelah berlangsung selama beberapa hari, akhirnya aparat kepolisian berhasil mengungkap kasus kematian seorang pelajar kelas X SMK swasta di Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut. Korban Irpan Taupiq (18 tahun), yang tewas dengan leher tergorok, ternyata dibunuh oleh ayahnya sendiri, Maman (50 tahun). Hal tersebut terungkap dari pengakuan pelaku saat diperiksa polisi.

Menurut Kepala Polisi Sektor Cisewu, AKP. Dede Yayat Hardiat, ayah korban mengakui yang telah membunuh anaknya, setelah pihak kepolisian melakukan penyidikan kasus tersebut cukup lama. “Termasuk meminta keterangan lebih dalam dari ayah korban,” ujarnya, Kamis sore (14/4/2015).

Selain memeriksa ayah korban, tambah Yayat, pihaknya pun mendatangi rumah pelaku. Di sana pihaknya melakukan olah TKP sebanyak tiga kali, akhirnya semua menjurus ke arah keterlibatan ayah korban. Dan tersangka Maman, sekitar pukul 11.15 WIB Kamis siang mengakui dugaan banyak orang selama ini ia yang menghabisi nyawa korban.

Dijelaskan Yayat, saat korban ditemukan tewas mengenaskan di belakang rumahnya sendiri akibat sayatan benda tajam (golok) pada Sabtu 9 April 2016, sekira pukul 06.00 WIB. Polisi menemukan sejumlah kejanggalan kalau Irpan tewas karena bunuh diri.

“Sesuai dengan janji kami paling lambat dalam seminggu mendapatkan keterangan yang pasti, akhirnya baru empat hari pun kami berhasil mengungkap siapa pelakunya. Ternyata, pelakunya tak lain adalah ayah kandung korban sendiri,” ujar Yayat.

Dia menerangkan, dalam pengungkapan kasus ini jelas membutuhkan waktu, khususnya untuk pengumpulkan data-data yang akurat sehingga pihaknya harus melakukan oleh Tempat Kejadian Perkara (TKP) sebanyak tiga kali.

Motif pembunuhan terhadap Irpan tersebut, dikatakan Yayat, berawal dari permintaan korban kepada ayah kandungnya, yakni ingin dibelikan sebuah sepeda motor jenis satria FU. “Kalau kaitan kronologis kejadian atau ancaman hukuman termasuk siapa saja pelaku selain ayahnya, nanti ya di Polres, yang lebih berwenang menjelaskan itu sesuai hasil pemeriksaan tersangka oleh penyidik di sana,” tegas dia.

Tewasnya Irfan yang penuh kejanggalan dan memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat Kecamatan Cisewu itu akhirnya terkuak dengan munculnya pengakuan Maman, ayah korban. Berdasarkan pengakuannya kepada polisi, dia menyekap anaknya saat tidur pulas. Dalam keadaan pingsan, pelaku menggusur korban ke luar rumah melalui pintu dapur. Sekitar lima meter dari rumahnya korban dieksekusi. Akhirnya Irfan meninggal di tangan ayahnya sendiri.

Pelaku pembunuhan, Maman (50 tahun), dikenal warga setempat sebagai guru ngaji dan tercatat sebagai anggota Majelis Ulama (MUI) Desa Karangsewu. Maman, kini diamankan polisi karena mengaku telah membunuh anaknya bernama Irfan Taufiq (18 tahun), siswa kelas X SMK Al Ma’arif, dengan cara menggorok lehernya dengan golok.

“Ya, di sini Pak Maman dikenal masyarakat sebagai anggota MUI Desa Karangsewu dan guru ngaji,” jelas salah seorang warga Kampung Cijoho bernama Ano (32 tahun). Dijelaskan Ano, setelah kematian Irfan pada Sabtu 9 April 2016 lalu, kondisi Kampung Cijoho menjadi mencekam. Sejak Maghrib, warga tak yang ada berani keluar rumah. Begitu pun di jalan-jalan yang biasanya ramai hilir mudik oleh kendaraan dan warga, kini menjadi sepi. “Kami memilih untuk diam saja di rumah, karena selalu dihantui ketakutan,” ujarnya, Sabtu (16/4/2016).

Warga, dikatakan Ano, mengaku senang dengan diamankannya Maman yang diduga pelaku pembunuh anaknya, Irfan. Namun warga berharap agar polisi pun segera mengotopsi mayat korban yang telah dimakamkan, supaya warga bertambah yakin bahwa penyebab tewasnya Irfan benar-benar karena dibunuh. (Deni-Siti)***

Mobil Truk Ringsek Usai Terjun Bebas ke Dalam Jurang di Pamulihan Garut

PAMULIHAN, (GE).- Mobil truk bermuatan batako terjun bebas ke dalam jurang berkedalaman 20 meter. Truk nahas tersebut diduga kehilangan kendalai saat turun di Jalan Cisandaan.

Turunan Jalan Cisandaan dikenal berbahaya karena bahu jalan yang kecil ditambah kondisi jalan curam. Belum lagi di samping jalannya terdapat jurang yang curam juga. Jadi jika kondisi kendaraan tidak prima bisa membahayakan bagi para pengendara.

Menurut Camat Pamulihan, Asep Harsoni HS, S.Sos, Sabtu pagi (23/4/2016), sekira pukul 10 Wib, mobil truk bermuatan bata merah mengalami nasib nahas. Kondisi muatan yang berat dan jalan yang menurun curam membuat sopir kehilangan kendali. Mobil truk bernomor polisi A 9692 F akhirnya terjun bebas ke dalam jurang.

Mobil yang saat itu dikendalikan oleh Rasa Abdul tiba-tiba hilang kendali saat masuk ke Turunan Jalan Cisandaan, Desa Pananjung Kecamatan Pamulihan Garut. Sopir dan kondeknya dikabarkan selamat karena meloncat dari mobil saat mobil truk bermuatan penuh terperosok.

“Penumpangnya selamat karena loncat dari mobil,” kata Asep, Sabtu (23/4/2016).

Masih menurut Asep, saat ini kedua korban sedang mendapatkan perawatan di Puskesmas Pamulihan. Kecelakaan ini sudah ditangani jajaran Kepolisian.

Sementara kecelakaan diduga akibat sopir yang belum tau kondisi medan jalan dan muatan yang berat. Sampai berita ini diturunkan bangkai truk masih belum dievakuasi di dalam jurang dengan kondisi ringsek hampir di seluruh bagian kendaraan. Farhan SN***